Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Emosi Raja


__ADS_3

..."Kamu bukan hanya tulang rusukku, tapi kamu juga harga diri dan kehormatan ku"...


...~Raja~...


LIKE JANGAN LUPA KAKAK




Suasana lega dan senang seketika berubah menjadi tegang dan penuh teriakan melihat apa yang dilakukan oleh Alex kepada Gadis.



"Aaaaaa!" teriak Gadis saat tangan kekar Alek menarik hijabnya.



"ALEXX LEPASIN!" teriak Nyonya Anna.



"Gadis!" Bee ikut berteriak tanpa berani mendekat.



Wajah Alex merah seperti kepiting rebus dengan mata melotot hampir keluar. Sementara Gadis berusaha untuk melindungi auratnya, tangannya menahan agar hijab yang dipakai tidak lepas.



Alex lebih agresif menarik hijab Gadis, satu tangan Gadis mencekal lengan Alex sekuat mungkin.



"Mister! tolong lepasin tangan ini dari hijab Gadis," ucap Gadis minta tolong.



Belum sempat Bee maju untuk melepaskan tangan Alex dari hijab Gadis, sebuah tangan kekar lain sudah menghempaskan dengan kasar tangan Alex dari hijab Gadis. Lalu satu pukulan mendarat di wajah Alex dari tangan itu.



BUK!



Saat pukulan kedua hampir mendarat di wajah Alex...



"Riko! Hentikan!" teriak Nyonya Anna.



Bian berdiri melerai keduanya, dia memeluk Alex supaya tidak membalas pukulan Riko.



"Permisi." Dua tim medis masuk membawa brankar ambulance .



Gadis menarik ujung baju Bee mengajak ke luar.



"Pulang aja Mister," ajak Gadis.



"Gak bisa mereka akan nuntut kita ganti rugi Kalau membatalkan kontrak, Mister Udah terima uang DP Dis." Bee terlihat panik juga tegang.



"Berapa banyak?" tanya Gadis menatap Bee.



"70 juta total semua," jawab Bee lemah.



Gadis diam sesaat.



"Apa Gadis pakai saja uang jatah yang dari Akang?" tanya Gadis pada dirinya sendiri dalam hati sambil berpikir.



Ceklek.



Gruduukk gruduukk gruduukk..



Paramedis mendorong brankar di mana ibu Nyonya Anna terbaring lemah dengan bantuan oksigen, sementara Nyonya Anna berjalan cepat di sebelahnya sambil memegang tangan ibunya.



Saat brankar melewati Bee dan Gadis, wanita paruh baya itu masih sempat menengok ke arah Gadis sambil sedikit mengedipkan mata pelan dan Gadis membalasnya.



"Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman," gumam Gadis memandang wanita baya itu.



"Apaan Dis?" tanya Bee menoleh ke arah Gadis tidak mengerti maksud perkataan Gadis yang baru saja Gadis ucapkan



"Semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya. Itu doa untuk orang sakit Mister" Gadis berucap.



"Oh gitu, Dis hati lu tulus dan baik sikap lu juga baik lu nggak pernah menyakiti siapapun. Mister heran, kenapa tuh si cumi Alex dendam banget sama kamu. Kalau Tuan Bian itu saudaranya cumi enggak bakal Mister ambil job ini." Bee berkata terlihat sekali dia menyesali keputusannya mengambil job dari Tuan Bian.



"Udah jangan dipikirin Mister, ini kan di luar dugaan kita. Sekarang yang paling penting kita tunggu aja keputusan Tuan Bian. Kalau mereka masih pakai jasa kita, Gadis nggak mau punya urusan dengan Tuan Alex jadi tuan Alex harus keluar dan menjauh dari Gadis," ucap Gadis tenang.



"Iya kamu bener Dis," saut Bee.



"Bee!" panggil Rico sambil melambaikan tangan kearah mereka.


__ADS_1


Bee berjalan diikuti Gadis mendekat ke arah suite room Tuan Bian.



"Masuklah kalian," perintah Rico pada keduanya.



Bee menoleh kearah Gadis di balas dengan anggukkan. Lalu keduanya berjalan mengikuti Riko, di ruangan Bian Alex duduk mengangkat kaki menyilang di atas meja sambil melipat tangan di depan dada dengan tatapan tajam ke arah Gadis penuh dendam dan kebencian.



"Terimakasih atas bantuannya, karena kamu nyawa Oma saya masih bisa tertolong," kata Bian tulus menatap ke arah Gadis.



"Cuih! Ngapain lu berterimakasih sama orang rendah seperti dia. Heh cewek sialan gue nggak mau punya hutang Budi sama manusia rendahan seperti lu. Jadi lu bisa tulis berapapun yang lu mau diatas cek itu!" hardik Alex melempar selembar cek kosong cepat ke muka Gadis.



"Om! Lu tuh terlalu jadi manusia!" bentak Riko dengan mata nanar menatap Alex.



"Gue nggak punya urusan sama Lu! Pukulan lu akan gue simpan biar beranak. Biarpun Lo ponakan gue tapi darah di balas darah, pipi di balas pipi! Lu tunggu itu!" hardik Alex berlalu pergi meninggalkan ruang suite room Bian.



"Kalau dia bukan Om gue udah gue habisin dia!" dengus Riko.



"Sudahlah jangan cari masalah sudah terlalu banyak masalah hari ini. Oh ya, kita bisa mulai make up nya sekarang," kata Bian.



Dibantu Bee Gadis memulai pekerjaannya merias Bian sementara Riko duduk di sofa memperhatikan Gadis.



"Kenapa Om Alex begitu benci dengan Gadis ini," batin Riko penasaran ada masalah apa antara Riko dengan Gadis.



Setelah 45 menit Gadis sudah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, Riko di buat kagum dengan penampilan Bian yang berubah total begitu juga dengan Bian. Bian merasa puas dengan hasil kerja Gadis.



"Mama tidak salah percaya sama kamu, terimakasih," ucap Bian dengan senyum menawan.



Riko tak melewatkan kesempatan ini, beberapa kali dia mengambil foto Bian dan minta di foto bareng Bian.



"Abang terlihat beda sekali, baru kali ini seumur hidup lihat senyum Abang, perfekto!" puji Riko kepada kakaknya.



"Maaf tuan kami permisi," ucap Bee berpamitan.



"Hmm," saut Bian.




"Lepaskan!" tandas Gadis.



"UPS! Sorry." Riko langsung melepaskan cekalan tangannya.



Gadis buru-buru berjalan menuju pintu dengan langkah panjang dan gesit Riko menghadang di depan pintu.



"Bilang dulu sapa namamu, jangan bikin aku tidur penasaran," ucap Riko mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.



Gadis menarik nafas panjang.



"Gadis, Permisi Tuan," ucap Gadis.



Riko menyingkir dari pintu.



"Gadis, nama yang unik," gumam Riko.



\*\*\*



Wiguna Tower.



Begitu turun dari ojek online tepat di depan gedung Wiguna Tower. Gadis menatap gedung menengadah ke atas, Lampu lanskap membuat gedung terlihat indah dalam gelap malam, tampak beberapa lampu masih menyala di dalam gedung menandakan masih ada beberapa karyawan yang bekerja walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 20.05.



"Ikuti saya," tegur Pras dari arah belakang mengagetkan Gadis.



"Baik Pak." Gadis menyahut dan mengikuti langkah Pras.



Saat mereka berdua masuk ke dalam gedung, beberapa mata menatap kearah Pras dan Gadis yang berjalan beriringan bahkan ada yang saling berbisik.



"Saya antar sampai sini, silahkan masuk," ucap Pras begitu sampai di depan ruang kerja Raja.



"Terima kasih Pak Pras." Gadis berucap sambil sedikit membungkuk.


__ADS_1


Pras pergi berlalu meninggalkan Gadis yang masih berdiri di depan ruang kerja Raja, tidak ada seorangpun sama sekali di lantai paling atas. Benar-benar sudah sepi.



Tok tok tok tok.



"Masuk!" suara Raja dari dalam.



Ceklek.



"Assalamualaikum." sapa Gadis begitu pintu terbuka.



Langkah kaki Gadis mulai memasuki ruang kerja Raja. Suasana sepi bahkan saat mata Gadis menatap kursi kerja Raja, Gadis tak melihat Raja sedang duduk di situ.



"Kok sepi," gumam Gadis heran.



"Perasaan tadi ada suara Akang yang nyahut, kemana ya Akang." Kembali Gadis bergumam sambil terus memeriksa ruang kerja Raja.



Gadis berjalan matanya terus berkeliling ruangan, tangan menyentuh foto di atas meja kerja Raja dengan bingkai yang sangat mewah. Tangan Gadis menggapai foto itu lalu memandang dua sosok pria yang wajahnya hampir mirip hanya beda usia.



"Oh ternyata cakep nya nurun dari Ayahnya," gumam Gadis sambil tersenyum.



Gadis memegang sandaran kursi kerja Raja yang besar dan terkesan mewah, lalu dia duduk di kursi itu sambil berputar-putar.



Tanpa sepengetahuan Gadis Raja yang berada di kamar memperhatikan setiap gerak-gerik Gadis lewat kaca tak tembus pandang sambil tersenyum dengan tangan dilipat dada.



Gadis mengangkat gagang telepon dan berpura-pura menelepon menjadi Raja.



"Prasetyo cepat datang ke ruangan gue!" ucap Gadis menirukan Gaya Raja yang galak dan suka teriak.



"Dodol! lu kalo kerja pake otak jangan pake sandal!" bentak Gadis berpura-pura marah dengan mata melotot yang di buat lucu.



"Hahaha, Jenong! Jenong kocak juga bini gue," Ucap Raja terpingkal sambil memegangi perutnya.



KLEK NGIIIIIIINNNGGGG.



"Aaaaaaa!" teriak Gadis saat tiba-tiba kursi yang dia duduki berputar 180 derajat berbalik ke ruang yang lain.



"Emang gue segalak itu ya Nyonya Raja Pramudya?" tanya Raja tiba-tiba berdiri di depan Gadis sambil membungkuk memegangi pegangan kursi.



" Wow! kamar rahasia." ucap Gadis kagum tidak menjawab pertanyaan Raja tapi matanya menatap kamar dengan romansa romantis beraroma mawar merah.



Gadis hendak berdiri tapi Raja menahan dengan tangannya, dia membuka hijab putih Gadis dengan amat lembut. Begitu hijab Gadis terbuka Raja di buat kaget karena banyaknya rambut Gadis yang menempel di hijab.



"Nong, dari kapan rambut lu rontok?" tanya Raja.



"Itu tadi rontok gara-gara di jambak Al-" kalimat Gadis terpotong dia baru sadar kalau sampai Raja tahu kejadian di Hotel Bian akan membuat Raja berang.



"Eee...bukan Kang, maksud Gadis salah shampoo." mencari alasan.



Raja memandang tajam dan dalam ke manik mata Gadis.



"Satu hal yang bodoh dalam diri lu, lu tau gak?" tanya Raja dengan mata melotot dengan urat wajah mengerut di tengah.



Gadis menggeleng, ada rasa takut juga melihat Raja marah saat ini.



"LU NGGAK BISA BOHONG TAU!" teriak Raja membuat jantung Gadis berdegup kencang.



"Sekarang lu bilang, siapa yang jambak rambut lu Nong!" kata Raja pelan tapi penuh penekanan.



Wajah mereka sangat dekat tapi tak seperti jelang terapi sebelumnya penuh debar dan hasrat, tapi kali ini wajar keduanya dekat penuh dengan ketegangan.



\_



\_



Akankah Gadis jujur kepada Raja?


Next episode ya kakak


Terimakasih Like Vote Gift Dan Komentar 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2