
Raja tampak tertidur lemas di salah satu bangkar pasien yang ada di ruang IGD, Gadis semakin mendekat. Bibir Gadis terkatup rapat ada kekhawatiran dan juga kesedihan dari sorot matanya saat netra nya menatap tubuh Raja yang terbaring lemas.
"Kang." lirih suara Gadis memanggil Raja yang sedang memejamkan matanya.
Raja membuka matanya, tatapan lemahnya langsung menangkap sosok Gadis yang berdiri mematung tanpa senyum tak seperti biasanya. Raja membuka jari-jari telapak tangan dan menggerakkan jari-jari itu mengarah kearah Gadis memanggil Gadis untuk lebih mendekat.
Gadis meraih tangan Raja lalu mendudukkan bokongnya di kursi dekat dengan bangkar Raja.
"Maaf," bisik Gadis hampir tak terdengar.
"Pasti gara-gara ketoprak Akang jadi seperti ini." sesal Gadis tak berani menatap Raja.
"Jelek" raja menyahut sambil meremas lembut telapak tangan gadis yang ada di genggaman nya.
"Hah? Apanya yang jelek?" jawab gadis tak paham dengan maksud perkataan Raja.
"Manyun nya Nong. Mana senyum buat gue, datang Jenguk orang sakit nggak bawa apa apa, tangan kosong gak nenteng malah bawa manyun doang," gerutu Raja mau enggak mau membuat gadis tersenyum hingga gigi putihnya terlihat.
"Ya udah, kalau gitu Gadis keluar dulu ya Kang?" pamit Gadis menarik tangannya dari genggaman tangan Raja tapi Raja menahan nya dengan kuat.
"Mau ngapain?" tanya Raja heran.
"Mau buah tangan." jawaban Gadis membuat raja yang masih lemas tersenyum nakal.
"Nong, Lo tahu nggak gue dirawat itu karena apa?" tanya Raja memancing jawaban Gadis.
Gadis meraba urat nadi Raja, untuk beberapa saat dia di bagian urat nadi Raja.
menempelkan jari telunjuk dan tengahnya tepat
"Akang salah makan," jawab Gadis datar.
"Jadi lu tahu kan, gue nggak butuh buah tangan." tandas Raja.
" Iya Terus sekarang Akang maunya apa tanya gadis dengan nada pelan.
"Sini kuping lu gue bisikin," perintah Raja agar Gadis mendekat.
"Buahnya yang ada di bibir lu aja," bisik Raja manja.
Gadis mendaratkan Cubitan mesra di perut raja membuat raja pura-pura meringis kesakitan.
"Aaaaawww! tega banget sih lu menganiaya orang lagi sakit. KDRT yayang ini namanya." Raja melirik ke arah gadis sambil cemberut.
"Lagian Akang nggak tahu tempat di rumah sakit pikirannya masih kayak gitu aja. Emang masih kurang nyolong yang semalam," cebik Gadis membuat Raja melotot dengan mulut terbuka.
"Lo.. lo-" Raja tergagap di luar di banyak ternyata Gadis tahu apa yang dilakukannya semalam.
"Nakal," ucap Gadis mencubit hidung Raja.
"Permisi tuan Raja Pramudya, anda sudah boleh pulang ke rumah cukup rawat jalan saja. Tolong dijaga makanannya untuk sementara waktu. Hindari makanan yang berminyak pedas asam dan juga untuk buah-buahan jangan dulu kecuali pisang saja," kata dokter yang menangani Raja selama di ruang IGD.
Dua orang perawat melepaskan infus dari tangan Raja, kondisi ,Raja sendiri terlihat semakin membaik dan wajahnya tidak lagi pucat. Gadis membantu Raja turun dari ranjang.
__ADS_1
"Hati-hati Kang," ucap Gadis saat membantu Raja berjalan keluar dari ruang IGD.
"Sayang, badan aku masih lemes nih," keluh Raja.
Gadis melirik ke arah Raja, dia tahu Raja Sedang berpura-pura manja padanya. gadis lalu mendekatkan kursi roda dan membantu Raja untuk Duduk di atasnya. saat mereka keluar dari ruang IGD Pras dan Zee tidak tampak di ruang tunggu IGD.
Gadis terus berjalan mendorong kursi roda Raja hingga ke lobby rumah sakit tapi mereka berdua tidak menemukan keberadaan Pras ataupun Zee.
"Kang, tunggu sini ya Gadis cari taksi," kata gadis sebelum pergi meninggalkan raja untuk mencari taksi keluar dari rumah sakit.
"Telepon buluk aja suruh ke sini Nong." titah Raja.
Gadis sebetulnya tidak enak kalau harus menelepon Pras, karena dia tahu bisa saja sekarang Pras sedang bersama Zee.
"Naik taksi saja ya Kang, Gadis telpon taksi online bentar Kang," elak Gadis.
Gadis lalu telepon taksi online.
"Serah lu lah," ucap Raja malas untuk berdebat dengan Gadis.
Tak menunggu lama taksi online pun sudah ada di depan mereka Gadis membantu Raja untuk turun dari kursi roda dan masuk dalam taksi.
"Ngilang ke mana tuh sih buluk, bukannya ngurusin bosnya yang lagi sakit malah nggak tampak batang hidungnya." gerutu Raja kesal.
Gadis memegang telapak tangan Raja selalu mengusapnya lembut.
"Kang jangan marah-marah terus, nanti kalo stres lagi bisa jebol pembuangan Akang lagi ucap gadis lembut menenangkan raja
"Kang." ucap Gadis lirih.
"Apa?" jawab Raja menoleh kearah Gadis.
"Emm.. tadi... Ga... dis... bi...emm,"
"Apaan sih Nong, lu am emm am emm. Ngomong yang jelas!" potong Raja.
"Nggak jadi Kang. Entar aja kalau di rumah." saut Gadis menatap lurus ke depan.
"Jenong, lo sengaja ya bikin gue over thinking mikirin kata-kata barusan lu. Lu mau selama perjalanan pulang ini gue sibuk dengan pikiran gue gara-gara omongan nggak jelas yang lu gantung? Tega bener sih jadi bini ama laki bikin overthinking." dengus Raja mulai kesal.
"Iya Iya udah ah jangan marah-marah terus malu Kang sama abang sopirnya," ucapan gadis membuat raja melirik supir taxi lewat spion.
Raja langsung membuang memandang keluar jendela, dia masih kesal dengan apa yang dikatakan Gadis. Kata-kata yang membuatnya berfikir Selama perjalanan.
"Ada apa? Apa yang tidak Jadi Jenong mau katakan? Apa ada sesuatu yang terjadi?" batin Raja mulai gregetan dengan isi kepala gara-gara perkataan Gadis.
Begitu tiba di apartemen Raja langsung menuju apartemen di lantai 30, saat keduanya berada di dalam lift Raja ingin menanyakan apa yang tadi Gadis ingin katakan tapi tak jadi. Raja melirik ke arah Gadis. terlihat sekali wajah Gadis yang tak seperti biasanya ceria dan juga tenang.
Kali ini Gadis terlihat agak tegang dan itu membuat Raja aneh.
"Yang kamu nggak apa-apa?" tanya Raja menatap ke arah Gadis.
Gadis terdiam, dia seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari apa yang dikatakan Raja padanya. Gadis terlihat seperti tidak mendengar.
__ADS_1
Raja merangkul pundak Gadis hingga tubuh keduanya sangat rapat, pada saat itulah Gadis seperti tersadar.
"Kang, nanti ada yang masuk?" kata Gadis takut ketauan kemesraan mereka.
Raja tak membalas ucapan Gadis, Dia makin mempererat pelukannya dan mengecup pucuk kepala Gadis.
TING.
Pintu lift terbuka ada dua orang pasangan pasutri salah satu penghuni Apartemen yang sempat tertegun dengan Raja yang memeluk Gadis.
"San, mau masuk apa nggak?" tanya Raja membuat Sandi sang pria membulat matanya.
"Iy-a, Ayo beib." ajak Sandi merangkul pundak istrinya.
"Lu lagi hamil ya Ray," tanya Raja sambil memandang ke arah perut Raya istri Sandi.
Sandi dan Raya adalah teman Raja satu club moge.
"Iya Raj, dah lima bulan. Keliatan banget ya hehehe," jawab Raya.
Sementara Sandi memperhatikan Gadis dari atas sampai bawah menelisik membuat Raja tak suka.
"Lu ngeliatin bini gue dah kek ngeliat moge terhit, jaga tuh mata lo! Ada bini lu juga mata celamitan," sindir Raja pada Sandi yang langsung di balas dengan plototan mata Raya ke arah Sandi.
Raya langsung menekan tombol berhenti di lantai selanjutnya dengan wajah cemberut.
TING.
Begitu pintu terbuka Raya bergegas keluar dengan kaki yang di hentak.
"Beib! Tunggu! Ja gue duluan!" seru Sandi berlari ke luar lift.
Begitu Raya dan Sandi keluar dari lift Gadis mencubit pinggang Raja.
"Aaaahh, kenapa lu cubit gue Jenong," protes Raja.
"Gak nyadar ya Akang dah bikin mbak tadi kesal?" tanya Gadis mendelik ke arah Raja.
"Biarin, lagian liatin lu kek gitu. Gue gak suka liat cowok liatin lu kek gitu," dengus Raja mencibir.
TING
"Posesif jangan di pelihara," cetus Gadis lalu berjalan keluar lift lebih dulu meninggalkan Raja.
Begitu beberapa langkah Gadis tersenyum penuh arti.
"Bini gue xixixi," bisik Gadis terkekeh ssendiri menirukan perkataan Raja.
"Nong! Yang tunggu!" teriak Raja mempercepat langkahnya mengejar Gadis.
..."Jangan hanya lihat cintaku dari mataku, tapi rasakan dari hatiku yang paling dalam ini. Ada banyak rasa yang membuat rasanya begitu berwarna dan rame. Letakkan tanganmu di dadaku, maka kamu akan merasakannya."...
...~Raja~...
__ADS_1