Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Terkena Hipnotis


__ADS_3

..."Sesulit apapun keadaan kita saat kamu ada bersamaku aku akan baik-baik saja"...


...~Raja~...


Gadis mengambil ranting pohon yang cukup panjang, lalu perlahan dan dengan tenang Gadis mengambil ular yang ada di dalam sepatu Raja, Gadis berjalan membawa ular yang ada di ranting itu ke arah belakang rumah, tepatnya di persawahan dekat kuburan. Lalu melepaskan ular itu di sana.


Sementara Raja menggigil karena stres dan panik serta sakit akibat gigitan ular, Wijayanti terlihat panik melihat darah terus mengucur dari luka jempol Raja. Hayati bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil minyak bunga marigold.


"Akang coba bawa sini kakinya yang luka," ucap Gadis sambil mengulurkan tangannya.


"Aduh Nong, sakit," ucap Raja sambil meringis.


Gadis lalu memperhatikan luka sobekan akibat gigitan ular piton yang lumayan dalam, saat tangannya meraba permukaan kulit di sekitar luka gigitan Gadis tidak menemukan adanya otot yang robek dan itu artinya ini hanya luka luar yang biasa.


"Gimana geulis ada ototnya yang sobek?" tanya Hayati sambil melihat Luka Raja dengan seksama.


"Aman Mamah," jawab Gadis masih memperhatikan luka Raja.


Gadis membersihkan luka Raja dengan menggunakan alkohol. setelah bersih luka itu ditetesi oleh obat luka yang beraroma menyengat.


"Obat apaan itu, jangan asal ngasih obat sembarangan ?" tanya Wijayanti ketus juga penasaran menatap Gadis tajam penuh dengan curiga.


"Ini minyak bunga marigold obat luar yang bagus untuk luka ibu mertua," jawab Gadis.


Gadis kemudian membungkus luka Raja dengan perban.


"Kalau sudah selesai cepat naik jangan terlalu lama kita ada di sini, bisa-bisa bukan cuman ular yang gigit kita tapi harimau. Masih untung ularnya tadi tidak berbisa," ketus Wijayanti mendengus kesal.


Gadis membuka pintu mobil belakang lalu duduk di jok belakang, Raja yang duduk di depan bersama Ruslan turun dari mobil dan berjalan menuju barisan bangku belakang di mana Gadis duduk sendiri.


"Gus, ngapain kamu kamu pindah?" tanya Wijayanti merasa tidak senang.


"Masih kangen Ma," jawab Raja santai.


Wijayanti hanya mencibir mendengar ucapan Raja sama seperti halnya dengan Ify.


"Siap jalan tuan?" tanya Ruslan melihat Raja lewat kaca spion.


Raja hanya mengacungkan jempolnya tanda oke, perlahan Ruslan mulai menjalankan mobilnya. Hayati melepas kepergian Gadis dengan mulut terkatup sebagai seorang Ibu, dia bisa membaca karakter Wijayanti yang pura-pura dan angkuh akan jadi batu sandungan untuk pernikahan putri tunggalnya.


"Mamah yakin kamu lebih tangguh dan dewasa kini geulis, Ya Allah lindungilah putri hamba dari berbagai kejahatan di sekitar nya," gumam Hayati menatap mobil yang membawa Gadis dan rombongan makin menjauh.


Perjalanan yang sulit kembali di lalui Raja dan Rombongan, beberapa kali Wijayanti kembali mabuk dan muntah-muntah. Ingin sekali Gadis menawarkan bantuan pada ibu mertuanya, tapi dia masih merasa sungkan dan takut ditolak.


"Sayang, bisa nggak sih kamu bikin Mama nggak mabuk? kasihan tuh," pinta Raja sambil mengerutkan kening.


"Insyaallah bisa Kang," Saut Gadis menyanggupi.


"Ruslan, kalau ada restoran berhenti!" perintah Raja.

__ADS_1


"Siap Tuan," saut Ruslan.


Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka menemukan sebuah restoran dengan gaya bangunan Belanda kuno. Restoran itu terlihat sepi tanpa pengunjung, hanya ada satu sepeda dan motor tua yang terparkir di depan halaman restoran.


"Bagaimana Tuan, mau masuk atau tidak?" tanya Ruslan mencari jawaban.


Raja melihat kondisi Wijayanti yang sudah sangat lemas, akhirnya memutuskan mereka untuk berhenti dan istirahat di restoran ini.



Begitu memasuki ruang restoran hawa dingin mulai terasa bahkan bulu kuduk ikut merinding berdiri.


"Gus, gak usah jadi aja kita istirahat di restoran ini, cari restoran lain," perintah Wijayanti mulai timbul parnonya.


Raja mulai memperhatikan dengan seksama sekeliling restoran matanya menyapu ruangan restoran yang terkesan seram.


Cahaya lampu restoran yang temaram ditambah lukisan-lukisan kuno terpasang di dinding membuat suasana benar-benar terkesan angker.


"Iya juga. Nong kita ke luar aja cari restoran lain," ajak Raja menggandeng Wijayanti.


Gadis hanya membalas dengan anggukan. Baru saja mereka hendak keluar dari pintu utama, seorang pria berbadan kekar, berkulit hitam tinggi besar dan berwajah seram menghadang mereka.


"Silahkan duduk." suara pria itu terdengar bergetar dengan ekspresi dingin dan tatapan mata tajam.


"Maaf, kami tidak jadi makan di sini," balas Raja mencoba bersikap tenang.


"Siapapun yang sudah melangkahkan kakinya masuk ke restoran, harus makan tidak ada kata tidak jadi." ucap pria seram itu menekankan dengan ekspresi dibuat makin seram wajahnya.


.


"Loh Kok maksa?" tanya Wijayanti dengan wajah tak kalah sangar dan galak sambil berkacak pinggang.


"Masuk Atau-" perintah pria seram itu sambil menarik parang yang ada di pinggangnya.


"Santuy bro gue paham maksud lu," kata Raja sambil menahan tangan pria seram agar tidak mengeluarkan parangnya.


Raja dan yang lain pun masuk kembali ke dalam restoran mata Gadis mulai mengamati seluruh ruangan dengan teliti, sudut matanya berputar, rasa curiga mulai muncul di benak nya.


"Sepertinya rumah ini dijadikan basecamp sarang perampok aku harus hati-hati," batin Gadis.


Mereka berempat duduk di sebuah meja yang tepat berada di tengah ruangan restoran, meja berbentuk lingkaran dengan 4 buah kursi kayu yang terlihat antik dan usang.


Seorang wanita paruh baya dengan dandanan ala gipsi menghampiri mereka sambil membawa sebuah buku menu.


"Selamat siang para tuan dan nyonya, terima kasih sudah mampir ke restoran kami, kami akan memberikan pelayanan dan juga masakan yang bisa memuaskan lidah anda semua. Maaf atas penyambutan tamu oleh karyawan kami terkesan memaksa, itu cuma salah satu acting kami untuk menarik pelanggan. Saya harap semua mengikuti apa yang jadi kemauan kami, kalau kalian menerimanya, saya berharap kalian bisa mengangguk kan kepala,"


perintah pelayan itu ramah dengan senyum di bibirnya.


Gadis yang sudah curiga dari awal sudah paham betul, bahwa saat ini mereka berempat sedang masuk dalam pengaruh hipnotis pelayan restoran yang melayani mereka.

__ADS_1


"Gaswat, kalau begini caranya bahaya. Akang harus ku sadarkan agar terlepas dari pengaruh hipnotisnya ," batin Gadis.


Gadis menginjak kaki Raja agar Raja bisa berkonsentrasi kembali.


"Aaaaaaawww," Raja menjerit tapi tidak merespon Gadis itu artinya Raja sudah dalam pengaruh hipnotis.


"Aduh gimana ini, Akang sudah dalam pengaruh dia begitu juga ibu mertua dan Madam Ify." Gadis mulai cemas.


Gadis kembali berpikir cara apalagi untuk menyadarkan Raja dan yang lain, tapi tidak menimbulkan kecurigaan mereka pemilik restoran yang berkomplot untuk merampok mereka.


Seorang pelayan lelaki yang berwajah datar tanpa ekspresi datang membawa nampan berisi 4 minuman teh manis.


"Jangan sampai Akang, ibu mertua dan Madam Ify minumnya pasti minuman itu berbahaya," batin Gadis tenang.


"Sekarang silahkan di minum dulu," ucap pelayan wanita dengan ramah mempersilahkan.


Dada Gadis mulai berdebar kencang ingin rasanya dia melawan para penjahat itu tapi yang jadi taruhan terlalu banyak dan berharga.


"A'udzubillahi minassyaiithaa ni rrajiim. Bismillahirohmanirohim, Ya Allah lindungilah kami dari segala kejahatan jin dan manusia." Gadis berdoa dalam hati.


Gadis menarik nafas panjang, harus ada satu tindakan yang akan dilakukan Gadis untuk menyadarkan suami, ibu mertua dan Madam Ify pengaruh hipnotis mereka.


Perlahan Gadis mendekat Raja tangan kirinya perlahan naik ke atas tengkuk Raja. Saat posisi tangan menyentuh Tengku Raja, Gadis menyematkan satu totokan di tengkuk Raja untuk menyadarkan Raja.


Raja tersadar dari hipnotis, Gadis lalu membisikkan sesuatu di telinga Raja.


"Bersikap netral Kang, kita dalam perangkap komplotan perampok dengan ilmu gendam. Akang harus terus berdoa, jangan hilang konsentrasi, Gadis akan coba menyadarkan ibu mertua sama Madam Ify," bisik Gadis di telinga Raja.


"Ast-" suara Raja terpotong saat tangan Gadis mencubit paha Raja agar Raja tak bersuara.


Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Raja, tubuhnya terlihat tegap kaku karena panik.


"Akang bisa gelud kan?" tanya Gadis berbisik.


"Hah? Pras yang tukang gelud," bisik Raja.


"Gadis akan lawan mereka setelah menyadarkan ibu mertua sama Madam Ify, terus bawa mereka ke mobil Kang," perintah Gadis.


"Iya Nong hati-hati,"pesan Raja


...💪💪💪💪💪💪💪👍💪💪...


Bagaimana cara Raja dan gadis menghadapi kelompok penjahat yang akan merampok mereka.


Maaf terlalu lama upnya karena beberapa hari author mentok untuk ide novel ini 🙏🙏.


Jangan lupa like rate vote gratis nya 🙏


Terimakasih untuk semua jejaknya Kakak 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2