Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Harus Cuek


__ADS_3

"Bismillahirohmanirrohim." bisik Gadis saat kaki pertamanya turun dari mobil.


Salah satu tangan Gadis membawa cake kesukaan Wijayanti yaitu karamel coklat lapis madu.


Langkah Gadis begitu santai memasuki teras rumah Wijayanti yang begitu luas dan juga Asri. Bangunan mewah 2 lantai dengan cara arsitek gaya Jepang yang dipadu dengan unsur Jawa membuat rumah Wijayanti terlihat mewah Asri dan juga unik.


"Assalamu'alaikum," sapa Raja dan Gadis persamaan saat mereka tepat berada di depan pintu masuk tak ada sahutan dari dalam.


Sejak turun dari mobil Gadis selalu menggamit lengan Raja, bahkan saat ini dia semakin erat merangkul lengan tangan kanan Raja. langkah saja terus masuk lebih dalam ke dalam rumah sambil bersuara memanggil penghuni rumah.


"Ma mamaa, Antie, Mak Ijaaaa!" teriak Raja memanggil satu per satu penghuni rumah.


"Sepi kayaknya Kang," ucapkan sambil sesekali bola matanya melayang ke kanan belum kekiri memperhatikan setiap sisi ruangan rumah Wijayanti.


"Kita langsung naik aja ke atas Nong ke kamar gue." ajak Raja.


Gadis membalas dengan anggukan kepala. walaupun ini bukan yang pertama tapi kali yang ketiga Gadis masuk ke rumah Wijayanti, hanya saja kedatangannya kali ini beda dengan yang lalu.


Tawaran Wijayanti agar Raja dan Gadis tinggal di rumah mewah Wijayanti menjadi harapan tersendiri buat Gadis, bahwa keberadaannya di rumah Raja adalah sebuah bentuk restu untuk pernikahan mereka berdua.


"Kang, Ini taruh di mana?" tanya kotak cake yang ada di tangannya.


"Sini, biar gue taruh di meja ruang makan." Raja mengambil kotak itu dari tangan Gadis lalu berjalan menuju ruang makan dan meletakkan di atas meja.


Raja kembali ke ruang tamu di mana tadi sedang berdiri sambil matanya berputar melihat luasnya ruang tamu, Gadis tidak menyadari saat Raja tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Aaaa! Kang apa-apaan turunin enggak!" Pekik Gadis kaget berontak minta diturunkan.


Raja tak menjawab dia cuek saja berjalan membawa gadis menaiki tangga dengan senyum tak lepas dari wajahnya.


"Kang! malu tahu kalau ada yang mergokin dan lihat!" seru Gadis.


Raja menghiraukan perkataan Gadis dia hanya membalas dengan tatapan mata dalam dan juga senyum nakal kearah Gadis sepertinya Raja benar-benar sedang menggoda Gadis.


Begitu mereka tepat berdiri di depan pintu kamar Raja, tangan kanan Raja meraih handle pintu sambil menahan tubuh Gadis dalam gendongannya lalu kaki Raja mendorong pintu agar terbuka.


"Welcome my queen to our room." ucap raja aja sambil mengecup pucuk kepala Gadis.


Gadis membalas dengan senyuman ada bahagia yang menyusup ke ruang hati setelah beberapa bulan, akhirnya saat ini Gadis merasa bahwa Gadis bukan lagi seorang terapis untuk Raja tapi dia adalah istri sah dari Raja Pramudya.


"Makasih Kang," balas Gadis ada kenangan di kedua sudut matanya.

__ADS_1


Raja menurunkan Gadis dari gendongannya lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Gadis, di mana ujung matanya mulai menitikkan air mata.


"Kenapa lu nangis Nong? Pasti berat ya pindah ke sini. Kalau berat kita keluar lagi di rumah sini Nong," kata-kata Raja menelisik perasaan Gadis.


"Enggak Kang, malah bahagia bisa masuk ke rumah ini," sahut Gadis sambil menggelengkan kepala.


Raja lalu mengusap air mata itu dan merengkuh tubuh Gadis dalam pelukannya.


"Satu kata yang ku janjikan buat lo Nong, selama lo tinggal di sini gue nggak akan biarin lo sedih terluka atau sampai air mata lo jatuh," janji Raja pada Gadis.


Gadis membalas ucapan Raja dengan tersenyum bahagia, Raja menatap Gadis dalam, tatapannya jatuh pada bibir Gadis. Raja mendekatkan wajahnya untuk menikmati bibir seksi di depannya yang begitu sangat menggoda dengan polesan lipstik warna pink Fanta.


Lidah Raja terjulur menj***ti bibir Gadis seperti sedang menikmati es krim, lalu mulai mel**"t bibir itu untuk menikmati setiap inci bibir Gadis.


Mendapatkan perlakuan seperti itu.


Gadis hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati setiap ciuman yang diberikan Raja yang membuat getar tubuhnya hingga sensasinya melayang hingga membuat Gadis tak menyadari kalau dia sekarang sedang ada di rumah Raja tepatnya di kamar Raja dengan pintu kamar ar yang masih terbuka.


Sudah 2 menit lebih mereka berdua melakukan ciuman yang sangat panas dan menggairahkan, hingga tak menyadari kedatangan Ify yang sudah berdiri menonton live show mereka dengan mata membulat dan mulut terbuka.


"Ciuman yang sangat hot," batin Ify dengan dada berdegup kencang melihat adegan yang ada di depannya.


"EHEMMM!" suara deham Wijayanti mengagetkan ketiganya hingga Raja dan Gadis sontan langsung melepaskan ciumannya.


"Mama! Antie." suara keterkejutan Raja melihat keduanya berdiri menatap mereka entah sudah berapa lama di depan pintu.


"Rumah ini bukan hanya milik kalian kedua, ada orang lain juga yang tinggal di rumah ini. Jadi jaga sikap kalian untuk hal-hal seperti itu. Ify ayo kita turun!"ucap Wijayanti terdengar kesal dengan wajah marah lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Gadis dan Raja.


Sementara Ify berjalan mengikuti Wijayanti sambil tertunduk seperti sedang memikirkan kejadian yang baru saja ia lihat.


"Akang sih mancing aja, jadi bikin malu kan. Mau ditaruh di mana muka Gadis coba, kalau ketemu sama ibu mertua dan Madam Ify. Semua gara-gara Akang nih." geram Gadis sambil mencubit perut Raja.


"Aaaawww! Sakit Nong!" pekik Raja sam'bil mengusap perutnya.


***


Waktu makan malam tiba, Gadis dan Raja yang sedari tadi sejak datang masih merapikan barang-barang pribadinya belum keluar kamar hingga Iin salah satu pembantu Wijayanti mengetuk pintu kamar mereka.


Tok tok tok


"Tuan di suruh nyonya besar turun untuk makan malam." panggil Iin dari luar kamar Raja.

__ADS_1


"Kang, sebel iihhh." gerutu Gadis mulai tak tenang.


Perasaan malu Atas kejadian tadi siang sepertinya masih menghantui pikiran karena cara membuatnya di depan Ibu mertuanya dan Ify.


"Udah cuek aja Nong, anggap aja mereka lagi nonton drama romantis episode adegan hot kiss hehehe." saut Raja dengan bercanda.


"Akang kan bukan Gadis, mana bisa gadis bersikap cuek," ucap Gadis lirih.


Raja merangkul pundak Gadis sambil mengusap lembut lalu mengecup keningnya.


"Jangan dipikirin dan jangan banyak pikiran. Ingat, kamu sekarang lagi hamil muda. Jangan sampai emosi dan perasaanmu mempengaruhi bayi kita. Paham sayang." Raja mengingatkan.


"Tapi...,"


"Gak ada tapi, lupakan dan kamu harus bahagia Oke sayang." kembali Raja mematahkan rasa tidak enak dan tidak nyaman dalam diri Gadis terhadap keluarganya.


Mereka berdua pun turun menuju ruang makan, tangan Gadis tak lepas dalam genggaman tangan Raja. Gadis berusaha bersikap tenang. Saat mereka berdua tiba di ruang makan Wijayanti dan Ify tidak memperdulikan mereka, mereka berdua sibuk dengannya makan malamnya.


"Malam ma, malam antie." sabar aja kepada keduanya.


Tak ada sautan, Wijayanti dan Evil sama sekali Acuh terhadap kedatangan Gadis dan Raja.


"Duduk sini sayang." Raja menarik satu kursi yang berhadapan dengan kursi Ify.


Sementara Raja sendiri duduk disebelah Gadis yang berdekatan dengan kursi Wijayanti yang duduk menghadap ke arah mereka bertiga.


Raja mengambil satu apel lalu mengupasnya dengan sangat lihai, Ify yang sedari tadi sibuk makan dan sesekali melihat hp-nya dibuat tertegun melihat Raja yang begitu mudah mengupas buah apel.


Raja lalu memotongnya kecil-kecil kemudian meletakkan di atas piring Gadis. setelah itu raja baru mengambil makan malamnya.


"Zaman sudah ke balik, ini bukannya istri yang melayani makan suami malah suami yang melayani istri," sindir Ify membuat degup kencang di hati Gadis.


"Antie, bisa nggak kita makan tenang?" pinta Raja berusaha sabar menghadapi Ify.


Raja mengusap lembut telapak tangan tadi dalam genggamannya di bawah meja makan di atas Paha Raja.


Gadis menarik napas dalam perlahan kemudian menghembuskan nya.


"Makan sayang," ucap Raja yang heran melihat Gadis hanya dia memandangi potongan apel di piringnya.


"Kamu sedang hamil makan yang benar! makan seperti itu bisa-bisa sebelum lahir cucu ku sudah kekurangan gizi di dalam perutmu," tegur Wijayanti menatap tajam kearah Gadis.

__ADS_1


__ADS_2