
Sebelum Gadis dan Raja kembali ke apartemen mereka menyempatkan diri untuk sarapan bersama Wijayanti dan Ify di ruang makan.
"Pagi Ma, pagi Antie," sapa Raja begitu memasuki ruang makan sambil mencium pipi keduanya.
Gadis berdiri canggung di belakang Raja, Dalam hati ingin sekali Gadis menolak tapi bagaimanapun sebagai seorang istri dia harus patuh kepada suaminya.
"Selamat pagi ibu mertua, selamat pagi Madam Ify," sapa Gadis sopan sambil sedikit mengangguk hormat.
Wijayanti dan Ify tidak menyahut sapaan Gadis bahkan menoleh pun tidak, Gadis menarik nafas dalam. Melihat raut wajah gadis yang sedikit kecewa Raja langsung menggenggam telapak tangan kanan Gadis lalu mengusapnya lembut.
Perlakuan Raja membuat Gadis tersenyum, dia seperti mendapat kekuatan di hadapan ibu mertua dan juga Ify, karena Raja tidak akan membiarkan dia merasa sendiri.
"Duduk sini sayang," ucap Raja mempersilakan Gadis duduk berhadapan dengan Ify.
"Ngerusak pemandangan aja, bikin eneg mau makan," celetuk Ify sinis membuang wajahnya ke arah Wijayanti.
"Antie!" bentak Raja kepada Ify karena tidak suka dengan sikap Ify yang sinis kepada Gadis.
Wijayanti melirik ke arah Gadis dan Raja dengan tatapan sinis dan juga bibir yang terangkat ke atas.
SREEEETTTTT
Wijayanti menggeser bangkunya dia berdiri dari duduknya dan hendak berjalan meninggalkan ruang meja makan.
"Ma! Kita baru mulai makan Ma. Mama mau ke mana?" tanya Raja yang tak mendapat sautan dari Wijayanti.
Kepergian Wijayanti dari ruang makan membuat Gadis merasa lebih tidak enak lagi, dia seperti pengganggu yang tiba-tiba datang di saat orang sedang menikmati sarapan.
"Mbak Yu tunggu!" teriak Ify beranjak dari duduknya dan pergi menyusul Wijayanti.
"Terlalu!" dengus Raja kesal sambil memandang kepergian mereka berdua.
"Kang, kita sarapan di luar yuk. Gadis lagi pengen banget makan ketoprak, sekalian nanti Gadis pulang apartemen dan Akang ke kantor,"usul Gadis mencairkan kekesalan Raja.
Raja menoleh ke arah Gadis, melihat Gadis yang tersenyum kearahnya membuat hati Raja menjadi sedikit berkurang kesalnya.
"Iya Nong, kita sarapan aja di luar," saut Raja sambil mengangguk.
Raja dan Gadis pergi meninggalkan rumah Wijayanti, Gadis menggamit lengan kiri Raja saat mereka berjalan menuju mobil yang telah disiapkan oleh Darto salah satu sopir Wijayanti, Wijayanti yang melihat kepergian mereka dari balik tirai jendela kamarnya tampak terlihat wajahnya kesal berdiri dengan tangan melipat di depan dada.
"Menjijikkan," dengus Wijayanti dengan tatapan marah dan benci ke arah Gadis.
***
__ADS_1
Puri Mansion.
Pagi yang cerah dengan kicau burung saling bersahutan di pekarangan rumah Zee yang indah dengan tatanan taman ala Japanese garden, di mana hampir setiap sisi dan sudut dengan mudah bisa ditemui berbagai macam tanaman bonsai dan juga tanah yang ditutupin oleh rumput jepang.
"Zee, semalam gue ada pertemuan di rumah tante Wija." kata Ayu membuka pembicaraan sambil menikmati kopi arabika nya bersama Zee di halaman belakang.
"Oh ya, gimana kabar Raj?" tanya Zee datar tanpa ekspresi dengan tatapan masih ke arah taman.
"Dia datang bersama seorang gadis aku pikir itu pacarnya, berani sekali Raja datang ke pertemuan yang sangat penting sambil membawa gadis itu. Biasanya dia tidak pernah melakukan hal begitu apalagi di tengah-tengah acara rapat yayasan yang sangat penting," kata Ayu menceritakan dengan wajah serius menggebu-gebu.
"Aku bukan hanya kesal tapi sekaligus jijik dengan kebersamaan mereka, sepertinya Dia gadis yang biasa dan tak berkelas. Yang membuatku heran sikap Tante Wija yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk mengusir gadis itu tidak bisa melakukannya. Tapi aku sangat yakin, dia membenci Gadis itu terlihat sekali dari sorot matanya dan juga sikapnya," Ayu kembali menyambung ceritanya.
"Oh ya? Sangat menarik. tidak menyukai tapi tidak bisa mengusirnya pasti gadis itu punya sesuatu yang membuat dia tak berkutik." kata Zee menerka.
"Maksud Lo?" tanya Ayu penasaran dengan apa yang dipikirkan Zee.
"Siapa nama gadis itu?" Zee tidak menjawab pertanyaan Ayu tapi balik bertanya.
"Gadis," jawab Ayu.
"Gadis, nama yang unik dan sederhana. Aku yakin Gadis adalah kelemahan Raj," gumam Zee tersenyum smrik.
"Zee, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ayu semakin penasaran.
Zee menoleh ke arah Ayu masih dengan senyum menyeringai di bibirnya.
"Oke Beb, waktunya kita kerja kita akan tunjukkan siapa kita sebenarnya kepada Raja dan nenek lampir itu. Karena gue yakin nenek lampir itu hanya ingin menjauhkan ku dari Raj dan memakai gadis itu sebagai umpan. Isi kepala nenek lampir itu tak sesulit yang aku bayangkan. MUDAH DI TEBAK," kata Zee memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Zee, hari Lo jadi kan ikut gue hadir di acara tender dengan Mark Stell Corporation? Atau Lo mau ke kantor lu?" tanya Ayu saat mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil Ayu.
"Gue nggak akan melewatkan sesuatu yang berkaitan dengan Raj, Lo tau itu kan?" tanya Zee tersenyum ke arah Ayu.
tak berapa lama mobil Ayu pergi meninggalkan kediaman rumah Zee
***
BRAKKK
Suara pintu dibuka dengan kasar oleh Alex, membuat Honey tersentak kaget dengan mata membulat sambil memegangi dadanya.
"ALEX! APA KAMU SUDAH GILA? GAK PUNYA SOPAN!" bentak Honey mendelik ke arah Alex.
"MAMA YANG GILA MENGAPA GADIS BODOH DAN DUNGU ITU MAMA JADIKAN WAKIL MAMA DI PENGURUS YAYASAN!" bentak Alex tak mau kalah.
__ADS_1
"Itu hak Mama dan urusan Mama gak perlu kamu ikut campur, Urus saja perusahaan yang Mama serahkan sama kamu, kalau sampai terjadi hal yang buruk dalam perusahaan di bawah kepemimpinan mu. Mama tak segan mencopot kamu dan mengambil semua
saham mu di perusahaan keluarga," ancam Honey.
"Perusahaan itu urusanku Ma dan aku yakin bisa mengalahkan perusahaan brengsek Wiguna Corporation pagi ini," kata Alex dengan pedenya.
"Syukurlah kalau kamu untuk merasa mampu untuk menang, tapi ingat kamu harus tetap waspada karena perusahaan yang kamu lawan bukan perusahaan biasa," pesan Honey mengingatkan.
Alex hanya membalas pesan Honey dengan tersenyum smrik,
"Liat saja si bodoh Raja anak Mama itu akan jadi gembel sosialita," gumam Alex dengan wajah penuh kedengkian.
***
Di sebuah taman kota Raja menghentikan mobilnya, setelah memarkirkan mobilnya Raja dan Gadis turun memasuki taman kota pinggir jalan menikmati udara pagi Jakarta yang mulai di penuhi polusi. Kicau burung saling bersahutan di antara pepohonan di tambah semilir angin pagi yang berhembus lembut menyapu wajah keduanya.
"Kang kita sarapan di situ ya?" tanya Gadis mengajak Raja sarapan di tukang ketoprak yang mangkal di pinggir taman.
"Itu jualan apa Yang?" tanya Raja agak ragu dengan tukang gerobak yang di tunjuk Gadis.
"Ketoprak, yuk mumpung gak rame Kang kita beli itu saja." ajak Gadis menarik tangan Raja menghampiri tukang ketoprak.
Raja memperhatikan dengan seksama tukang ketoprak dan juga gerobaknya.
"Lumayan, gak jorok-jorok amat," batin Raja sambil manggut-manggut.
"Boleh lah yang, gue pesen yang pedes Yang," kata Raja.
"Bang ketoprak 2 ya yang satu pedas yang satu sedang aja tolong antar ke sana ya Bang di bangku di bawah pohon kayu putih." pesan Gadis kepada Abang ketoprak yang terlihat masih muda.
"Iya adek cantik siap, Bang adiknya cantik banget sama kaya Abang nya ganteng," kata tukang ketoprak memuji Gadis kepada Raja.
Mata Raja langsung melotot ke arah Abang penjual ketoprak dengan mulut mengerucut. Mendapat tatapan seperti itu membuat Kang ketoprak salting.
"Dia bukan adek gue! Dia bini gue. Ngerti Lo!" bentak Raja langsung merangkul pundak Gadis merapat ke tumbuhnya.
Gadis menahan tawanya melihat tukang ketoprak yang langsung pucat wajahnya karena terkejut dengan bentakan Raja.
"Maaf Bang." kata tukang ketoprak sambil menangkepkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah tegang.
"Udah Ayuk Kang, kita duduk di bangku itu," ajak Gadis menarik tangan Raja.
Setelah Gadis dan Raja berlalu masih tampak terlihat Kang ketoprak sedang menggerutu.
__ADS_1
"Galak amat tuh laki, liat aja bakal gue kerjain biar tau rasa!" geram tukang ketoprak melirik tajam ke arah Raja.
..."Berkata baik berkata buruk sama-sama berkata, tapi beda balasan yang kita dapat"...