
Hari sudah menjelang siang saat Gadis tiba di lobby rumah sakit yang cukup terkenal di daerah Jakarta Selatan untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan. Setelah mengambil antrian di mesin yang tersedia di lobby rumah sakit yang sekaligus merangkap tempat pendaftaran, Gadis mencari tempat duduk.
Gadis mendapat nomor antrian yang ke 172 sementara sekarang antrian baru 54. Mata Gadis memandang kertas kecil nomor antrian di tangannya.
"Kalau dapat nomor segini bisa-bisa pulangnya sampai sore," batin Gadis sambil menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.
Gadis menyalakan tombol power di HP lalu dia menekan nomor suaminya
"Assalamualaikum Kang." sapa Gadis memulai pembicaraan telepon.
"Waalaikumsalam sayang, maaf ya tadi gue berangkat ke kantor enggak bangunin kamu Yang, habis kulihat kamu tidur nyenyak banget sih," Saut Raja di seberang telepon
"Gadis yang harus minta maaf ke Akang, Suami kerja Gadis masih tidur. Maaf ya Kang," Ucap Gadis ada nada penyesalan di dalamnya.
"Oh ya sayang. Aku heran banget lihat kamu tadi pagi tidur di bathtub, emang dari jam berapa kamu tidur di situ sayang?" tanya Raja masih penasaran dengan apa yang dilakukan gadis semalam.
"Nggak tahu kang. Kayaknya sih sekitar jam 3-an habis pas liat bathtub enak banget buat tidur, jadi ya pengen coba tapi malah ketiduran di situ," jawab Gadis.
"Sayang, hari ini gue pulang cepet jangan kemana-mana ya," pesan Raja kepada Gadis.
"Maaf Kang, Gadis sekarang enggak ada di rumah. Lagi di luar," saut Gadis.
"Nong, Kan gua udah bilang gue pengen lu diem di l
rumah lu nggak boleh kerja." kata raja di seberang telepon dengan nada mulai kesal.
"Gadis nggak kerja Kang, Gadis ada keperluan keluar mungkin nanti pulangnya agak malam"
balas Gadis tetap tenang.
"Sama siapa lu pergi keluar Jenong?" tanya Raja sedikit curiga.
"Tak ada, orang Gadis pergi sendiri kok," balas Gadis.
"Ngapain pergi keluar sendiri? kenapa nggak minta emak atau Yati nemenin lo," sikap over protektif Raja mulai keluar.
"Orang cuman deket dari rumah Kang. Naik taksi tadi nggak sampai setengah jam kok." Gadis mulai kesal dengan aturan Raja.
"Ya udah kalau gitu ntar gue suruh Ruslan buat jemput lo, Sherlock alamatnya." perintah Raja sebelum menutup teleponnya
"Assalamualaikum." pamit Raja terdengar bad mood.
Gadis Menatap layar ponselnya dia seperti tampak terlihat bingung.
"Huh, belum tahu Gadis hamil aja udah overprotektif kayak gitu, apalagi kalau nanti tahu gadis hamil Akang bisa makin overprotektif. Tambah pusing pala Gadis," batin Gadis lemas bersandar di kursi.
"Gadis," Panggil suara perempuan yang tak lain adalah Clarissa sahabat sekaligus mantan Raja.
__ADS_1
"Dokter Clarissa," sahut Gadis dengan wajah heran sambil tersenyum ke arah Clarissa.
"Kamu sakit Gadis?" tanya Clarissa penasaran melihat gadis datang ke rumah sakit.
"Nggak Dok, saya cuman mau periksa," jawab tadi sedikit grogi.
"Periksa apa?" tanya Clarissa makin penasaran.
"Emmm... Kandungan," jawab Gadis lirih.
Mata Clarissa terbelalak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gadis, jantungnya langsung berdegup kencang. Kecewa dan tiba-tiba terasa ada yang hilang dari hatinya.
"Pasti itu benih dari abang, itu artinya Gadis bukan boneka mainan Abang tapi dia benar-benar bagian paling penting dalam hidup Abang," batin Clarissa dengan perasaan hancur.
"Raja mana dis?" tanya Clarissa untuk menutupi perasaan nya agar tidak diketahui Gadis kalau dia sedang patah hati.
"Gadis datang sendiri ke sini dokter,"jawab Gadis membuat Clarissa mengernyitkan dahi.
"Apa kamu tidak ngasih tahu Raja kalau akan pergi ke sini?" tanya Clarissa.
"Belum dokter." jawab gadis lirih.
"Gadis pengen mastiin dulu dokter. Apakah Gadis benar-benar hamil atau hanya perasaan hati Gadis." Gadis memberi alasan membuat Clarissa mengerti.
"Oh ya Gadis kamu sudah ambil nomor antrian?" tanya Calista mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tunggu sini ya sebentar," perintah Clarissa.
Gadis sedikit bingung tapi dia tetap menganggukkan kepala.
***
TING.
Sebuah pesan serlok masuk di HP Raja, dia buru-buru melihat pesan yang masuk.
"Hah? Jenong ada di rumah sakit?" tanya Raja bingung pada diri sendiri.
Raja langsung menelepon Gadis tapi hanya di jawab bunyi dering panggilan tak terjawab. Pikiran Raja mulai tidak tenang, bahkan dia juga tak fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di meja kerja. Lima menit kemudian Raja kembali menelepon, tapi tetap jawaban panggilan nya sama.
"Kalau kek gini gue bisa pingsan penasaran," dengus Raja kesal bercampur panik.
Raja memijit pelipis nya dan kembali menghubungi Gadis tapi kembali kecewa yang dia dapat.
"Shitt! Bini gue itu manusia apa mesin operator! Aaggrrr!" geram Raja meremas hpnya dan hampir membanting nya.
"Astaghfirullah, sabar Gus sabar." Raja mencoba menenangkan diri sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Raja menghubungi Ruslan lewat telepon.
"Cap lang, siapkan mobil!" perintah Raja langsung menutup teleponnya.
"Ruslan siapin mobil," titah Raja langsung bergegas pergi keluar dari ruang kerjanya.
"Bos! Tunggu!" teriak Aida sambil berlari mengejar Raja yang hendak masuk ke dalam lift.
"Apa?" tanya Raja dengan dingin.
"Maaf Bos 5 menit lagi lagi Anda ada rapat dengan wakil utusan dari Mark stell Corporation," jawab Aida mengingatkan saat melihat Raja hendak pergi keluar.
Raja mengerutkan dahi seperti Sedang berpikir mana yang harus dipilih menyusul Gadis ke rumah sakit atau mengikuti pertemuan penting dengan rekan bisnis barunya.
"Ambil semua berkas penting yang ada di atas meja kerjaku dan bawa ke ruang rapat secepatnya, sekalian Panggil Pras untuk menyusul ku," titah Raja lalu bergegas pergi masuk ke dalam lift untuk menuju ruang rapat.
"Ya Allah semoga tidak terjadi hal buruk sama istri hamba ya Robb." sebait doa tersemat di hati Raja untuk Gadis.
***
Di kediaman Wijayanti
Wijayanti duduk di halaman belakang samping kolam renang, ia menatap sangkar burung beo yang ada di salah satu sisi kanan taman. Wajahnya tampak gelisah dan sedang berpikir Ifi yang baru muncul dari dalam dapur langsung bisa menangkap kegelisahan dari raut wajah Wijayanti.
"Mbak Yu," Panggil Ify pelan tanpa mengagetkan Wijayanti.
"Mbak Yu kenapa kelihatan tampak gelisah, apa ada yang sedang Mbak Yu pikirkan?" tanya khawatir dan sedikit penasaran, dia tidak ingin Wijayanti nanti jatuh sakit gara-gara banyak pikiran.
"Dduduklah ada yang membebani pikiranku dari semalam," ucap Wijayanti.
"Apa ada masalah Mbak Yu," tanya Ify penasaran.
"Enggak Fy, aku cuma masih kepikiran dengan mimpiku semalam," jawab Wijayanti.
"Emang Mbak Yu mimpi apa?" tanya Ify sambil mendekatkan tubuhnya condong ke Wijayanti.
"Ada seorang yang memberiku sebuah burung lebih tepatnya anak burung tapi aku tidak kenal Siapa orang itu dan aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan dalam mimpiku," kata Wijayanti yang masih percaya dengan segala mitos.
"Bukankah itu biasanya berarti akan mendapatkan bayi Mbak Yu?" tanya Ify sambil mengerutkan dahi.
"Iya tapi nggak mungkin kan aku melahirkan atau hamil suami aja aku nggak punya sudah dari 10 tahun yang lalu," jawab Wijayanti tersenyum mencibir.
"Tumben ya Mbak Yu ini biasanya Mbak Yu ini Paling jeli, lah kok masalah mimpi ini Mbak Yu kok agak lamban. Bukan Mbak Yu maksud saya yang hamil, tapi itu loh mantu Mbak Yu," cetus Ify membuat mata Wijayanti langsung terbelalak membulat sempurna.
"Aduhhh gustiiiii!!" pekik Wijayanti tertahan.
...Terima kasih untuk semua like comment dan juga Votenya semoga tidak bosan dengan cerita Totok pembangkit ini...
__ADS_1