Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Huh Hah Huh Hah


__ADS_3

..."Selama belum ada kata cerai yang keluar dari mulut Akang, Gadis akan ada terus di samping Akang."...


...~Gadis~...


LIKE VOTE GRATIS NYA KAKAK 🙏




Suasana seketika berubah jadi panik Wijayanti mulai berdiri dan merapatkan tubuhnya menempel pada Ify sambil memegang ujung sweater-nya.



Hayati menarik nafas panjang melihat kejadian yang baru pertama kali ini terjadi di rumahnya, karena biasa rumahnya selalu dalam keadaan tenang.



"Duduklah kalian semua," perintah Hayati dengan suara tenang penuh wibawa.



Wijayanti, Raja dan Gadis kembali duduk di kursi masing-masing. Wijayanti masih menatap kearah Raja mencari penjelasan dengan mengangkat alisnya.



"Makanlah apa yang ada di meja dan bersyukurlah karena ini rezeki yang datang dari Allah dan jangan pikirkan apapun tapi pikirkan rasa lapar yang kalian rasakan."ucap Hayati kembali.



"Silahkan ambil nasinya lebih dulu," ucap Hayati terlebih dulu menawarkan kepada Wijayanti sambil membuka telapak tangannya ke arah nasi.



Wijayanti sebetulnya ingin menolak makan malam, tapi rasa perih di perutnya karena dari siang belum terisi apapun, membuat Wijayanti mau tidak mau menerima tawaran Hayati terlebih lagi menu yang tersedia benar-benar menggugah selera makannya.



Begitu juga dengan Ify, kini mereka berdua benar-benar mengesampingkan rasa gengsi dan malu mereka agar rasa lapar dapat teratasi.



"Segini nasinya cukup Kang?" tanya Gadis pada Raja saat menyendok kan nasi ke piring Raja.



"Gue nggak makan Nong," tolak Raja sambil menggelengkan kepala.



Gadis mendekatkan wajahnya ke arah telinga Raja lalu dia berbisik.



"Lebih baik makan sekarang dari pada tengah malam Akang bangun Gak ada temennya gara-gara perut Akang konser,"



Raja menoleh ke arah Gadis dengan mata melotot, awalnya dia ingin marah tapi setelah dia merenung sejenak apa yang dikatakan Gadis ada benarnya. Melihat menu di atas meja Raja bingung mana yang akan dia dipilih untuk lauk.



"Nong, mana garpu sama sendoknya?" tanya Raja berbisik di telinga Gadis.



"Gus, makan begini enaknya pakai tangan," ucap Ify sambil mengacungkan tangannya yang menjimpit lalapan daun Mede muda yang di cowel sambal terasi.



"Nih, cuci dulu tangan Akang," ucap Gadis sambil menyodorkan mangkuk berisi air.



Raja pun mencuci tangan lalu dia mulai menyuap nasinya tanpa lauk apapun.


Gadis beranjak dari duduknya tapi tangan Raja menghalau.



"Mau kemana?" gumam Raja setengah berbisik.



"Ambil garam dapur," jawab Gadis.



"Oh...." Raja menetralkan kembali posisi tangannya dan memberi ruang untuk Gadis berjalan.



Tak berapa lama Gadis sudah kembali lagi ke meja makan dan duduk di kursinya, Gadis mengulurkan botol kecil kepada Raja.



"Garam buat apa?" tanya Raja bingung.



"Nasi Akang, biar nggak hambar," jawab Gadis.



Wijayanti dan Ify langsung menatap tajam ke arah Gadis. Wijayanti merasa tersinggung dengan tawaran Gadis, sepanjang hidupnya dia belum pernah terbayang sama sekali memberi makan Putra tunggalnya nasi dengan garam saja.



"Memalukan anak demit ini! makan aja kok ribet bikin malu!" Wijayanti membatin dengan kesal sekaligus geram.

__ADS_1



"Masa pakai garam doang Nong," keluh Raja memelas.



"Ya udah, sekarang Akang pilih. Pakai garam apa ikan asin, rasanya sama cuman beda gurihnya dan bentuknya." Gadis memberikan penawaran.



"Ikan asin aja lah daripada ngelihat garam doang gak keliatan tapi waasiin," saut Raja mengambil ikan asin yang ada di atas piring meja makan tepat di depannya.



Gadis tersenyum lalu tangannya meraih tempat sambal dan mengulurkan ke arah Raja.



"Pakai sambal dikit Kang rasanya lebih enak," kata Gadis menuangkan satu sendok makan sambal di atas piring Raja.



Raja mulai menyuap nasi ikan asin dan sedikit sambal, reaksi pertama saat suapan masuk ke mulutnya Raja mengerutkan dahi dan terlihat mulutnya kepedesan.



"Huh...hah, huh...hah." bunyi yang keluar dari mulut Raja karena rasa pedas membakar mulutnya hingga bibirnya merah merekah.



Raja mengambil lalapan daun Mede dan mencoba memakannya. rasa pahit dan sepet bertemu dengan rasa pedas sambal terasi serta gurih asin ikan membuat Raja yang awalnya enggan menyantap malah berbalik lahap.



"Cobain ini Gus, enak." Ify menyodorkan sebiji mata Pete bakar kepada Raja.



"Gak mau Antie bau," tolak Raja.



"Cobain dulu gak bau kok Kang kalau udah di mulut." bujuk Gadis tersenyum sambil mengusap lengan Raja.



Raja awalnya ragu-ragu dan hanya menatap pete yang ada di tangan Ify, tapi bujukan Gadis membuat Raja luluh juga. Akhirnya Raja mengambil pete itu dan memakannya.



"Kok enak sih." gumam Raja sambil mengunyah Pete bakar.



Tanpa terasa Raja menghabiskan satu papan petai bakar selama makan malam.




"Huh...hah, huh ..hah...enak," lanjut Raja lagi kepedesan.



Setelah selesai makan malam gadis merapikan meja makan dan mencuci piring di dapur sementara Wijayanti, Ify dan Hayati duduk di ruang tamu.



"Terima kasih makan malamnya, lumayan walaupun ala kadarnya," ucap Wijayanti sinis.



"Saya orangnya to the point dan tidak pandai berbasa- basi. Apa tujuan besan datang ke sini?" tanya Hayati menatap Wijayanti.



Wijayanti mulai mengatur posisi duduknya tegak dengan dada membusung ke depan terlihat sekali Dia sedang menjaga harga diri dan kehormatannya untuk merasa tidak terintimidasi.



"Saya ingin menjemput-," jawab Wijayanti terlihat sedang berpikir mengingat sesuatu.



"Gadis Mbak Yu." bisik Ifi di telinga Wijayanti.



"Menjemput Gadis untuk kami ajak pulang kembali ke Jakarta." jawab Wijayanti dengan suara makin pelan.



Suasana sejenak hening dan tegang, sementara Raja yang sedang membantu Gadis mencuci piring menyimak dengan memasang telinga kelelawar nya dengan hati berdebar menunggu hasil akhir apa yang akan disepakati oleh kedua pihak keluarga mereka.



Gadis sendiri tampak santai dan terlihat tidak peduli, Raja menatap Gadis bersikap seperti itu membuat badmood nya muncul.



"Nong Lu seneng ya kalau kita pisah?" dengus Raja mulai emosi.



Gadis menoleh sekilas ke arah Raja sambil tersenyum tipis, Hal ini membuat Raja semakin kesal dan mulai paranoid.



"Gue tau hati lu belum milik gue, tapi jaga dikit kek perasaan gue yang lagi galau. Pura-pura dikit kek lu tunjukkin perhatian lu ke gue, jangan cuekin gue kek gini," gumam Raja lirih sambil bersandar di dinding dekat bak cuci piring.

__ADS_1



Gadis menghentikan aktivitasnya lalu menyalakan keran air dan mencuci tangannya yang penuh busa sabun. Gadis memutar tubuhnya menghadap Raja lalu melangkah mendekat ke arah Raja.



Gadis mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Raja lembut dengan seulas senyum manis di bibirnya.



"Kang," bisik Gadis dengan suara lembut.



"Hmm," saut Raja menatap mata Gadis.



"Siapa orang yang paling berhak atas pernikahan kita?" tanya Gadis.



"Kita, Lu dan Gue." Raja menyahut tangannya mulai memeluk pinggang Gadis.



"Akang masih ingat apa yang Gadis ucapkan sama Akang tentang pernikahan kita?" tanya Gadis mengingatkan janji yang pernah Gadis ucap kepada Raja.



"Lu nggak akan ninggalin gue kalau bukan gue yang nyuruh lu pergi. Itu?" jawab Raja.



Gadis tersenyum sambil mengangguk.



"Gadis pulang kampung bukan untuk ninggalin Akang tapi Gadis ingin ibu mertua dan Mama saling ketemu dan mereka berbicara tentang hubungan kita, apapun keputusan yang mereka ambil tidak akan ada pengaruhnya dengan pernikahan kita Kang. Diizinkan atau tidak diizinkan selama Akang masih ingin menjadikan Gadis istri Akang dan tidak ada kata cerai yang keluar dari mulut Akang, Gadis akan ada terus di samping Akang. Dan ingat satu lagi jangan bicara tentang hati Gadis, suatu hari nanti pasti ada waktunya buat Gadis mengungkapkan isi hati Gadis sama Akang." ucap Gadis panjang lebar membuat hati Raja seketika tenang.



"Sorry Nong, gue cuma-" ucapan Raja terhenti tiba-tiba Gadis mendaratkan satu kecupan dibibir Raja hingga mata Raja terbelalak.



Raja hendak membalas kecupan Gadis, dengan ciuman tapi Gadis menghalangi dengan dua jarinya.



"Bukan sekarang waktunya Kang," ucap Gadis



"Bentar doang obat kangen Nong, Please," ucap Raja memohon.



Melihat ekspresi wajah Raja membuat Gadis tak sampai hati, dia pun mengangguk. Raja menyusupkan jari-jarinya diantara kedua telinga belakang Gadis dengan lembut dan mendekatkan wajahnya semakin dekat.



Sapuan napas Raja yang beraroma Petai membuat Gadis tidak tahan dan dia pun menundukkan wajahnya sambil tertawa.



"Ngapain Jenong ketawa! Lu kebiasaan selalu bikin ambyar romantis kita," sungut Raja kesal merasa dipermainkan oleh Gadis.



"Maaf Kang, bukan Gadis nggak mau romantis tapi Gadis gak tahan dengan bau mulut Akang, mending Akang gosok gigi dulu," saut Gadis sambil menutup hidungnya.



"Emang mulut gue bau apaan Jenong? Lu ngehina banget sih!" dengus Raja kesal.



"Cium sendiri Kang. Awas mau nerusin cuci piring," ucap Gadis berbalik badan kembali menuju bak cuci piring.



"Emang bau apaan sih mulut gue?" tanya Raja pada dirinya sendiri.



Raja meniupkan udara lewat mulutnya sambil menghalau dengan telapak tangan kanannya, lalu dia mencium aroma yang keluar dari mulutnya.



"Owek... owek, Astaghfirullah baunya!!" Raja berjalan cepat menuju kamar mandi.



"NONGG! AMBILIN SIKAT GIGI GUE!!" teriak Raja membuat Gadis tertawa begitu juga dengan Wijayanti, Ify dan Hayati yang kaget dengan teriakan Raja.



"Bocah gak tau tata Krama," gumam Wijayanti menahan malu di depan Hayati.



...🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭...



Yuk ikuti episode berikutnya


jangan lupa like VOTE GRATIS NYA Kaka

__ADS_1


Terimakasih untuk semua dukungan dan jejaknya 🙏 i


__ADS_2