Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Cemburu


__ADS_3

Untuk sesaat Raja dan Gadis saling berpandangan tampak sekali mereka kaget dengan tawaran yang baru saja mereka dengar dari Wijayanti agar mereka berdua pulang ke rumah.


"Apa mama punya maksud tertentu sama pernikahan Bagus?" tanya Raja tak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Wijayanti.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh Gus. Mama lakukan ini semua demi calon cucu mama, nggak mungkin mama punya maksud buruk di balik tawaran mama. Ngerti kamu!" ucap Wijayanti mulai terdengar darting.


Raja diam tak menjawab, jika melihat ekspresi sang mama sepertinya Wijayanti benar-benar tulus mengucapkan keinginannya, apalagi setelah bertahun-tahun dia menginginkan hadirnya nya seorang penerus dari keluarga besar Pramoedya


"Ma, mohon izin sebentar bicara berdua dengan Gadis," ucap Raja kepada Wijayanti meminta izin


Raja menggenggam telapak tangan Gadis dan membawanya masuk ke dalam kamar Gadis, begitu keduanya masuk dalam kamar Raja langsung menutup dan mengunci pintu kamar


"Nong, gimana?" tanya Raja dengan serius meminta jawaban Gadis.


Raja menatap Gadis dengan wajah sangat serius hingga dahinya berkerut, sementara Gadis diam tertunduk seperti sedang berpikir.


"Kita ikutin aja apa keinginan ibu mertua Kang." ucap Gadis tenang mulai bisa menguasai ketegangan pikirannya.


"Apa nggak bakal jadi masalah buat lo Nong?" tanya Raja masih belum yakin Apakah keputusan yang Gadis sampaikan adalah yang terbaik buat mereka.


"Masalah yang belum terjadi nggak usah dipikir sekarang Kang, yang paling penting kita jalanin aja dulu. Nanti kalau ada masalah, baru kita hadapi bareng-bareng." kata-kata yang disampaikan Gadis membuat Raja manggut-manggut.


"Fix ya, kita terima tawaran Mama untuk pindah ke rumah Mama," ucap Raja sambil mengulurkan tangan minta berjabat tangan.


Gadis menyambut uluran tangan Raja tapi bukan untuk berjabat tangan, Gadis malah mencium tangan itu.


Cup


Raja yang mendapatkan perlakuan seperti itu seketika merah merona pada wajahnya. Raja menarik tubuh Gadis dalam pelukannya lalu mencium seluruh bagian wajah Gadis.


Muach muach muach muach muach muach


"Aaaaa, udah Kang," ucap Gadis manja merasa kegelian dengan apa yang dilakukan Raja.


"Belum puas, masih pengen cium." tolak Raja terus mencium bagian wajah Gadis dengan gemas.


Tok tok tok


Suara pintu kamar diketuk membuat Raja menghentikan serangan ciumannya seketika.


"Bagus buruan! Ditunggu Mama!" teriak Ify dari luar.


"Madam!" seru Gadis tertahan sambil melepaskan pelukan kedua tangan Raja di pinggangnya.


Gadis merapikan pakaiannya, begitu pula dengan Raja mengusap kedua ujung bibirnya dengan jari jemari tangan kanannya. Raja berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu diikuti oleh gadis di belakang.


"Lama amat berembuk nya," dengus Ify dengan wajah kesal lalu berbalik badan berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.


Setelah mereka semua berkumpul di ruang tamu, Raja duduk tepat di depan Wijayanti sementara Gadis duduk di sebelahnya.


"Kami berdua akan terima tawaran Mama untuk pindah ke rumah mama." ucap Raja tenang dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Wijayanti menarik nafas panjang terlihat sekali dia puas dengan jawaban Raja.


"Kalau begitu mari kita pulang bersama, untuk barang-barang nggak perlu kalian bawa. Besok saja biar Ruslan yang membawanya ke rumah." ajak Wijayanti sambil beranjak dari duduknya siap untuk pulang.


Mendengar perkataan Wijayanti Gadis tertunduk, dia memainkan jari-jari tangannya.


"Ma, boleh kan kalau kita pindahnya besok pagi. Untuk malam ini, biarkan kami berdua tidur di sini." tolak Raja atas ajakan Wijayanti.


"Kenapa? Toh sama saja, memang ada bedanya kamu pindah sekarang apa besok?" tanya Wijayanti menelisik.


Raja berdiri berjalan mendekat ke arah Wijayanti lalu merangkul pundak Wijayanti sambil mengusap lembut.


"Pengen anu terakhir di atap apartemen mah." bisik Raja di telinga Wijayanti.


Wijayanti langsung mendelik ke arah Raja dengan bibir mengerucut.


"Fi! Ayo pulang." seru Wijayanti berbalik badan lalu berjalan keluar dari apartemen Raja.


Gadis menatap kepergian Wijayanti dan Ify dengan tatapan heran dan dia juga penasaran. Apa yang sudah dibisikkan Raja pada Wijayanti hingga membuat Ibu mertuanya itu langsung bergegas pulang tanpa mendebat.


Gadis perlahan berjalan mendekati Raja dengan pandangan masih menatap pintu keluar apartemennya di mana Wijayanti baru saja keluar. Begitu juga dengan Raja hingga dia tak menyadari Gadis sudah berdiri di sampingnya, dan begitu dia menoleh Raja langsung merangkul pundak Gadis merapat ke tubuh


"Akang bisikin apa tadi sama ibu mertua kok langsung pulang?" tanya gadis heran sekaligus penasaran.


"Bisik-bisik bikin imun cucu." jawab Raja sambil tersenyum menatap nakal Gadis.


"Hah? Bikin imun cucu?" tanya Gadis dengan wajah polos benar-benar tidak tahu maksud dari perkataan Raja.


"Iyaa sayang, ku bilang sama Mama kalau gue mau anu dulu di atap malam ini hehehe." jawab Raja senang sampai terkekeh.


"Aaaaahh! Sakit Jenong! Kenapa lu beneran cubit nya." seru Raja dengan wajan meringis sambil mengusap perutnya.


"Biarin! Bikin malu aja." balas gadis sambil berjalan meninggalkan Raja menuju kamar.


Ting ting


Suara apartemen berbunyi Raja bergegas menuju pintu.


"Pasti si buluk." tebak Raja langsung membuka pintu.


Begitu pintu akan terbuka Pras berdiri di tengah pintu sambil mengangkat paper bag warna hijau.


"Tadaaaaa." seru Pras dengan senyum bangga.


Raja langsung menyambar paper bag yang ada di tangan Pras, dan begitu dia membuka paper bag Raja langsung mencium harum aroma nasi goreng favoritnya.


"Anjayy! Top markotop lu buluk," puji Raja terlihat girang dan bersemangat.


"Lu ancam pake apa, sampai dia mau bikinin nasi goreng buat lo sesuai selera gue?" tanya Raja.


Raja tahu persis sifat Zee, tidak mungkin dia mau begitu saja dengan mudah mengikuti keinginan seseorang apalagi Keinginan Pras yang bukan siapa-siapa dan jauh levelnya diatas rata-rata pria yang selama itu yang dekat dengan Zee.

__ADS_1


"Gak ada, mana ada gue berani ngancam dia cuman pakai rayu dikit. Mood dia juga lagi bagus, jadi dia mau bikin nasi goreng itu." kilah Pras berbohong.


"Dah, gih makan Bro keburu dingin ntar nggak enak," ucap Pras mengalihkan pembicaraan.


Raja langsung berjalan menuju dapur diikuti oleh Pras dibelakangnya.


"Mak! Piring sama sendok bawa kesini!" teriak Raja dari ruang keluarga.


Raja membuka paper bag yang berisi kotak makan, lalu mengeluarkan kotak makan yang berwarna merah marun dari dalam paper bag. Hidung Raja beberapakali mendengus aroma kotak nasi yang ia dekatkan dengan hidungnya


Bu Santi membawa piring sendok dan garpu ke ruang makan dan menyerahkan kepada raja dengan segera Raja pun menuangkan beberapa sendok nasi goreng di atas piring yang Bu Santi berikan kepadanya.


"Nasi goreng mantan tuan," tanya Bu Santi keceplosan karena dia hafal bener dengan nasi goreng kesukaan Raja buatan Zee.


"Iya mak, udah lama banget nggak makan nasi goreng ini lidah berasa kangen." saut Raja menjawab apa adanya sambil menikmati suapan demi suapan nasi goreng di piringnya.


Gadis berjalan mengendap menuju ruang makan, dia merapatkan tubuhnya di dinding sambil memasang telinganya mendengar percakapan mereka bertiga.


"Tadi alasannya cuman mau makan nasi goreng mantan, sekarang bilangnya kangen sama nasi goreng mantan. Kalau di biarin hatinya juga kangen tu si Akang." gumam Gadis mulai gerah telinganya mendengar perkataan Raja.


Gadis berjalan perlahan hampir tak bersuara ke ruang makan, begitu melihat kehadiran Gadis dari arah belakang Raja. Bu Santi dan Pras perlahan menyingkir dari ruang makan.


"Bro pamit dulu ya, udah ngantuk banget nih." ucap Pras sambil melirik kearah Gadis dan langsung berlalu pergi meninggalkan ruang makan.


Raja sedang menikmati nasi gorengnya hingga tak menjawab ucapan pamit Pras, dia hanya mengangkat tangan kirinya. ,


"Gak sekalian hati yang makan kangen sama yang bikin Kang? Kenapa cuman lidahnya doang yang kangen?" ucap Gadis tiba-tiba mengagetkan Raja dari arah belakang.


Raja langsung berhenti makan, begitu juga dengan nafsu makannya yang hilang seketika bersamaan dengan sindiran Gadis untuk nya.


Raja menoleh ke belakang, lalu berdiri dari duduknya dengan senyum. Dia menghampiri Gadis, sementara Gadis memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Makasih sayang, malam ini gue benar-benar bahagia." ucap Raja mendekat ke arah Gadis dan langsung menggenggam tangannya.


"Ya udah pastilah bahagia, kan Kangen lidahnya udah tersampaikan. Kalau mau kangen sama orangnya juga nggak apa-apa. Emang Gadis bisa apa?" balas gadis mulai agak kesal ada cemburu dari kalimat yang meluncur lewat bibirnya.


"Oh jadi boleh nih, Akang anu sama dia. Nggak marah?" tanya Raja memancing.


Raja semakin gregetan dan gemas melihat Gadis marah karena cemburu.


"Kalau cemburu makin nggemesin si Jenong." batin Raja tersenyum.


"Dah lah ngantuk mau tidur." Gadis berbalik badan dan berjalan meninggalkan Raja yang masih tersenyum geli.


Raja mengikuti Gadis dan begitu dekat dia langsung memeluk tubuh Gadis dari belakang hingga membuat langkah Gadis terhenti.


"Gue bahagia bukan karena nasi goreng itu atau yang lain yang gak ada kaitannya sama lo Nong. Yang bikin gue bahagia karena sejak menikah sampai sekarang, baru kali ini Lu cemburu sama gue. Dan ternyata senang rasanya dicemburui sama orang yang paling kita sayang itu lebih lebih dari rasa Ciuman Pertama." bisik Raja di telinga kanan Gadis sambil mencium belakang telinganya.


"Bohong." Gadis pura-pura merajuk.


"Coba kalau nggak percaya gue cium lo pasti rasanya kalah rasa bahagianya dibandingin lu cemburu ma gue." kembali Raja berbisik menggoda.

__ADS_1


"Mbung,"


"I love you Nong." bisik Raja mesra di telinga Gadis membuat Gadis tak mampu menahan senyum.


__ADS_2