
Raja berdiri di jendela menatap langit malam yang penuh bintang dari ruang kerja di apartemennya sambil melipat tangan di depan dadanya
"Ada dua hal yang harus gue selesaiin secepat mungkin," gumam Raja
"Gue ingin yang terbaik buat jenong dan juga calon bayi gue." kembali Raja bergumam dia seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Tok tok tok.
Cek lek
"Malam bos, apa ada hal yang penting sampai gue lagi rapat lo suruh cabut ke sini tanya Pras berjalan lebih mendekat ke arah aja
Raja membalikan tubuhnya wajahnya terlihat serius sehingga Pras pun langsung bisa menangkap pasti ada sesuatu hal yang penting yang akan Raja sampaikan padanya
"Ada aapa Bro," tanya Pras the point.
"Gue mau ngasih tugas yang sangat serius dan dan ini sangat mendesak buat lo kerjain Pras." Raja berbalik badan menghadap Pras dengan tatapan serius
"Kayaknya penting banget Men, kasih tau apaan. Gue pasti kerjain," usai Pras makin penasaran
"Duduk aja dulu," perintah Raja pada Pras lalu dia pun juga ikut Duduk di kursinya.
" Tolong cariin rumah dengan taman yang cukup luas di lingkungan yang tidak terlalu ramai sekitar daerah sini," perintah Raja kepada Pras.
"Buat siapa Bos?" tanya Pras heran karena dia tahu Raja bukanlah orang yang suka tinggal di daerah perumahan dia lebih suka tinggal di apartemen.
"Bini gue nggak betah tinggal di apartemen dia minta pindah tinggal di perumahan biasa," jawab Raja..
"Ohh." laut Pras
"Nggak masalah gua akan cari hunian yang cocok banget buat lu dan juga Gadis." janji Pras dengan yakin.
"Yang kedua gue minta lu harus dapetin malam ini juga," perintah Raja terkesan mendesak.
"Apa bos? Kayaknya penting banget ini?" tanya Pras makin penasaran melihat mimik wajah Raja sedikit tegang.
"Lu tahu kan bini gua hamil?" Raja balik bertanya dan dijawab dengan anggukan kepala Pras.
"Gua pengen banget nasi goreng bikinan Zee kesukaan gue, nasi goreng ati ampela," ucap Raja sambil tatapannya menerawang ke atas seakan dia sedang membayangkan nasi goreng bikinan Zee.
"Nih ceritanya Bos ngidam gitu?" tanya Pras yakin kalau Raja sedang ngidam bayinya.
"Entahlah nggak tahu, cuman gue saat ini pengen banget makan nasi goreng bikinan Zee." kata Raja tidak ingin terlalu memikirkan karena apa dia ingin nasi goreng Zee.
"Apa bini lo tahu?" tanya Pras sedikit heran.
"Iya bini gue tahu dan ini nggak masalah buat dia yang penting gue nggak nemuin dia men." jawab Raja.
__ADS_1
"Oke kalau gitu gue cabut bro, gue akan berusaha Malam ini bisa dapat nasi Zee." ucap Pras lalu berdiri beranjak dari tempat duduknya.
Pras pergi meninggalkan apartemen Raja,
dia langsung menuju rumah Zee yang lumayan dekat dari kediaman Raja. Pras menyalakan hp-nya lalu dia menghubungi nomor Zee.
"Ada di mana lu sekarang?" tanya Pras tanpa basa-basi.
"Oke, bentar lagi gue nyampe rumah lu." ucap Pras sebelum menutup telepon.
***
Begitu sampai di kediaman Zee, Pras langsung menemui Zee yang sudah duduk di ruang Bartender sambil menikmati segelas anggur putih kesukaannya ditemani oleh seorang pria lumayan tampan yang sangat Pras kenal yaitu Alex.
Ada kantong plastik putih yang Pras tenteng di tangan kirinya.
Tampak kebencian terlihat di wajah Alex begitu melihat kehadiran Pras, untuk sesaat keduanya saling bertatapan.
"Hai buluk, tumben lu datang ke sin." sapa Zee beranjak dari duduknya menghampiri Pras.
Begitu keduanya dekat langsung mencium pipi kanan dan kiri Pras sebagai bentuk sapaan fisik.
"Ngapain curut itu ke sini." bisik Pras di telinga Zee.
"Temen minum doang, gue Gabut nggak ada teman. Jadi waktu dia mampir ke sini ya udah, gue ajak minum. Kenapa? Lu cemburu?" tanya Zee to the point sambil menatap Pras sinis.
"Heh, kenapa gue e mesti cemburu Pras Bali bertanya dengan tatapan menantang.
"Oke, jangan lupa lu telepon gue. Masih ada yang belum selesai dari pembicaraan kita tadi." balas Zee.
Alex memberikan tanda oke pada Zee.
"Bawa apaan buluk?" tanya Zee penasaran saat melihat kantong plastik yang ditentang oleh Pras.
"Bahan buat bikin nasi goreng, udah lama gue nggak makan nasi goreng bikinan lu," jawab Pras sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.
"Gue lagi males masak." Zee berjalan ke arah meja bar mengambil gelas minumannya.
"Bakal alot nih bujuk doi," batin Pras meletakkan kantong di tangannya di atas meja sambil melirik Zee dengan ujung matanya.
"Ayolah Beb, tar gue pijitin dah," bujuk Pras boleh mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
"Gue lagi males buluk lu ngerti nggak sih." tolak Zee sekali lagi.
"Apa perlu gue memohon dan bersimpuh di hadapan lu untuk minta nasi goreng istimewa? Gue memang bukan Raja tapi gue bisa jadi satria yang selalu ada buat lo." Pras kembali melancarkan rayuannya kali ini aktingnya serius.
"Jangan pernah sebut nama dia depan gue! bikin mood gue bener-bener anjlok." geram Zee semakin kesal saat nama Raja keluar dari mulut Pras.
__ADS_1
"Oke sayang,"
"Zee, malam itu gue...."
"Jangan terusin!" bentak Z dengan mata melotot ke arah Pras.
"Ya udah gue nggak bahas, tapi jadi kan kita bikin nasi goreng?" tanya Pras sambil menutup mulutnya dengan isyarat jari mengelem mulutnya.
"Huh, dasar penindas lo." hardik Zee beranjak dari duduknya dengan menatap tajam kearah Pras.
Zee menyambar kantong kresek yang Pras bawa dengan kasar lalu Beranjak Pergi ke dapur meninggalkan Pras yang tersenyum smirk kepadanya.
"Senjata yang ampuh untuk menundukkan mu sayang. BTW Alex curut ngapain datang ke sini? Apa jangan-jangan mereka lagi kerja sama buat jatuhin Raja dan Wiguna?" batin Pras mulai bertanya insting mata matanya langsung beraksi.
***
Raja dan Gadis sedang menonton acara televisi saat bel pintu Apartemen mereka berbunyi.
Yati terlihat setengah berlari menuju pintu untuk membukanya.
"Se-la-mat ma-lam nyo-nya besar." ucap Yati tergagap saat memberi salam kepada sang tamu yang tak lain adalah Wijayanti ditemani Ify.
Wijayanti dan Ify tak membalas sapaan Yati mereka Langsung masuk begitu saja menuju ruang keluarga dimana Gadis dan Raja sedang duduk berdua.
"Ehem!" Wijayanti pura-pura batuk untuk menyadarkan kehadirannya pada gadis dan Raja yang duduk membelakanginya.
Suara batuk itu langsung membuat Raja dan Gadis berdiri dengan mata keduanya membulat sempurna melihat kedatangan Wijayanti dan Ify yang tiba-tiba mendadak.
"Mama?" Raja langsung berjalan menghampiri Disini untuk menyambutnya.
Raja mengambil tangan Wijayanti dan mencium punggung telapak tangan lalu kedua pipinya. Gadis berjalan perlahan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Apa kabar Ibu mertua dan madam Ify," sapa Gadis kepada keduanya sambil membungkuk.
"Nong." Panggil Raja memberi isyarat agar Gadis mendekat ke arah Wijayanti dan dirinya.
Gadis mendekat ke arah Wijayanti lalu mengulurkan tangannya hendak mencium punggung telapak tangan Wijayanti .
Untuk beberapa saat Wijayanti tidak memberi respon hingga membuat Ify mengusap lembut punggung Wijayanti sebagai tanda agar menyambut uluran tangan Gadis.
Wijayanti mengulurkan tangan lalu Gadis mencium punggung telapak tangan Wijayanti terlihat sekali wajahnya yang terpaksa melakukan hal itu.
"Mama tumben kesini ada apa? kalau perlu kan bisa telepon Raja, biar Raja yang pulang ke rumah." ucap Raja heran dengan kedatangan Wijayanti.
"Kamu nggak nyuruh Mamah mu duduk, nggak sopan," dengus Wijayanti terlihat kesal.
Raja merangkul pundak Wijayanti dan membawanya untuk duduk di sofa ruang keluarga setelah mereka Kedua duduk Raja menggenggam tangan Wijayanti. sementara gadis duduk di sofa yang tak jauh dari mereka berdua
__ADS_1
"Ada apa ma?" tanya Raja kembali.
" Pulanglah kalian berdua ke rumah. Jangan tinggal di apartemen seperti ini tidak baik untuk calon cucuku," perintah wijayanti.