Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Pras Apes


__ADS_3

Pras berdiri di tempat terbuka yang ada persis bersebelahan dengan kamar jenazah rumah sakit, wajahnya terlihat tegang dengan keringat dingin mulai menetes di kedua pelipisnya.


"Gue harus cari orang buat bantu dan nemenin gue." gumam Pras sambil berkacak pinggang memandang tumpukan sampah yang ada di bak besar di depannya.


"Saya aja Masss." suara berat pria mengagetkan Pras hingga membuat Pras terhenyak dan berteriak sekuat tenaga.


"SETANN!!" teriak Pras lari tanpa berani menoleh ke belakang.


"Lah kok malah kabur si mas. mana ada setan." gumam pria penjaga kamar mayat.


Pras lari tanpa arah saking takutnya, sehingga dia tidak memperhatikan arah hanya mengikuti lorong rumah sakit sampai akhirnya di pertigaan lorong pras mengambil arah ke kanan dan terus berlari. Saat berada di ujung lorong Pras dibuat tercengang dan juga kaget luar biasa karena dia kembali berada di tempat semula.


"Hah! Kenapa balik ke sini lagi?" Wajah Pras semakin pucat dia pun berbalik badan hendak kembali berlari tapi...


Buk


Tubuh Pras menabrak tubuh seseorang yang sama besarnya dengan tubuhnya.


"Balik maning mas? Perlu saya ya?" tanya Laki-laki penjaga kamar mayat.


"Kamu! Kamu setan bukan?" tanya Pras mulai bingung dan ngaco.


"Masa muka yang lumayan gini Mas bilang setan." protes pria penjaga kamar mayat.


"Aaahhhh. syukurlah." Pras menarik napas lega.


"Tunggu sebentar saya mau bernapas dulu" pinta Pras sambil membungkuk dan mengatur nafasnya.


Setelah dia merasa tenang Pras mulai memberikan tawaran kepada pria penjaga kamar mayat itu.


"Kalau kamu mau bantu saya menemukan sebuah foto di tumpukan sampah itu saya akan berikan uang sama kamu 1 juta." tawar Pras pada pria penjaga kamar mayat itu.


pria itu mengerutkan dahi matanya menerawang ke atas dia sedang memikirkan tawaran yang diajukan oleh Pras.


"Berat mas Kalau cuman segitu apalagi sampahnya berisiko tinggi banyak bahan-bahan kimia dan juga jarum karena di sebelah nya sampah medis Mas, dan kita nggak tahu foto itu ada di mana," tolak pria itu dengan tawaran Pras.


"Ya udah kalau gitu saya kasih kamu 2 juta." Pras menaikkan tawarannya.


"Masih berat mas, gimana kalau gaji saya sebulan," pria itu sepertinya menggunakan kesempatan ini untuk memeras Pras.


"Kamu mau meras saya ya?" Pras mendelik ke arah pria itu.


"Bukan saya mau meras tapi cuma ngasih tawaran doang, kalau mas enggak mau ya sudah," kata pria penjaga kamar mayat itu berbalik badan berjalan meninggalkan Pras.

__ADS_1


"Sialan tuh orang bener-bener mau manfaatin gue," geram Pras sambil menatap nanar ke arah pria penjaga kamar mayat yang berjalan makin menjauh.


Drukk drukk drukk


Bunyi tempat tidur dorong Rumah Sakit terdengar menuju arah kamar mayat membuat Pras menatap ke arah jalan lorong itu. Seorang perawat mendorong kereta pasien menuju kamar mayat dengan tubuh yang tertutup kain berwarna hijau dengan tulisan Lailahaillallah.


"Innalillahiwainnailaihirojiun ada mayat yang baru datang." gumam Pras mulai ciut nyalinya saat melihat mayat baru di bawa masuk ke kamar mayat.


"Mas, penjaga kamar mayat nya kemana ya?" tanya perawat kepada Pras begitu keluar dari kamar mayat.


"Mana ku tau?" saut Pras cuek.


"Mas nanti tolong bilangin kalau petugas kamar mayat datang suruh cepat-cepat rapiin mayat yang baru saja saya bawa, dia korban bunuh diri jatuh dari lantai 13, karena sebentar lagi pihak keluarganya akan mengambil. Tolong ya mas." pesan Perawat itu sebelum pergi meninggalkan Pras seorang diri di tempat penampungan sampah dekat dengan kamar mayat.


"Astaghfirullah korban bunuh diri kan biasanya arwah nya gentayangan hiiiiihh." gumam Pras melihat ke arah kamar mandi ya yang pintunya sedikit terbuka.


Hari sudah semakin malam tapi Pras masih berusaha mencari foto USG milik Zee yang terbuang di tumpukan sampah yang ada di salah satu dalam kantong kresek besar warna hitam. Pras menelitinya satu persatu isi kantong sampah sesekali dia seperti ingin muntah saat melihat atau mencium bau sampah yang menyengat.


Beberapa kali Pras terlihat bergidik saat tatapan matanya mengarah pada kamar jenazah di samping tempat penampungan sampah, tempat dia berdiri di mana sedikit pintunya terbuka.


"Belum ketemu juga Mas." ucap suara pria mengagetkan Pras dari belakang hingga membuat dia meloncat dan jatuh di atas tumpukan sampah


"SETANN!!!" teriak Pras dengan wajah pucat dan posisi terduduk di antara tumpukan sampah.


"Ya elah Mas mas, masa kaget sampai dua kali nyembut saya setan emang nggak hafal apa suara saya." protes pemilik suara yang tak lain adalah penjaga kamar mayat.


"Eh! Sini kamu bantu saya cari foto USG. saya akan bayar sesuai permintaan kamu." pinta Pras akhirnya menyerah.


"Siap Mas, tapi tunggu bentar ya saya beresin mayat yang baru datang lagi ditunggu keluarganya di depan Mas." saut pria penjaga kamar mayat itu bergegas pergi menuju kamar mayat meninggalkan Pras.


"Itu orang nyalinya terbuat dari tanah kuburan kali ya? Gak ada takut-takutnya pisan." gumam Pras kembali mengaduk-aduk sampah.


Setelah selesai merapikan jenazah pria penjaga kamar mayat pembantu Pras mencari foto USG.


"Mas, tadi foto itu terakhir terlihat atau hilang saat Mas ada di mana?" tanya penjaga kamar mayat.


"Di lobby." Pras menjawab sambil tangannya mengorek kantung sampah.


Pria itu mengambil satu kantong sampah warna hitam yang terletak di salah satu sudut tempat sampah lalu membuka dan memperhatikan isi kantong tersebut tak sampai 5 menit pria itu sudah menemukan barang yang Pras cari.


"Ini bukan Mas yang Mas cari?" tanya pria itu sambil mengulurkan foto USG ke arah Pras.


Pras langsung menyambar foto USG dengan wajah senang.

__ADS_1


"Ni pak no dana saya." ucap pria penjaga kamar mayat itu mengulurkan HPnya.


Pras melirik tajam pada pria penjaga kamar mayat itu.


"Kok kamu cepet amat nemuinnya, jangan-jangan Kamu sengaja mempermainkan dan memanfaatkan saya." tuduh pernah curiga.


"Mas jangan begitu, saya hapal sampah-sampah ini dari bagian mana saja di rumah sakit ini, jadi tidak sulit buat saya menemukan sampah yang diambil dari lobby, itu saja kok," elak pria penjaga kamar mayat itu.


Pras mengambil hp milik pria penjaga kamar mayat itu dan dengan e-banking Pras melakukan transfer.


"Dah tuh. Pemerasan." dumel Pras kesal lalu berjalan meninggalkan tempat penampungan sampah.


Saat menuju tempat parkiran tanpa sengaja Pras bertemu dengan dokter Adlan sahabatnya.


"Foto USG anak lo ya bro?" Adlan tiba-tiba merangkul Pras dari belakang dan mengagetkan nya.


"Setannn!" teriak Pras kaget masih terbawa suasana di tempat penampungan sampah dekat kamar mayat.


"Ya elah masih sore bro, setannya juga belum on kali wkwk." gerutu Adlan menatap Pras sambil tertawa.


"Sorry gue lagi mode parno sejak masuk rumah sakit ini, rumah sakit ini beneran horor ampe ATM gue kena parno juga." ucap Pras sambil bergidik.


"Hah? Kok bisa sampe ke ATM segala?" tanya Adlan bingung.


"Ya Ini, gara-gara foto USG ini gue ampe keluar sebulan UMR gaji penjaga kamar mayat di rumah sakit ini," gerutu Pras sambil menunjukkan foto USG yang ada di tangannya pada Adlan.


"Maksud lu apa sih gue kagak ngerti?"tanya Adrian makin bingung.


"Ini foto bayi Zee yang tadi gue temuin di depan kamar... " Pras langsung terdiam dia tidak berani meneruskan kalimatnya.


"Zee hamil?" Adlan makin bingung.


"Iya ini foto USG bayinya." Pras tampak yakin dengan apa yang dia pikirkan.


Adlan mengambil foto USG yang ada di tangan Pras lalu sekilas dia melihat, tak lama kemudian Adlan tersenyum ke arah Pras.


"Kenapa lo senyum kek gitu?" Pras kesal bertanya.


"Ini bukan USG bayi Pras, tapi USG mendeteksi miom karena dia datang ke gue dan ngeluh sakit perut bagian bawah." jelas Adlan membuat Pras senang sekaligus lemas.


"Thanks God." ucap Pras lega.


"Bodoh! gue Lan, kenapa gue gak tanya lu malah jadi kang mulung di tempat sampah. Mana lewat lagi cuan gue sebulan UMR gaji penjaga kamar mayat. HIIIHH!" geram Pras sambil mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Maksud lo?" tanya Adlan bingung dengan mata membulat.


"Lupain bro! enek kalo gue nginget. Dah mau pulang gue, badan gue bau sampah." umpat Pras lalu pergi meninggalkan Adlan yang bengong sambil mengerutkan dahi.


__ADS_2