
Gadis dan Raja saling berpandangan, Gadis menatap Raja bingung sementara Raja menatap Gadis dengan kesal. Gadis menundukkan kepalanya, membuat Raja merasa bersalah, Rajs melangkah mendekat ke arah Gadis lalu dia memeluk Gadis.
"Sorry sayang, gue-" suara Raja bergetar tak mampu meneruskan kalimatnya karena sesal akan sikap kasarnya kepada Gadis.
Wajah Gadis masih terbenam dalam dekapan Raja, entah mengapa kali ini hati Gadis sedih sekaligus sakit di bentak Raja. Padahal biasanya perlakuan Raja seburuk apapun kepada Gadis, Gadis selalu bersikap tenang dan cuek saja.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearah Gadis dan Raja yang sedang berpelukan, seakan mereka baru saja menyaksikan drama pertengkaran antar pasangan.
"Kita masuk sayang," ajak Raja sambil merangkul pundak Gadis yang masih membenamkan wajahnya tidak ada Raja.
Gadis dan Raja masuk ke dalam ruang putar gedung bioskop, Raja dan Gadis mendapatkan tempat duduk yang posisinya berada di tengah. setelah mereka duduk Raja menghadap tubuhnya kearah Gadis, lalu tangan kanannya mengusap pipi Gadis dengan lembut sementara tangan kirinya menggenggam tangan kanan Gadis.
"Maafin aku sayang, aku nggak pernah bermaksud kasar di depan umum sama kamu sayang. Tapi aku merasa omongan 2 orang tadi membuatku benar-benar bikin bad mood," ucap Raja beri penjelasan kepada Gadis tentang sikapnya tadi.
"Gadis bingung mau manggil Akang, kan udah biasa manggil Akang begitu." balas Gadis mencebik.
"Sayang, gimana Kalau panggilan kamu di rubah aja, biar enak kalau pas depan orang banyak. Aku gak risih dan malu," pinta Raja kalimat yang berhati-hati takut Gadis akan ngambek lagi.
"Mau diganti apa kang, Gadis kan udah biasa manggilnya Akang. Terus Akang mau di panggil apa?" tanya Gadis dengan wajah bingung.
"Hmmm, apa ya panggilan yang yang lucu imut dan enak didengar tapi manis?"Raja balik bertanya seakan kepada dirinya sendiri.
"Cherry," saut Gadis asal menebak.
"Nong, yang bener aja! Gue ini cowok tulen, masa lu panggil Cherry," protes Raja cemberut.
"Terus mau dipanggil apa katanya tadi lucu imut dan enak didengar tapi manis itukan semua ada pada Cherry Akang." ungkap Gadis.
"Yang lain," tawar Raja.
sejenak keduanya diam sambil berpikir.
"Ayang!" keduanya serempak menyebut kata yang sama sambil saling memandang dengan tatapan heran saling memandang dengan mata membulat kemudian tertawa bersamaan.
"Hahaha": tawa Raja lepas beberapa orang yang sudah masuk di dalam ruang putar itu pun menatap ke mereka berdua.
"Xixixi, " tawa gadis dia sembunyikan dibalik kedua tangan menutupi mulut.
"Fix, panggilan sayang untuk kita berdua adalah ayang," kata Raja di saut Gadis dengan anggukan kepala Gadis.
__ADS_1
Mereka berdua pun bersalaman sebagai tanda kesepakatan diteruskan membentuk tanda love.
"I Love You Ayang," bisik Raja lembut di telinga Gadis.
Blush
seketika rona merah tampak wajah Gadis dengan senyum tersipu malu tertunduk. Raja mengangkat dagu Gadis hingga wajah mereka sangat dekat.
"Apaan sih, Ak-," ucap Gadis terpotong saat telunjuk tangan kanan Raja menutup mulutnya.
"Jangan panggil Akang, tapi A-y ang." perintah Raja sambil mengeja.
"Hahaha," tawa Gadis pecah melihat Mimik wajah mengeja kata Akang.
"Sstt, jangan ketawa Nong! Berisik," larang Raja tapi Gadis tetap saja tertawa.
Raja yang malu dengan sepasang mata yang menatap kearah mereka.
"Daripada lihat Jenong ketawa, mending gue tutup mulutnya," batin Raja.
Cup.
Tak lama kemudian ruang putar gedung bioskop mulai penuh, Maklum saja mereka akan menonton film yang sedang viral di media sosial yaitu film The medium.
suasana ruangan gelap sorot lampu proyektor mulai tertangkap layar diiringi dengan bunyi sound yang menggetarkan jantung dan telinga yang ada didalam ruang putar.
Film horor tentang hantu dan dukun dari awal sampai akhir ini selalu memunculkan adegan-adegan yang memicu adrenalin dan membuat jantung hampir copot.
Raja baru awal pemutaran Film terlihat sudah tegang dengan wajah cemas dan timbul keringat dingin, dia benar-benar ketakutan ditambah suara yang menggelegar memukul-mukul jantungnya yang membuat seluruh bulu dalam tubuhnya berdiri merinding karena rasa takut.
"Nong! Ngapain lu ajak gue nonton film kayak gini?" dengus Raja di telinga Gadis sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Gadis dan menutup kedua lubang telinganya dengan kedua jari telunjuknya.
"Tadi katanya terserah Gadis, kan Gadis penasaran banget Ayang, sama film ini. Terutama Gadis pengen mempelajari make up-nya," saut Gadis.
"Ayang, kita keluar sekarang juga aku mohon. Telinga sama jantung aku dah gak kuat. Emang kuat lu gotong gue kalau pingsan disini gara-gara jantungan?" kembali Raja mengajak Gadis keluar dari ruang putar film.
"Baru mulai masak keluar Yang," tolak Gadis tanpa menoleh ke arah Raja dan matanya fokus pada layar
The Medium berkisah tentang warisan seorang dukun yang merasuki sebuah keluarga di Isan, daerah terpencil di Thailand. Warga setempat yakin apabila roh jahat dapat hadir dan masuk ke dalam tubuh dukun pada upacara-upacara tertentu.
__ADS_1
Film ini menghadirkan ketegangan saat ritual dilakukan. Suara decitan, lonceng, teriakan orang, serta pembacaan mantra terdengar bersahutan. Adegan menegangkan dan mencekam benar-benar penuh kengerian.
"Driiiiiitttttt!"
"Nong! Suara ap-a?" parno Raja kembali muncul saat mendengar suara aneh dan bikin ngilu telinganya.
"Cuma pintu di buka Yang," ucap Gadis sambil mengusap lembut tangan Raja yang menggenggam tangannya.
Raja merasa penasaran dia lalu menoleh ke arah layar proyektor dengan mata ditutup oleh tangan kirinya, Raja mengintip gambar layar lewat sela-sela jarinya. Dan begitu matanya terbuka,
"AAAAAAAAA!" teriak Raja dan juga artis di dalam film itu secara bersama.
Di layar sedang diputar adegan hantu yang masuk dalam tubuh min tokoh utama sehingga wajahnya terlihat seram dan menakutkan, matanya melotot menatap ke atas dengan lidah terjulur diiringi erangan membuat Raja langsung menyembunyikan dirinya di Bali kursi depan dengan posisi jongkok di sela-sela kursi
"Nong! gu-e gak sang-gup la-gi!" ajak Raja dengan suara bergetar penuh ketakutan
Dada Raja berdebar kencang, tangannya meraih tangan Gadis lalu meletakkan di dadanya. Detak jantung Raja terdengar jelas sekali sehingga membuat Gadis menoleh ke arah.
"Ayang!" pekik Gadis melihat wajah Raja yang tersorot lampu proyektor pucat pas.
Gadis bergegas bangun dari kursinya lalu menarik tangan Raja untuk berdiri dan pergi keluar dari ruang putar gedung bioskop.
"Ayo kita keluar Ayang, buruan!" ajak Gadis menarik tangan Raja.
Raja melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gadis, lalu dia berjalan cepat sambil membungkuk dan menutupi matanya dengan dua tangan.
"Aauuww! Aaaaww! Aauuww. teriak beberapa orang penonton yang terinjak kakinya oleh kaki Raja.
"Maaf! Maaf maaf," ucap Raja terus saja berjalan membungkuk untuk menemukan pintu keluar.
Suasana gelap ditambah Suara menyeramkan dari adegan film membuat raja tak bisa berkonsentrasi, raja yang dikerjakan mengikuti langkah bukan penglihatannya. Sampai-sampai Raja salah mengambil jalan yang untuk keluar dari ruang putar.
"Ayang! Mau kemana?" tanya Gadis menarik tangan Raja hingga langkah Raja bertahan.
"Keluar! buruan!" jawab Raja balik menarik tangan Gadis.
"keluarkan ke arah sana kan, kalau arah sini ke toilet Yang." Gadis menjelaskan.
"Hah? Ya udah terserah pokoknya bawa gue keluar Ayang, Please!" saut Raja sambil berjalan mengikuti langkah Gadis.
__ADS_1