Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Teror Begadang


__ADS_3

LIKE VOTENYA KAKAK 🙏




Suasana hening malam pedesaan yang dihibur oleh bunyi jangkrik kodok atau bunyi tokek dan dengungan nyamuk membuat warna malam menjadi benar-benar terasa sedikit menakutkan tidak ada bunyi knalpot suara motor atau hiruk-pikuk orang berlalu.



Hayati menarik nafas panjang dengan wajah datar dia mulai berbicara.



"Untuk masalah anak-anak kita saya rasa kita tidak usah ikut campur, biarkan mereka yang akan memutuskan untuk terus melanjutkan pernikahan ini atau berhenti sampai disini. Kalau Gadis masih mau ngikutin Raja saya izinkan atau tidak saya izinkan semuanya tidak akan ada pengaruhnya buat putri saya," ucap Hayati datar penuh wibawa.



"Baiklah kalau begitu, saya rasa pembicaraan kita cukup sampai disini karena hanya itu yang ingin saya sampaikan kepada anda. Fi, ayo kita ke kamar kepala dan mataku sudah berat sekali," ucap Wijayanti berdiri dengan menahan kaki yang masih menyisakan nyeri.



"Silahkan, semoga tidur anda nyenyak," kata Hayati mengakhiri pembicaraannya.



TOK TOK TOK



"Assalamualaikum!" panggil seseorang dari luar sambil mengetuk pintu.



"Waalakumsallam," jawab Hayati sambil berdiri berjalan ke arah pintu dan membukanya.



"Ruslan? Ada apa malam-malam begini bertandang ke rumah uwak?" tanya Hayati heran melihat Ruslan bertamu malam-malam.



"Maaf Uwa ngeganggu nih, punten mau pinjam cangkul," kata Ruslan dengan hormat.



"Buat apa?" Hayati heran malam-malam Ruslan meminjam cangkul.



"Buat ngali kuburan Kang Ono, malam ini mau di kubur di belakang," jawab Ruslan membuat mata Wijayanti seketika membelalak tampak panik.



"Heh kamu, saya mau tanya. Tadi kamu bilang kuburan di belakang, maksud kamu di belakang rumah ini?" tanya Wijayanti dengan mata melotot ke arah Ruslan membuat Ruslan kaget dan merasa aneh.



"I-ya Nek," jawab Ruslan gugup.



"Ada kuburan di belakang rumah ini?" tanya Wijayanti dengan nada meninggi hingga terdengar dari dapur oleh Gadis.



"Waduh gaswat," gumam Gadis buru-buru merapikan piring dan pergi ke kamar mandi di mana Raja sedang Gosok Gigi.



Tok tok tok



"Kang buruan!" teriak Gadis dari luar.



"Masuk aja gak di kunci Nong," saut Raja dari dalam kamar mandi.



Begitu Gadis masuk Raja langsung memeluk pinggang Gadis dari belakang.



"Akang, cepat ibu mertua-,"ucap gadis menggantung berusaha melepaskan pelukan Raja.



"Mama kenapa?" tanya Raja cemas.



"Udah buruan Kang!" Gadis tak menjawab pertanyaan Raja.



Gadis langsung menarik tangan Raja keluar kamar mandi dan bergegas menuju ruang tamu.



"Kuburan! kuburan! Gus pulang!" Wijayanti berteriak histeris sambil memeluk tubuhnya sendiri.



wajahnya terlihat sangat panik matanya berputar-putar tak tentu arah sesekali kedua tangannya memegang kepala atau menutupi wajahnya. Nafas Wijayanti terlihat turun naik seperti orang habis lari sprint.



"Ruslan!" panggil Wijayanti.



"Ya Nyonya.I-ya Nek!" jawab kedua Ruslan hampir bersamaan.



Kedua Ruslan saling bertatapan memandang dengan heran.



"Nama kamu Ruslan?" kedua Ruslan saling bertanya kompak bersamaan.



"Iya. I-ya," jawab kedua Ruslan berbarengan dan tampak bingung.

__ADS_1



"Cepat siapin mobil!" kembali Wijayanti berternak panik.



"Iya Nyonya, siap," Ruslan sopir langsung bergegas pergi menuju halaman tempat mobil terparkir.



"Mama!" teriak Raja dari arah dapur langsung memeluk Wijayanti yang dalam kondisi panik.



"Gus kita pulang malam ini Gus, Mama mau pulang sekarang," ucap Wijayanti dengan suara bergetar sambil memeluk erat tubuh Raja dan bersembunyi dalam dada bidangnya.



"Mah, kasian ibu mertua. Kami pulang malam ini ya mah?" tanya gadis kepada Hayati meminta izin.



"Iya pulanglah geulis," jawab Hayati sambil mengangguk pelan.



"Kang, kita balik ke Jakarta malam ini." ucap Gadis kepada Raja di sambut anggukan kepala.



"Kita akan pulang malam ini mah,"kata Raja menenangkan Wijayanti.



Raja berusaha tenang padahal dia sendiri juga dalam kondisi panik apalagi ada penguburan jenazah malam ini, jantung Raja makin berdebar kencang tak karuan.



Telapak tangan Raja dan Wijayanti yang dingin karena udara pegunungan bertambah lagi dinginnya karena rasa ketakutan.



"Kalian nggak akan bisa jalan malam ini." kata Ruslan jangkung datar tanpa ekspresi.



"Kunaon ceunah?" tanya Hayati.



"Ada acara haul di pemakaman Syekh Raja galuh jadi jalan desa ditutup." Ruslan memberi tahu.



"Oh iya, Mamah lupa geulis," ucap Hayati baru ingat.



"Nong?" tanya Raja mencari kepastian dan gelengan kepala Gadis jawabannya.



Wajah Raja terlihat makin tegang bagaimana dia dan Mamanya melewati malam dalam ketakutan.




"Gus, Mama takut," bisik Wijayanti masih memeluk pinggang Raja sambil membenamkan wajahnya.



"Gus kamu jangan tinggalin Mama ya, kamu tidur sama Mama." rengek Wijayanti.



"Waduh! Alamat Gatot Subroto dah malam ini jajan Dicky," batin Raja menatap Gadis dengan sorot kecewa.



Gadis hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum tipis.



"Ma, Mama kan tahu Raja juga takut orang mati dan kuburan. Kalau kita tidur bareng yang ada kita bakal begadang ketakutan Mah." saut Raja.



Hayati yang melihat sikap menantu dan besannya prihatin, Phobia adalah penyakit psikologis yang sangat menggangu penderitanya bahkan berpengaruh pada mentalnya juga. Pasti ini hal yang sangat sulit yang harus dilalui oleh Raja dan Wijayanti.



"Ruslan, cangkul nya ada di samping gudang belakang ambil saja," kata Hayati.



Ruslan jangkung pamit keluar dan berjalan mengitari rumah menuju gudang belakang untuk mengambil cangkul.



"Geulis, Ayo kamu bantu Mama rapikan ruang tengah kita tidur di ruang tengah saja semua," ajak Hayati merangkul pundak Gadis dan membawanya menuju ruang tengah.



Ruang tengah adalah ruang keluarga yang cukup luas ada tiga set meja kursi kuno yang terbuat dari kayu jati, Gadis dan Hayati meminggirkan semua kursi dan meja merapat ke dinding membuat ruangan tampak lega.



"Ambil kasur di kamar penyimpanan perabot," titah Hayati pada Gadis.



Gadis berjalan menuju kamar penyimpanan yang ada di dekat dapur, lalu dia mengangkat kasur kapuk berukuran kecil dan menghamparkan di ruang tengah setelah lantai disapu dan dipel.



Ada 4 kasur kapuk yang sudah terhampar dan dan ditutupi oleh sprei-sprei cantik.



![](contribute/fiction/2153533/markdown/13236237/1638866345370.jpg)



"Ajak suami dan mertuamu serta saudaranya untuk tidur, malam sudah cukup larut," perintah Hayati kepada Gadis.


__ADS_1


Gadis kembali berjalan ke ruang tamu di mana hayati sedang duduk masih dalam dekapan Raja dan Ify duduk di sebelahnya.



"Kang, Ibu mertua dan Madam Ify kita tidur sekarang," ajak Gadis kepada ketiganya.



Raja membantu Wijayanti berdiri lalu merangkulnya dan berjalan menuju ruang tengah. Hayati sudah merebahkan dirinya di salah satu sisi kasur paling ujung.



"Antie di sini aja," kata Ify bergegas merebahkan tubuhnya dekat Hayati dan langsung membungkus tubuhnya dengan selimut.



"Mama deket Antie sama Raja," ucap Raja di sambut anggukan Wijayanti.



Wijayanti merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk, Gadis hendak mematikan saklar lampu.



"Jangan di matikan lampunya!" larang Wijayanti Gadis pun mematuhinya.



Gadis berjalan berniat hendak tidur dekat Hayati.



"Nong! Mau kemana?" tanya Raja heran menatap Gadis dengan mengerutkan dahi.



"Mau tidur deket Mamah." jawab Gadis polos.



Raja memegang salah satu kaki Gadis menahan Gadis untuk tidur di sampingnya.



"Gak boleh, lu harus dekat gue," larang Raja.



Gadis mencebik, rasa kangen terhadap pelukan hangat sang Mamah yang sudah lama dirindukan harus dia kesampingkan malam ini. Gadis duduk dan kemudian membaringkan tubuhnya di sisi paling ujung barisan di samping Raja.



Tok tok tok... tok tok tok...tok tok tok



Sayup-sayup terdengar suara warga desa memukul kentongan tanda ronda di mulai karena malam sudah larut. Ify terlihat sudah mendengkur begitu juga dengan Hayati.



Sementara Gadis juga terlihat sudah mulai terpejam matanya walaupun sesekali dia masih berusaha membuka matanya karena tangan Raja yang menggoyangkan tubuhnya.



"Gus jangan tidur dulu kamu temenin sampai Mama tertidur," pesan Wijayanti entah untuk yang keberapa kali mengingatkan Raja.



"Iya Mah i-ya," sahut Raja pelan antara kantuk dan lelap.



"Waduh! Kenapa sudah pada ngorok semua," bisik Wijayanti yang masih segar matanya belum ada rasa kantuk sama sekali.



"Gus, Gus bangun," bisik Wijayanti di telinga Raja sambil menggoyangkan tubuhnya yang sudah terlelap.



"AAagggrrr...!" suara erangan binatang dari luar terdengar jelas meneror gendang telinga Wijayanti.



"Itu apa? Masak ada harimau atau jangan-jangan itu harimau siluman," Wijayanti mulai ketakutan hingga tidak bisa berpikir dengan logikanya.



"Gus, Gus," suara Wijayanti bergetar karena takut sambil terus menggoyangkan tubuh Raja tapi Raja sudah terlelap tidur.



"Aaaaaagggrrrr..." suara menakutkan kembali terdengar dan semakin jelas.



"Ya Allah minta tolong lindungi hamba dari jin, siluman,demit dan turunannya, cepat bawa saya ke alam mimpi seperti yang lain, jangan pilih kasih Gusti Allah yang Maha adil," gumam Wijayanti di balik selimutnya yang menutup rapat seluruh tubuhnya sambil berusaha terpejam.



"AAagggrrr! AAagggrrr...! Nggengg"



"HUS...HUS!"



Byuuur



suara bunyi di luar makin tak jelas begitu juga dengan pikiran Wijayanti.



👻🐅🐈👻🐅🐈👻🐅🐈👻🐅🐈🤔



Keseruan saat pulang kampung tidur bareng nenek dan saudara di tengah ruang keluarga sapa yang ngalamin seperti Bu Wija hayooo🤭


ikuti episode berikutnya untuk tahu apa yang terjadi di kampung Gadis.


Terimakasih untuk Like Vote Gift Dan Komentar 🙏


Vote gratis nya kakak buat Jaja ya🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2