
..." Lari pagi bikin badan sehat, lari di pikiran eneng bikin hati akang sehat."...
...~Raja~...
"Bos, maaf boleh saya bicara?" tanya Ruslan hati-hati.
"Hmm," Raja menjawab dengan berdehem.
"Kalau nggak salah di rumahnya Nyonya besar ada tanaman Kenangan di taman depan. Saya pernah melihatnya Tuan." kata Ruslan memberi informasi.
"Serius lu, nggak salah lihat?" tanya Raja memastikan.
"Benar Tuan, saya berani sum-,"
"Udah jangan terusin! Nggak usah pakai sumpah-sumpah. Oke kalau begitu kita ke rumah Mama sekarang juga." titah Raja semangat tampak ada senyum di wajahnya.
Ruslan melajukan mobil mengambil arah menuju rumah Wijayanti.
"Pras, ntar lu yang masuk rumah kalau gue yang masuk bisa-bisa gagal semuanya,
Ruslan juga gak bisa. Mama pasti tahu kalau dia lagi sama gua," perintah Raja dengan pandangan masih ke layar HP dan terus berusaha menghubungi Gadis. Tapi tetap tidak ada jawaban.
"Nanti kalau tiba-tiba ketemu sama Nyonya besar Gimana bos? kan Nyonya besar pasti tahu kalau saya selalu ikut kemanapun Bos pergi." saut Pras.
Sejenak Raja diam seperti Sedang berpikir.
"Gampang, ntar lu bilang aja sama Mama kalau gue langsung pulang ke apartemen, sementara lo ke rumah karena ngambil sesuatu atas perintah gue. Bereskan?" ucap Raja santai.
"Sip bos, oke juga alasannya masuk akal." saut Pras sambil mengacungkan jempol ke arah Raja.
Treetetet Treetetet Treetetet.
"OMG, Dodol bunyi HP lo kek ngajak perang hahaha," celetuk Raja terkekeh begitu juga dengan Ruslan yang sedang menyetir mobil tak mampu menahan tawa.
"Hahaha." tawa Ruslan yang dibalas muka cemberut sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo Cha ada apa?" tanya Pras saat tahu yang menelpon adalah adik perempuannya.
"Mas, cepat datang ke rumah sakit! Mama ada di UGD. Mama kena serangan jantung Mas hiks hiks hiks."
"Iya iya iya Mas segera ke sana!" balas Pras.
Wajah Pras ketika panik, begitu mendengar kabar Kalau sang Mama masuk rumah sakit.
"Bos monmaaf. Saya nggak bisa ikut Bos cari Kenanga, Mama saya masuk rumah sakit saya pamit ya Bos turun di sini." kata Pras terburu-buru karena perasaannya sudah tidak tenang lagi.
"Ya udah buruan lo turun! jangan lupa lo kabari gue kondisi tante" pesan Raja.
"Lan berhenti di depan." perintah Pras.
Mobil berhenti di sebuah bangunan ruko kosong lalu Pras turun di situ, mobil kembali melaju menuju rumah Wijayanti. Setelah 15 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di dekat rumah Wijayanti, lokasinya berada di hook sebuah tanah kavling yang sangat luas.
"Bos sudah sampai." kata Ruslan memberitahu.
__ADS_1
Ruslan keluar dari mobil, lalu dia membukakan pintu belakang untuk Raja. Begitu keluar dari mobil Raja langsung melihat tembok pagar yang cukup tinggi, tingginya kira-kira 4 meteran.
Raja mulai berpikir untuk memanjat tembok, daripada melewati pintu gerbang di mana CCTV terpasang karena sudah pasti mamanya langsung tahu bahwa dia ada di sekitar rumah.
"Lan, kita panjat tembok aja." ajak Raja.
"Siap Tuan, yang mau masuk tuan atau saya?" tanya Ruslan.
"Caplang! ngapain pakai nanya? Udah pasti lho yang masuk, yang tahu dimana itu bunga kenanga dan gimana bentuknya kan lu, gue mana tahu!" bentak Raja tertahan.
"Nanti kalau kita dikira maling gimana tuan?" tanya Ruslan mulai khawatir memikirkan Resiko yang bakal mereka hadapi jika sampai ketahuan.
"Itu urusan gue, lu enggak usah ikut mikir! sekarang juga lu naik ke atas!" titah Raja.
Beberapa kali Ruslan berusaha mencoba untuk melompat menggapai puncak tembok tapii gagal.
"Jongkok Lu!" perintah Raja, Ruslan pun patuh jongkok menghadap dinding.
Melihat Ruslan jongkok menghadap ke tembok pagar dengan badan kurus nya membuat Raja tak tega, Bagaimana mungkin raja yang bertubuh kekar dan atletis berdiri di atas pundak tubuh Ruslan yang sangat kurus, Wajah Raja tampak mengkerut Dia menepuk jidatnya.
"Sama aja gue di panggul tengkorak ," gumam Raja.
Ruslan yang mendengar tak mampu menahan tawa, dia menutup mulutnya dengan 1 tangannya agar Raja tidak mendengar..
"Minggir lo! Bangun Caplang!" perintah Raja kepada Ruslan.
Raja lalu berjongkok memasang kuda-kuda dengan kuat.
"Maaf tuan Saya nggak bisa." tolak Ruslan merasa sungkan kepada Raja.
"Kenapa nggak bisa caplang!" bentak Raja tertahan sambil menoleh ke belakang dengan posisi masih jongkok.
"Masak saya naik di pundak tuan, nggak sopan tuan saya nggak berani." Ruslan bertutur sambil menunduk.
Raja bangun dari posisi jongkok nya, membalikkan badan dan bertolak pinggang dengan menatap tajam melotot kearah Ruslan, Melihat itu Ruslan semakin mengerutkan tubuhnya.
"Denger ya Ruslan! Jangan ampe sepatu gue melayang ke muka lu! Kalau gue bilang naik ya naik! Ingat ya, kalau sampai nggak naik dan gak ngambil itu bunga kenanga sekarang juga, malam ini gue pecat lo! Paham lo!" hardik Raja mulai emosi karena waktu terus bergerak.
"Baik tuan si-siap." saut Ruslan tergagap.
Raja kembali ke posisi semula jongkok sambil memasang kuda-kuda sekuat mungkin, Ruslan melepaskan sepatunya dan perlahan tangannya memegang tembok lalu kaki kanan mulai menginjak pundak kanan Raja dan kaki kirim meninggal pundak kiri raja.
"Kalau bukan demi Dicky gak sudi gue kayak gini, perasaan rendah banget gue. Dalam sejarah mana ada Bos manggul anak buah kek gini," gerutu Raja dengan wajah tegang karena menahan beban tubuh Ruslan.
"Satu... dua... tiga!" Seru Raja saat tubuhnya mulai perlahan berdiri menopang tubuh ruslan di atas pundaknya.
"Bu-ru-an Caplang, badan lu nipu! Keliatan nya kecil tapi berat." ucap Raja dengan terbata karena beratnya memanggul tubuh Ruslan.
Ruslan pun akhirnya bisa menggapai puncak tembok dan duduk di atasnya.
"Ok, Saya masuk." kata Ruslan sebelum loncat ke dalam pekarangan rumah Wijayanti.
"Syukurlah akhirnya bisa juga dia loncat pagar semoga dapat kenanganya." ucap Raja ngos-ngosan bersandar di dinding pagar tembok rumah nya.
__ADS_1
"Jenong, jenong napa sih lu selalu ngasih syarat yang bikin gue terhina mulu. Kenapa syarat nya gak mas intan berlian aja yang tinggal Halo udah ada di depan mata." gumam Raja bicara sendiri matanya menatap langit yang mulai di taburi Bintang.
"Cantik, Kenapa langit nya jadi wajah si Jenong?"ucap Raja sambil mengucek matanya berkali.
Sementara Ruslan mengendap-ngendap di halaman taman samping rumah Wijayanti, dia berusaha memeriksa satu persatu tanaman yang ada di halaman dengan mencium aroma wanginya karena keadaan taman hanya ada cahaya Remang-remang cenderung gelap.
"Kok aku lupa ya, di sebelah mana pohon kenangan nya." gumam Ruslan sambil garuk kepala.
Bunga Kenanga jangankan di saat malam, di saat Siang pun sulit untuk dibedakan dengan daunnya karena warna bunganya yang hijau seperti warna daun.
"GUK... GUK... GUK!!'
"Allahu Akbar! Si Gordon tau aja kalau ada orang masuk ke dalam rumah." Ruslan mulai tampak panik mendengar gonggongan Gordon anjing holder penjaga yang ada di rumah Wijayanti.
"Ya Allah mana kenanga, kalau ampe Gordon dilepas sama Madame Ify bisa habis pantat gue." kata Ruslan terlihat mulai panik.
"Kenanga kenanga kenanga. Nah ini dia." girang Ruslan saat menemukan pohon Kenanga.
Ruslan lalu memetik 7 buah bunga kenanga.
"Tujuh aja lagi takut nanti rusak atau ada yang jatuh." ucap Ruslan sambil memetik 7 Kenanga lagi lalu dia masukkan dalam saku kantong kemejanya.
Guk guk guk guk!
Suara lolongan Gordon kembali terdengar, Ruslan cepat-cepat mengambil tangga yang tak jauh dari pohon Kenanga untuk memanjat tembok.
"Tuan awas saya mau loncat!" teriak Ruslan dari atas tembok.
Buk!
Ruslan jatuh ke tanah lututnya membentur pinggiran got.
"Aaaaawww!" teriak Ruslan sambil meringis kesakitan.
Raja melihat lutut Ruslan berdarah.
"Parah tuh lutut Lo, cepat kita ke klinik buat obati luka lu." ucap Raja sambil memapah Ruslan jalan masuk ke dalam mobil.
"Maaf Tuan Sepertinya saya tidak bisa menyetir." kata Ruslan sambil meringis menahan sakit.
"Udah nggak apa-apa, biar gue yang nyetir lu duduk aja di belakang," perintah Raja prihatin melihat kondisi Ruslan yang luka.
Ruslan duduk di belakang seperti seorang bos sementara Raja yang membawa mobil seperti seorang sopir.
"Dicky, dicky gini amat nasib kita mau anu tadi jadi tukang panggul sekarang jadi sopir. Nyesek Rasanya Dicky. Nong lo harus kasih gue sesuatu yang istimewa malam ini, kalau nggak bakal gue tuntut lu ke KUA." batin Raja menangis.
...ππππππππππ...
Susah payah Raja mendapatkan Kenanga.
Apakah hasil yang dapatkan setimpal dengan apa yang dilakukan Raja malam ini.
Yuk yang masih penasaran ikuti terapi Raja dan Gadis ditotok pembangkit episode berikutnya terima kasih untuk yang yang like vote gif serta komentarnyaπππ
__ADS_1