
Malam semakin larut mobil patroli Satpol PP masih berkeliling berpatroli di sekitar taman-taman dekat Monas untuk melakukan razia dibantu oleh beberapa polisi mereka menyusuri setiap sudut kawasan Monas harga bersih dari para pedagang kaki lima dan juga pasangan bukan pasutri yang akan berbuat mesum.
"Dingin ya yank?" tanya raja pada Gadis sambil terus menggenggam erat tangan Gadis.
"Nggak terlalu Kok kang. Jakarta bukan kampung Gadis, jadi Hawa dingin segini nggak seberapa tadi sudah terbiasa dengan udara lebih dingin dari ini." sahut Gadis menoleh ke arah Raja sambil tersenyum manis.
Raja menggeser duduknya lebih merapat pada Gadis, dia lalu memeluk tubuh istrinya untuk mengurangi rasa dingin angin malam yang sudah mulai terasa menusuk tulang. Mobil patroli tiba-tiba berhenti.
"Ayo naik!" teriak salah seorang petugas pada beberapa orang waria yang terjaring razia.
"Aduhh! Pelan-pelan say nanti sobek lo Rok gue!" teriak salah seorang waria.
"Permisi! Wow oppan ganteng banget." Puji waria dengan mata membulat kagum begitu melihat wajah Raja.
Waria itu terus menebar senyum dan juga kerlingan mata ke arah Raja, sementara Raja cuek saja tidak menanggapi. Raja membuang muka ke arah Gadis.
"Oppan, Madonadona pengen kenal. Boleh dong bagi nomor WA IG FB Twitter apa aja deh buat Madonadona save biar bisa kepoin Sw nya Oppa," rayu sang Waria sambil menggeser tubuhnya merapat hingga menempel pada bahu kiri Raja.
Raja merasa risih sementara Gadis hanya mengulum senyum melihat tingkah waria yang agresif kepada Raja.
"Wow, Oppan keren otot-otot nya bikin bergetar hebat jantung ike," kembali waria yang bernama Madonadona itu memuji Fisik Raja sambil mengusap lengan Raja yang kekar.
"Miss maaf ya, boleh dilihat tapi jangan dipegang suami saya." tegur Gadis santun tapi berwibawa.
"Huh, sok ngaku suami, kalau kamu suami oppan nggak bakal kamu ke comot naik mobil patroli dibawa ke Kantor Satpol PP paling kamu juga cabe-cabean nya oppan ganteng kan!" nyiyir sinis Madonadona sambil mencibir.
"Jaga ya ucapan lo, kalau mulut lo nggak pengen bisu!" bentak Raja mendelik ke arah Madonadona.
"Huh! Ganteng ganteng Serigala, jadi ilfil ike." saut Madona Dona melengos.
Setelah hampir setengah jam berputar-putar mobil patroli melaju menuju Kantor Satpol PP yang letaknya tidak terlalu jauh dari daerah Monas.
"Shitt!" dengus Raja kesal sambil mengepalkan tinju ke arah HP di tangannya.
Gadis menoleh ke arah Raja lalu mengambil telapak tangan Raja yang Mengepal dan membukanya, setelah itu dia mengelus lembut.
"Kenapa Kang?" tanya Gadis setengah berbisik merapatkan wajahnya ke telinga Raja.
__ADS_1
"Baterai gue lowbat yank, mana mau telepon si Buluk lagi biar dia ke sini ngurus semuanya." keluh Raja terlihat mulai bad mood.
"Nih." Gadis mengulurkan HP miliknya kepada Raja.
"Makasih yank." Raja buru-buru mengambil hp gadis lalu mencari nomor Pras.
"Halo assalamualaikum cepetan lu Ke sini buluk gue sekarang ada di Kantor Satpol PP daerah Gambir." perintah Raja ditelepon kepada Pras.
"Udah nggak perlu tanya kenapa. Pokoknya sekarang juga lu harus datang ke sini, Sekalian bawa akte nikah gue yang ada di lemari berangkas gue di rumah mama lu minta Mama aja buat ngambilin. Wassalamualaikum." Raja langsung menutup teleponnya.
***
Pras melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, jalan yang sepi dan Lenggang memudahkan Pras untuk cepat sampai tujuan yaitu rumah Wijayanti.
"Ngapain lagi tuh Jaja ampe ada di Kantor Satpol PP? Jangan-jangan dia ma bininya ketangkep lagi anu di hotel. Tapi masa iya ditangkap di hotel bintang 5 Plus plus, kayaknya nggak mungkin deh." gumam Pras bingung dan juga penasaran.
Pras bertanya dalam hati, apa yang membuat Raja sampai bisa dibawa ke kantor Satpol PP bersama dengan Gadis.
"Atau jangan-jangan dia lagi anu di semak-semak. Haiistt! Emang si Jaja rakyat jelata ampe mau anu aja di semak-semak? Nggak mungkin, itu bukan tipe dia juga. atau jangan-jangan dia kena razia Satpol PP di dalam mobil lagi goyang anu? Hadeuh! Kenapa jadi otak gue yang travelling." Pras gemas dengan khayalan pikirannya sehingga dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Udahlah, ngapain capek-capek gue pikirin. Yang jelas si Jaja lagi dalam masalah serius kalau sampai berita ini tersebar di lingkungan perusahaan atau publik, bakal viral dan jadi cemoohan publik dan itu nggak boleh terjadi." gumam Pras.
TINNNN
Bunyi klakson mobil mengagetkan Pak Mansyur yang sedang duduk berpangku tangan di pos Jaga pintu gerbang dalam kondisi setengah mengantuk.
"Astaghfirullah!" teriak Pak Mansyur terlonjak kaget dari tidurnya. langsung bergegas bangun dari kursinya.
Mata senja Pak Mansyur melihat kamera CCTV di mana terlihat mobil Pras berhenti di depan pintu pagar, Pak Mansyur buru-buru menekan tombol otomatis pagar yang akan terbuka dengan sendirinya.
Begitu pintu pagar terbuka mobil Pras langsung melesat menuju rumah utama, begitu sampai Pras langsung buru-buru turun dari mobil dan bergegas berjalan menuju pintu utama.
tangan Pras langsung meraih bel pintu yang ada di daun pintu.
Ting tong.
Kurang dari 5 menit Narsih asisten rumah tangga Wijayanti sudah membuka daun pintu dari kayu jati yang sangat lebar. Wajah narsih terlihat kacau dengan rambut acak-acakan dan tampak sedikit iler di sudut bibirnya. Sepertinya Dia baru saja bangun dari tidur.
__ADS_1
"Pak Prasetyo? Ada apa malam-malam begini datang pak?" tanya Narsih dengan wajah kaget.
"Emergency, nyonya udah tidur belum?" tanya Pras dengan terburu-buru.
"Sudah Pak, dari tadi jam 9 nyonya besar langsung tertidur waktu saya pijitin."jawab Narsih.
"Kamu ke kamarnya gih buruan bangunin nyonya." perintah Pras dengan wajah tegang.
"Maaf Pak, saya nggak berani bangunin nyonya besar nanti saya bisa kena semprot. Apa lagi ini udah tengah malam Pak." Narsih menyahut dengan wajah memelas sambil menangkap kan kedua tangan didepan dada.
"Ya udah minggir! Biar saya yang bangunin! Kamu ini suruh begitu aja nggak berani." bentuk teras sambil menghalau Narsih yang berdiri di depannya.
Pras lalu berjalan dengan tergesa menuju kamar Wijayanti, setelah sampai didepan pintu kamar Pras menarik napas panjang. Dia terlihat sedang mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan Wijayanti.
TOK TOK TOK
Pras mengetuk pintu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Cek lek.
Begitu pintu dibuka tampak wajah Wijayanti dengan mata merah melotot, bibir mengerucut dan hidung kembang kempis menatap tajam ke arah Pras.
"Berani sekali ya kamu malam-malam mengganggu tidurku! Kurang kerjaan kamu hah!" hardik Wijayanti sambil bertolak pinggang.
"Maaf Nyonya dengan segala hormat tapi ini emergency, saya malam-malam datang ke sini karena tuan Raja dan istrinya nya sekarang sedang ada di Kantor Satpol PP terjaring razia." ucap Pras berusaha dengan jelas dan juga tenang.
"APA KAMU BILANG? BAGUS TERTANGKAP POLISI KARENA KENA RAZIA?" pekik Wijayanti hingga membuat Pras terhenyak kaget sambil mengerutkan tubuhnya.
"Maaf Nyonya bukan Polisi tapi Satpol PP." koreksi Pras.
"Sama saja!" bentak Wijayanti menyemburkan percikkan air liur dari mulutnya hingga mengenai wajah Pras.
"Kamu ini memang tidak becus bekerja sampai membuat tuan mu berurusan dengan hal memalukan seperti ini. Sekarang juga, Kamu urus supaya Bagus pulang ke rumah malam ini juga!" bentak Wijayanti kembali.
"Maaf Nyonya, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk hal itu. Dan Tuan ingin supaya saya mengambil akte pernikahan tuan yang ada di brankas kamar tuan." saut Pras mengutarakan maksud kedatangannya.
"Minggir kamu!" bentak Wijayanti membuat peras langsung menyingkir memberi jalan.
__ADS_1
"Dasar anak demit! Malam-malam gini kok bisa sampai ketangkap sama Satpol PP, otaknya itu ditaruh di mana sih, Apa di taruh di dengkul? Udah mau jadi Bapak tapi kelakuannya nggak berubah masih aja kayak anak kecil!" gerutu Wijayanti sepanjang jalan menaiki tangga menuju kamar Raja yang ada di lantai atas.