
..."Rasa yang tumbuh di hati ku karena kamu bisa merubuhkan rasa bimbang ku"...
...~Raja~...
LIKE KOMENTAR NYA KAKAK
Rumah sakit Bunda.
"Aduh Kak! Maaf ya, aku harus balik ke kamar Ajeng dulu hp-ku ketinggalan di sana. Kakak duluan aja!" kata Gadis sambil berlari menuju lift ke lantai 3.
"Gue tungguin Dis!" teriak Michael menyahut.
Vivian tergopoh-gopoh memasuki lobi rumah sakit dengan muka tegang dan merah karena amarah. Seorang pria 30-an menghampirinya dengan hormat.
"Di mana Dia?" tanya Vivian dengan kasar.
"Dia tadi naik lagi ke lantai 3 Nona." jawab pria yang tak lain orang bayarannya.
Vivian langsung bergegas menuju lift naik ke lantai 3, saat di dalam lift kaca transparan di lantai dua, dia melihat Gadis sedang berjalan. Vivian menekan tombol keluar di lantai 2.
"WOOIII! TUNGGU PELAKOR MURAHAN!!" teriak Vivian melengking membuat semua yang ada di lantai 2 memandang ke arahnya tak terkecuali Gadis yang hendak turun ke lantai bawah.
"BERHENTI LO!" tangan Vivian menunjuk ke arah Gadis sambil berteriak.
Seketika semua orang memandang Gadis yang dituduh sebagai pelakor oleh Vivian, pada saat ini Gadis benar-benar merasa dipermalukan kan oleh kata-kata Vivian.
Gadis tidak ingin keributan dia tidak menghiraukan Vivian, Gadis terus saja berjalan menuju tangga. Vivian mempercepat langkahnya mengejar Gadis.
Saat Gadis ada di bibir tangga Vivian melompat dan mendorongnya hingga Gadis jatuh berguling ke bawah dan terhenti saat kepalanya membentur alat pembersih lantai yang sedang di gunakan.
"GADIS!" teriak Michael dan Pras dalam waktu yang sama.
Keduanya langsung mendekati Gadis yang sudah tergeletak di lantai tak bergerak. Pras memandang tajam kearah Vivian yang berdiri tegak di atas lantai 2, begitu juga dengan Michael.
"Gadis bangun!" Panggil Michael sambil hendak memegang tubuh Gadis, tapi Pras menampik tangan Michael.
"Jangan berani lo sentuh dia!" bentak Pras.
Beberapa orang dokter dan paramedis datang untuk memberikan pertolongan kepada Gadis
"Cepat bawa ke IGD!" perintah seorang dokter yang memeriksa Gadis.
Pras berjalan ke atas.
"Anda akan mendapat balasan!" dengus Pras dengan Wajah Merah karena marah.
"Lo pikir Gue Takut?" Cewek murahan itu pantas mendapatkannya. Apa yang sedang terjadi sama dia, Itu adalah Karma karena jadi pelakor diantar hubungan Gue sama Raja. Seharusnya Lo belain Gue bukan belain cewek murahan itu!" dengus Vivian menyeringai.
"Anda benar-benar sedang mabuk berat! dengus Pras saat mencium bau alkohol menguar dari mulut Vivian.
Pras turun ke bawah menuju ruang IGD untuk melihat kondisi Gadis di ruang tunggu dia melihat Michael duduk dengan cemas.
"Lebih baik kamu pulang." kata Pras pada Michael.
"Tapi, Aku pengen tau kondisi Gadis sampai siuman." tolak Michael.
"Nanti aku kabari," balas Pras..
"Pulanglah, Gadis tanggung jawabku. Percayalah, Dia akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat," Pras mencoba menenangkan Michael agar Michael mau pulang.
__ADS_1
"Tolong kabari aku." pinta Michael dengan wajah cemas sebelum pergi meninggalkan ruang IGD.
Begitu Michael pergi Pras langsung menghubungi Raja.
"Bos, Nyonya kecelakaan jatuh dari tangga." kata Pras dengan tenang.
"*APAAA, BINI GUE*?"
"Iya Bos sekarang lagi di tangani di IGD," jawab Pras sambil menutup telinga nya.
"*Gimana keadaannya sekarang*?"
"Tadi Nyonya pingsan kepala nya terluka Bos," Pras berhati-hati memberikan laporan karena dia tahu Raja pasti sekarang dalam keadaan cemas dan juga bingung
"*DI RUMAH SAKIT MANA LO*!" kembali Raja berteriak bertanya kepada Pras.
"Rumah Sakit Bunda Bos." jawab Pras.
"*Gimana ceritanya bini Gue sampai jatuh dari tangga, dia cenderung orang yang sangat hati-hati*?" tanya Raja ingin tahu sekaligus juga heran.
"Vivian mendorongnya." Pras menjawab pelan.
"VIVIAN!
Klik
"Wadaw apa yang terjadi dengan drama Jaja selanjutnya?" gumam Pras sambil mengintip pintu kaca ruang IGD.
\*\*\*
"SIALAN!!" Pekik Raja geram sambil menggebrak meja kerjanya.
"DI KASIH HATI MINTA JANTUNG TUH CEWEK!" dengus Raja kesal.
"Kalo Gue tegur dia, tambah runyam lagi."
Raja berpikir bagaimana cara memberi peringatan kepada Vivian sekaligus melindungi Gadis.
"Gue bisa gunain Pras sebagai alasan untuk ngasih teguran sama si Vivi,"
"Mana malam ini terapi lagi, AHHH PUSING!! teriak Raja stress.
Raja langsung menyambar jas yang tergantung di kapstok dan juga hp-nya yang ada di atas meja dia pun lalu pergi keluar kantornya.
Sementara di ruang IGD Pras masih duduk di ruang tunggu.
" Keluarga pasien Gadis!" panggil seorang perawat laki-laki saat keluar di pintu IGD.
"Iya saya." sahut Pras langsung berdiri dan menghampiri perawat itu.
"Silakan masuk ke dalam dokter ingin bertemu." ajak sang perawat Pras pun lalu mengikuti.
"Maaf, apa anda suami pasien?" tanya Dokter jaga.
"Bukan Dok, saya temannya," jawab Pras.
"Bagaimana kondisinya dokter?' tanya Pras ingin tahu keadaan Gadis.
__ADS_1
"Tulangnya tidak ada yang patah, hanya luka di bagian kepala. Dia termasuk Gadis yang kuat." dokter menjelaskan.
"Apa dia sudah sadar dok?" tanya Pras serius.
"Iya, dia bahkan sudah berdiri di belakang anda,".kata dokter sambil tersenyum melihat Gadis yang sudah berdiri dengan kepala diperban di belakang Pras.
Seketika Pras menoleh ke belakang dengan mata membulat karena terkejut.
"Dok, Saya ingin pulang sekarang." pinta Gadis sambil duduk di kursi depan meja dokter di samping Pras.
"Pak Pras tolong urus semua biaya administrasinya, nanti saya akan bilang sama Akang. Mbak Tolong antar saya ke depan dengan kursi roda." Pinta Gadis kepada salah satu perawat yang ada di ruang IGD itu.
Gadis keluar dengan kursi roda dan didorong oleh Seorang perawat, dia memesan taksi online lewat aplikasi. Tak Butuh waktu lama taksi pun datang.
\*\*\*
Amora apartemen.
Nit nit nit nit.
Raja langsung masuk apartemen Vivian.
"Honey! honey!" teriak Raja memanggil Vivian.
"Jangan panggil aku dengan panggilan itu dengan mulut buaya mu!" dengus Vivian dengan wajah merah membara karena marah dan cemburu.
"Honey, aku baru datang Kenapa kamu marah-marah, aku salah apa lagi coba kamu katakan padaku?" tanya Raja pura-pura tidak tahu.
"Jangan berwajah polos tanpa dosa Mas. Aku muak melihatnya!" jawab Vivian kesal.
"Bicaralah terus terang. Aku tidak tahu apa maksud perkataan," ucap Raja mulai menampakan kekesalannya kepada Vivian.
"Lihat sendiri di handphone-mu pesan yang baru saja ku kirim," jawab Vivian sambil melirik tajam ke arah Raja dengan mulut mengerucut.
Raja membuka layar handphonenya dan melihat pesan yang masuk, dia memperhatikan beberapa foto kemesraan antara dia dan Gadis lalu dia kembali menatap Vivian.
"Baguslah kamu sudah tahu, sekarang apa mau mu? Membatalkan pertunangan ini? aku rasa itu lebih baik.' tantang Raja sambil menatap tajam kearah Vivian tanpa ragu sedikitpun.
"MASS!!" teriak Vivian sampai urat lehernya menegang.
"Apa?" tanya Raja tak berkedip dengan ekspresi datar.
"Jadi kamu lebih memilih cewek pelakor murahan itu daripada aku tunangan mu?" pekik Vivian dengan mata menggenang.
"Terserah, aku tidak mengatakan seperti itu.
Aku hanya bertanya apa mau mu dan aku rasa itu sangat jelas," ucap Raja lalu pergi keluar dari apartemen Vivian.
"MAASSS, URUSAN KITA BELUM SELESAIIII!!" teriak Vivian melengking tak dihiraukan oleh Raja.
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
CIEE. ..tumben Akang Raja tegas ambil keputusan. Apa karena mau terapi๐ค
Lalu apakah Vivian akan menerima begitu saja dengan keputusan Raja, mana yang akan dipilih olehnya menerima perselingkuhan Raja atau membatalkan pertunangan.
Yuk stay terus Ikuti Totok pembangkit episode berikutnya.
Terima kasih untuk semua like vote gift dan juga please comment ya ditunggu ya Kakak๐
,
__ADS_1