Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Buaya Apes


__ADS_3

Raja dan Wijayanti saling duduk berhadapan di ruang keluarga, mereka saling memandang satu sama lain dengan tetapan yang sulit diartikan. Tapi sepertinya kali ini Raja sudah siap untuk menyampaikan niatnya kepada Wijayanti sang mama.


"Iya Ma, Gadis hamil di rahimnya ada calon buah hati Bagus. Ini sesuatu hal yang luar biasa, aku bahkan tak pernah berfikir ke sana tapi begitu mendengar dia hamil Bagus cuma bisa bilang bahwa Bagus sangat bersyukur dan Bagus harap mama juga bisa menerima Gadis begitu juga calon cucu mama," ungkap Raja menyampaikan isi hatinya kepada Wijayanti.


Wijayanti terlihat melirik ke arah Raja Lalu membuang pandangannya ke arah lain, terlihat sekali bahwa kabar ini sangat berat untuk dia terima. Ingin marah tapi juga ada perasaan senang yang menyelusup ruang kecil di hatinya.


"Lalu?" tanya Wijayanti singkat.


"Raja besok punya rencana untuk mengumumkan secara resmi pernikahan antara Bagus dan Gadis kepada keluarga besar dan sahabat-sahabat Bagus mam," kata Raja keinginannya kepada Wijayanti.


Sejenak suasana hening hanya helaan nafas mereka yang terdengar.


"Ma." Panggil Raja memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Hmmm,"


"Kok hmm?" tanya Raja melembutkan suaranya.


"Apa itu perlu?" tanya Wijayanti tanpa melihat kearah Raja tapi pandangannya jatuh pada jendela kaca yang terbuka dimana pemandangan halaman samping bernuansa ala Jepang terhampar dengan indah dengan lampu taman.


"Perlu, perlu banget malah ma. Bagus nggak mau Gadis menjadi istri yang seakan-akan tidak memiliki status di mata umum. Apalagi kalau nanti calon Bayiku lahir, mereka bisa aja beranggapan bahwa itu adalah anak haram dari hubungan aku dan Gadis. Apa itu adil buat darah dagingku sendiri ma." balas Raja menjawab pertanyaan Wijayanti.


Wijayanti diam belum memberikan keputusan.


"Apa yang dikatakan Bagus ada benarnya, situasi ini benar-benar tidak aku harapkan. Aku tidak menginginkan cucuku lahir dari gadis dukun itu, tapi di sisi lain aku tidak mungkin menolak bayi itu sebagai cucuku yang sudah lama aku impi-impikan karena dia adalah garis keturunanku," batin Wijayanti berperang dalam hati.


Wijayanti beranjak dari duduknya ingin melangkah pergi meninggalkan Raja, tapi tangan Raja menahannya dengan lembut.


"Mama, tolong restui Bagus untuk memberikan kejelasan pada status Gadis, cuman itu yang Bagus minta dari mama saat dan cuman itu kebahagiaan Bagus selain jadi anak mama," mohon Raja sepenuh hati sambil meletakkan telapak tangan Widayanti di pipinya.


"Duh gusti pangeran, Kenapa Kau beri aku hal sulit seperti ini," batin Wijayanti ingin mendebat keadaan.


"Ma, ku mohon," bujuk Raja kembali.


Wijayanti menghela napas panjang kalau menghembuskan secara perlahan.


"Terserah kamu, Mama mau istirahat mama lelah," ucapan Wijayanti membuat raja melepaskan tangan Wijayanti dari genggaman nya.

__ADS_1


"Makasih Mama, makasih banget. Raja tahu Mama sayang banget sama Raja. Raja yakin mama nggak akan nolak kehadiran calon cucu mama, makasih Ma," saut Raja terima kasih tak berhenti kepada Wijayanti.


Wijayanti langsung masuk ke dalam kamarnya. Sementara Raja berjalan keluar dari rumah Wijayanti menuju mobil, dia tidak jadi menginap di rumah mamanya tapi lebih memilih pergi ke apartemen Pras untuk merundingkan pesta kejutan yang akan diselenggarakan besok malam.


***


Apartemen Prasetyo.


Kamar apartemen Pras tiba-tiba riuh seketika saat Pras mendapat telepon dari Raja kalau Raja mau datang untuk menginap malam ini sementara Pras sedang berdua dengan salah satu teman wanitanya memadu cinta.


"Shitt! lagi enak-enakan datang pula pengganggu," demel Pras begitu selesai menutup panggilan teleponnya dengan Raja.


"Beb, buruan pergi ya kita sambung lagi anu nya kapan-kapan, tenang aja sayang tas yang kamu minta beli aja ya tar cuan nya ku transfer," bujuk Pras pada teman wanita nya.


"Ihh, siapa sih yang ganggu kita sayang, baru juga ngopi belum pemanasan apalagi sampai ke metode yang terhit dah ganggu aja. Ini bikin aku overloving baby," dengus Sinta kesal sambil kembali merapikan pakaian.


"Yah udah buruan, jangan marah-marah nanti cepat tua, pokoknya aku janji aku transfer uangnya dan kita bisa anu lain waktu," kata Pras meyakinkan Sinta.


"Iya baby, sabar dulu napa sih! Aku kan harus rapiin bra ku," ketus Sinta sambil mengikatkan bra-nya yang tadi sempat dilepas oleh Pras.


Ting Tong.


"Haiissss, jurik datang! Buruann beb!" Pras langsung saja menarik tangan Sinta menuju pintu keluar apartemen.


"Wait! Jangan keluar dulu! Sembunyi ada kalau sampai ke Jurig itu tahu ada cewek di apartemen gue bisa habis gue dibully sama dia ampe 7 turunan," seru Pras lalu menarik tangan Sinta untuk bersembunyi di kamar mandi.


"Lu ngumpet di sini dulu beb, inget jangan keluar!" pesan Pras.


Pras lalu keluar dari kamar mandi dan dia buru-buru menuju pintu apartemen.


Cekle.


"Buluk! lu lama amat buka pintu, jangan bilang lu lagi anu ya sama cewek!" protes Raja sambil mendelik ke arah Pras.


"Nggak bro, mana ada. Gue udah ikuti jejak lu Insaf jadi buaya," bantah Pras sambil membusungkan dadanya.


"Tumben bro, malam-malam gini datang ke Mari. Kenapa nggak telepon aja biar gue yang Datangin lo," ucap mengalihkan topik bahasan agar tidak menimbulkan kecurigaan Raja.

__ADS_1


"Ada hal penting yang mau bahas malam ini, hal yang sangat sangat sangat sangat penting. Jadi gue harap lu nyimak bener-bener apa yang bakal kita bahas saat ini. Tapi sebelumnya gue mau ke toilet dulu, Udah dari tadi gue nahan pipis," langsung nyelonong jalan ke belakang.


"Alamak! Kenapa pula, Jaja pake acara pipis segala, bisa bahaya ini.' Pras menepuk jidatnya sambil bergegas jalan mengikuti R-aja di belakang


"Sorry Bro, emang kebelet banget ya? Apa nggak bisa ditahan gitu. Gimana kalau kita bahas hal yang penting ini dulu," usul Pras membuat Raja mendelik ke arah nya.


"Gila lu buluk! Lu mau gue ngompol di celana! Minggir lo gue udah nggak tahan juga!" Raja mendorong tubuh Pras lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Bujubune Alamak! Moga nggak terjadi hal yang buruk," gumam Pras hampir berbisik.


"Sialan si buluk orang mau pipis aja kok dilarang," Raja mulai membuka celananya dan mengeluarkan junior mengarahkan ke Urinoar atau peturasan.


"Aduh itu ada siapa," batin Sinta dengan jantung karena dia yakin orang yang baru masuk ke dalam kamar mandi Bukan Pras.


CURRRRRRRRR SREENGGGUU CURRRRRRRRR


"Wooowww! , itu bunyi pipis kaya minyak panas di masukin kentang basah," batin Sinta dengan mata membulat sempurna.


Bunyi aliran deras air seni Raja membuat jantung Sinta berdegup kencang hingga menimbulkan rasa penasaran yang amat sangat. Sengan hati-hati Sinta mengintip lewat gorden yang menutupi bathtub.


begitu Shinta melihat Raja yang sedang berdiri sambil memegangi juniornya. Mata Sinta langsung terbelalak dengan mulut terbuka membentuk huruf o sempurna.


"Pantas saja bunyi nyaring sekali ternyata ini pisang tanduk," batin Sinta takjub dengan junior Raja.


PRETTTTTT


"Ahhh! lega rasanya," ucap Raja merasa setelah membuang air kecil yang ditutup dengan buang angin.


"Wah bau jengkol ini, gara-gara kemarin Jenong masak rendang jengkol baunya sampai sekarang enggak hilang-hilang," gumam Raja sambil terkekeh sendiri.


"Buruan keluar lah, bisa mabuk gue sama kentut sendiri hehehe," ucap Raja lalu keluar dari kamar mandi di yang dipenuhi rumah buang angin jengkol nya.


"Ahhh! Mmmm! ini baunya bikin gue pingsan. Pisangnya mah pisang tanduk tapi kentutnya lebih-lebih dari bau kurasan spiteng," dengus Sinta sambil memencet hidungnya karena tidak kuat dengan bau angin Raja.


"Keluar gak ini, kalau gue terus bertahan disini, bisa-bisa gue gak cuman pingsan tapi bisa mati gara-gara bau kentut," keluh Sinta dimana dia bingung Apakah dia tetap bertahan dengan bau angin Raja atau keluar dari kamar mandi.


..."Aku tidak menerima buaya. Ini hati, bukan kebun binatang"....

__ADS_1


__ADS_2