
Seperti biasa Gadis bangun sebelum ayam berkokok tepat pukul 4 pagi, satu hal yang menjadi kebiasaan Gadis setelah bangun tidur pagi hari adalah mandi sebelum sholat subuh. setelah selesai membersihkan diri dan mengambil air wudhu gadis selalu membangunkan raja yang masih tertidur pulas di balik selimutnya.
"Assalamualaikum kang, ayo bangun." bisik Gadis di telinga Raja sambil mencium belakang telinganya.
Raja menggeliat, ciuman Gadis di salah satu sisi sensitifnya benar-benar menjadi cara ampuh untuk membangunkan Raja.
" Waalaikumsalam. Pagi cantik, sayangnya Akang." sapa Raja begitu membuka matanya sambil tangannya mengusap lembut pipi kanan Gadis.
"Lu tau Nong, sejak lu hadir buat gue, gue merasa bernapas itu adalah hal yang gue butuhkan seperti halnya mencintai dan menyapa lu setiap pagi." ucap Raja menatap dalam manik mata Gadis yang begitu bening dengan binar cinta di matanya.
"Aahhh, tak kuat hati Gadis pagi-pagi dapat gombalan Akang xixixi." Gadis menutup wajahnya dengan Kedua telapak tangannya.
"Hilih, lu baru gue gombalin kek gini dah kebaperan." ucap Raja melepaskan tangannya dari wajah Gadis.
Raja bangun dari tidurnya lalu menyibak selimut dan duduk di ranjang berhadapan dengan Gadis. Kedua tangan Raja memegang kedua sisi kepala Gadis lalu mencium keningnya.
Raja memejamkan matanya harum aroma rambut Gadis menusuk lembut memanjakan indra penciuman. setelah merasa puas Raja melepas lalu ciuman di kening Gadis.
"Udah adzan belum sayang? Gue mau sholat subuh di masjid aja kalau belum." tanya Raja beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar mandi.
"Belum Kang, paling bentar lagi. Tumben Akang mau salat ke Masjid." seru Gadis heran karena tak biasanya Raja mau salat ke Masjid kecuali salat Jumat.
"Mau jadi pejuang subuh buat contoh Imam teladan calon Raja Junior." saut Raja berbalik badan menoleh ke arah gadis sebelum masuk ke kamar mandi.
"Ututututu. makasih Kang, makin terlope-lope Gadis sama Akang muach." Puji Gadis sambil memberikan Kiss dari jauh.
"Gak sah kiss nya Nong, tak kena sasaran." protes Raja.
Gadis berjalan mendekati Raja.
Cup cup cup cup cup
Gadis mendaratkan ciuman di kedua pipi hidung dan kening. lalu kembali menarik wajahnya.
"Bibirnya belum," ucap aja sambil memonyongkan mulutnya.
"Gosok gigi dulu baru mau kasih kiss." saut Gadis dengan senyum menggoda.
"Huh, jadi sedih." Raja menunduk cemberut sambil masuk dan menutup pintu kamar mandi.
"Iiihh, kenapa tambah gemesin aja sih si Akang," gumam Gadis dengan wajah gregetan.
Setelah Gadis menunaikan salat subuh, Gadis langsung keluar kamar dan turun ke bawah langkah kakinya mengajaknya untuk ke dapur.
Narsih yang melihat kedatangan gadis menatap gadis dengan sinis dengan lengkung bibir ditarik ke bawah.
"Pagi Mbak, Gadis mau bikin kopi buat Akang bisa minta tolong?" tanya gadis dengan sopan.
" Iya Nyonya, apa yang perlu saya bantu nyonya muda?" ucap Narsih balik bertanya.
"Tunjukkan dimana perabotan untuk membuat kopi." jawab Gadis.
__ADS_1
Narsih berjalan menuju ke sebuah rak kaca terlihat beberapa pasang cangkir tertata rapi di dalam rak.
"Pilih sendiri." kata Narsih dengan nada jutek.
"Makasih Mbak." suara Gadis terdengar ramah.
Setelah mengambil perlengkapan untuk membuat kopi, Gadis berjalan menuju mesin pembuat kopi yang letaknya tak jauh dari meja makan utama. Begitu Gadis melewati sebuah tempat sampah yang sedikit terbuka, Gadis melihat kantong plastik tempat kue yang semalam dia bawa untuk Wijayanti.
"Sayang banget," gumam Gadis sambil tangannya membuka penutup tempat sampah dan mengambil kantong plastik yang masih tertutup berisi cake.
Narsih yang melihat Apa yang dilakukan hati membulatkan matanya kaget setelah dia menatap Gadis dengan sinis sambil mencibir.
"Dasar gembel, walaupun jadi permaisuri tetep jiwa mulung nya nggak bisa hilang," batin Narsih tersenyum kecut.
Gadis melirik Narsih dia langsung bisa menangkap ketidaksukaan atas keberadaannya di rumah Wijayanti.
"Mbak, ambilkan saya piring kecil, sendok, garpu dan juga pisau pemotong cake." perintah Gadis.
Dengan terpaksa Narsih mengambil apa yang Gadis minta. Gadis mulai membuka kardus cake lalu mengeluarkan kotak yang terbuat dari plastik dari dalam kardus, setelah itu dia membuka tempat plastik dan mengeluarkan cake dari tempatnya.
Saat Gadis sedang mengiris cake sambil duduk di kursi meja makan tiba-tiba dari arah belakang Raja datang mencium pipi kanannya.
Cup
"Assalamu'alaikum istri cantik kesayangan ku." ucap Raja sambil memegang lembut kedua pundak Gadis.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,, sayangnya Gadis." saut Gadis sambil tangannya fokus mengiris cake.
"Bukan buat ibu mertua Kang, kue ini pengen Gadis makan sendiri. Akang mau?" tawar Gadis pada ada Raja.
"Boleh sayang, ini juga salah satu kue kesukaan gue. Tapi sebelumnya minta kopi dulu dong Sayang, mulut udah asem rasanya." pinta Raja.
Gadis meletakkan pisau di tangan lalu dia memandang pacar aja dan mengusapnya dengan lembut.
"Tunggu ya kang, Gadis bikin kopinya dulu," ucap Gadis lalu berdiri membawa perlengkapan kopi menuju mesin kopi.
"Waduh, Kalau tuan muda sampai tahu kue itu sudah dibuang ke tempat sampah bisa celaka gue," batin Narsih mulai cemas dan ketakutan.
"Ini kopinya Kang," ucap Gadis mengulurkan secangkir kopi panas kesukaan Raja.
"Makasih sayang," ucap Raja menariknya hoki dari tangan Gadis.
Rajab mulai menyeruput kopinya, sementara Gadis lanjutkan mengiris cake. Gadis meletakkan masing-masing sepotong kue di piring Raja dan juga di piringnya. Gadis menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
"Nong, siapin dulu buat mama ini kan gue kesukaan mama." pesan Raja.
"Gak perlu kang, kayaknya ibu mertua nggak suka lagi kue ini." saut Gadis datar.
"Maksud lo apa Nong? jelas-jelas ini kue Kesukaan Mama." bantah Raja memandang tajam ke arah Gadis.
"Aduh, mulai dah drama horor pagi ini." batin Narsih bertambah cemas.
__ADS_1
"Tapi ngapain gue ikut mikir? Biarin aja mereka semua pada berantem, kan seru pagi-pagi melihat orang yang gelut." Narsih membatin kemudian dia kembali memasang wajah cuek.
"Kue ini Gadis temukan di tempat sampah dan Gadis nggak tahu siapa yang ngebuang kue ini. Tapi yang jelas kalau barang ditemukan di tempat sampah berarti sudah tidak diinginkan kan Kang?" ucap gadis memberi penjelasan.
"Apa? lu temuin kue yang kita bawa ke tempat sampah dalam keadaan utuh?" tanya Raja memastikan dan dijawab dengan anggukan kepala Gadis.
"Heh! Sini lo!" bentak Raja kepada Narsih yang sedari tadi berdiri mematung di dekat kulkas.
"I I-ya tuan muda." suara Narsih tergagap.
"Siapa yang ngebuang kue ini di tempat sampah. Jawab!" hardik Raja hingga membuat Narsih tersentak kaget.
"Aduh! Ada apa kamu Gus, pagi-pagi udah bikin ribut pakai teriak-teriak segala!" teriak
Wijayanti yang tiba-tiba muncul di dapur.
Sementara Gadis yang melihat kemunculan Wijayanti langsung menyendok kue dan mulai memakannya.
"Jangan di makan!" teriak Wijayanti dan Raja bersamaan dengan mata melotot ke arah Gadis.
"Mubazir." ucap Gadis kembali memakan kuenya.
Raja langsung mengambil piring kue Gadis dan menjauhkan nya dari jangkauan Gadis. Gadis menatap Raja tanpa berkedip dengan bibir terkatup rapat.
"Jangan sekali-kali kamu kasih makan cucuku makanan dari tempat sampah!" dengus Wijayanti dengan wajah memerah marah pada Gadis.
Gadis menatap Raja masih diam tak berkedip, membuat Raja jadi serba salah.
"Nong, jangan gitu pleaseee!" Raja memohon sambil mengusap lembut telapak tangan Gadis.
"Gue akan beliin kue itu sekarang juga sayang, jangan ngambek ya sayang." Raja mulai menggenggam telapak tangan Gadis.
"Gus! Jangan merendah seperti itu pada istrimu!" bentak Wijayanti kesal dengan sikap lemah Raja.
Gadis diam tak menyahut, dia lalu beranjak dari duduknya hendak berjalan meninggalkan ruang makan tapi tangan Raja menahannya.
"Sayang, pleaseee." kembali Raja memohon dan itu membuat geram Wijayanti.
Gadis mengusap lembut pipi Raja lalu tersenyum manis.
"Aku lelah Kang, Gadis pengen istirahat." ucap Gadis lembut.
"Tapi kamu baru mulai sarapan Nong." balas Raja khawatir.
"Nanti saja, ini masih terlalu pagi Kang." kata Gadis sambil melepaskan tangan Raja dari lengannya.
Raja tak bisa menolak kemauan Gadis karena dia tahu Gadis termasuk orang yang keras kepala.
"Oh iya ibu mertua, Gadis sangat menginginkan kue kesukaan ibu mertua tapi sayang Ibu melarang gadis memakannya. Jadi jangan salahkan Gadis kalau sampai bayi Gadis lahir nanti suka ngeces." ucap Gadis memandang Wijayanti tersenyum tipis lalu berjalan pergi meninggalkan ruang makan.
Raja dan Wijayanti saling pandang sambil menggelengkan kepala seperti tidak mau menerima sesuatu.
__ADS_1
"Amit-amit jabang bayi." ucap keduanya sambil mengusap perutnya.