
"Bosan" itulah yang gadis rasakan saat ini dimana dirinya harus berdiam diri di kamar seharian sementara Raja sang suami pergi ke kantor. Sejak kehamilan Gadis, Raja benar-benar ketat. Dia tidak memperbolehkan Gadis untuk bekerja lagi sebagai MUA dengan Bee.
Huufffff.
Gadis menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan, dia berdiri di dekat jendela memandang keluar jendela yang dihiasi oleh taman asri berciri khas ala Jepang. Hampir di semua sudut banyak pohon bonsai yang bermacam-macam jenis.
"Kita senasib." gumam Gadis saat tatapannya jatuh pada sangkar burung kenari di salah satu sudut taman.
Gadis mengambil hpnya lalu memencet salah satu nomor kontak di hp-nya.
"Assalamualaikum mama," ucap Gadis memberi salam dengan tidak bersemangat.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, kok maneh lemes gitu ngasih salamnya ke Mamah. Ada apa Geulis?" tanya Hayati langsung tahu kalau gadis dalam keadaan kurang baik.
"Ma, Gadis pengen pulang, Gadis kangen Mama. Gadis kangen masakan mamah, Gadis juga kangen sama Cemong. Cemong baik-baik aja kan Mah?" Kamu gadis sambil bertanya kabar kucing kesayangannya.
"Cemong baik-baik saja geulis, nih sekarang lagi manja di pangkuan mamah," jawab Hayati.
"Neng," panggil Hayati lembut di ujung telepon.
"Iya mah." jawab Gadis pelan tak bersemangat tapi Putri Mamah adalah wanita yang tangguh dan kuat.
"Neng, wanita hamil harus bahagia ingat pesan mama, jangan pernah kamu berubah tetaplah jadi diri Neng sendiri. Yang penting satu, jangan menyakiti siapapun. Apalagi itu ibu mertua Neng," nasihat Hayati kepada Gadis.
"Mama yakin putri mamah bukan gadis sembarangan, tapi Putri mamah adalah wanita yang tangguh dan kuat yang akan menjadi seorang calon ibu seperti Siti Hajar." kembali Hayati memberikan semangatnya untuk Gadis.
"Terima kasih mah, nasehat mamah bikin hati Gadis sekarang lebih ringan dan juga tenang." Gadis berucap sambil menyungging senyum di bibirnya.
"Alhamdulillah Geulis, sekarang kamu coba keluar. Carilah udara segar dan kesibukan biar hati Eneng senang." saran Hayati.
"Iya Ma hari ini Gadis pengen jalan-jalan. Lagian sudah lama juga Gadis nggak ketemu sama temen-temen Gadis." saut Gadis terdengar bersemangat.
'Ya udah yang penting satu, jaga baik-baik bayi dalam kandungan Eneng. Geulis mama pamit ya mau ke kebun dulu antar sangu, Assalamu'alaikum geulis." Pesan terakhir Hayati sekaligus pamit sebelum menutup teleponnya.
"Iya Mama Wassalam mualaikum warahmatullahi wabarakatuh." balas Gadis.
Gadis berjalan masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, dia bersiap untuk pergi keluar hari ini. Setelah hampir setengah jam Gadis bersiap, dia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Suasana di ruang keluarga tempat di mana dasar tangga terlihat sepi dan Lenggang tidak ada satupun yang terlihat di ruangan itu. Gadis berjalan menuju pintu depan sambil celingukan mencari seseorang yang bisa dia temui untuk memberitahu kalau dia akan pergi keluar.
__ADS_1
"Mau ke mana kamui?" tanya Ify sinis tiba-tiba sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Gadis membalikan tubuhnya dia Berdiri tegap menatap lurus ke wajah Ify.
"Gadis mau pergi ke luar madam." sahut Gadis tenang.
"Kamu sedang hamil muda lebih baik kamu di rumah saja," perintah Ify dengan wajah arogannya.
"Saya sudah minta izin sama suami saya dan suami saya mengijinkan. Jadi tidak ada alasan untuk saya mengikuti perintah orang lain. Permisi." ucap gadis begitu tenang dan penuh percaya diri.
"Heh! Kamu berani ya melawan saya!" bentak Ify mulai terpancing marahnya dengan jawaban Gadis.
"Saya tidak ingin melawan siapapun di rumah ini. Saya hanya ingin keberadaan saya di rumah ini tidak membuat saya dan bayi saya tertekan. Jadi nggak salah kan, kalau saya mengikuti keinginan hati saya madam. Keinginan saya hari ini adalah ingin pergi keluar menghirup udara segar." balas Gadis membuat Ify semakin meradang.
"Dasar keturunan gembel! Mulut kamu sama liarnya seperti gembel di jalanan, tidak bisa menghargai orang yang lebih tinggi kedudukannya dibanding kamu!" maki Ify dengan suara meninggi.
"Apakah itu jadi masalah untuk anda madam?" dengan tatapan tajam ke Arah Ify.
"Heh! Dengar ya dukun gembel bau kencur, sekali lagi kamu berani membantah ucapan ku aku akan membuatmu-." Ify tidak Kak meneruskan ucapannya.
"Aduh! Itu mata dingin banget sampai menusuk ke hati." Ify merasa merinding melihat tatapan mata Gadis yang tajam bagai mata pedang.
Tuk tuk tuk tuk tuk tuk
" Ada apa ini ribut ribut suara Google mama ruang tamu,
"Itu Mbak Yu, aku cuman melarang menantu mu keluar rumah karena dia kan sedang hamil muda." adu Ify angsung' berjalan mendekat ke arah Wijayanti dengan memasang wajah cemas.
"Apa benar yang dikatakan tante mu?" tanya Wijayanti kepada Gadis.
"Iya ibu mertua, Gadis ingin bertemu sama seseorang dan Gadis juga sudah minta izin sama Akang." jawab Gadis tenang.
"Akang siapa?" tanya wijayanti mendelik ke arah Gadis.
"Akang suami Gadis ibu mertua." jawab Gadis polos.
"Kenapa kamu panggil putra kesayangan ku Akang? Emang kamu pikir putra ku yang keturunan ningrat itu Akang delma apa akang somay? Haduh gusti kasih hamba kesabaran kenapa Engkau beri hamba mu ini menantu yang bodoh dan udik." ratap Wijayanti sambil mengurut dadanya.
"Mbak Yu sudah, yang sabar. Mbak Yu jangan terbawa emosi sama gadis tak tahu diri ini nanti darah tinggi mbakyu sama kolesterol plus gula bisa naik." Ify mengusap pundak Wijayanti membantu menenangkan perasaan Wijayanti.
__ADS_1
Gadis diam dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Sekarang kamu masuk ke kamar mu, dan jangan keluar sampai suamimu pulang mengerti!" hardik Wijayanti memerintah Gadis sambil tangannya menunjuk ke arah gadis lalu mengarahkan ke kamar.
"Maaf ibu mertua Gadis harus pergi jadi gadis tidak bisa mengikuti perintah ibu mertua." saut Gadis tetap tenang dan santai menghadapi kemarahan Ibu mertuanya.
"Dasar menantu kurang ajar kamu berani membantah perintahku! Sepenting apa orang yang akan kau temui dibandingkan keberadaan ku di sini!" pekik Wijayanti makin menjadi marahnya.
"Udah mbak Yu sabar." Ify kembali meredakan kemarahan Wijayanti.
"Heh kamu! Bisa gak mulut kamu diam! Atau kamu sengaja ingin membunuh perlahan kakakku dengan kemarahannya akibat perbuatan mu!" hardik Ify ikut terbawa emosi.
Gadis menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Apa salah Gadis ingin keluar madam? Gadis bukan tawanan di sini, kalau ibu mertua dan Madam terus saja melarang Gadis, mungkin Gadis akan minta izin sama Akang untuk tinggal di kampung bersama orang tua Gadis. Dengan begitu ibu mertua tidak perlu harus marah dan emosi setiap kali ketemu sama Gadis, begitu juga dengan Madani Ify." ucap Gadis mengutarakan isi hatinya.
"Heh, ngomong apa kamu? Hah!" bentak Ify kembali.
"Maaf Gadis harus pergi, Gadis gak mau terlambat." gadis berbalik badan berjalan menuju pintu.
Ify mengejar gadis dan mencekal tangannya lalu menariknya hingga gadis berbalik arah ke belakang menghadap Ify.
"Kamu di larang pergi! Kenapa masih nekat!" bentak Ify melotot kearah Gadis.
"Lepaskan Madam." kata Gadis pelan tapi menekan.
"Jangan harap!" balas Ify.
Dreeett
Dering ponsel gadis tiba-tiba berbunyi, saat melihat si penelepon gadis langsung menekan tombol aktif audio ponselnya. hal ini sengaja gadis lakukan agar Wijayanti dan Ify mendengar pembicaraan dia dengan si penelepon.
" Halo assalamualaikum kang."
" Waalaikumsalam Nong, Kamu sekarang ada dimana sayang? Kok belum sampai juga di rumah sakit? Sebentar lagi dokternya datang loh. Aku sudah ada di rumah sakit dari tadi." suara yang tak Lain milik Raja di ujung telepon.
Ify langsung melepaskan cekalan tangannya wajahnya tampak terkejut dengan mata membulat penuh begitu juga halnya dengan Wijayanti. Mereka baru menyadari kalau ternyata Gadis pergi untuk periksa kehamilannya bersama Raja.
"Gadis memang masih muda ibu mertua, tapi bukan berarti Gadis tidak bisa menjaga calon cucu a ibu mertua yang ada di rahim, jadi gadis harap ibu mertua tidak perlu khawatir ataupun cemas permisi assalamualaikum." ucap Gadis sambil berpamitan lalu berjalan keluar pintu rumah Wijayanti
__ADS_1
Wijayanti dan Ify saling pandang dengan tatapan bingung bercampur kesal sekaligus malu.
"Masuk Fi." ajak llirih Wijayanti berjalan masuk kamar meninggalkan Ify yang masih Bengong di depan pintu.