
..."Maaf sebelumnya untuk kali ini terlalu lama up nya karena hampir dua kali author membuat Draft dan selalu hilang 🙏"...
...~Aini~...
"Assalamualaikum Mah." Raja langsung berjalan menghampiri Hayati yang baru masuk dari pintu samping dapur.
Raja mengulurkan tangannya Hayati menyambutnya, Raja lalu mencium punggung telapak tangan Hayati.
"Maaf Mah, Raja datang tanpa memberitahu lebih dulu." ucap Raja mengawali percakapan.
Hayati menatap tajam ke arah Raja, hal ini membuat perasaan Raja tidak enak. Sikap Hayati yang tak banyak bicara dan selalu datar membuat Radja merasa grogi dan juga kikuk jika berhadapan dengan mertuanya.
"Hmmm, kita ke depan," ajak Hayati mendahului Gadis dan Raja yang mengekor di belakangnya.
Begitu Hayati muncul di ruang tamu, Wijayanti berusaha berdiri dengan menahan kaki yang sangat sakit luar biasa dibantu oleh Ify, dia tidak mau terlihat lemah di depan besannya.
Keduanya saling bertatapan, tatapan tajam Hayati bertemu dengan tatapan sinis milik Wijayanti.
"Aduh! Sorot matanya ngajak gelud," batin Raja melirik Wijayanti dan Hayati bergantian.
"Apa kabar Ibu mertua dan Madam Ify?" sapa Gadis memecah kecanggungan diantara keduanya
Gadis berjalan mendekati Wijayanti dia mengulurkan tangannya meraih tangan Wijayanti lalu mencium punggung telapak tangan Ibu mertuanya dan dilanjutkan kepada Ify. Sebetulnya Wijayanti enggan melakukanu tapi dia merasa tidak enak karena pada saat ini dia adalah tamu di rumah Gadis.
"Ehem, selamat datang di gubuk kami," sapa Hayati kepada kedua tamu nya.
"Silahkan duduk,"ucap Hayati mempersilahkan kepada mereka.
Gadis berjalan mendekat ke arah Raja dan berdiri tepat di sampingnya, pandangan Raja jatuh pada jari -jari tangan Gadis lalu jari-jari tangan Raja menggamit telunjuk mungil milik Gadis dan menggenggam nya. Gadis menoleh ke arah Raja sambil tersenyum.
"Geulis siapkan rendaman air hangat dan garam kasar," perintah Hayati kepada Gadis.
"Baik mah." saut Gadis lalu melepaskan genggaman tangan Raja dan berbalik badan jalan menuju dapur.
"Permisi saya ke dalam sebentar," ucap Hayati lalu pergi meninggalkan mereka.
"Gak kaya aja sombong, kamu lihat Fi rumah mereka masih lebih bagus kandang Bruno di rumah," nyinyir Wijayanti sambil mencibir.
"Hooh Mbak Yu masih kalah jauh dibandingkan kita," timpal Ify makin membuat Wijayanti tinggi hati.
Mendengar nyinyiran Wijayanti dan Ify membuat gatal dan panas telinga Raja, bagaimanapun dia tidak suka keluarga istri dan mertuanya direndahkan walaupun oleh orang yang melahirkannya.
"Mah, bisa nggak jaga perkataan Mama kita sekarang ada di rumah mereka kalau mereka dengarkan nggak enak Mah. Antie juga jangan jadi kompor," protes Raja.
"Halah kamu ini Gus, mentang-mentang lagi kasmaran sama anaknya dukun itu sudah berani kamu jadi pembela nya, terus saja kamu belain mereka," geram Wijayanti melirik tajam kearah Raja.
"Bu-," ucapan Raja terpotong.
"Ehem!" Hayati tiba-tiba muncul sambil berdeham.
Hayati membawa nampan yang berisi 3 gelas minuman dan sebuah teko kecil lalu meletakkan gelas itu tepat di atas meja depan Raja, Wijayanti dan dan Ify
"Silahkan di minum," kata Hayati mempersilahkan kepada tamunya.
Raja mengambil gelas beralaskan lapik di depannya yang terlihat masih mengeluarkan asap beraroma wangi rempah.
__ADS_1

"Mah, ini susu coklat Kok baunya wangi?" tanya Raja mengerutkan dahi matanya menatap ke arah gelas yang ada di tangannya.
"Itu bandrek," saut Hayati dan Wijayanti hampir bersamaan.
Raja memandang keduanya bergantian sambil tersenyum.
"Alhamdulillah udah kompak akhirnya," celetuk Raja membuat Wijayanti mendelik ke arahnya sementara Hayati hanya bersikap dingin.
Raja hendak meniup minuman bandrek panas yang ada di di tangannya, saat tiba-tiba Gadis muncul dan berkata.
"Makanan atau minuman jangan ditiup Kang, nanti nggak berkah,"
Gadis lalu mengambil lapik dan gelas yang Raja pegang, dia meletakkan keduanya di atas meja. Tangan Gadis meraih tisu dan membersihkan lapik lalu menuang sedikit bandrek di atasnya.
"Tunggu sebentar Kang, nanti juga berkurang panasnya," kata Gadis sambil memandang kearah Raja dengan tersenyum.
"Senyum itu selalu bikin candu" batin Raja berbunga hatinya menatap Gadis tak berkedip sambil menyungging seulas senyum.
Entah mengapa setiap melihat senyum Gadis perasaan lelah, marah, penat semua seakan sirna begitu saja, senyum itu bagaikan obat ampuh untuk mengatasi hal buruk yang Raja rasakan setiap saat.
"Demit ini bener-bener gak tau tempat buat kasmaran, Kita di anggap gak ada. Huuuhh pengen tak sentil itu jidatnya bikin malu saja!" dumel Wijayanti dalam hati dengan bibir mengerucut dan mata mendelik ke arah Raja.
"Geulis airnya sudah siap?" tanya Hayati mengalihkan suasana sepertinya dia peka melihat Wijayanti tidak menyukai pemandangan yang ada di depannya.
"Sudah Mah," jawab Gadis menoleh ke arah Hayati sambil mengangguk.
"Silahkan anda berendam air hangat, itu bagus untuk mengurangi radang rematik dan memulihkan stamina anda," tawar Hayati pada Wijayanti dengan ekspresi datar.
Hayati beranjak dari kursinya sejenak dia menatap Wijayanti.
"Terserah, Kalau anda mau menahan sakit akibat rematik sepanjang malam" ucap Hayati dingin dan pergi meninggalkan mereka menuju dapur.
"Geulis, bantu Mama di dapur," perintah Wijayanti kepada Gadis.
Gadis pun langsung bergegas pergi menuju dapur mengikuti Hayati. Sepeninggal Hayati dan Gadis Raja mendekat duduk persis di samping Wijayanti, dia meraih telapak tangan kanan Wijayanti.
"Ma, mereka adalah orang-orang yang ahli dalam pengobatan, untuk kali ini Raja saranin ikutin apa kata mereka. Siapa tahu rasa sakit rematik Mama bisa berkurang atau malah hilang," bujuk Raja.
"Iya Mbak Yu, Gak ada salahnya Mbak Yu berendam air hangat garam, siapa tahu sakitnya sembuh. Lagipula obat rematik juga kan nggak dibawa," timpal Ify merasa kasihan dan bersalah kepada Wijayanti.
Wijayanti terdiam hatinya benar-benar kesal di satu sisi dia ingin menjaga harga dirinya dan gengsinya di depan Hayati di sisi lain rasa sakit yang semakin mendera kaki dan juga tulang punggungnya membuatnya benar-benar tak tahan.
"Ya udah ayo antar Mama."dengan terpaksa akhirnya Wijayanti mau juga berendam air hangat.
"Neng!" panggil Raja dengan suara agak tinggi.
Plak
"Jangan bikin malu! Di rumah orang masih saja kayak Tarzan. Ditaruh dulu toak mu, kalau perlu dibuang nggak usah pakai teriak," omel Wijayanti sambil memukul lengan atas Raja.
"Iya Ma, maaf dah kebiasaan," saut Raja sambil meringis.
"Iya Kang ada apa?" tanya Gadis muncul dari balik gorden ruang tengah.
__ADS_1
"Kamar Mama sama Antie di mana? Terus mau berendam nya dimana?" Raja memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
"Ayo ibu mertua sama Madam Ify, Gadis antar dulu ke kamar," jawab Gadis berjalan dengan sopan mengantarkan Wijayanti ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Hayati.
"Kamar apa kandang sapi," gumam Wijayanti lirik tapi masih terdengar telinga Gadis.
Gadis hanya tersenyum tipis, karena Gadis tahu betul betapa mewahnya kamar Wijayanti dan jika mengingat kamar Wijayanti kejadian terapi langsung hinggap di pikirannya dan itu membuatnya tersenyum geli.
"Ngapain Lu ketawa Nong?" bisik Raja kepo.
"Nggak papa Kang," jawab Gadis sambil berbisik.
"Semuanya sudah Gadis siapin di ruang berendam, mari saya antar ibu mertua," Gadis menawarkan diri.
Dengan dibantu Raja yang memapah Wijayanti mereka diantar Gadis ke sebuah ruangan yang ada di bagian belakang bangunan rumah Gadis. ruang khusus untuk berendam air hangat.

Wijayanti masuk ke dalam bak rendam terbuat dari kayu dan membenamkan tubuhnya ke dalam air hangat garam.
"Akang jagain ibu mertua, Gadis bantu Mama masak dulu ya Kang," ucap Gadis lalu pergi meninggalkan mereka.
\*\*\*
Saat menjelang isya Hayati dan Gadis sudah selesai menyiapkan makan malam, begitu juga dengan Wijayanti yang sudah selesai berendam dan membersihkan diri bersama Ify.
Raja juga sudah berganti pakaian dengan pakaian santai mereka berlima bersiap untuk santap malam. meja makan jati kuno yang berbentuk segi panjang yang telah tertata rapi dengan beragam menu khas makanan Sunda.

"Karena kalian datang mendadak dan tanpa pemberitahuan hanya ini yang bisa kami sajikan untuk makan malam," kata hayati tenang apa adanya.
Raja yang melihat Pete bakar langsung menutup hidungnya, Sementara Wijayanti dan Ify terlihat menelan air ludahnya.
"Nong, nggak ada makanan lain?" tanya Raja sama sekali tidak bernafsu dengan makanan yang ada di atas meja.
Gadis menggeleng dengan wajah menyesal.
"Kalau nggak bikinin gue dadar telor aja." ucap Raja.
"Ya udah kalau Akang mau dadar telor, kita ambil dulu telornya di kandang," ajak Gadis.
"Ama gue? Emang kandangnya di mana?" tanya Raja membulatkan matanya sambil mengangkat alisnya.
"Di belakang dapur dekat kolam belakang," jawab Gadis santai.
"WHAT! DEKET KUBURAN!" teriak Raja lepas kontrol.
"KUBURAN APA?" pekik Wijayanti dengan wajah panik begitu mendengar kata kuburan.
...😱😱😱😱😱😱😱😱...
Bagaimana acara makan malam mereka?
episode selanjutnya di Total pembangkit
terima kasih untuk semua dukungan dan jejaknya🙏🙏
__ADS_1