Totok Pembangkit

Totok Pembangkit
Tamu Istimewa


__ADS_3

..."Hadirku untukmu, seperti cintaku untukmu.Apapun kan ku lewati asal ada kamu di sisiku"...


...~Raja~...


LIKE RATE VOTENYA KAKAK 🙏




Begitu tiba di depan rumahnya dan membayar ongkos ojek, Gadis langsung buru-buru melepaskan sepatu vantofel nya dan masuk ke dalam rumah dengan nafas yang terengah.



"Assalamu'alaikum, Hah..hah. Ma! Mama!" panggil Gadis langsung menerobos masuk melewati ruang tamu menuju dapur.



"Gak ada," gumam Gadis saat melihat dapur dan kamar Hayati tapi dia tidak menemukan sosok yang dicari.



Gadis kembali keluar rumah lalu dia berjalan menyisir halaman samping yang banyak ditumbuhi pohon mangga dan juga sirsak di samping sebuah Balong ikan. Gadis terus berjalan sampai ke halaman belakang menyusuri jalan setapak di antara kolam yang mengelilingi rumahnya.



Saat netra nya jatuh pada pohon petai yang ada di ujung kolam, terletak bersebelahan dengan tempat pemakaman umum, Gadis melihat Hayati sedang mengambil pete dengan gala.



"MAMA!!" teriak Gadis ke arah Hayati sambil melambaikan tangan.



Dari kejauhan tampak Hayati mengembangkan senyum sambil membalas lambaian tangan Gadis dengan melambaikan tangannya. Gadis berlari kecil menyusuri pematang balong.



"HATI-HATI GEULIS!" teriak Hayati.



Begitu keduanya sudah dekat Gadis menghambur ke dalam pelukan Hayati, Hayati yang sedang memegang gala hanya bisa memeluk Gadis dengan satu tangan.



Tak ada kata yang keluar dari mulut Gadis, tapi Hayati bisa merasakan dari detak jantung dan hembusan nafas Putrinya kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja.



"Assalamualaikum Mah," bisik Gadis di telinga Hayati.



"Waalaikumsalam, sehat geulis?" sahut Hayati sambil bertanya.



Hayati mengusap kepala Gadis yang terbungkus hijab warna mocca.



"Hati Gadis nggak sehat Mamah, hiks hiks hiks," jawab Gadis tersedu menyembunyikan tangisnya di pundak Hayati.



Hayati mencium kepala Gadis sambil mengusap lembut punggung belakang Gadis.



"Putri Mamah geulis dan juga kuat. Berserah diri kepada Allah Sholehah Mamah, Allah akan memberi yang terbaik untukmu geulis. Jangan lupa itu sayang," nasehat Hayati jadi penenang untuk hati Gadis saat ini yang sedang galau.



"Iya Mah, terimakasih untuk selalu ada buat Eneng," saut Gadis mulai tenang perasaannya.



"Emm ...Mah, Kak Haris pulang ya? Ta-di Eneng ketemu sama dia di jalan, kok mama nggak bilang kalau dia sedang ada di kampung?" tanya Gadis ragu-ragu.



"Buat apa mama bilang, cepat atau lambat yang seperti ini pasti akan terjadi juga kan?" saut Hayati.



"Dah, ayuk masuk rumah dulu. Pamali baru datang udah banyak di luar," ajak Hayati.



"Mama kenapa enggak suruh Aa Ruslan buat ngambilin pete Mah," ucap Gadis sambil membantu Hayati memungut pete yang berserakan di bawah pohon.



"Dia sekarang udah kerja di pabrik opak milik Uwa, kasihan juga dia kalau mama selalu minta bantuan dia," saut Hayati menjelaskan.



Keduanya lalu beriringan menyusuri pematang kolam sambil menenteng pete yang lumayan cukup banyak masuk ke rumah.



\*\*\*

__ADS_1


Di mobil Raja.



hari sudah menjelang sore saat mobil yang dikendarai Ruslan memasuki kawasan lereng pegunungan di kota S, Jalan yang berkelok-kelok di kanan tebing di kiri jurang membuat Ruslan harus benar-benar fokus.



Untung saja mereka mengendarai mobil yang memang khusus untuk perjalanan daerah pegunungan yang medannya sangat sulit belum lagi ditambah jalannya yang tidak teraspal semua. Entah berapa kali Wijayanti mabuk dan memuntahkan isi perutnya hingga dia terduduk lemas di jok belakang di samping Ify.



"Gus, masih jauh Ndak rumah dukun mu itu? Aku dah sakit pinggang mual muntah tinggal kejang-kejang yang belum kalau perjalanannya Kaya gini!" dengus Wijayanti kesal uring-uringan.



"Sabar Mah, bentar lagi." saut Raja santai karena ini kali keduanya pergi ke kampung Gadis jadi dia tidak kaget lagi.



"Gus! dari 2 jam yang lalu kamu selalu bilang sebentar lagi sebentar lagi tapi buktinya sampai sekarang nggak sampai-sampai. Sebentar mu itu berapa jam Gus!" bentak Wijayanti sambil menjewer telinga Raja ketarik ke belakang.



"Aduh ampun Mah! Kalau sebentar kali ini sebentar beneran Mah, paling juga setengah jam lagi nyampe. Bener kan Lang?" Raja mencari pendukung menguatkan argumennya.



"I-ya Nyonya benar kata tuan Bos setengah jam lagi," jawab Ruslan terlihat gugup.



"Awas aja kalian berdua ya kalau setengah jam lagi enggak sampai aku remes-remes mulut kalian berdua," ancam Wijayanti sambil memperagakan tangannya yang meremas sesuatu.



Setelah setengah jam perjalanan turun naik kelak kelok memicu adrenalin sampailah mereka di sebuah perkampungan yang dikelilingi oleh perkebunan teh yang sangat luas.



"Alhamdulillah, tuh Ma udah sampai!" cetus Raja senang.



"Fi, kenapa ya kalau dukun itu senangnya punya rumah di lereng gunung sama kaya Mbah brojol itu juga rumahnya ngumpet di lereng gunung," cetus Wijayanti.



"Mungkin biar gampang buat semedi dan cari wangsit," saut Ify asal.



Hari sudah menjelang sore saat mobil Raja memasuki kampung halaman Gadis, udara puncak gunung terasa dingin menusuk tulang apalagi tulang llp⁰tua Wijayanti yang sudah terkenal penyakit rematik.




"Aku tadi ngambil obat yang ada di laci meja rias Mbak Yu yang paling atas itu saja," jawab Ify.



"Waduh obat rematik ku yang di ruang kerjaku nggak kebawa Fi?" tanya Wijayanti sambil bulatkan matanya ke arah Ify.



"Waduh maaf Mbak Yu, aku lupa tadi enggak ngecek ruang kerja Mbak Yu dulu sebelum berangkat. Habisnya Bagus buru-buru banget suruh kita siap-siap jadi aku nggak kepikiran Mbak yuk maaf ya," ucap Ify dengan nada menyesal.



"Ma, kita sudah sampai," kata Raja saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sangat sederhana tapi tampak luas dan asri dengan halaman dan juga dikelilingi Balong ikan.



Raja keluar dari mobil lalu membukakan pintu belakang untuk Wijayanti, Wijayanti pun turun dengan sangat pelan di bantu Raja, dia merasa kakinya nyeri dan juga ngilu akibat rematik nya kambuh karena udara dingin.



"Raja gendong ya Ma." ucap Raja menawarkan bantuan kepada Wijayanti.



"Gak usah malu-maluin Mama aja di depan besan," tolak Wijayanti.



Raja mengeluarkan tangannya membantu Wijayanti turun dengan menahan rasa sakit pada bagian lutut yang teramat sakit. Wijayanti mencoba berjalan walaupun agak sedikit pincang.



"Hati-hati Ma," ucap Raja sambil membantu Wijayanti berjalan dengan memapah nya bersama Ify.



"Assalamualaikum!" teriak Raja menyapa penghuni rumah Gadis.



Tak menunggu lama pintu rumah pun terbuka dan muncullah sosok Gadis dari balik pintu dengan wajah sangat terkejut menatap ketiga orang tamu yang sore itu datang ke rumahnya.



"Waalakumsallam, Akang?" saut Gadis sambil membulatkan matanya menatap Raja.

__ADS_1



"Sampai kapan kita berdiri di pintu Nong?" tanya Raja dingin.



"Ma-af, silahkan masuk," ucap Gadis gugup masih bingung tak percaya dengan kedatangan suami ibu mertua dan juga Ify.



Gadis lalu menyalami Raja, mencium telapak punggung tangan kanan Raja juga Wijayanti. Saat Gadis hendak mengambil tangan Wijayanti, Wijayanti terlihat enggan tapi tidak menolak karena merasa dia tamu saat ini. Begitu juga dengan Ify.



"Silahkan duduk ibu mertua dan Madam Ify, saya panggil Mamah sebentar," ucap Gadis pamit.



"Gue nggak di suruh duduk Nong?" tanya Raja datar.



"Akang... ikut Gadis dulu bentar," jawab Gadis sambil menggamit lengan Raja dan mengajaknya masuk ke ruang tengah.



Mata Wijayanti dan Ify berputar mengelilingi ruang tamu yang lumayan luas tapi tanpa banyak perabot, apalagi perabot mewah. Berbeda sekali dengan rumah mewahnya atau apartemen yang dimiliki oleh keluarga Wijayanti seperti bumi dan langit.



"Huh, mereka cuma keluarga miskin tapi harga dirinya setinggi keluarga ningrat. Benar-benar tidak sekelas dengan kita," gumam Wijayanti disambut anggukan kepala Ify.



Gadis membawa Raja ke dapur menjauh dari ruang tamu. Mata Raja berkeliling ruang dapur yang lumayan luas dan bersih dengan jendela yang cukup lebar mengarah ke luar halaman belakang dan masih terbuka.



"Nong itu yang di halaman belakang rumah lu apaan kok ada bangunan kecil dibawah pohon yang paling gede itu?" tanya Raja sambil mengerutkan dahi mengarahkan telunjuknya ke luar jendela.



Gadis yang hendak ngomong serius jadi ikut memperhatikan arah yang di tunjuk Raja.



"Itu kuburan Kang." jawab Gadis singkat.



"HAH! KUBURAN?" tanya Raja dengan mata melotot dan langsung memasukkan telunjuknya ke mulut sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.



"Akang jorok ngapain jari di \*\*\*\*?" tanya Gadis menarik tangan Raja.



"Tutup jendelanya Nong!" perintah Raja.



Gadis cepat-cepat menutup jendela dapur, dia baru sadar kalau Raja fobia dengan kuburan dan orang mati.



"Nong sekarang kita cari hotel saja gue nggak mau tidur di rumah Lo!" ajak Raja mulai panik.



"Mau cari di mana Kang? bentar lagi hari gelap dan kalau kita ke kota jaraknya jauh, belum lagi jalannya sulit. Sudahlah Kang nggak usah takut, kan ada Gadis," bujuk Gadis.



"Gue nggak bakalan bisa tidur, Mama juga kalau tau pasti gak bakal bisa tidur," saut Raja mulai panik.



"Ibu mertua fobia juga sama kuburan Kang?" tanya Gadis heran.



"Mama lebih parah daripada gue Nong," jawab Raja merapatkan tubuhnya mendekati Gadis.



"Udah gak usah takut kalau Mama mu takut jangan bilang apa-apa," ucap Hayati yang muncul dari balik pintu samping dapur.



\_



\_



\_



Bagaimana Raja dan Wijayanti melewati malam di rumah Gadis dengan fobia nya

__ADS_1


Tunggu episode berikutnya


Terimakasih untuk jejak nya kakak🙏🙏


__ADS_2