
“Apa maksud kalian tidak bisa lagi melakukan apa yang aku minta?” Suara Brian seketika meninggi mendapati kalau para gadis yang dibayarnya untuk menganggu Stefani mengatakan kegagalan mereka dan kemudian mundur. Padahal ia sudah rugi dalam hal uang.
“Maafkan kami! Tapi, tampaknya berbahaya menganggu anak itu!”
“Cih!” Brian berdecih mengejek, sangat tidak terima terhadap kegagalan. Ia kemudian mendorong dirinya kereas-keras ke punggung kursi sambil bersedekap. “Bagaimana bisa kalian kalah dan mundur hanya karena gadis yang bahkan tidak mampu melawan?” tanya Brian tak percaya.
Ketiga gadis itu yang memang adalah kakak tingkatnya Stefani saling pandang. Ilsa yang mengetuai kelompok tersebut pada akhirnya angkat bicara. “Gadis itu terasa berbahaya, Brian. Maafkan aku! Tetapi, perasaanku mengatakan kalau kami akan mengalami masalah jika berurusan dengan Stefani!”
“Alah ... kalian saja banyak alasan!” seru Brian tidak terima.
Ketiga gadis itu masih memilih saling pandang dan kemudian mengeluarkan amplop coklat dari tasnya. “Kami tidak bisa menerima ini, Brian. Akan jadi masalah kalau kami ketahuan menganggunya karena uang ini! Kami pamit!”
Rasanya Brian ingin melemparkan uang yang diterimanya kembali itu ke lantai. Ia telah memilih orang yang salah untuk melaksanakan tugasnya. Ia merasa kesal dan ingin berteriak. Diambilnya amplop coklat yang diserahkan kembali oleh ketiga orang yang awalnya dipercaya untuk mengusik Stefani. Setelah itu diraihnya ponsel yang tergelatak di atas meja begitu saja.
“Gagal!” seru Brian pada orang yang menyapanya dengan suara riang.
“Apa? Kok bisa?”
“Mereka bilang menyerah untuk ikut serta. Mereka berkata kalau merasa Stefani berbaya untuk diusik. Kamu percaya Daisy, mereka berkata Stefani berbahaya? Memang apa yang bisa dilakukan seorang Stefani?” seru Brian sambil mendekatkan betul speaker telepon dengan mulutnya.
Untuk beberapa saat Daisy diam saja, tidak memberikan respon atas kabar yang baru saja diterima. Hingga Brian beranggapan kalau gadis yang diajaknya bekerjasama itu tidak peduli dan sama sekali tidak memiliki minat lagi dengan rencana mereka.
“Orang yang terusik memang kadang tampak sangat berbahay!” kata Daisy pelan. “Sudahlah! Kita tinggal cari orang baru saja jika mereka mundur. Jangan khawatir!”
“Mencari orang baru itu sulit. Mendapatkan mereka saja aku sudah mencoba menghubungi hampir banyak orang!” keluh Brian yang mendengar kalau mendapatkan orang yang mau menjadi tokoh antagonis dari mulut Daisy begitu mudah.
__ADS_1
“Aku tahu seseorang kalau ini menyangkut pria bernama Azzam. Aku akan coba menghubunginya!” kata Daisy pelan.
“Benarkah? Siapa?” tanya Brian ingin tahu.
“Aku lebih suka tidak memberitahumu apapun Brian. Bagaimana kalau orang itu tidak mau terlibat. Kamu akan kecewa lagi!”
Yang dikatakan Benar. Ia mudah kecewa dan marah jika yang diinginkannya tidak terlaksanan. Karena itulah Daisy selalu menyebutnya kekanak-kanakan. Lalu ia tiba-tiba menjadi penasaran. “Kenapa kamu tidak menyebutku kekanak-kanakan lagi?” tanyanya. Sudah cukup lama kalimat itu tidak terlontar dari mulut Daisy lagi.
Kembali Daisy diam, seolah tidak berminat dengan obrolan. “Kamu masih ingin disebut kekanak-kanakan sekarang! Berapa kali aku harus mangatakannya padamu?”
“Tidak terima kasih! Jangan katakan apapun!” Lekas Brian menyahut. “Katakan padaku kalau kamu sudah berhasil menghubngi orang itu, oke?”
“Ya, Baiklah!” Daisy memutuskan panggilan.
Kekesalan brian tadi sudah menguap sekarang. Ia menepuk-nepuk uang yang dikembalikan tiro yang pergi tadi. Uang ini tampaknya akan berguna kembali. Syukurlah orang tidak berpengalaman mundur dengan sendirinya.
Pelan-pelan Stefani meletakkan ponsel pemberian Mahardika di atas batal. Lalu ia merebahkan diri dengan sendirinya di tengah ranjang. Lalu ia menendang dan menahan diri untuk tidak berteriak keras-keras untuk meluapkan kekesalan.
“Padahal aku berharap banyak kalau Daisy terganggu dengan semua aksi Brian ini!” kata Stefani dengan napas sesak. Ia tidur terlentang dengan kedua tangan membentuk garis lurus. “Mereka merasa kalau Daisy berbahaya.” Stefani tergelak.
“Dari mananya Daisy berbahaya. Yang bisa dilakukannya hanya mengepalkan tangan dan menahan diri untuk tidak melakukan kesalahan!” Stefani memutar tubuhnya hingga miring dan menatap kumpulan foto Stefani yang terpajang pada meja-meja pajangan di dinding-dinding.
Stefani ingat janjinya dengan Brian seketika dan mencoba memaksa kepalanya ingat semua hal tentang gadis yang dikiranya akan setuju dengan permintaannya. Gadis yang menyukai Azzam sejak lama dan terus menjadi hantu di sekeliling Azzam sampai saat ini.
“Apa kabar, ya, Andien sekarang?” gumam Stefani pelan.
__ADS_1
Ia mengingat delapan nomor pertama ponsel Andien, tetapi empat nomor di belakangnya terasa sangat samar-samar kini. Stefani jadi merindukan ponsel lamanya kini. Tetapi, ia tidak mungkin mengatakan pada Handoko, ayahnya yang kini pasti tak akan bisa mengenalinya bahwa menginginkan ponsel lama. Bisa-bisa ia dianggap aneh dan begitu jahat.
Jadi Stefani pikir hal paling baik yang bisa dilakukan adalah datang ke Jurusan Bahasa nanti dan mencari Andien. Ia tahu di mana gadis itu duduk saat kelas tidak berlangsung dan bagaimana gadis itu menjadi hantu buat Azzam. Ia bertanya-tanya apakah Azzam masih tidak menyadari keberadaan Andien.
Stefani tersentak saat mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Menyusul suara Raise yang lembut memberitahu. “Nona, Tuan Muda Mahardika datang kemari!”
Stefani jelas langsung duduk seketika. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari sebelum balas berseru pada Raise. “Suruh dia masuk!”
Pintu kamarnya terbuka dan wajah Mahardika yang tampan langsung tampak di dalam ruangan. “Hai!” sapa Mahardika singkat.
Stefani sama sekali tidak membalasnya. Ia kemudian meminta bantuan pada Raise untuk mengambilkan teh untuk Mahardika. Ia kemudian membuka pintu menuju teras lantai dua yang telah dibersihkan tadi pagi oleh para pelayan.
“Jadi buat apa Mas Dika datang kemari?” tanya Stefani tanpa menunda-nunda lagi.
“Benar-benar, ya, masih bertanya padahal kamulah yang membuat aku datang ke sini!”
Stefani tertawa, sama sekali tidak kasihan atau merasa kalau yang dilakukannya salah. Ia bahkan tidak peduli dengan kemarahan yang merayap di wajah Mahardika. Ia lalu mengibaskan tangannya untuk menyuruh Mahardika duduk.
“Aku tidak sopan, ayo duduk Mas Dika!”
Mas Dika menarik kursi yang kakinya terbuat dari besi itu dengan tergesa-gesa. Suaranya membuat perasaan tak nyaman. Lalu Mahardika menghempaskan dirinya sehingga jatuh di atas bagian busa kursi itu.
“Jika tidak bisa kenapa datang? Mau memastikan kalau aku tidak menemui Daisy yang asli?” sindir Stefani.
Ia menarik kursi juga dan duduk di depan Mahardika.
__ADS_1
“Memang aku punya pilihan untuk tidak menemui. Papamu setiap hari menelepon papiku untuk memastikan kalau kita baik-baik saja. Aku tanyakan sekali lagi padamu. Memang siapa yang sudah menyebabkan semua ini terjadi?”
“Bukankah cinta bisa membuat seseorang menjadi aneh? Kamu bisa bilang jatuh cinta pada Stefani, kan?”