
Aida kaget bukan kepalang saat Daisy menghampirinya lebih dulu. Gadis itu dengan tergesa-gesa melangkah ke arah Aida, sehingga ia tanpa sadar berdiri untuk menyambut. “Ada apa, Daisy?” tanya Aida setelah gadis itu hanya berjarak beberapa langkah saja darinya.
Daisy tidak menjawab dan menghambur memeluknya. Seluruh tubuh Aida menegang seolah ada sesuatu yang menakutkan mendekatinya.
“Mama harus membantuku!” seru Daisy dengan suara serak.
Aida mengerjap tidak percaya. Membantu jenis apa sebenarnya yang diinginkan oleh Daisy saat ini. Yang paling penting apa-apaan dengan sikap yang sangat membutuhkan seseorang yang ditampilkan Daisy sekarang.
“A-apa yang terjadi?” tanya Aida.
Ia mendorong tubuh Daisy terlebih dahulu dan menyuruh gadis itu dengan gerakan tangannya. Mata Daisy tampak berkaca-kaca. Ia seperti akan melakukan apapun supaya Aida menerima permintaannya.
“Mas Dika!” serunya.
“Ada apa dengan tunanganmu?” tanya Aida dengan aneh.
Dibandingkan dengan Aida yang sering kesal dengan sikap Daisy. Mahardika malah tak pernah menerima perlakuan tidak menyenangkan itu. Malahan, Mahardika seolah memiliki pertalian batin dengan Daisy. Seolah-olah mereka memang diciptakan untuk bersama.
“Dia terus-terusana membela Stefani. Apa Mama tahu apa yang terjadi tadi? Sesalah apapun Stefani, dia berkata kalau aku tidak boleh marah!” cecar Daisy pada Aida.
Air mata Daisy jatuh setetes, tetapi lekas dihapusnya. Ia kemudian menatap Aida dengan sungguh-sungguh. Seolah semua jawaban ada pada Aida.
Apa yang akan dilakukan Aida? Ia memang menunggu kesempatan seperti ini. Ia sudah menunggu reaksi Daisy yang seperti ini selama belasan tahun. Perubahan ini menguntungkannya. Akan tetapi, seolah hal ini juga akan merugikannya.
“Apa yang aku bisa lakukan padanya?” tanya Aida pada Daisy sambil tersenyum.
Hal ini yang bisa dilakukannya sekarang. Dengan begitu Daisy akan berhutang budi padanya. Ia bisa melaksanakan permainannya dengan hutang budi itu nanti. Bukankah anak yang sedang membutuhkan bantuan harus ditolong?
“Bisakah Mama membuatnya untuk tidak mendekatiku? Buat dia menjauh dariku.”
“Itu permintaan yang mudah!” kata Aida sambil tersenyum.
__ADS_1
Saat melihat senyum cerah di bibir Daisy, Aida sudah tahu kalau ia berhasil. Ia sudah membuat Daisy merasa berhutang budi padanya. Jadi ia akan memastikan hal itu akan diingat Daisy.
***
Andai kamu tidak ada!
Daisy penasaran kenapa tubuhnya bisa mengatakan hal seperti itu. Seolah-olah siapapun yang ada di dalam tubuhnya amat sangat kenal dengan dirinya. Bukankah itu aneh?
Daisy memejamkan mata, menjaga diri untuk tidak harus mengobrol dengan ayah Stefani, Handoko sepanjang perjalanan. Ia terlalu ingin berkonsentrasi dengan apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini.
“Stefani?” Handoko memanggilnya beberapa kali. Tampaknya sekali lagi ingin menanyakan apa yang terjadi padanya. Tentang apa yang kemungkinan telah terjadi. Akan tetapi, Daisy masih bertekad tengelam dan pikirannya sendiri.
Tanpa ia sadari, dirinya malah tidur benar.
Ia terbangun ketika sedang digendong oleh ayah Stefani menuju pavilliun. Jarak antara halaman dan pavilliun lumayan jauh, hampir 500 meter. Sehingga butuh begitu banyak tenaga bagi Handoko untuk mengangkat Daisy.
“Ayah ... turunkan saya!” seru Daisy panik.
“Apa kamu ingat kapan terakhir Ayah mengendongmu ke kamar saat kamu tertidur karena mengerjakan PR?”
Daisy tidak bisa menjawabnya. Ia tak memiliki kenangan apapun tentang Stefani. Ia memang berada di tubuh gadis yang adalah putri pelayan di rumahnya, tetapi tidak memiliki ingatan sedikit pun.
“Sudah lama sekali.” Suara Handoko serak.
Daisy jadi bertanya-tanya bagaimana sebenarnya kehidupan Stefani yang tidak diketahui Daisy. Apa yang sebenarnya ada di balik topeng yang selalu tampak ceria itu? Ia seharusnya tidak terlalu penasaran dengan kehidupan orang lain. Sementara dirinya sendiri memakai topeng bahagia saat menjadi Daisy yang ada di rumah besar.
“Ayah selalu berpikir kalau sudah melakukan hal jahat padamu, Stefani. Makanya, Ayah minta maaf!”
“Apa Ayah tahu sudah berapa kali meminta maaf seperti ini?” tanya Daisy.
Kalau ia memiliki waktu, Daisy ingin memperbaiki hubungan Stefani dan ayahnya. Hubungannya sendiri dan sang papa sama sekali tidak akan bisa diperbaiki selama masih ada Aida di sekitar mereka.
__ADS_1
“Ya, tapi Ayah harus melakukannya karena terlalu banyak membuatmu kecewa.”
“Turunkan saya, Ayah!” kata Daisy sekali lagi pada ayahnya Stefani, gadis yang kini tubuhnya sedang digunakan.
Mereka telah sampai di depan pavilliun. Sepi. Karena hari masih siang dan para pelayan yang tinggal di pavilliun sebelah pasti masih ada di rumah besar. Perlahan, Daisy diturunkan dari gendongan di punggung.
Pria yang mengendongnya ini seusia papa Daisy, sekitar 50 atau 55 tahun. Pasti berat sekali mengangkatnya kemari dari depan.
“Ayah pasti memiliki alasan untuk melakukan semuanya. Jadi tidak perlu minta maaf pada saya!” kata Daisy.
“Boleh, Ayah memelukmu?”
Daisy masih merasa canggung saja. Akan tetapi, ini tubuh Stefani, bukan miliknya. Keluarganya berhak mengungkapkan kasih sayang pada gadis itu. Daisy mengangguk memberi persetujuan.
Handoko memeluk putrinya lumayan erat. Punggung Daisy dielus-elus dengan sayang. Ia mengucapkan maaf sekali lagi. “Ayah akan mencoba mencari tahu dari mana letaknya kemarahan Nona!”
Mata Daisy terbelalak. Emosi jiwa yang kini memiliki tubuhnya begitu labil. Ia tak bisa membuat ayah Stefani mengalami masalah yang besar seperti dipermalukan. “Tidak usah, Ayah! Saya baik-baik saja!” kata Daisy.
Handoko memandangnya dengan tidak yakin. Kemudian hanya ada helaan napas pasrah saja. Lalu ia mengangguk. “Baiklah!”
Handoko kemudian pergi untuk memasukan mobil milik Daisy ke dalam garasi. Lalu menganti pakaiannya dengan baju kerja yang biasa dan mulai mengurus taman lagi. Pekerjaan mengurus taman tampaknya tak ingin ditinggalkan Handoko.
Daisy melihat sampai pria itu menghilang karena berbelok di sudut rumah besar. Barulah ia masuk ke dalam rumah. Kembali tengelam dengan pemikirannya sendiri. Anehnya, sekarang sedikit lebih jernih tentang siapa yang sudah berada di tubuhnya.
“Bagaimana kalau itu Stefani?” tanya Daisy tiba-tiba entah pada siapa.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang. Ia tak mau dicap sebagai orang gila yang berbicara hal tidak mungkin. Hanya saja itu adalah hal yang paling mungkin sekarang. Sekali lagi ia mengingatkan dirinya sendiri kalau keberadaan jiwanya di tubuh orang lain sangat mustahil.
Daisy memejamkan mata. Maka jelas sudah kenapa Stefani mengatakan kalau seharusnya Daisy tidak pernah ada. Dalam kaca mata gadis itu, Daisy adalah orang yang merebut kebahagiaan. Padahal jelas itu tidak mungkin.
“Astaga ... bagaimana semuanya ternyata begitu dekat?” tanya Daisy dalam gumamannya.
__ADS_1
Ia berharap bisa mendapatkan sesuatu setelah ini. Seperti cara Stefani dan dirinya bertukar jiwa.