Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Siapa yang Merundung? (1)


__ADS_3

Daisy melihat dahi Maulana berkerut, tetapi tidak ingin bertanya apa yang sedang dipikirkan pria itu. Sebab ia mungkin bisa menebak tokoh yang membuat semua hal ini terjadi. Akan tetapi, itu belum tentu benar.


“Apa yang Kakak pikirkan?” tanya Daisy. Ia melirik pada gelas milik Maulana yang masih terisi penuh. Ia tidak sempat ke kafe di samping gedung jurusan tadi, atau titip makanan dengan Andien sebab semua kejadian begitu cepat dan terasa sangat menyebalkan.


“Kamu bisa meminumnya!” suruh Maulana sambil mengangsurkan gelas ke depan Daisy. “Apa ini dilakukan Nona Daisy?”


Walau Stefani berada dalam tubuh Daisy kini, ada kemungkinan ia akan kembali dengan tiba-tiba saja ke dalam tubuhnya sendiri. Jadi agak meragukan kalau Stefani yang ada di dalam tubuh Daisy-lah yang sudah merancang hal buruk yang bisa melukai diri sendiri.


“Saya tidak berpikir kalau Nona Daisy akan memanfaatkan orang lain seperti itu.”


“Kamu benar juga! Nona Daisy tidak dididik seperti itu!” Maulana ikut memberikan pendapatnya. “Lalu apa ada orang lain yang kamu curigai?”


Daisy mengeleng pelan. Ia kemudian menghela napas dalam. Pinggangnya masih sakit dan ia ingin sekali berbaring. “Belum saya pikirkan, Kak!” kata Daisy. Ia mengosok pinggangnya pelan. Sepertinya ia memang harus berbaring supaya merasa lebih baik.


“Aku menahanmu terlalu lama. Maaf, ayo kuantar sampai kamar. Kamu harus istirahat!” kata Maulana yang berdiri. “Jika masih terasa sakit saat kamu bangun nanti, katakan padaku atau Ayah. Kamu perlu berobat bukan hanya istirahat.”


“Ya!” Daisy tidak membantah karena memang hal itu yang dibutuhkan.


Ia menerima uluran tangan Maulana dan berjalan dengan pelan ke kamarnya yang terletak di tengah ruangan. Sesampainya di depan pintu kamar, Daisy dilepaskan.


“Kakak akan pergi jemput Ayah! Kamu tetap di kamar saja! Karena sepertinya salah satu dari kita tidak akan bisa memasak, Kakak akan beli makan di luar. Kamu mau sesuatu?” tanya Maulana pada Daisy.


Daisy berpikir sebentar kemudian memutuskan untuk mencoba sesuatu. “Kwetiau goreng, tidak pedas!” Pesannya.


Maulana mengangguk dan kemudian membelai puncak kepala Daisy. Kemudian ia pergi ke kamarnya terlebih dahulu, meletakan tasnya. Saat Daisy baru masuk ke kamar, Maulana melewati depan kamarnya tanpa beban di punggung.


Begitu Daisy sendirian, ia amat sangat merasa lega. Ia bisa berpikir dengan jernih sekarang. Seharian ini ia berharap bisa berpikir dengan tenang tentang apa yang menyebabkan dirinya kembali ke tubuh semula sebelumnya. Akan tetapi, jangankan berpikir, ia malah dihadapkan pada masalah lain.

__ADS_1


“Kenapa sih jadi makin sulit begini!” protesnya tak jelas kepada siapa.


Pelan-pelan Daisy menurunkan diri untuk duduk di atas ranjang. Kelembutan dan kelenturan ranjang menerimanya dengan hati-hati. Sampai sebelum diserang oleh tiga gadis tadi, Daisy masih belum menemukan apa yang berbeda pada hari ia kembali ke tubuhnya sendiri. Sekarang pun begitu. Ia takut kalau harus selamanya ada di dalam tubuh Stefani. Ia tidak mau membayangkannya.


Daisy merebahkan dirinya di atas ranjang, berguling dan menarik satu bantal ke dalam pangkuannya, kemudian ia terisak karena ketakutannya. Lama Daisy dalam posisi seperti itu sampai kemudian ia tertidur. Kali ini Daisy sama sekali tidak bermimpi.


***


Maulana menunggu dengan gelisah di depan gerbang. Padahal ayahnya telah mengirimkan pesan kalau sudah sampai di depan gerbang. Namun, Maulana sudah berada di sini selama lima belas menit. Jangankan ayahnya, bayangan pria yang sudah membesarkan dirinya dan Stefani itu saja tidak ada.


Terniat di dalam hatinya untuk menurut ayahnya ke dalam rumah. Tetapi, perasaan enggan lebih besar sejak mereka memutuskan untuk mencoba memisahkan dirinya dan satu-satunya sang adik. Bagaimana mungkin, pria yang memiliki seorang anak gadis juga membuat keputusan buruk seperti itu. Beruntung ia memiliki tabungan dari pekerjaannya.


“Loh, Maulana! Sejak kapan ada di sini?”


Satpam yang menjaga gerbang muncul sambil tertawa lebar mendekati Maulana. Ia menepuk-nepuk bahu Maulana keras-keras sebagai apresiasi kebanggaan. Kemudian ia memperhatikan kalau hal yang dilakukannya hanya membuat Maulana bertambah kesal saja.


Maulana mengangguk tanpa senyuman di wajahnya. “Kok Ayah belum keluar, Pak? Katanya tadi di pesan sudah di depan!”


Tadi memang sudah di depan! Tapi habis itu ayahmu dipanggil lagi ke dalam!” Si Satpam bercerita sambil menengadah ke langit. Tidak tahu apa yang dilihatnya saat ini.


“Kenapa dipanggil ke dalam lagi? Kan sudah sore. Nona Daisy juga pasti sudah balik dari kampus karena Ayah mengirimkan pesan.”


Bahu si satpam terangkat, berarti ia tak tahu apapun selain yang diterangkannya tadi. Kemudian Maulana berpikir kalau tidak ada pilihan lain buatnya selain masuk ke dalam rumah dan mencari tahu sendiri.


Baru saja niatnya mengambang ke permukaan, pintu kecil di samping pos satpam terbuka dan dari sana Handoko, ayah Maulana muncul. Ia tampak letih dengan beban tak tampak lainnya. Bukan hanya kelelahan yang menyebabkan kerutan di dahi pria yang sudah membesarkan dirinya dan Stefani itu bertambah.


“Ada masalah lain, Ayah?” tanya Maulana ingin tahu.

__ADS_1


Pria itu tersentak sedikit dan tersenyum pada Maulana. “Tidak ada! Hanya pekerjaan tambahan saja?”


“Apa?”


Maulana tidak mendapat jawaban. Jadi Maulana hanya memberikan helm yang dibawa pada ayahnya. Ia menanti sampai sang ayah naik ke atas jok motor di belakang dan baru memutar setang motor sehingga kendaraan tersebut melesat melaju di jalanan. Dari kaca spion Maulana dapat melihat si satpam melambai, menyerukan selamat jalan bersamaan. Maulana hanya balas melambai tanpa mengatakan apa-apa.


“Jadi, kenapa Ayah dipanggil masuk lagi?” tanya Maulana.


“Sudah Ayah bilang tidak ada apa-apa.”


Maulana membuang napas pelan, memperhatikan jalanan dengan cermat. Ia kemudian pidah lajur ke kiri dan kemudian berhenti di dekat taman kecil yang memiliki kursi di tepinya.


“Kenapa berhenti di sini? Ayo kembali, Stefani sendirian, kan?” tanya Handoko.


Ia ikut turun saat Maulana turun dari motor dan duduk di kursi tepi taman yang berbatasan langsung dengan jalan.


“Ada yang mau saya katakan pada Ayah, karena itu kita singgah di sini sebentar. Lagi pula tempat yang menjual kwetiau goreng yang diinginkan Stefani belum buka.”


“Ada apa?” Handoko menampakan penasaran seperti halnya Maulana tadi saat mendengar ayahnya dipanggil kembali setelah jam pulang kerja.


“Stefani tampaknya mendapat masalah di kampus! Dia pulang dengan beberapa luka.”


Informasi itu membuat Hadoko langsung berdiri. Ia tampaknya bisa berlari pulang sekuat tenaga ke rumah. Akan tetapi, ia ditarik untuk duduk kembali oleh Maulana. “Tenang dulu, Ayah! Percuma Ayah pulang dan bertanya pada Stefani. Tadi saja susah sekali membuatnya mengaku.”


“Ke-napa?” tanya Handoko gagap.


“Dia pikir bisa menyelesaikannya sendiri!”

__ADS_1


__ADS_2