Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Pria Sejati Harus ... (2)


__ADS_3

“Mahardika!”


Pipinya masih terasa perih. Ia hanya ingin segera sampai di kamarnya, tetapi Mahardika tak bisa mengabaikan panggilan seorang wanita yang barusan didengar.


Langkah-langkah kaki wanita itu mendekat, lalu ia bisa merasakan jemarinya disentuh dan kemudian digenggam oleh wanita itu.


“Ada apa, Mi?’ tanya Mahardika tersenyum simpul.


“Apa yang papimu katakan? Mami dilarang masuk ke dalam, jadi tidak tahu apa yang terjadi. Saat makan malam tiba-tiba saja ada telepon dari rumah keluarga Aghra. Wajah papimu tiba-tiba merah dan dia meninggalkan makan malamnya segera setelah itu!”


Mahardika kurang lebih tahu apa yang sudah terjadi. Pasti seseorang dari keluarga utama Daisy menemukan gadis itu berlari sambil menangis saat masuk ke dalam. Stefani yang kini ada di tubuh Daisy tentu tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Dia pasti dengan senang hati menjadi orang yang tersakiti.


“Dika tahu, Mi, sudah Papi jelaskan kesalahan Dika di dalam tadi. Mami sudah makan, kan?” tanya Mahardika tanpa menyebutkan lebih banyak apa yang terjadi.


Cukup dirinya saja yang tahu kalau ia mendapatkan hadiah sebuah tamparan di pipi yang menyakitkan.


“Sudah!” Mami Mahardika tersenyum. Lalu matanya menyipit memandang pipi putranya itu. “Ada apa dengan pipimu? Papi mukul kamu?”


Mahardika jadi sadar bagaimana perasaan Daisy tadi yang tiba-tiba dipojokannya dengan pertanyaan serupa. Ia tersenyum, memutuskan kalau tidak baik melibatkan orang lain dalam masalah yang mungkin akan dihadapi. “Tidak apa, Mi, ini hanya karena cahaya saja!”


Mami Mahardika menelengkan kepala, tidak mengerti. Matanya masih saja menatap bekas kemerahan di pipi Mahadirka. Untung saja pukulan yang dilayangkan sang papi tadi tidak terlalu keras. Bayangkan apa yang terjadi jika pukulan tersebut melukai bibirnya juga. Alasan Mahardika yang terus mengatakan kalau tidak apa-apa, pasti terdengar sangat konyol.


“Dika ke kamar dulu, ya, Mi?” Mahardika meminta izin.


Walau tatapan wanita yang melahirkan Mahardika itu tampak enggan. Ia menggangguk juga memberi izin, melepaskan putranya pergi ke kamarnya di lantai dua.


Mahardika melompati dua anak tangga sekaligus untuk memperpendek jarak dengan cepat. Setelah sampai di lantai dua ia setengah berlari untuk mengapai gagang pintu kamarnya. Begitu masuk ke kamarnya, Mahardika melemparkan jas yang sejak tadi ditenteng. Rasa perih dari tamparan semakin terasa.


“Kenapa aku harus minta maaf pada gadis yang tidak akan menyadari kesalahannya?” gumam Mahardika sambil berdiri di tengah ruangan kamarnya.

__ADS_1


Lampu sudah menyala secara otomatis saat dirinya memasuki kamar. Kemarahannya sudah naik ke kepala sehingga dirinya tak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Akan tetapi, peringatan yang diberikan Daisy terngiang-ngiang di telinganya. Seolah-olah Daisy sudah menduga apa yang terjadi.


“Harusnya aku mendengarkan dia!” gumam Mahardika sebelum menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Ia memejamkan mata, walau pun sebenarnya ini masih belum masuk jam tidurnya, Mahardika terlalu lelah dengan pikirannya sendiri dan tertidur.


***


Air mata Stefani mengalir lebih deras dari sebelumnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Mahardika akan percaya begitu saja saat Daisy mengatakan hal yang sebenarnya. Harusnya Mahardika curiga dan menyebut Daisy yang berbentuk sepertinya sebagai orang gila.


“Kenapa hanya aku saja yang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar?”


Stefani menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Ia kemudian berdiri dan naik ke tangga menuju lantai dua.


“Daisy?”


“Pa-pa?” Agak tergagap Stefani menyebut panggilan pria itu.


Ia lalu turun lagi dari tangga dan menanti sampai papa Daisy benar-benar sudah begitu dekat dengannya.


Tangan pria itu menyetuh pipi Stefani, menjentik air mata yang rupanya masih tersisa di pipi. Matanya kemudian memperhatikan dengan saksama semua yang ada pada Stefani. “Siapa yang sudah membuatmu menangis, Nak?” tanya papa Daisy pada Stefani.


Stefani tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Dadanya mendesak untuk mengadu. Toh, Daisy yang asli juga sudah merebut kelurga kandung Stefani. Jadi tak apa jika ia melakukan hal yang sama pada keluarga Daisy. “Mas Dika dan Stefani, Pa! Mereka berduaan!”


Air mata Stefani jatuh kembali, sama sekali tidak dibuat-buat. Ia mencintai Mahardika sampai seperti ini, bersiap untuk hidup sebagai Daisy dengan benar. Tetapi, Mahardika malah tetap bersama orang yang sama walau tahu kalau tubuhnya berbeda. Kenapa hanya ia yang memiliki nasib yang seperti ini?


“Apa yang dilakukan Mahardika padamu? Dia bersama dengan anaknya Handoko? Bagaimana mungkin?” Banyak sekali pertanyaan yang keluar dari mulut papa Daisy. Ia kemudian memijat kepalanya pelan. “Jangan menangis, aku akan mengurusnya. Kembalilah ke kamarmu!” suruh pria itu pada Stefani.


Stefani tidak tahu akan segampang ini kalau mengadu pada Papa Daisy. Sebelumnya pria itu selalu berwajah masam saat bertemu dengannya di ruang makan. Bahkan, Stefani merasa kalau hubungan harmonis yang dilihatnya dalam keluarga Daisy hanya isapan jempol belaka.

__ADS_1


“Papa akan membantuku, kan? Mereka jahat sekali!” Stefani menyeka air matanya dengan ujung jari.


“Tentu saja, hal ini tidak boleh dibiarkan. Papa akan mengurusnya. Istirahatlah di kamarmu!” suruh papa Daisy.


Pria itu berbalik pergi.


Stefani juga pergi setelah melihat pria tua itu menghilang di sisi lain ruangan. Lalu ia kembali menaiki tangga sambil tersenyum.


***


Handoko sedang menyapu rumahnya saat seorang pekerja dari dalam rumah muncul di pintu dan menoleh ke kiri dan kanan. “Pak Handoko, Anda dipanggil Tuan!”


Handoko lantas berhenti menyapu, meletakannya hati-hati di dinding dan mendekati pelayan yang datang dengan rasa ingin tahu. “Ada apa, ya?” tanyanya.


Si pelayan lantas mengangkat bahu dan meninggalkan ambang pintu pavilliun untuk kembali ke rumah utama. Handoko jarang dipanggil langsung untuk menghadap. Semua perintah biasanya diberikan melalui pelayan lain saja dan itu pun tidak setiap hari. Lagi pula ia hanyalah penjaga kebun dan sekarang baru saja ditugasi untuk mengantarkan Daisy ke mana pun pergi.


“Ayah mau ke mana?” Maulana muncul dari arah dapur, tengah mengeringkan tangannya mengunakan sapu tangan.


“Dipanggil!”


“Sama Tuan?” tebak Maulana.


Handoko menempelkan telunjuknya di bibir, menyuruh putranya untuk diam. Ia memiliki sedikit firasat kalau ini gara-gara Mahardika muncul di pavilliun untuk makan malam. Jadi jika seandainya Stefani putrinya tahu, maka gadis itu kemungkinan akan merasa tertekan.


Seperti tahu apa yang sedang dimaksud ayahnya, Maulana menutup mulut seketika dengan tangan. Ia kemudian mengangguk sambil menunjukkan jempolnya. “Hati-hati!” Pesan Maulana.


Anak laki-lakinya itu berdiri di pintu dan setelah ia berada di tengah taman menutup pintu pavilliun dengan hati-hati.


Jantung Handoko berdetak cepat. Ia tidak suka dengan perasaan yang tiba-tiba muncul dan memberikan pertanda buruk. Ia tidak suka dengan kenyataan yang memberitahu kalau anak-anaknya terlibat masalah. Handoko berharap bisa membantu lebih banyak, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang tukang kebun sepertinya?

__ADS_1


__ADS_2