
Maulana tidak bisa berkata apa-apa saat melihat adiknya terisak sambil menyuap makanan. Ia berkata di dalam hatinya dengan marah, seharusnya kamu tidak menanyakan hal itu. Seharusnya kamu tahu apa yang sedang membuatnya sedih!
“Bi-arkan aku menyuapimu! Kamu tidak akan bisa makan kalau seperti ini terus!” katanya dengan tangan gemetar.
Ia mengambil sendok yang masih digenggam Stafani dan juga piring tempat nasi bakarnya berada. Hati-hati diisinya sendok dengan nasi dan ditemmpelkannya di mulut Stefani.
“Kakak tidak perlu melakukan ini?’ kata gadis itu.
Tetapi, mulutnya tetap menerima suapan dari Maulana. Air matanya masih saja tetap turun karena pembicaraan soal Ibu mereka.
“Ibumu sangat menyayangimu Stefani. Kamu tidak perlu menangis karena mengingatnya. Dia hanya akan sedih jika tahu kalau kamu mengingatnya dengan cara seperti ini.” Handoko, ayah mereka berdua bicara.
Stefani mengusap dengan cepat air matanya yang turun, mengangkat kepala dan mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum. Mata adiknya itu bengkak, hidungnya memerah, dan menjadi lucu sekali karena Stefani mencoba untuk tersenyum.
“Jangan tertawa!’ tegur Stefani saat Maulana memalingkan wajah dan terbatuk-batuk.
Padahal ayah mereka melakukan hal yang sama, tetapi hanya Maulana yang tampak di mata Stefani.
Diambilnya sesendok besar makanan dan disuapkan secara paksa pada adiknyaitu. Stefani untungnya sama sekali tidak bisa melawan. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan nasi bakar mengisi seluruh rongga perutnya.
“Maulana, jangan mengerjai adikmu seperti itu!” Handoko meraih gelas yang berisi air putih dan menyodorkannya pada Stefani. “Minumlah!”
Stefani meraihnya gelas dan mengosongkan isinya dengan cepat. Wajahnya tidak lagi seburuk tadi, senyumnya tidak tampak dipaksakan lagi. Ia meraih sendok milik Mualana di atas nasi ramesnya dan melakukan hal yang saperti halnya sang kakak tadi.
“Rupanya adikku pendendam, ya?” kata Maulana setelah menelan semua makanan di dalam mulutnya.
Walau matanya masih sembab dan hidung Stefani masih memerah, tetapi adik Maulana itu sudah tertawa. Begitu tawa mereka selesai tertawa, semuanya kembali diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Kami sudah menandatangani kontrak untuk penyewaan. Katanya kita bisa pindah besok saja.”
Stefani tampak tercekat karena kaget. “Baguslah Ayah! Apa ini rumah yang kita lihat bersama itu?” tanya Stefani.
Handoko mengangguk. “Ya, kakakmu bilang itu rumah yang bagus selama Azzam tidak berada di sekitar rumah!”
Stefani menelengkan kepala. “Kenapa Azzam harus berada di sekitar rumah? Memangnya Azzam melakukan apa?” tanya Stefani dengan polosnya.
__ADS_1
Maulana menyalahkan dirinya sendiri yang tidak membiarkan Stefani didekati oleh seseorang. Ia harusnya menunjukkan betapa berbahayanya seorang pemuda pada adiknya itu.
“Dia menyukaimu mungkin?” tebak Handoko.
“Apa menyukai orang lain itu salah?”
Stefani menutup mulutnya tiba-tiba. Ia seolah menyadari sesuatu dan terkejut karena baru menyadarinya sekarang.
“Stefani ... tidak ada salahnya menyukai seseorang. Yang membuatnya menjadi salah adalah bagaimana kamu menyingkapinya. Tidak ada yang salah menyukai seseorang, Dik, tidak ada!”
Stefani menelengkan kepala. Lalu tersenyum pada Maulana. “Terima kasih, Kak, aku juga menyayangi Kakak!”
“Ayah tidak?” tanya Handoko layaknya anak ABG.
“Tentu saja. Saya sayang Ayah sangat besar.”
Rasanya Maulana siap melakukan apa saja untuk adiknya ini sekarang. Ia membayangkan memberikan Stefani dan Azzam lalu berujar dalam hati dengan segera: Kecuali yang itu!”
***
“Tetap di sini, Oke, biar aku saja yang bereskan!” kata Maulana saat Daisy akan berdiri untuk menyimpan semua piring kotor di belakang.
Daisy tidak bisa menolak, karena ia mengantuk kembali sekarang. Menangis merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan. Daisy yakin kalau mengurus perusahaan sama sekali tidak semelelahkan ini.
“Duduk di sini!” suruh Handoko sambil melambai sebanyak tiga kali. Ia juga menepuk-nepuk bagian kosong di sofa panjang.
Agak canggung Daisy mengikuti keinginan Handoko, duduk di sana dan hanya memandang dinding kosong. Ia tak tahu harus membicarakan apa dengan ayah orang lain. Ia ingin menanyakan keadaan Handoko, tetapi pria itu tampak sangat baik sekarang.
“Menurutmu kapan kita sebaiknya pindah?”
Daisy berpikir sebentar. Memang barang-barang yang ada di rumah ini tidak akan banyak, tetapi perlu persiapan juga untuk mengepaknya.
“Bagaimana kalau lusa, Yah?”
Handoko mengangguk-angguk setuju. “Kita perlu membersihkan rumah ini dulu!” kata Handoko.
__ADS_1
Pintu rumah diketuk tiba-tiba. Handoko berdiri untuk mengecek siapa yang datang.
“Apa saya dipanggil lagi?” tanya Handoko pada pelayan yang datang.
“Bukan! Bukan Anda yang dipanggil. Tetapi putri Anda!” kata si pelayan yang menjulurkan kepalanya ke dalam dan menemukan orang yang dicari di sana. “Kamu dipanggil, Stefani.”
Daisy kaget karena hal itu. Ia yakin hanya tidur saja sejak pulang dari melihat rumah tadi. Tidak mungkin ia mengusik siapa pun hari ini.
“Baiklah!” kata Daisy.
Handoko tampak akan ikut. Tetapi, Daisy tidak mau pria tua yang mengurus Stefani pemilik tubuh ini sendirian itu semakin sedih dengan semua hal yang terjadi.
“Tidak apa, Ayah, saya bisa melewati hal ini! Saya akan kembali segera!” kata Daisy.
Saat Melewati tengah taman dan ia menoleh ke belakang, ia melihat pria tua itu berdiri di ambang pintu dan Maulana muncul dari belakang dengan tergesa-gesa.
Ia diantar ke ruang kerja yang biasa digunakan. Mungkin Stefani yang asli baru sekali ke ruang kerja tuan besar. Tetapi, Daisy telah berulang kali masuk dan berkeliaran di dalam sana sebagai pemilik yang asli.
Pria yang menunggunya adalah ayah kandung Daisy. Ia merasakan kesedihan yang teramat sangat melihat pria itu duduk di kursi di balik meja.
“Duduklah!” suruh Ibnu, ayahnya pada Daisy. “Apa kamu tahu kenapa kamu aku panggil?”
“Ini masalah Nona Daisy, kan?” tebak Daisy yang merujuk pada Stefani yang menghuni tubuhnya kini.
“Putriku bilang kalau Mahardika tiba-tiba saja menjadi dekat denganmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku harap kamu menjauhi Mahardika!”
“Saya sudah melakukan seperti yang Anda minta, Tuan. Tuan Mahardika hanya menemui kakak saya saja!” jawab Daisy.
“Aku tahu kalau mereka berteman. Tetapi, kamu juga sudah pernah menyatakan cinta pada Mahardika. Siapapun akan beranggapan kalau Mahardika menemuimu. Kamu harus merenungkan hal ini selama berada di luar. Pavilliun itu akan kembali bisa kalian huni kalau kamu sudah merenungi kesalahanmu.” Pria itu berdiri. “Kamu boleh keluar sekarang.”
Daisy melakukannya. Ia melangkah menuju pintu keluar. “Apa Anda juga menikah lagi satu minggu setelah Nyonya meninggal sebagai sebuah hukuman untuk Nona Daisy?”
“Apa?’
Tetapi, Daisy sudah keluar dari pintu saat Ibnu menoleh dan bertanya padanya. Ayahnya memang paling pandai memberikan hukuman pada siapa saja, kecuali pada dirinya sendiri.
__ADS_1