
Aida tampak sangat gembira untuk alasan saat ini tidak diketahui Ibnu. Ia harus bertanya, soal kesenjagan uang yang ada di dalam laporan dan apa yang sebenarnya sedang direncanakan istri keduanya ini. Daisy tidak makan di ruang makan.
Sejak mama kandungnya meninggal dan kemudian Ibnu membawa Aida pulang karena dinilai bisa menjadi sosok ibu yang baik bagi putrinya, Daisy tidak lagi makan dengan mereka.
“Hari ini aku minta tukang masak menyediakan ayam goreng mentega seperti yang kita makan di restoran waktu itu. Mas, suka kan?” tanya Aida riang.
Ibnu memandang meja makan dan menemukan menu yang baru saja dikatakan Aida padanya. Ia tertarik, tetapi tidak benar-benar memiliki nafsu makan hari ini. Ia membiarkan Aida melayani seperti biasa tanpa banyak protes.
“Segini cukup, kan, Mas?’ tanya Aida pada ibnu.
“Ya, terima kasih! Kamu juga duduklah dan makan. Aku bisa mengambil sisanya sendiri!’ kata Ibnu.
“Apa anak itu membuat masalah lagi?” tanya Aida lekas.
Setelah berjalannya waktu, entah kenapa sikap Aida yang tampak seperti ibu yang baik perlahan-lahan menghilang. Walau kadang-kadang ia masih tampak sangat perhatian pada Diasy, tetapi kebanyakan ia bersikap cukup tidak peduli. Apalagi sejak ulang tahun ke 20 Daisy yang hamir berantakan.
“Tidak! Dia tidak membuat masalah.” Di dalam hati Ibnu menambahkan kalau Daisy hanya berusaha mengabaikannya lebih lama lagi, seperti hari-hari sebelumnya. Ia sudah lumayan cukup terbiasa dianggap orang asing oleh putrinya sendiri. “Aida, apa kamu mengambil sejumlah besar uang dari asisten yang mengurus pengeluaran rumah.”
__ADS_1
Sendok yang mengarah masuk ke dalam mulut Aida terhenti seketika dan ia menatap cemberut pada Ibnu. “Apa aku tidak berhak menggunakan uang? Bukankah kamu memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah lahir untukku juga?” tanya Aida.
Ibnu mengeleng. “Aku tidak berkata kalau kamu tidak berhak menggunakan uang. Yang aku tanyakan kenapa kamu kemudian membuat perbedaan dalam laporan? Ada apa? Apakah ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya aku ketahui?”
“Ini bukan karena aku menyembunyikan sesuatu, oke? Aku hanya sedang butuh uang. Keluargaku membutuhkannya!”
Ibnu bisa membayangkan keluarga yang disebut Aida. Terdiri dari ayah dan ibu Aida yang sudah tua, lalu dua adik lelaki wanita itu yang sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan tetap.
“Kekayaan ini milik Daisy!”
“Aku tahu! Kamu tidak perlu memberitahuku lagi. Kadangkala kamu sangat menyebalkan Mas Ibnu. Kamu membawaku kemari untuk mengantikan mendiang istrimu yang meninggal dan menjadi ibu anak itu. Padahal kamu tahu kalau dia tidak menerimaku!” Aida menghempaskan sendoknya, sama sekali tidak tertarik lagi untuk makan dan pergi.
“Sebenarnya di antara keduanya siapa yang lebih dewasa?” tanya Ibnu pelan.
***
Makan siangnya sama sekali tidak enak. Bukan karena rasa makanan, tetapi ia sendirian. Jika berada di tubuh Stefani maka akan ada seseorang yang menemaninya. Bisa jadi itu adalah Maulana, atau Handoko. Bisa juga Azzam di kampus atau teman barunya.
__ADS_1
“Raise!” panggil Daisy.
“Ya, Nona!” Dengan sigap pelayan yang dipanggil Daisy muncul seketika.
“Bisakah kamu menemaniku makan di sini?”
Raise mengangkat kepala dan terkejut mendengar permintaan itu. “Maafkan saya, Nona, mana bisa saya melakukan hal itu.”
Daisy hanya bisa menghela napas pelan mendengar penolakan macam itu. Ia jadi rindu keributan di meja ruang tamu tempat tinggal Handoko. Atau kafe di samping gedung jurusan yang ramai dan seperti tempat para gladiator saat jam kosong.
Sebagai pilihan karena tidak bisa mengajak Raise untuk makan bersama, Daisy mengambil keputusan untuk menghabiskan makanannya dengan cepat. Begitu selesai makan ia turun ke lantai bawah, mencari Handoko. Pria itu ia temukan di dekat garasi dengan makan siang dengan beberapa pekerja pria lain di rumah.
“Astaga, Nona, ada apa Anda mencari kemari?” seru salah seorang pekerja saat melihat Daisy berada di belakang Handoko.
Ayah Stefani dan Maulana tersebut meletakan piring berisi makanannya dan berdiri lekas. “Apa Anda mau diantar ke suatu tempat, Nona?”
Tatapan Daisy mengarah pada makanan para pekerja itu. Itu hanyalah telur balado dan sayur bayam. Tetapi, tampaknya semua orang di sana begitu menikmatinya. “Apa makanannya tidak kurang?” tanya Daisy.
__ADS_1
Dalam kebingungan di wajah semua orang, para pekerja itu mengeleng. Daisy sendiri tidak paham dengan apa yang diperbuat sekarang.