
Bukankah Nona Daisy benci padaku? Maulana mengerjap-ngerjap tidak mengerti.
Mereka dulu pernah bermain sewaktu kecil. Karena Nona Daisy terus-terusan berada di rumah dan jarang sekali keluar dengan teman-temannya kecuali saat pergi ke sekolah atau menemani mamanya berbelanja. Keberadaan Maulana dan Stefani yang usianya tak jauh berbeda, amat sangat dihargai oleh mama Daisy. Tetapi, setelah wanita yang melahirkan majikan kecilnya itu meninggal, Nona Daisy seketika berubah, seolah menjadi orang lain saja.
“Kamu tidak mau mengantarku ke bawah?” tanya Daisy sambil bersedekap.
Maulana tersentak. Apakah sikapnya sudah membuat Daisy menjadi tersinggung. Ia melirik berkas di pangkuannya dan ruangan kerja yang di dalam sana ada Mahardika. “Saya akan meletakan berkas dulu ke dalam, bisakah Anda menunggu sebentar, Nona?” tanya Maulana.
Daisy tidak bersuara, hanya mengangguk menyanggupi permintaan Maulana. Maka Maulana tidak punya pilihan lain selain bergegas untuk meletakan map-map yang dibawa. Ia mendapatkan tatapan keheranan dari Mahardika, dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan bosnya itu. Begitu melihat Maulana mendekat, Daisy lekas berbalik dan berjalan melalui tangga.
“Apakah Kakak baik-baik saja?” tanya Daisy.
Maulana menilai Daisy sedikit, berharap kalau kepala gadis itu tidak habis terbentur kemarin. “Kita baru bertemu kemarin Nona, di dalam ruangannya Tuan Mahardika. Saya pikir Anda akan menerkam saya karena manatap dengan nyalang. Yah ... saya baik-baik saja!”
__ADS_1
Rupanya ada kejadian seperti itu. Stefani ke sini dan memperlihatkan niat permusuhannya secara terang-terangan dengan kakak kandungnya sendiri. Rasanya aneh sekali menyadari hal itu. “Saya minta maaf untuk hal itu, Kak!” katanya lirih.
Ia sudah menduga harus melakukan ini. Membersihkan segala macam kekacauan yang dilakukan Stefani yang berada di tubuhnya. Seperti terakhir kali saat mereka bertukar jiwa. Ia menerima beberapa kali tamparan dari Lola dan sampai sekarang ia tidak yakin kalau hubungan mereka sudah baik-baik saja.
“Tidak! Saya memuji Stefani yang sudah melakukan kesalahan pada Nona. Saya tahu kalau mendengar hal itu pasti sudah membuat Nona pada akhirnya tidak nyaman!” Maulana tampak panik saat menjelaskan.
Apakah Maulana takut kalau Daisy akan menuntut balas pada adik kesayangannya? Sekali lagi di tubuhnya sendiri Daisy merasa iri pada Stefani.
“Begitukah?” tanya Maulana, masih setengah tidak paham tampaknya.
“Ya!” Daisy diam. Lift turun terasa cukup lambat dan agak sesak karena mereka jadi membahas cerita yang memalukan. “Bagaimana keadaan Stefani? Saya harap dia tidak terlalu terpengaruh dengan yang sudah terjadi.” Daisy mengingat saat ia menampar Stefani pada siang hari sebelum acara ulangtahunnya. Ia kesal sekali.
“Dia seperti biasanya!” jawab Maulana pelan.
__ADS_1
Dibandingkan dengan Handoko yang tampaknya tak ingin membahas soal putrinya, Maulana tertekan karena tidak bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya.
“Apa sudah terjadi sesuatu?” tanya Daisy. “Wajah Pak Handoko juga murung saat saya menanyakan keadaan Stefani tadi.”
Maulana tampak ragu. Ia baru akan berkata sesuatu saat pintu lift terbuka dan lobi di depan mata mereka sekarang.
Daisy sampai berpikir harus melakukan sesuatu sampai Maulana tetap bersamanya untuk beberapa waktu. Bagaimana dengan menanyakan resep teh hitam yang mereka minum kemarin? Atau menanyakan tentang pedagang sate yang dibelikan Maulana saat mereka pindah? Tapi, semua ide itu akan membuat Maulana kebingungan dan Daisy juga.
“Tidak terasa sudah sampai bawah.”
“Terima kasih sudah mengantar saya, Kak Maulana!” Daisy berkata dengan riang.
Tatapan Maulana terpaku pada Daisy. Bayangan gadis itu terlihat begitu mirip dengan adiknya. Ia tak yakin, tetapi rasanya seperti mendengar Stefani mengatakan hal yang sama.
__ADS_1