
“Duduklah!” Tuan besar menyuruh Handoko duduk.
Pria itu yang dulunya bersekolah dengannya tetapi memiliki nasib yang sangat mujur karena mendapatkan seorang istri yang kaya raya duduk di balik meja. Handoko selalu merasa bersyukur karena telah dibantu untuk mendapatkan pekerjaan dengan istrinya.
Sesuai perintah Handoko duduk di kursi yang mendadak menjadi menyeramkan di matanya. Seolah-olah jika melakukan hal itu, ia akan tengelam ke dalam kursi dan tidak akan kembali lagi.
“Saya berdiri saja, Tuan!” kata Handoko.
Ibnu, menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, tersenyum pada Handoko yang tampak tegang. “Duduklah, Handoko, aku tidak akan melakukan hal yang merugikanmu sekarang!”
Handoko terkejut, menatap Ibnu yang keheranan dan perlahan seperti terhipnotis duduk di kursi di depan meja kerja Ibnu. Ia menatap teman semasa SMAnya itu dengan takut-takut. Walau dulu mereka tak terlalu akrab di masa sekolah, Handoko tahu kalau sifat itu Ibnu sangat ambisius.
“Apa kamu tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya Ibnu pada Handoko.
Handoko sudah mendapatkan firasat, akan tetapi ia tak bisa menjawabnya menjadi seperti itu. “Tidak, Tuan!” jawab Handoko.
Ia menunduk, tidak berani untuk menatap wajah majikannya itu. Udara di dalam ruangan ini terasa pengap dan berat dan semakin lama semakin menguras energi Handoko saja.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau mengetahuinya. Aku akan memberitahumu. “ Ibnu menyilangkah jari-jarinya di atas meja, menatap dengan tajam Handoko yang masih menunduk. “Aku ingin Stefani tinggal di luar rumah utama!”
Rasanya jantung Handoko dicabut dari dadanya. Ia tak bisa mendengar kalau putrinya mendaatkan hukuman, walau rdirinya jelas tahu kesalahan yang sudah dibuat Stefani. “Tidak bisakah Anda memberikan keringanan hukuman untuknya Tuan, dia sudah berubah! Dia pasti akan berubah setiap harinya!” Suara Handoko terdengar gemetar bahkan di telinganya sendiri.
“Hari ini Daisy kembali dari arah pavilliun sambil menangis!” Ibnu berhenti. “Kamu tahu apa yang kurasakan? Marah! Bagaimana bisa seseorang membuat putriku sampai seperti itu? Kenapa ia harus dipermalukan sampai seperti itu!”
Handoko tidak bisa menjawabnya. Mahardika memang ada di pavilliun mereka dan ia tidak mencegah hal itu. Menurutnya itu tidak salah. Mahardika dan Maulana berteman. Handoko dan putranya tak sekali pun meninggalkan Mahardika dan Maulana berdua saja, kecuali selama beberapa menit. Tampaknya Stefani juga bersikap layaknya melayani majikan. Jadi, ia pikir tidak akan ada masalah.
“Baiklah! Saya mengerti Tuan!” kata Handoko. “Kalau begitu saya akan bersiap untuk pindah. Mohon berikan kami waktu.”
__ADS_1
“Aku tidak memintamu pindah Handoko. Aku hanya meminta supaya putrimu sebaiknya tinggal di luar rumah utama sementara. Carikan saja ia kos-kosan di dekat kampusnya, selain dapat menghindari pertemuan dengan Daisy, itu juga mempermudahnya pergi dan pulang kampus.”
“Kami tinggal di sini dengan nyaman da mengirimnya keluar sendirian, apakah itu mungkin Tuan! Saya tidak mau membuat kesalahan yang sama lagi!” kata Handoko. Ia menunduk sedikit. “Kalau begitu saya akan kembali sekarang, Tuan!” pamitnya.
“Baiklah!”
Handoko sama sekali tidak mengangkat kepalanya sedikit pun dari lantai. Ia tetap menunduk sampai keluar dari rumah utama. Begitu sampai di taman ia setengah berlari ke pavilliun. Putranya, Maulana ada di ruang tamu, duduk dengan terkantuk-kantuk menunggu.
“Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah dipanggil!” Serang Maulana saat mengetahui kalau Handoko telah kembali.
Handoko tergoda untuk menyelesaikannya sendiri. Ia tergoda untuk mengatakan kalau tidak ada masalah yang serius. Akan tetapi, ia juga tahu kalau itu sama sekali tidak berguna. Ia membutuhkan bantuan Maulana untuk mendapatkan tempat yang bagus dan dekat dari rumah tempatnya bekerja.
“Duduklah dulu!” suruh Handoko. “Apa adikmu sudah tidur?” tanyanya pada putranya.
“Ya, Daisy sudah tidur tadi. Ada apa? Apa terjadi hal buruk Ayah?”
Wajah Maulana tampak muram. “Kalau begitu aku akan tinggal di luar juga dengan Stefani! Dia akan sedih jika hanya dikirim sendirian saja. Padahal tidak ada masalah yang terjadi sampai kemarin. Stefani juga tak mencoba lagi masuk ke rumah utama seperti sebelumnya.”
“Tadi Nona Daisy kemari dan tampaknya Tuan Mahardika mengatakan sesuatu untuk membela Stefani. Dia kembali ke rumah utama dengan menangis!” kata Handoko menerangkan hal yang sama dengan Ibnu tadi.
Maulana menuntun ayahnya untuk duduk di sofa, memijit-mijit bahu pria tua yang telah rapuh itu. “Apa Ayah tidak merasa kalau Nona Daisy banyak berubah belakangan ini. Dia terasa tidak seperti dirinya!” kata Maulana pelan.
Handoko menengadah menatap Maulana yang menerawang karena berpikir. “Semua orang kayak seperti itu, Maulana. Maksudku kadang-kadang mereka berubah tiba-tiba karena terusik sesuatu. Pasti nanti akan kembali lagi seperti semula.” Ia agak ragu dengan pendapatnya ini.
“Baguslah kalau begitu! Karena aku agak mulai takut!” gumam Maulan.
Handoko tidak bisa menebak apa yang ditakutkan Maulana, tetapi ia mengengam tangan putranya itu untuk menenangkan.
__ADS_1
***
Daisy menutup mulutnya supaya tak menimbulkan suara seperti isakan atau napas yang keras karena terkejut. Ia sudah mendapat firasat kalau masalah dengan Daisy tidak akan berakhir dengan mudah. Hanya saja ia tidak menyangka kalau papanya sendiri yang akan menyelesaikan semua. Padahal pria itu tidak melakukan apa-apa di masa sulit yang dialaminya dan malah menikah.
Tubuh Daisy bergetar saat melangkah dengan hati-hati kembali ke kamarnya. Ia tersentak tadi sebentar, berbarengan dengan suara pintu yang ditutup pelan-pelan. Lalu kemudian ia berjingkat karena ingin tahu siapa yang datang atau keluar di malam begini. Akan tetapi, Daisy malah mendengar hal yang tidak baik seperti itu.
“Tenanglah Daisy, semuanya tidak apa-apa. Kamu bisa melakukannya seperti sebelumnya. Masalah ini akan selesai saat semuanya sudah jelas.” Daisy mengucapkan mantra yang selalu dilakukan ketika mendapat masalah.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak merasa lebih tenang. Sebab bahkan alam bawah sadarnya tahu kalau masalah ini tidak akan selesai begitu saja. Tetapi, ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan hal seperti ini. Mencari tahu bagaimana tubuhnya bertukar saja sudah membingungkan.
Daisy berguling di atas ranjangnya, mencari posisi paling nyaman untuk bisa terlelap, tetapi tidak berhasil. Matanya sama sekali tidak mau terpejam dan alih-alih melakukan sesuatu seperti menemukan penyelesaikan, kepanikannya semakin menjadi.
Kerongkongan mendadak lebih kering, ia duduk dan kembali berbaring beberapa kali. Ketika ia memutuskan untuk keluar kamar untuk mengambil minuman, seluruh tubuhnya terasa terlalu ringan. Ia serasa tak menjejakkan kakinya ke lantai. Ia seolah berjalan di tempat lain dan terasa sangat menakutkan.
“Carilah dia yang memberikan kesempatan, lalu tanyalah untuk apa dia melakukannya!”
Suara dari wanita yang pernah dua kali didengarnya saat sendiri terdengar kembali kini. Suara itu seolah berbisik kepada Daisy. Ia membalikan badannya segera dan melihat siluet putih yang tak jelas di ruang tamu. Siluet itu melayang-layang dan kemudian perlahan mendekat pada Daisy.
“TINGGALKAN AKU SENDIRI!” pekik Daisy keras-keras sambil mengibaskan tangannya.
Daisy memejamkan mata. Ia masih mendengar bisikan di telinga, masih soal yang sama. Namun, walau dibisikan berkali-kali, ia tak mengerti siapa yang harus dicari.
“Stefani! STEFANI!” Tangan Daisy ditangakpa, tubuhnya diguncang.
Ketika ia membuka mata, Daisy bisa melihat Maulana yang memandangnya dengan panik, juga Handoko yang memgang tangkai sapu.
“Ada apa? Ada apa?” tanya Maulan bertanya berali-kali.
__ADS_1
Namun, Daisy tidak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa menangis karena lega. Ia tidak sendirian sekarang.