Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Teman Baru (2)


__ADS_3

“Kamu sama sekali tidak perlu merasa bersalah pada apa yang aku alami! Sungguh!” yakin Daisy.


Ia mengapai tangan Andien dan menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu. Benar-benar tidak ada yang bersalah padanya. Ia dirundung hanya karena ketiga gadis tadi iri pada apa yang dimilikinya dan tidak dimiliki mereka.


“Te-rima kasih karena kamu memaafkan aku!” kata Andien dengan suara bergetar.


“Baiklah! Aku akan pulang sekarang!” kata Daisy.


Andien mundur, memberi jalan buat Daisy keluar dari kursinya dan melewati gadis yang sama. “Mau keluar sama-sama?” tanya Andien.


Tentu saja. Membuat teman adalah hal yang menyenangkan. Beriringan dengan Andien, Daisy keluar gedung. Suara yang berbicara padanya di tangga membuatnya merinding. Ia setengah berlari turun di sana dan membuat Andien keheranan.


Di lobi, ia dicegat Azzam. Pria itu tampak cemas memandanginya. Namun, ia tak bicara karena Daisy sedang tidak sendirian.


“Sepertinya lain kali kita bisa pulang sama-sama, Stefani. Aku pergi dulu, ya!” Andien pamit karena tahu hanya akan menganggu saja. Ia melambai saat melewati pintu gedung.


Setelah Andien pergi, barulah Azzam mendekati Daisy. “Kamu ... tidak apa-apa?”


“Terlihat kalau aku bermasalah?” tanya Daisy sambil tersenyum.


“Bukan begitu. Maaf, gara-gara aku kamu mendapatkan masalah. Mereka melukaimu karena kamu dekat denganku. Aku akan bicara dengan mereka!”


Tampak kalau Azzam sangat serius dengan niatnya itu. Akan tetapi, Daisy tidak bisa membiarkannya. Ia pasti akan dicap sebagai pengadu nanti, walau ia sama sekali tidak keberatan untuk berbicara tentang hal yang dialami kepada orang lain.


“Aku senang kamu khawatir padaku! Tapi, aku tidak suka kamu berbicara dengan mereka! Kamu hanya akan membuat masalahnya bertambah pelik saja.”


Wajah Azzam murung. Ia merasa semakin bersalah. “Jadi apa yang bisa aku lakukan?”


Kepala Daisy mengeleng. “Dalam masalah ini aku rasa aku masih bisa menyelesaikannya. Jadi, jangan ikut campur dulu. Jika aku minta tolong barulah kamu akan maju ke depan. Bisa?”


Azzam tampaknya butuh waktu cukup lama setuju dengan keinginan Daisy. Walau lama, akhirnya ia mengangguk juga. “Baiklah! Pastikan kalau kamu minta tolong padaku!”


Daisy tersenyum pada Azzam dan mengangguk.


“Aku antar pulang, ya?” tanya Azzam.

__ADS_1


Wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang sama dengan sebelumnya. Daisy pikir sebaiknya ia menyetujui permintaan Azzam kali ini. Toh, ada manfaatanya juga untuknya. Waktu yang diperlukan untuk ke rumah lebih sedikit.


***


Si penjaga pintu gerbang keluar waktu Azzam parkir di depan gerbang. Ia tersenyum-senyum melihat kedatangan Stefani dan juga dirinya.


“Apa penjaga di gerbang itu selalu begini?” Azzam berpura-pura membereskan helmnya sendiri dan berbisik pada Stefani.


Stefani yang tidak melihat si penjaga berbalik dan menatap bengong. Lalu gadis itu melambai dengan akrab pada si penjaga. “Itu pasti hanya untuk melihat siapa yang datang. Mereka kan bertugas mengamankan. Jadi setiap yang berhenti di dekat gerbang diperhatikan!”


Azzam pikir keluarnya para penjaga ke sini tidak ada hubungannya dengan tugas. Mereka malah tampak seperti melihat sesuatu yang menarik.


“Kamu pernah diantar pulang sebelumnya?” tanya Azzam.


Daisy menyerahkan helm yang berhasil dibuka, berpikir sebentar dan mengeleng dengan pasti pada Azzam.


Azzam seperti baru saja mendapatkan pernyataan: Kamu sudah membuat langkah yang salah. Tampaknya kedatangan Azzam kali kedua akan disambut oleh barikade. Tetapi, ini adalah salah satu perjuangan untuk mendapatkan cinta.


“Ada apa? Kenapa wajahmu menjadi pucat?” tanya Daisy.


“Soal penjaga?”


Wajah Azzam terasa panas. “Bukan! Hanya saja aku mengingat sesuatu yang harus dikerjakan!”


Stefani mengangguk-angguk paham. “Terima kasih sudah antar pulang! Hati-hati!” katanya sambil mundur dua langkah dan melambai.


Ia berjalan ke arah penjaga yang berbicara dengan keras. Azzam tidak sempat mendengar apa yang dikatakan si penjaga, karena motrnya sudah pergi lebih dulu. Tetapi, jelas itu sama memalukannya karena Daisy mengerakan tangannya layak memadamkan api.


***


“Pacarnya ya?”


Daisy mengerjap beberapa kali, mencerna perkataan yang didengar, dan terbelalak tidak percaya. “BUKAN!” teriaknya keras-keras sambil mengibaskan tangannya.


“Yah, pacarnya juga nggak apa-apa. Kamu tuh udah waktunya dekat dengan pria yang baik.” Si penjaga berdehem sedikit saat bicara dan kemudian tertawa karena mengingat sesuatu yang lucu, hanya saja Daisy tidak tahu apa hal lucu itu.

__ADS_1


“Paman tidak tahu ya, gosip tentang saya?” tanya Daisy.


Walau agak memalukan mengatakannya sendiri kalau tubuh yang digunakan ini kemarin menyatakan cinta pada tunangannya, tetapi ia tidak punya hal lain yang bisa dipakai untuk menutup mulut si penjaga ini. Ia tidak suka digoda. Rasanya ia tak bisa berpikir jernih jika demikian.


“Gosip itu?”


Padahal si penjaga sudah tahu apa yang dilakukan, tetapi masih saja bersikap seperti ini padanya. Daisy benar-benar merasa heran.


“Lalu?”


“Lalu apanya?” Si penjaga balik bertanya. Ia menatap Daisy lekat-lekat. Tatapannya berubah dari rasa heran menjadi pengertian. “Kamu berhak mencintai Stefani. Tidak ada yang melarang. Kamu mungkin salah, tetapi semua orang belajar dari kesalahan. Siapa yang bisa menolak pria seperti Tuan Muda Mahardika? Tidak ada.”


Biasanya Daisy menerima tatapan menghakimi dari para pelayan di rumah utama. Jadi, ketika orang lain yang bukan keluarga Stefani menatap dengan penuh pengertian, ia merasa sangat heran.


“Jadi saya tidak salah?”


Sebagai Daisy, dirinya sangat marah. Ia menyuruh dirinya seketika untuk berpikir jernih. Si penjaga hanya menyuarakan pendapatnya saja.


“Kamu salah! Karena kamu menyatakannya pada Tuan Muda. Kamu harusnya bisa mengendalikan diri. Seperti kataku, tidak ada yang bisa menolak Tuan Muda Mahardika, dia penuh pesona. Tetapi, bukan berarti kamu bisa memilikinya. Dia tunangan majikanmu. Walau cinta itu buta, tapi manusia tidak buta.”


Daisy tersentak mendengarnya. Di mana si penjaga bersekolah sebelumnya? Yang pasti bukan jurusan filsafat atau pun psikologi. Pria yang memakai baju penjaga ini terlalu bijak untuk ditempatkan di depan gerbang. Kalau memang pria ini memiliki pendidikan yang layak, Daisy ingin memakai potensinya di bidang lain.


“Paman dulu kuliah di mana?” tanya Daisy dengan polosnya.


Si penjaga tertawa sambil memeganggi perutnya. Daisy menjadi cemberut karena tidak merasa apa yang disampaikannya bukan sebuah lelucon. Ia memalingkan wajah sebagai bentuk protes.


“Maaf, Stefani, aku tidak menertawakanmu. Aku hanya heran kamu tidak ingat. Tapi, aku tidak pernah kuliah. Selepas SMA, aku langsung mengambil sekolah satpam dan berakhir di sini. Jadi ... tidak pernah kuliah!” jawab si penjaga setelah tawanya berhanti.


“Bapak sangat bijak, seperti seseorang yang menjalani filsafat saja.”


Si penjaga menatap langit yang cerah. Daisy mengikuti aksi pria itu.


“Kamu tidak perlu menjadi sarjana untuk menjadi bijak Stefani. Bukan saja pikiranmu lebih lebar, pahami semua makna dari tindakanmu. Bersyukur atas apapun yang kamu miliki, kamu akan menjadi bijak seiring waktu!”


“Begitukah?” tanya Daisy tidak percaya.

__ADS_1


“Ya, begitu!” kata si penjaga sambil mengangguk-angguk.


__ADS_2