
“Mana Stefani, Pak?” tanya Maulana.
Handoko sedang berdiri di pintu keluar rumah, tampak sedikit panik. Maulana sendiri baru selesai membuat nasi goreng kornet yang kemarin dijanjikan untuk adik bungsunya itu. Handoko masih sangat ingat dengan ekspresi Stefani yang tampak tertarik dengan makanan. Padahal buatan Stefani jelas lebih enak dari buatan mereka.
“Stefani ....” Handoko hanya mampu menyebut nama putrinya itu.
Ia seperti tidak mengenal putrinya itu. Rasanya tiga hari belakangan tidak benar-benar terjadi. Rasanya Stefani yang begitu lembut, bijaksana, dan penuh dengan emosi yang membuatnya merasa iba tidak pernah dilihat.
“Stefani belum bangun juga?” tanya Maulana, tidak paham tentu saja. “Biar saya yang membangunkannya, Ayah! Ayah bisa mulai sarapan!” suruhnya.
Maulana meletakan mangkok besar berisi nasi goreng kornet di atas meja ruang tamu lalu kemudian berbalik menuju kamar Stefani yang ada di jalan menuju dapur juga. Namun, Handoko menghentikannya.
“Tidak! Adikmu sudah bangun dan dia pergi keluar dengan tergesa-gesa.”
“Ah?”
“Dia tampaknya menuju rumah besar. Maulana, dia pasti menemui Nona Daisy! Apa yang harus ayah lakukan?” tanya Handoko dengan suara gemetar.
Maulana memutar posisi tubuhnya perlahan sebelum membuang napas kasar. Ia kemudian mengaak rambutnya yang rapi. “Dia ternyata tidak melupakan perasaannya pada Mahardika. Memang apa bagusnya pria itu?” tuding Maulana marah. “Ayo kita susul, Yah!” ajaknya.
Handoko mengangguk dan setengah berlari keluar. Di belakangnya putra Maulana menyusul. Mereka melintasi halaman berdua dengan tergesa-gesa dan sampai di pintu samping. Lalu di sana mereka melihat Stefani dipegangi dua orang pelayan dan Aida yang baru saja menamparnya.
“Bukankah Pak Handoko sudah melihat betapa liarnya anak Bapak?” Nyonya mereka, Aida berbicara. “Bawa dia pada keluarganya!” suruh Aida.
Mata Handoko berkaca-kaca saat menerima tubuh lunglai Stefani. Ia menyentuh bahu putrinya itu, ingin menanyakan apa yang bisa dibantu, tetapi tak satu pun kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Saya harap dia tidak mencoba masuk lagi ke dalam rumah besar! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan padanya kalau ini terjadi lagi!” kata Aida kembali. Wanita itu sama sekali tidak beranjak dari tempat ia berdiri. “Ayo, Mas, kita kembali sarapan.”
Tuannya, Ibnu, hanya menoleh kepadanya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ia kemudian mengikuti istrinya untuk masuk ke dalam.
“Stefani?”
Stefani sedikit terperanjat karena kaget. Kemudian ia menoleh ke kiri dan kanan, baru melihat wajah ayahnya dengan cara menengadah. Wajah putri Handoko itu memerah. Ia tampak sangat marah, untuk alasan yang tidak bisa Handoko jelaskan.
__ADS_1
“Stefani kamu baik ....”
“Kenapa kalian sok perhatian padaku? Bukannya selama ini kalian sudah mengabaikanku? Menganggapku hampir tidak ada layaknya tidak terlihat?” tanya Stefani tiba-tiba.
Handoko terkejut. Apakah kediamannya terhadap sikap putrinya yang buruk selama ini dianggap sebagai sebuah pengabaian karena tidak sayang? Handoko jelas sangat menyayangi anak-anaknya seperti hal orang tua lainnya.
”Stefani, jaga cara bicaramu!” ingat Maulana.
“Kalian membenciku, kan, karena sudah menyebabkan Ibu meninggal?”
PLAK!
Handoko benar-benar tidak sadar. Tahu-tahu tangannya telah mendarat di pipi putrinya. Ia gemetar, kemudian menatap penuh penyesalan.
“Maafkan, Ayah!”
Stefani diam saja. Ia kemudian berbalik pergi meninggalkan Handoko dan Maulana di pintu masuk samping tumah besar.
***
Semua orang itu nyaris sudah membenci keberuntungan Daisy, jadi mereka akan lebih membencinya sekarang dan menambahkan label munafik pada dirinya. Bisa jadi ia akan dikucilkan. Akan tetapi, tidak masalah, toh cepat atau lambat semua itu memang akan terjadi.
“Nona tidak di rumah saja hari ini?” tanya Raise padanya.
Daisy menatap pantulan bayangan Raise di cermin. Hari ini rambutnya digelung cantik, penjepit rambut berbentuk bunga disematkan di sisi kanan sanggulnya. Manis, cantik, dan anggun, sesuai dengan diri Daisy.
“Kenapa aku harus di rumah?” tanya Daisy.
Raise mengalihkan pandangannya berpura-pura sibuk dengan berbagai benda yang dipilih untuk menghiasi rambut Daisy tadi, tetapi tidak benar-benar memikirkannya.
“Aku akan pergi sekarang kalau begitu! Terima kasih sudah membantu pagi ini Raise!”
Raise mengangguk dan tidak mengulangi permintaannya lagi. Mungkin karena berpikir Daisy tidak akan melakukannya.
__ADS_1
“Aku akan baik-baik saja Daisy! Ingat, kalau aku mengalami hal seperti dua hari sebelumnya, tolong bantu aku dengan sikap tegasmu, oke?”
“Baik, Nona!’ jawab Raise.
Daisy melangkah dengan ringan ke luar kamar, menuruni tangga dan mendapati Aida sudah selesai melepas ayahnya saat pergi bekerja. Ia berhenti selama beberapa detik, berharap Aida, ibu tirinya tidak akan menyadari keberadaannya. Kalaupun menyadari akan mengabaikannya. Akan tetapi, apa yang diharapkan Daisy sama sekali tidak terjadi. Malahan, Aida terlihat tersenyum dan menunggunya turun.
Daisy menghela napas berat dan kemudian melangkahkan kaki kembali, berharap bisa mengendalikan diri dengan baik seperti hari-hari sebelumnya. Sedikit khawatir karena sepertinya Stefani sudah membuat masalah dengan rutinitas biasanya.
“Kenapa kamu sarapan di kamar?” tanya Aida saat Daisy sudah menginjakan kaki di bawah.
“Bukannya seperti itu biasanya? Kenapa Ibu heran,” jawab Daisy sambil tersenyum.
“Kamu kan sudah makan bersama kami selama dua hari, kenapa hari ini jadi di kamar lagi?”
Daisy berhenti tepat di depan Aida memandang wanita yang mengantikan posisi ibu kandungnya itu. Ia mengingat dengan siapa sebenarnya wanita yang sudah menjadi ibu tirinya itu.
“Aku sepertinya mengalami mimpi buruk yang seperti kenyataan, rupanya hal ini.” Daisy berkata masih dengan tersenyum. “Ibu tidak perlu mencemaskanku, aku akan mengatur hal yang ada dalam hidupku sendiri.”
“Kenapa kamu bicara begitu?” tanya Aida tidak senang. Ia mengernyit, membuat bedak di dahinya saling bertumbuk dan tampak aneh.
“Ibu cantik saat tersenyum, jangan mengerutkan dahi. Ayahku bisa saja jatuh cinta pada orang lain!”
Aida terbelalak tidak percaya mendengarnya. Ia kemudian ingin bicara lagi, sepertinya marah dan membantah hal yang baru dikatakan Daisy.
Akan tetapi, Daisy sama sekali tidak menanti. Ia berjalan melewati Aida begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun.
Ketika sampai di pintu keluar, ia ingat kalau kunci mobilnya ada pada Handoko. Ia mendesah dan melambai memanggil pelayan.
“Bisa panggilkan Pak Handoko? Minta kunci mobil saya!” Baru pelayan itu akan berlari pergi, Daisy memanggil lagi. “Tunggu! Suruh Pak Handoko cepat ke sini, saya mau pergi!” ralatnya.
Pelayan itu mengangguk dan berlari dengan cepat melintasi halaman untuk mencapai pavilliun.
Daisy sendiri berjalan ke mobilnya yang sudah selesai dicuci. Ia bersandar di sana sambil memeriksa ponselnya. Ia kemudian membuat keputusan untuk mengunci ponsel sekarang.
__ADS_1
Bagaimana kalau ia dan Stefani berganti jiwa lagi? Bagus kalau sekarang Stefani belum mengunakan uang yang dikirimkan ayahnya ke rekening, bagaimana kalau selanjutnya Stefani melakukan hal aneh?