Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Mahardika dan Orang Pintar (2)


__ADS_3

Daisy menepis tangannya dengan keras tadi saat Maulana menangkap tubuhnya yang hampir jatuh di ambang pintu lobi saat berlari. Tatapan mata yang kemudian menyalurkan kemarahan yang tak bisa dideskripsikan Maulana membuatnya mengingat seseorang. Stefani, adiknya.


“Tidak mungkin!” katanya sambil tertawa kecil.


Maulana membuka berkas yang harus diperiksa mengantikan Mahardika. Kapan bosnya itu akan kembali? Sudah satu jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda Mahardika akan menghubungi. Sepertinya Maulana harus bercanda soal kenaikan gaji lagi nanti.


“Apa menatap berkas cukup banyak membuatmu jadi gila?” tanya Mahardika tiba-tiba.


Maulana terlonjak sedikit, mengangkat kepala segera dan menemukan bosnya sudah ada di ruangan, di depan meja Maulana. “Apa kamu mau membuatku mengalami serangan jantung?”


“Untuk orang yang sehat sepertimu tidak akan mati begitu!” kata Mahardika sambil tertawa.


Maulana menjadi cemberut mendengarnya. Ia kemudian menutup berkas yang sedang diperiksa dan membawa setumpuk lainnya ke atas meja Mahardika segera. “Sesuai perintah Bos, aku sudah memisahkannya. Ada beberapa yang perlu diulang lagi, tapi yang lainnya aman. Anda bisa periksa lagi kalau tidak percaya!” kata Maulana begitu formal.


Mahardika tertawa senang kembali. Suasana hati bos Maulana itu tampak sangat baik. Seolah ia baru saja bertemu dengan keberuntungan atau hal semacam itu.


“Apa kamu berbaikan dengan Daisy?”


Maulana yakin kalau Mahardika mengeleng. Jadi, ia mencari hal beruntung lainnya yang menyebabkan perasaan Mahardika menjadi sebahagia ini.


“Apa ada proyek besar yang akhirnya akan kita dapatkan?” tanya Maulana kembali.


Ia mengingat semua jenis proposal dan perusaha besar yang telah dikirimi beberapa bulan lalu dan masih ada beberapa yang tidak ada kabar. Proposal dengan jumlah nominal yang besar selalu butuh waktu lama untuk disetujui, karena mereka mencari tahu terlebih dahulu berapa jumlah kemampuan perusahaan pengaju.


“Bukan!”


Mahardika melepaskan jasnya dan menyampirkannya di punggung kursi. Satu per satu berkas yang sudah diperiksa Maulana dibaca sepintas sebelum ditanda tangani. Pekerjaan lebih cepat selesai jika Maulana turun tangan.


“Katakan padaku apa yang terjadi. Aku juga mengalami hal aneh seperti deja-vu, tetapi aku lebih penasaran dengan perubahan suasana hatimu. Bukannya kamu kabur dari Daisy tadi? Dia marah sekali!”


Perasaan sangat kenal yang dirasakan Maulana kembali muncul. Sekali lagi ia mengatakan pada dirinya, itu hanya sebuah perasaan yang tidak berdasar saja.

__ADS_1


“Aku baru saja mendapatkan alamat orang pintar. Jadi, aku berencana untuk menemuinya nanti sore!”


“Apa?” Maulana menjadi tidak habis pikir.


Ia bergegas meninggalkan mejanya sendiri yang terletak di dekat pintu dan menyeberangi ruangan. Ia meminta maaf sebelumnya kepada Mahardika sebelum menempelkan tangan di dahi pria yang menjadi bosnya.


“Kamu pikir aku mendadak gila karena sakit?”


Mahardika berusaha membuat wajah kesal, tetapi Maulana malah menemukan kalau pria itu tampak geli dengan pikirannya.


“Apalagi yang bisa aku pikirkan selain itu!” teriak Maulana tidak percaya. “Dika, kamu tidak berencana percaya pada hal semacam itu, kan? Astaga ... mereka hanya penipu!” seru Maulana frustasi sendiri dengan perubahan yang tiba-tiba ini.


Mahardika sama sekali tidak menjawab. Malahan pria itu tersenyum. Tatapannya seolah mengatakan: Kamu akan paham jika saja menjadi aku.


“Aku akan menemanimu! Bahkan walau pun kamu tidak mau!” ujar Maulana.


Mahardika menghentikan aksinya dalam menandatanggani berkas, bertupang dagu menatap asistennya. “Katakan padaku apa deja-vu yang terjadi padamu?”


“Katakan, atau kamu akan kusuruh lembur hari ini!” ancamnya.


Mata Maulana melotot seketika. Ia tak mau lama-lama di kantor dan menemani Mahardika juga hanya sebagai alasan supaya bisa menyeret pria itu pulang sebelum ditipu. “Mengancam dengan hal yang paling dibenci bawahan, ya?”


“Apa boleh buat, kan?” Mahardika mengedikan bahunya.


Maulana menghela napas perlahan dulu. Ia berpikir luamayan keras untuk bisa menemukan kata-kata yang baik. Ia tak mau Mahardika tersinggung karena bahan pembicaraan deja-vu-nya adalah tunangan pria itu. “Aku merasa melihat adikku, pada Daisy! Bukan berarti dia adikku! Hanya saja, temperamennya mendadak mirip!”


Alis Mahardika terangkat. Pria itu tidak marah dan itu membuat Maulana merasa sangat aneh. Bukankah menyamakan seseorang dengan orang lain yang terlihat buruk adalah sebuah penghinaan.


“Kamu benar-benar peka, ya, Maulana!”


***

__ADS_1


Ternyata bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan firasat keanehan. Apakah ayah Stefani juga merasa demikian saat berhadapan dengan Nona mereka yang ternyata telah berganti jiwa dengan putrinya. Mahardika tergoda untuk memberitahukan pada Maulana kalau yang dirasakannya benar.


Akan tetapi, ia mengakui perkataan Daisy benar. Entah itu Daisy atau pun Mahardika yang bersuara pasti akan di cap gila orang orang-orang.


“Aku merasa seperti senang diejek!” kata Maulana merungut sambil kembali ke mejanya.


Mahardika kembali memperhatikan pekerjaan yang sudah diperiksa Maulan, memberi persetujuan jika memang ia merasa itu penting dan meletakannya ke proyek yang harus diubah kembali jika merasa tidak akan berhasil.


Fokus pada pekerjaannya membuat Mahardika tidak sadar kalau waaktu berlalu dengan cepat. Maulana yang mengingatkan Mahardika dengan mengetuk ujung meja pria itu.


“Sudah jam lima sore! Kamu tidak bermaksud untuk tidur di kantor, kan?”


Mahardika mengerjap. Lalu segera menutup berkas yang ada di hadapannya dan menghela napas. Ternyata pekerjaan lebih banyak dari yang diduga. “Kamu jadi ikut denganku?” tanya Mahardika.


“Tentu saja! Atau kamu akan tertipu di sana! Astaga ... bagaimana bisa kamu mempercayai sesuatu yang klise!” keluh Maulana sambil mengacak rambutnya yang rapi. Kini anak rambut Maulana mencuap ke sana kemari.


“Apa aku terlihat bodoh?” tanya Mahardika. Ia melepaskan giwang lengan bajunya dan mengulung hingga batas siku. Lalu menarik dasi di keras sehingga bisa bernapas lebih lapang lagi. “Aku sudah menelepon orang pintar itu tadi saat makan siang. Dia bilang bisa bertemu dengan kita jam setengah enam. Tinggalkan saja motormu, nanti aku antar pulang!”


Mahardika tergoda untuk mengantar Maulana sampai ke depan pintu pavilliun. Melihat Daisy melotot karena kaget padahal sudah diperingatkan. Tetapi, tetap saja merasa canggung karena Daisy kini harus berwajah Stefani.


Karena itu Mahardika bertekad untuk menyelesaikannya secepat mungkin dan ikut campur tangan mengirim Stefani jauh dari Daisy nanti. Ia tak mau Stefani melakukan hal aneh lainnya seperti saat ini. Bagaimana bisa orang-orang yang bekerja di rumah Daisy, menikam gadis itu sedemikian rupa.


“Kenapa kamu memandangku dengan tatapan seperti itu?” tanya Maulana yang menyadari seketika tatapan penuh  permintaan maaf dari Mahardika.


Padahal semua yang akan dilakukan Mahardika pada Stefani hanya ada di dalam kepalanya saja. Belum menjadi kenyataan. Belum tentu juga orang pintar yang mereka temui saat ini bisa mengembalikan semua ke tempat semula.


“Tidak ada. Aku hanya bersyukur karena memiliki orang sepertimu di sini!”


Suatu saat Mahardika berjanji akan memberitahu Maulana semuanya. Tentang perasaan aneh yang dirasakan Maulan. Juga tentang kejahatan adiknya yang tidak bisa diterima nalar.


“Kamu membuatku takut.”

__ADS_1


__ADS_2