
“Kamu tampak senang?” tanya Brian terdengar keheranan.
“Memang aku harus bagaimana lagi kalau tidak senang. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau akan memberitahuku cara supaya balas dendam pada Stefani? Kenapa jadi heran kalau aku senang?” Stefani menyendok kembali kue yang masih tersisa di piringnya. Bersikap tidak peduli.
“Seingatku kamu adalah manusia yang menjunjung tinggi keadilan. Kamu bahkan bersikap biasa-biasa saja saat diabaikan dan dimanfaatkan!” kata Brian mengingat-ingat. “Kamu bahkan tidak peduli dengan apapun selain melakukan semuanya dengan sempurna.”
“Hidupku pasti sangat membosankan!’ komentar Stefani.
Ia tidak bisa membayangkan hidup layaknya Daisy yang bersinar layaknya matahari. Ia terlalu terbiasa berada sendirian di dalam keheningan, meminimalisir pertemuan dan interaksi dengan orang lain. Ia tidak mau diganggu.
“Aku pasti sangat beruntung karena mendengar ucapan seperti itu dari seorang Daisy. Apa aku sedang bermimpi!”
“Jangan bersikap menyebalkan!” tegus Stefani.
Kali ini kue yang ada di depan Brian disendoknya dan dimakannya perlahan. Tetapi, suapannya tidak berlanjut ke suapan selanjutnya.
“Kamu itu selalu seperti itu dulu! Selalu menegurku jika melakukan sesuatu yang menurutmu tidak adil. Bahkan kamu membela Stefani itu dulu, kan? Kamu bilang aku kekanak-kanakan!”
Stefani agak kaget, tidak menyangka kalau Daisy akan melakukan hal itu untuknya. Rasanya ia tak mau percaya walaupun sudah ada buktinya.
“Aku pasti sedang tidak sadar saat itu!” Stefani berdiri seketika sekarang. “Ayo kembali, aku tidak mau mendapatkan SP dari dosen!” ajaknya.
Stefani bergegas keluar lebih dulu. Ia berharap kalau Brian tidak akan lagi bertanya padanya tentang perubahan yang terjadi.
***
Daisy berdiri di depan halte tempat dirinya berjanji dengan Handoko. Bersamanya ada Azzam yang telah parkir di dekat sana, di atas trotoar tentu saja.
“Apa tidak masalah jika aku bertemu dengan ayahmu?” tanya Azzam.
“Kenapa memangnya? Apa kamu takut dengan ayahku?” tanya Daisy bingung.
Daisy sudah menghubungi Handoko tadi dan mengatakan pada pria yang menjadi ayah Stefani itu kalau ada seorang temannya yang bisa membantu mencarikan soal rumah. Tentu saja Handoko senang dan dia meminta untuk menunggu di halte. Tampaknya Handoko pulang ke rumah utama lebih dulu dan mengerjakan hal yang bisa dikerjakannya.
“Bukan begitu!” kata Azzam salah tingkah.
Daisy menelengkah kepalanya, tidak paham dengan apa yang membuat Azzam menjadi panik dan salah tingkah. Kemudian ia melihat sekilas mobil miliknya yang kini disopiri Handoko. Ia berdiri dan melambai.
“Azzam juga melakukan hal yang sama, berdiri, tetapi tidak melabai. Malahan ia kaku dan tampak sangat canggung.
__ADS_1
Handoko turun dari mobil dan berlari kecil ke arah Daisy. “Mana temanmu?”
Daisy menunjuk pada Azzam. “Dia!”
“Saya Azzam, Pak!” pria itu mengulurkan tangan seperti seorang tentara yang sedang berkenalan.
Daisy hampir saja tertawa mendengarnya. Tetapi, ia berhasil mengendalikan diri dan hanya tersenyum saja. Pastinya Azzam akan malu seandainya tawa Daisy meledak tiba-tiba.
“Saya Handoko, ayahnya Stefani. Jadi, apa kamu mau ikut dengan mobil?”
“Tidak, saya akan pergi lebih dulu dengan motor, jadi Bapak bisa ikuti saya!” jelas Azzam.
Handoko mengangguk setuju. Dibiarkan Azzam menurunkan motornya terlebih dahulu ke jalanan. Begitu motor Azzam sudah menyala, Handoko bergegas ke mobil, Daisy mengikuti dengan gerakan yang sama.
Azzam menoleh dulu untuk memberikan tanda kalau ia akan jalan sekarang. Dan mesin mobil menderu perlahan melaju.
“Jadi dia yang bernama Azzam?” tanya Handoko membuka obrolan.
“Ya,” jawab Daisy dengan polosnya.
“Dia tampak seperti pria yang baik. Ayah sudah padanya!” kata Handoko tiba-tiba.
Daisy membelalakan matanya mendengar hal itu. Ia kemudian menoleh pada Handoko lekas-lekas. “Hubungan saya dan Azzam tidak seperti itu, Ayah!” tegasnya.
Daisy tidak bisa menyangkalnya, sebab memang seperti itu yang sudah terjadi. Baru saja dikatakan Azzam tadi.
“Dengar, Stefani, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu! Jangan mencoba untuk mengapai hal yang tidak seharusnya kamu miliki!”
Artinya Handoko tengah mengkhawatirkan masa depan putrinya. Ia tak mau Stefani mendapatkan masalah hanya karena kekeras kepalaan.
Azzam berbeok ke suatu tempat. Handoko mengikutinya. Ketika pada akhirnya Azzam berhennti di depan deretan rumah yang tampak sama, Handoko juga melakukan hal yang sama.
Daisy turun, Handoko juga. Mereka memperhatikan tiap rumah yang tampak sama. Dua di antaranya josong, tetapi kondisinya bersih.
“Rumah saya ada di sana!” Azzam menunjuk.
Sebuah rumah besar terlihat tak dari tempat mereka sama-sama berdiri. Rumah itu mungkin seperti dari kediaman milik Daisy, tetapi cukup besar untuk ukuran orang dewasa.
“Saya akan menjemput kunci kalau kalau kalian mau melihat ke dalam.”
__ADS_1
Daisy menoleh pada Handoko. Pria itu berjalan mendekati salah satu rumah yang kosong, memperhatikan dengan baik dan mengangguk pada Azzam.
“Sepertinya aku memang harus melihat ke dalam. Kalau bagus, aku akan bicarakan dengan kakak Stefani!”
“Baiklah kalau begitu!” Azzam terdengar riang.
Ia kemudian menoleh pada Daisy dengan senyuman di wajahnya sebelum setengah berlari ke rumahnya sendiri.
“Dia senang, kan?”
“Tentu saja. Dia akan mendapatkan uang dari kita,” jawab Daisy sekenanya.
Handoko tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Daisy. “Apa kamu pikir dia hanya senang karena itu?”
Di dalam hatinya Daisy menjawab tidak. Tetapi, ia tak akan mengakui hal itu kepada Handoko. Rasanya bukan sesuatu yang benar untuk mengatakan hal tersebut.
“Saya tidak tahu, Ayah!” Sekali lagi Daisy memberikan jawaan sekedarnya saja.
“Baiklah! Aku akan memberitahumu!” Tetapi tampaknya Handoko berubah pikiran seketika. “Aku akan memberitahumu nanti setelah melihat-lihat rumah selesai.”
Daisy menoleh dan melihat Azzam berlari-lari kecil mendekati mereka. Ia mengacungkan sesuatu yang berkilauan. Setelah dekat Daisy tahu kalau itu adalah sebuah kunci.
“Mau lihat yang mana dulu?”
Napasnya Azzam bahkan belum teratur saat bertanya pada Handoko dan Daisy.
“Yang ini dulu!” Handoko mengambil alih dan menunjuk.
Azzam mengangguk. Ia mendekati pintu pagar yang tergembok dan membuka kuncinya dengan salah satu rangkaian. “Silakan masuk!”
Handoko dan Daisy mengikutinya dari belakang, memperhatikan dengan saksama dan memutuskan kalau taman rumah ini butuh dirawat dengan lebih baik. Tetapi, kondisi halaman cukup bersih untuk rumah yang tidak berpenghuni.
“Apa rumah ini dibersihkan setiap hari?”
“Lebih tepatnya dua kali seminggu!”
“Tamannya bersih dari rumput,” puji Handoko.
“Kalau begitu, Bapak harus melihat ke dalam juga. Ruangan di dalam sama bersihnya!”
__ADS_1
Azzam dengan semangat pergi ke pintu depan. Sementara Daisy menarik tangan Handoko untuk menjauh lebih dulu.
“Saya seharusnya tidak mengkhawatirkan ini. Tapi, apa tidak sebaiknya saya saja yang indekos di suatu tempat?”