
Ada panggilan masuk dari nomor Daisy yang lama di ponsel Mahardika saat ia berhenti di lampu merah dekat kantornya. Ia mengabaikan panggilan karena berpikir itu pasti hanya berisi keluhan Stefani saja. Setelah mematikan nada panggilan, Mahardika melaju kembali, melupakan tentang panggilan itu dengan cepat.
Panggilan itu kembali menganggunya karena dilakukan ke telepon penghubung di reseptionis di lantai bawah. Untuk apa Daisy menghubungi ke resepsionis?” tanya Mahardika kepada wanita yang menghubunginya dari lantai bawah.
“Nona Daisy berkata kalau Anda tidak mengangkat telepon tadi. Dia bilang kemungkinan Anda telah meninggalkannya di suatu tempat karena tergesa-gesa.”
Tidak. Mahardika tidak meninggalkan ponselnya di suatu tempat tetapi memang sengaja tidak mengangkat panggilan. “Dia bisa meneleponku ke ponsel. Benda itu tertinggal di ruang kantor kemarin dan aku tidak menjemputnya sampai pagi ini.” Mahardika dengan terpaksa membuat alasan supaya tidak disebut sebagai tidak bertanggung jawab.
Bagaimana pun semua orang hanya tahu kalau ia tengah menghindari Daisy, bukan jiwa Stefani yang ada di dalam tubuh Daisy.
“Tapi, Bu Daisy sudah ada di lobi, Pak. Dia minta saya menelepon dahulu takut Bapak sedang rapat.”
“Apa?” seru Mahardika.
Kepalanya jadi berdenyut seketika. Tidak mengerti kenapa Stefani tidak langsung naik saja ke lantai atas dan menemuinya. Hal yang dilakukan gadis itu kini sama sekali tidak seperti dirinya. “Baiklah! Katakan padanya kalau dia boleh naik!”
Gagang telepon yang ada di tangan Mahardika diletakan kembali di tempatnya dan setelah itu ia menunggu kemunculan Stefani dengan tenang di pintu. Mahardika berharap kalau Maulana ada di sini sekarang. Tapi, pagi ini ada rapat yang dikepalai Maulana di bagian HRD. Mahardika akan menerima laporan hasil rapat sekitar satu setengah jam lagi paling cepat.
“Terima kasih!” Ucapan bernada yang beberapa hari ini tidak terdengar dari mulut Daisy yang dirasuki Setefani mengejutkan Mahardika.
Ia melihat pintu teryaun terbuka dan seorang satpam tersenyum pada Daisy. Lalu pintu terayun tertutup kembali dan wanita itu ada di hadapannya.
Mahardika menelengkan kepala, takut telah salah menduga. Bagaimana kalau ia memanggil orang yang salah. Gadis itu tersenyum padanya dan menaikan alisnya sebagai sapaan. “Sudah sarapan?” tanyanya dengan lembut pada Mahardika.
“Dai-sy?” Agak tergagap Mahardika menyebut nama gadis yang membuatnya mengalami masalah selama beberapa hari ini.
“Ya? Apa kamu bisa mengenaliku?” Gadis itu tertawa kecil, menutup mulutnya sedikit sebagai bentuk kesopanan.
__ADS_1
Mata Mahardika terbelalak. Ia cepat-cepat berdiri dari kursi kerjanya. Lututnya terbentur sudut meja karena saking tergesa-gesa. Daisy hampir meloncat dan berseru hati-hati, tetapi Mahardika tidak mau mengindahkannya. Ia menyentuh bahu gadis bernama Daisy itu dengan hati-hati.
“Daisy? Benar-benar Daisy?” tanya Mahardika tidak percaya.
“Ya, benar-benar Daisy! Apa tidak tampak seperti itu, Mas?” tanya Daisy pada Mahardika.
“Tidak! Hanya saja ....” Mahardika tidak bisa mendeskripsikan betapa senang hatinya kini. Ia tidak perlu lagi bersikap kasar pada tubuh Daisy karena jiwa gadis itu telah kembali ke tempatnya. Ia tak perlu berkata hal yang buruk lagi pada gadis itu kini.
“Aku juga tidak menyangka bisa kembali ke tubuhku sendiri. Rasanya seperti keajaiban!” kata Daisy dengan penuh semangat.
Sayangnya, Mahardika memang merasa kalau hal ini adalah sebuah keajaiban. Yang terjadi memang sangat ajaib dan tidak terencanakan. Siapa yang akan menyangka kalau Daisy dan gadis bernama Stefani akan bertukar. Buka tertukar saat mereka masih bayi merah di rumah sakit. Tetapi, tertukar jiwanya.
“Apa yang terjadi pada dia?” tanya Mahardika ingin tahu.
“Aku tidak tahu! Tapi, Pak Handoko tidak terlalu baik. Dia berwajah muram saat aku memanggilnya tadi pagi. Tampaknya dia akan mengacau semua hal yang kuperbaiki.” Daisy tampak khawatir di mata Mahardika.
“Aku berharap Stefani menyadari kesalahannya.” kata Daisy sekali lagi.
Mahardika hanya memandang tunangannya itu lama.
***
Daisy sudah jauh lebih tenang lagi setelah bertemu dengan Mahardika. Dengan tahunya Mahardika kalau ia sudah kembali ke tubuhnya sendiri memiliki keuntungan sendiri. Ia bisa mengkoordinasi masalah yang sudah terjadi di antara mereka. Salah satunya adalah dengan mengatakan pada papanya kalau sudah cukup hukuman terhadap tunangannya itu.
“Aku akan pergi sekarang,” kata Daisy memberitahu.
Ia tidak punya rencana hari ini selain kuliah dan mengurusi beberapa hal dengan persetujuan pencairan dana yang seharusnya dilakukan untuk gaji pegawai di perusahaan ayahnya. Sebagai pemegang saham terbesar yang menjadi pewaris tunggal langsung perusahaan yang dimiliki ibu dan kakeknya, Daisy tidak bisa berdiam diri dan menikmati kehidupannya sendiri. Walau ia menginginkan hal itu kadang-kadang.
__ADS_1
Rasanya ia sudah cukup berlibur saat menjadi Stefani, menikmati perhatian ayah dan kakak yang sebelumnya tidak dimiliki. Daisy yakin akan merindukan hari-hari itu, tetapi tak berpikir untuk bertukar jiwa kembali. Ia adalah penganut paham bahwa apapun di dunia ini harus berjalan di alurnya.
“Aku benar-benar ingin meninggalkan kantor yang menanyaimu lebih banyak!”
“Kamu tidak perlu melakukan itu, Mas!” Daisy mengeleng. “Ada begitu banyak waktu dan pertemuan yang bisa kita lakukan setelah ini!”
“Kamu benar!”
Mahardika mendekatkan diri pada Daisy, menghadiahi gadis itu sebuah kecupan di kening. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Mahardika sebelumnya. Karena kaget dengan tidak sadar Dasiy menyentuh dahinya sendiri.
“Apa?” tanya Mahardika canggung. “Aku hanya mencoba untuk tidak menyesal!” kata Mahardika.
Daisy tidak paham untuk apa maksud perkataan Mahardika. Tetapi, perhatian yang tiba-tiba didapatkannya menyenangkan hati Daisy. Perasaannya menjadi hangat dan mendadak segala kesusahan yang ada di dalam kepalanya tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan.
Daisy melambai pamit sekali lagi. Dadanya masih hangat dan ia bisa menjalani hari ini dengan lebih semangat.
“Ah, Kak Maulana!”
Pria itu yang datang dengan mengepit map di ketiaknya tampak kaget, menelengkan kepala dan menoleh ke kiri dan kanan tidak paham. “Nona ... Anda bicara dengan saya?” tanya Maulana canggung.
“Apa di sekitar sini ada Maulana yang lain?” tanya Daisy balik bertanya.
Kepala Maulana mengeleng pelan. “Hanya saja, rasanya Nona tidak pernah berbicara dengan saya seperti ini!”
“Apanya yang tidak pernah?” runggut Daisy. Tiba-tiba ia menyadari kalau dirinya bersikap sebagai adik, bukannya nona majikan yang tegas seperti biasa. Daisy merasa malu karena menyadari kesalahannya sendiri. Ia sudah terlalu nyaman, pikir Daisy keras pada diri sendiri.
“Bisakah Kakak mengantarku ke bawah!”
__ADS_1
“Ya?” Maulana semakin bertambah heran kini.