
Padahal sudah hampir dua minggu ini Daisy tidak menghampiri ruang kerja. Tahu-tahu putrinya itu berkunjung dan langsung duduk untuk pemeriksaan pengeluaran di meja dekat miliknya sendiri. Meja bulat yang di tengahnya berdiri vas bunga terisi lili air kali ini.
“Apa Papa sudah mengecek bagian ini?”
Pertanyaan itu lantas menyentak konsentrasi Ibnu. Ia tengah memperhatikan putrinya yang seolah kembali ke diri sendiri, tidak lagi penuh emosi dan gambaran mudanya usia Daisy sebenarnya.
“Tidak! Karena aku hanya menerima ini dari bagian yang mengatur pengeluaran di rumah dan juga kantor. Kenapa dengan itu?” tanya Indra.
Padahal ia bisa mengerjakan semua berkas ini di kantor saja. Tetapi, beberapa minggu ini ia tak bisa mengalihkan pandangan dari Daisy juga Aida. Ada sesuatu yang salah pada keduanya.
“Ada salah perhitungan di sini. Sebenarnya bahkan jika tidak dihitung akan ketahuan dalam sekali lihat. Ada perbedaaan yang sangat besar.” Daisy menyodorkan laporan tersebut ke papanya. Ibnu menerima lembaran kertas itu dengan sebelah tangan. “Coba Papa lihat nama siapa yang berulah!”
“Aida!” bisik Ibnu tidak percaya.
Ia memang sudah curiga ada yang aneh. Awalnya ia berusaha menyembunyikannya dengan membuat laporan lain. Mungkin saja pelayan atau pekerja yang menginput laporan melakukan kesalahan perhitungan, tetapi kalau sebesar ini Ibnu tahu kalau hal ini disengaja.
“Apa benar Papa mengenal istri papa itu?” sindir Daisy.
__ADS_1
“Aku mengenalnya Daisy.”
“Yah, dia mantan kekasih Papa di SMA, kan, aku tahu!”
Ibnu terkejut mendengar penuturan putrinya. Ini tidak seperti ia menyembunyikan sesuatu dari Daisy. Tetapi, kini terdengar seolah ia memang melakukan hal buruk itu.
“Kamu beranggapan kalau aku sudah berselingkuh dengan ibumu?” tanya Ibnu.
Daisy, putri Ibnu yang berusia 20 tahun mengangkat kepala mengerjap seolah memandang seseorang yang melakukan pencurian di rumah mereka. “Memang kenapa dengan hal itu? Tidak ada penjelasan lainnya yang menjelaskan bagaimana sebelum dua minggu Papa membawanya ke rumah dan menjadikannya ibu tiriku, kan?”
“Papa sendiri yang akan bertanya pada Mama atau aku yang harus melakukannya?” tanya Daisy.
“Biar aku yang bertanya padanya, Daisy!” pinta Ibnu.
***
Lihat bagaimana papa Daisy masih berusaha menyelamatkan istrinya yang bersalah. Lihatlah bagaimana cinta memainkan semua peran yang ada di dunia dan menjadikan orang-orang seperti Daisy sebagai sampingan dengan perasaan yang campur aduk. Apakah Daisy masih bisa menganggap kalau sang papa menyayangi dirinya?
__ADS_1
“Terserah Papa saja!” Akhirnya Daisy tidak bisa melakukan hal lain selain menyerah.
Ia kembali menekuri berkas laporan keuangan rumah dan perusahaan secara garis besar. Tetapi, perasaannya sama sekali tidak sebaik tadi lagi. Daisy benar-benar ingin melarikan diri.
“Bagaimana dengan hubunganmu dan Mahardika! Apakah dia masih saja bersikap buruk?” tanya papanya pada Daisy.
Daisy mengangkat kepalanya lagi. Suara itu terdengar aneh. Ada kecemasan di dalamnya dan walau pun Daisy berusaha menyangkal, tetapi ada nada yang menyiratkan perlindungan. Yang jelas, Daisy pasti sudah salah dengar.
“Tidak. Mas Dika bersikap baik. Aku sudah bersikap buruk juga makanya dia begitu.”
“Begitu? Syukurlah!” kata papa Daisy lega.
“Papa, jangan bersikap aneh! Aku tidak mengerti kenapa Papa peduli dengan hubunganku dan Mas Dika. Bahkan sampai menghbungi orang tua Mas Dika segala.”
“Kenapa kamu merasa aneh. Itu yang dilakukan seorang ayah.”
Jawaban papanya membuat Daisy merinding. “Papa sehat?” katanya dengan kengerian yang teramat sangat.
__ADS_1