
Syukurlah karena Mahardika dipanggil di saat yang tepat. Walau ia sedikit khwatir karena dipanggil dan malah diajak ke ruang kerja yang jarang didatanginya.
Seorang pelayan yang berpapasan mereka diminta membawa minuman berupa kopi dan teh ke dalam. Mahardika jadi mengira-ngira betapa seriusnya pembicaraan ini. Ia menduga apa jenis masalah yang akan dibicarakan orang tua lelakinya Daisy padanya.
Apa pria itu menyadari kalau yang sedang bersamanya bulan Daisy yang sebenarnya seperti yang diketahui Mahardika?
“Duduklah!” suruh Ibnu pada Mahardika.
Suasana tengah seperti tengah bicara dengan papinya dirasakan Mahardika kembali. Bedanya adalah tatapan mata Ibnu tidak seperti papinya yang menguliti Mahardika dengan snagat baik.
Pelayan yang diminta membawa minuman datang dengan membawa kereta dorong. Ada beberapa toples berisi makanan kecil di juga dibawa pelayan tersebut. Semua dihidangkan di atas meja kaca yang terletak agak ke sudut bukannya di depan meja kerja Ibnu.
Pelayan yang menghidangkan minuman bahkan ditunggu keluar terlebih dahulu oleh Ibnu sebelum ia duduk di kursi putar yang ada di hadapan Mahardika.
“Ada masalah apa hingga Papa membawa Mahardika ke ruang kerja?” tanya Mahardika tidak berhasil menghilangkan rasa penasarannya.
Seharusnya Mahardika tidak boleh tergesa-gesa seperti ini. Tergesa-gesa hanya merugikan orang yang akan bernegosiasi. Itu adalah hal pertama yang dipelajarinya dalam bisnis. Mahardika tidak akan melupakan hal itu begitu saja.
“Apa kamu menyukai Stefani sebagai wanita?”
Mahardika jelas terkejut saat ditanya hal demikian. Ia tidak menyukai Stefani sampai seperti itu. Ia menolong Stefani sebelum ulang tahun Daisy hanya karena melihat gadis itu menangis sendirian saja di pojokan saat semua orang bersenang-senang.
“Bukan seperti itu, Pa!” Mahardika harus bisa menjelaskannya dengan baik sebelum Ibnu menjadi salah paham lebih parah.
“Papa sama sekali tidak masalah kalau kamu menyukai Stefani sebagai manusia. Sungguh! Papa juga dulu menyukai seorang wanita saat sudah memiliki mamanya Daisy. Selama kamu bisa adil untuk keduanya, sama sekali tidak ada yang salah dengan hal semacam itu. Karena pada dasarnya, lelaki itu rakus!”
“Saya tidak mengerti apa yang sedang Papa bicarakan!”
Mahardika tidak mau mendengarnya dan ingin keluar dari tempat ini segera. Entah mengapa ia merasa tidak enak. Merasa kalau hal yang akan dikatakan Ibnu akan semakin parah saja.
“Kamu sudah dewasa untuk paham apa yang Papa bicarakan!” kata Ibnu sambil tertawa.
Mahardika segera ingat pada berkas yang ada di kantornya. Pada semua hal yang harus diurusnya hari ini karena ketiadaan Maulana di kantor.
Mahardika lekas mengeluarkan ponselnya, pura-pura membaca pesan yang dikirimkan oleh orang-orang kantor.
“Pa, sebenarnya Mahardika ingin sekali bicara dengan Papa lebih lama lagi. Akan tetapi, sepertinya kantor sudah kedatangan tamu untuk diskusi.”
__ADS_1
Ibnu tampak terkejut. “Oh, Daisy sudah mengambil banyak waktumu, ya! Kalau libur datanglah ke rumah ini. Akan ada banyak yang bisa kita bicarakan!’ kata Ibnu dengan yakin.
Seolah Mahardika akan menyetujui ajakannya itu dengan senang hati. Seolah Mahardika adalah orang yang sama seperti lelaki ini.
“Kalau begitu Mahardika permisi, Pa!” kata Mahardika pada Ibnu.
Ibnu hanya mengangguk dan menyesap minumannya perlahan di kursi. Mahardika hampir saja berlari keluar rumah begitu menutup pintu ruang kerja. Akan tetapi, ia tak bisa melakukan semua itu karena ada banyak pelayan di rumah saat ini. Seseorang akan memergoki tindakannya dan melaporkan pada Ibnu.
“Seharusnya aku menduga kalau ada banyak hal yang tidak dikatakan Daisy tentang papanya. Aku tidak menyangka kalau ada sebanyak ini.”
Kalimat saran Ibnu lama terngiang-ngiang di dalam pikiran Mahardika. Ia merasa iba pada Daisy dan mama kandungnya.
***
Seperti yang dikatakan ayahnya, Maulana sampai di tepat pada saat jam makan siang. Di tangannya pada kantong kresek ada tiga bungkus nasi padang.
Seumur hidup Daisy tidak pernah makan yang bungkusan. Bukan karena ia tidak suka, tetapi untuk apa ia membungkus kalau bisa pergi ke restoran makanan padang kapan pun dia mau.
Seperti seorang putri, Daisy dilayani dengan sangat baik sampai ia malu sendiri. Ada banyak hal yang belum bisa diingatnya. Dirinya yang tiba-tiba berada di tubuh Stefani bahkan belum genap dua minggu.
Ia baru makan sesendok dan lidahnya sudah diserang rasa rempah-rempah yang kaya. Ia mengerjap saat merasakan pedas dari cabai asli. Untungnya rasa pedas ini masih bisa dinikmati.
“Ini enak, Kak!” pujinya.
“Wajahmu tidak terlihat seperti itu!” protes Maulana segera.
Apakah Daisy berekspres seperti orang terbakar sekarang? Ia merasa malu karena tidak sanggup mengendalikan ekspresinya lagi. Pasti Maulana merasa usahanya sia-sia saja. Bukankah ia juga sempat meminta rekomendasi dari teman kantornya untuk makanan ini. Daisy tidak boleh membuat usaha seseorang menjadi buruk.
“Ini agak pedas untukku, tapi enak, sungguh!”
Maulana mengerjap-ngerjap sedikit kemudian menepuk jidatnya sendiri keras-keras. “Astaga, kamu kan sedang sakit. Lidahmu pasti tidak bisa mentolerir rasa pedasnya. Bagaimana bisa aku lupa!” keluh Maulana.
Namun, walau tidak sakit, Daisy juga tidak punya rasa tolerir pada pedas. Tetapi, jelas ia tidak bisa mengatakannya.
“Ayah bisa mengambil semua yang ada cabainya. Kamu bisa makan dengan rendang saa. Rendang tidak pedas!”
Sendok Handoko beraksi menyendok semua yang tercampur cabai di dalam nasi bungkus. Dengan cepat yang tersisa dalam nasi bungkus hanya bagian yang tanpa cabai saja dan juga lauk.
__ADS_1
“Nah, sudah boleh kamu makan sekarang! Karena tadi sudah minum obat, yang kedua nanti sore saja, ya?”
Padahal yang harusnya paham kenapa harus minum obat harusnya Daisy sendiri. Tetapi, mendengar Handoko memberikan pengertian padanya, Daisy merasa seperti menjadi anak kecil kembali. Ia sama sekali tidak marah diperlakukan seperti itu. Malahan Daisy merasa senang karena diperhatikan.
Daisy makan cukup banyak kemudian. Handoko bahkan memberikan nasi miliknya yang belum disentuh dan tidak kena cabai pada Daisy. Saat semua makanan habis, Daisy kenyang sekali sampai rasanya mengantuk.
Akan tetapi, sayang sekali dirinya harus mengangkat tas berisi pakaiannya sendiri sampai keluar. Sementara barang-barang lain yang tidak bisa diangkut sekaligus dibawa oleh Maulana dan Handoko. Beberapa pelayan laki-laki juha membantu mereka membawa sampai ke halaman depan.
“Jangan memandang adikku seolah kalian akan melahapnya. Dia hanya sedang menenteng tas!” Maulana sengaja berteriak kepada orang-orang di sekelilingnya karena tahu Daisy tidak nyaman dengan tatapan-tatapan menuduh itu.
“Beneran pindah hari ini, ya?”
Di halaman Mahardika tampak akan naik ke atas mobilnya. Pria itu pasti datang untuk mengunjungi Stefani yang kini ada di dalam tubuh Daisy.
“Ya, kenapa?”
“Mau aku antar?” tawar Mahardika.
Maulana meletakan kardus dan tas yang dibawa di bawah sebelum kemudian merangkul Mahardika untuk berjalan menjauh.
“Dengar ya baik-baik temanku sayang. Aku sama sekali tidak keberatan menerima tumpangan gratis dari orang kaya. Masalahnya orang-orang di rumah ini selalu menghubungkan kebaikan hatimu padaku dengan adikku, Stefani. Jadi pergilah sekarang dan jangan sok berbuat baik, oke?”
Daisy benar-benar merasa beruntung karena Mahardika dan Maulana berteman sangat baik. Bahkan jika ia tidak ada tidak ada di tubuh Stefani lagi, ia akan masih bisa melihat Maulana. Walaupun pria itu tidak akan memandangnya ramah lagi.
Mahardika melirik ke arah Daisy dahulu sebelum menghela napas pasrah. “Baiklah! Aku akan pergi sekarang! Cepat selesaikan pindahannya dan bantu aku kembali dengan kemampuan dewamu!”
“Pergi sana!’ usir Maulana lebih ganas lagi.
Mahardika tertawa saat masuk ke dalam mobilnya. Ia mengklakson sebagai tanda pamit.
Maulana mengangkat kembali barang-barang yang akan mereka bawa pindah dan tampak bahagia kembali.
“Mobil yang membawa kita sudah ada di depan. Kamu sama Ayah naik ya. Kakak mau pakai motor soalnya!” kata Maulana memberitahu.
Daisy mengangguk setuju dan mengikuti Maulana di belakang bersama Handoko. Benar saja kalau ada sebuah mobil pick up di depan gerbang. Sopirnya tampak ramah pada Handoko. Setelah barang-barang dinaikan, Handoko naik terlebih dahulu dan Daisy yang terakhir.
Selanjutnya mobil melaju membawa mereka. Ada sedikit rasa sedih yang dirasakan Daisy karena harus meninggalkan rumahnya. A
__ADS_1