Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Rencana Makan Malam (2)


__ADS_3

Kulkas di dalam rumah nyaris kosong. Daisy hanya menemukan satu bungkus roti tawar di sana dan bumbu-bumbu. Harusnya ia pergi ke swalayan berbelanja, tetapi uang yang ada di dalam dompetnya sudah kurang dari seratus ribu.


“Saat menjadi Daisy aku bahkan tidak pernah berpikir kalau uang jajanku terlalu banyak, tetapi sekarang ....”


Daisy menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu, memikirkan apa yang harus dilakukan. Padahal tadi pagi setelah menyajikan sarapan dengan berhasil--hanya gosong sedikit pada bagian tepi telur. Ia dengan sangat meyakinkan berjanji untuk membuat makan malam dengan segala kerumitannya.


Ia membayangkan membuat ayam goreng mentega, dan capcai sayuran. Jangankan ayam goreng, bahkan telur saja tidak ada di dalam kulkas saat ini.


“Ini yang namanya ekspektasi tidak sesuai realita.”


Daisy berniat untuk menelepon Maulana yang ada di kantor, tetapi mengurungkan segera. Pria yang menjadi kakak Stefani itu pasti sedang bekerja saat ini. Hanya akan menganggu kalau Daisy meminta hal seperti belanja sepulang kerja. Sebuah ide lagi muncul. Bagaimana kalau pergi dengan Handoko. Namun, Handoko tampaknya sangat sibuk dengan taman. Daisy tidak bisa mengingat apa hal yang harus dilakukan sekarang ini.


“Ada apa?”


Bergegas Daisy menoleh ke pintu dan menemukan Handoko berdiri dengan penuh keringat di ambang pintu.


“Ayah!” Daisy berdiri lalu bergegas ke dapur, mengambilkan minuman dingin.


“Terima kasih!” Handoko menerima gelas yang disodorkan kepadanya seperti sebuah benda berharga. “Jadi, kenapa kamu membuang napas sampai seperti itu. Ada masalah?”


Lalu mata Handoko menyipit menatapnya. Daisy menyadari lekas bekas tamparan yang ada di pipinya belum juga disamarkan menggunakan bedak. Ia menutupi bekas itu dengan telapak tangannya. Gerakannya ini jelas terlambat, karena ekspresi Handoko mengatakan: Aku sudah melihatnya.


“A-apa yang terjadi? Apa Nona melakukan hal buruk padamu?”


“Kenapa Ayah menuduh Nona? Dia bahkan tidak pergi kuliah hari ini.”


Walau ia kesal dengan Stefani, tetapi Daisy tak mau serta merta melimpahkan kesalahan orang lain pada gadis itu. Bagaimana pun tidak boleh ada ketidak adilan.


“Benar bukan Nona yang melakukannya?” tanya Handoko.


“Bukan!” Daisy juga tidak bisa mengatakan kalau ada tiga orang yang tiba-tiba mengalungkan tangan ke lehernya dan menyeret ke tempat sepi. Ia akan dilarang pergi kuliah, bahkan diusahakan untuk pindah. “Ada kesalah pahaman tadi.”


“Kesalah pahaman apa yang membuat pipimu jadi semerah itu?”


Tampaknya Handoko sama sekali tidak menyerah begitu saja. Ia mendesak dengan kata-kata dan tindakannya supaya Daisy mengatakan sesuatu.


“Mereka sedang bercanda di kelas. Lalu saya yang tidak tahu lewat. Lengannya menampar wajah saya cukup keras, tetapi mereka tidak sengaja!”

__ADS_1


Ekspresi Handoko terlihat lega. Ia duduk dengan punggung tersandar ke sofa ruang tamu. Ia mengusap wajahnya dengan tangan. “Ayah tidak mau kamu mendapat masalah lagi. Jika ada sesuatu ... apapun itu, tolong katakan padaku!” pinta Handoko.


Daisy mengangguk.


“Apa temanmu sudah minta maaf soal ini?”


“Ya! Mereka sudah minta maaf, bahkan dia tampak hampir menangis tadi!” Daisy mengingat Andien seketika.


Tanpa sadar ia tersenyum kecil karena mendapatkan teman ngobrol akhirnya. Persoalan bahan makanan menghampiri Daisy kembali ketika semuanya menjadi tenang. Ia masih belum tahu apa yang mesti dimasak untuk makan malam.


“Jadi apa yang membuatmu khawatir?”


Menurut Daisy tidak ada salahnya menceritakan apa yang merisaukan pikirannya. Ia mengosok kedua tangannya seperti orang kedinginan sebelum memulai. “Itu ... kulkasnya kosong. Saya jadi tidak punya ide untuk memasak apa!”


Handoko tertawa.


Daisy merasa sangat malu karena harus bercerita.


“Aku pikir kamu mau mengatakan kalau sudah memiliki pacar padaku!”


Mata Daisy terbelalak mendengarnya. Ia ingat si penjaga gerbang yang mengoda tadi. Bagaimana mungkin kabar itu sampai dengan cepat ke telinga ayah Stefani yang sedang bekerja.


“Kenapa tidak benar! Kalau pun benar, Ayah sama sekali tidak keberatan. Asal kamu bisa menjaga diri. Kalau bisa kenalkan dia nanti pada ayah dan kakakmu!”


Daisy benar-benar ingin bersembunyi di suatu tempat. Sekarang ia adalah Daisy dan bukannya Stefani. Daisy memiliki tunangan. Sementara Stefani tidak. Selama ia menjadi Stefani, Daisy akan menjaga dirinya untuk tidak terlibat dengan laki-laki lain terlalu dekat. Ia sudah memiliki tunangan.


“Baiklah ... baiklah! Ayah tidak akan mengodamu lagi sekarang.” Handoko selesai tertawa dan berdehem sedikit. “Jadi, apa yang mau kamu masak?” tanya pria tua itu.


“Ayam goreng mentega dan capcai sayur?” Daisy pikir sebaiknya ia meminta persetujuan Handoko dulu soal menu.


Ia bisa saja memutuskan saat menjadi dirinya sendiri di rumah utama. Tetapi, sekarang ia berwujud seperti putri Handoko. Ia harus menyesuaikan segala sesuatu dengan keinginan orang-orang yang ada di sekitarnya.


“Telepon saja kakakmu! Dia antusias sekali saat mengetahui kalau kamu akan memasak!” suruh Handoko.


“Apa tidak akan menganggu Kak Lana?”


Handoko melirik jam dinding dulu. “Tidak! Dia pasti sedang istirahat sekarang!”

__ADS_1


***


Karena harus pulang cepat apapun yang terjadi, Maulana memesan makanan alih-laih keluar dari kantor. Petugas reseptionis tang mengantarkan makanan ke lantai atas saat pengantar datang.


“Lihat bagaimana kamu hanya menyelamatkan dirimu sendiri! Seharusnya kamu juga memikirkan bosmu ini, kan?” tanya Mahardika dari seberang.


Maulana sama sekali tidak terpengaruh. Ia menyuap nasi bakar yang dipesannya dengan suapan besar dan mengunyah dengan berisik. “Bos, ketahuilah ... aku benar-benar tidak mau menggunakan gajiku yang sedikit hanya untuk mentraktirmu makan,” katanya dengan sangat jujur.


Bibir Mahardika mendadak menjadi komat-kamit setelah mendengarnya. Ia menanda tangani berkas dengan cepat sebagai pelampiasan. Layanan pantri dihubungi segera supaya memesankan makan siang untuknya.


Ponsel Maulana berdering saat ia mau memasukan sesuap besar nasi bakar lagi. Nama yang terpampang di layar membuatnya bergegas minum dan membersihkan mulut.


“Ya, Stefani!” sapanya sesaat setelah menekan dial angkat.


“Apa Kakak sibuk?” tanya adiknya pada Maulana.


Ia menatap tumpukan berkas yang masih tersisa banyak. “Tidak! Sekarang sedang makan siang. Ada apa?”


“Itu, bisakah Kakak membelikan beberapa hal untuk saya sepulang kerja?”


Sudah lama Stefani mengurus apapun keperluannya sendiri saja. Saat akhirnya adiknya itu membutuhkan bantuannya. Bagaimana mungkin Maulana menolak. “Apa?”


Stefani menyebutkan beberapa jenis bahan makanan. Ia juga mengatakan kalau kulkas mereka kosong dan ia tidak memeriksanya tadi pagi sehingga baru tahu pada pukul segini.


“Bisa kamu ulangi bahannya? Aku akan mencatatnya supaya tidak lupa!” pinta Maulana.


Daisy mengulang kembali semua bahan dengan lebih pelan sementara Maulana mencatatnya dengan baik.


“Aku tidak sabar makan masakanmu!”


“Jangan terlalu berharap!” ujar Daisy sebelum memutuskan panggilannya.


Maulana meletakan ponselnya dengan hati, lalu menempelkan catatan di belakang ponsel supaya tidak kesulitan untuk mencarinya nanti. Ia melirik Mahardika yang tampak menjulurkan kepalanya karena penasaran.


“Apa yang akan dimasak?”


“Rahasia!” jawab Maulana sengaja.

__ADS_1


Ia bisa mendengar suara bibir Mahardika yang berkomat-kamit tidak terima kembali.


__ADS_2