
“Ah, ke mana pikiranmu pergi Mahardika? Astaga ... kamu harus membacanya dulu sebelum menandatangani!” protes Maulana saat mengantar berkas lainnya ke meja Mahardika.
Mahardika mengangkat kepala, tidak tahu apa yang dilakukannya dan kembali menunduk pada berkas yang diletakan Maulana di tempatnya. Tetapi, sekali lagi Mahardika tampaknya tidak mempedulikan peringatan Maulana. Jadi, Maulana menarik berkas yang hampir saja ditandatangani oleh Mahardika kembali.
“Apa?” teriak Mahardika ingin tahu apa kesalahannya.
Maulana menghembuskan napas kasar, cukup marah untuk mengirimkan sebuah pukulan ke wajah Mahardika. “Aku yang di sini yang mengalami sesuatu yang disebut dengan kebimbangan. Jadi, kenapa kamu yang tidak bekerja dengan baik?”
Mahardika menyisir rambutnya dengan jari-jari dan menyandarkan punggung di kursi. Ia tampak lelah dengan pikirannya sendiri kini. Cukup memiliki niat untuk melarikan diri dari ruangan kerja dan menghilang di jalanan.
“Apa Nona Daisy membuat masalah lagi kemarin atau pagi tadi?”
Mahardika mengeleng pelan. Benar-benar tidak dimengerti maksud dari apa yang tengah dilakukan Mahardika. Sepertinya memaksa Mahardika tetap di tempat dan melakukan pekerjaannya akan membuat semuanya menjadi masalah nantinya.
“Baiklah! Kita istirahat. Aku juga mau pulang sebentar untuk mengecek Stefani. Apakah dia sudah pulang dari toko buku dengan Azzam.”
“Ke toko buku mana mereka?” tanya Mahardika.
Ketertarikannya pada ke mana Stefani pergi dengan seseorang aneh. Namun, Maulana mengatakan nama toko buku yang dikunjungi adiknya. Lalu kembali mengulangi ke mana ia akan pergi karena Mahardika juga beristirahat sebentar.
“Pergilah! Aku juga akan keluar!” kata Mahardika.
***
Mahardika sampai di alamat toko buku tempat Daisy tengah pergi dengan seseorang bernama Azzam. Mahardika penasaran dengan tampang Azzam ini. Ia keluar dari mobilnya setelah parkir di balik jalan dan berlari-lari kecil saat menyeberang. Seperti orang yang benar-benar sangat butuh menemukan sesuatu di dalam toko buku, Mahardika masuk, memperoleh tatapan ingin tahu dari para pegawai toko yang dengan cepat pula melupakanya.
“Astaga ... ke mana orang itu membawa Daisy?” tanya Mahardika sedikit kebingungan setelah berputar dari lantai satu, dua, dan tiga secera berurutan.
__ADS_1
Maka saat ia kembali turun, pegawai toko buku kembali menatap Mahardika. Layaknya seseorang yang melihat orang aneh di suatu tempat dan terpesona dengan itu. Namun, depan cepat pula mereka akan melupakan hal tersebut.
Mahardika kembali melintasi jalan, bermaksud untuk pergi ke kampus Daisy, ke jurusan bahasa di mana gadis itu untuk sementara terperangkap untuk sementara ini. Akan tetapi, kemudian tak jadi melakukannya walau pun mesin mobilnya telah menyala. Ia melihat Daisy, duduk di sebuah kafe tepat di samping mobilnya parkir.
“Ini gila!” gumam Mahardika.
Ia mematikan mesin mobil. Hanya duduk diam memperhatikan Daisy yang tampaknya tenang dan akrab dengan pria yang duduk di hadapannya. Sesekali Daisy tertawa, atau menyambar buku yang ada di hadapannya untuk memeriksa dan kemudian meletakannya lagi di tempat semula.
Mahardika menjadi penasaran dengan apa yang akan dibicarakan kedua orang itu. Penasaran bagaimana Daisy selama ini tidak bisa berbicara dengan nyaman padanya. Bukankah dia adalah tunangan Daisy?
Mahardika mendorong pintu mobil hingga terbuka lagi. Berdehem supaya tidak kelihatan kalau sudah lama memperhatikan. Ia ingin Daisy dan pria yang tengah duduk dengannya menyangka kalau mereka sudah diamati sejak lama. Ia berhasil meyakinkan dirinya kalau sudah melakukan usaha yang terbaik.
Daisy yang pertama melihat Mahardika masuk ke dalam kafe. Ia terbelalak karena kaget tetapi baik-baik saja. Ia kemudian menoleh dengan cepat ke arah Azzam dan tampak tenang kembali.
“Hai ... Stefani!” sapa Mahardika dengan nada riang seperti sedang bertemu kenalan yang sudah lama tidak berjumpa.
“Hai!” sapa keduanya dengan serentak.
“Aku kebetulan mampir ke toko buka dan parkir di depan. Saat akan pulang melihatmu. Siapa ini?” Semua kalimat yang diucapkan Mahardika sudah direncanakan di luar tadi dengan sangat baik tentu saja.
Ia bisa melihat kalau Daisy sudah mengetahui semuanya dan tampaknya tidak senang dengan kemunculan Mahardika yang tiba-tiba.
“Apa Kakak saya yang sudah memeritahu Mas Dika?”
Apapun yang dikatakan oleh Mahardika sebagai jawaban tidak menjadi soal. Sebab Daisy sudah tahu jawaban yang sebenarnya. Tetapi, Mahardika tidak bisa mengaku sekarang. Ia terlalu malu untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Mana mungkin! Ini hanya kunjungan sepertimu saja!” Ia tertawa dan melirik minuman yang ada di atas meja. Satu soda vanilla dan yang lainnya jus jeruk dengan eskrim sebagai topingnya. Soda Vanila adalah milik Daisy, karena itu kesukaannya. “Apa kamu tidak mau ikut denganku, Daisy? Maulana tadi katanya mau pulang. Aku bisa mengantarmu.”
__ADS_1
Daisy mengalihkan pandangannya kepada Azzam.
Mahardika bisa tahu kalau Azzam sama sekali tidak senang dengan keberadaannya yang menganggu. Tetapi, Mahardika tidak bisa membiarkan Daisy berduaan saja dengan laki-laki lain. Bagaimana pun, di dalam tubuh Stefani kini ada Daisy.
“Kamu tidak keberatan, kan, Azzam?” tanya Daisy.
Senyumnya menenangkan, memberitahu kepada Azzam kalau orang yang menyapa adalah seorang kenalan, bukan penjahat. Azzam pada akhirnya mengangguk.
“Ya, tidak masalah!” Walau enggan tetapi Azzam tidak menahan Daisy.
Daisy mengambil salah satu buku di atas meja, mengepitnya dan kemudian meletakan uang di samping gelas minuman. “Aku sudah janji traktir, kan?” katanya pada Azzam.
Sekali lagi Mahardika jadi marah. Ingin sekali rasanya Azzam dipukul. Tetapi, Mahardika tahu kalau Daisy akan marah.
Mahardika menuntun Daisy ke dekat mobilnya. Berhasil menahan diri untuk tidak membukakan pintu seperti biasa supaya Daisy bisa masuk ke dalam mobil. Ia menanti sampai Daisy naik terlebih dahulu di kursi penumpang sopir sebelum kemudian naik ke kursi kemudi.
“Aku tidak menyangka menemukanmu di sini dengan seseorang.”
Suara Mahardika terdengar menyebalkan bahkan untuk dirinya sendiri. Ia tahu kalau melakukan sesuatu yang salah dengan itu. Akan tetapi, tidak bisa menahan diri.
“Mas Dika, akan aku tekankan sekali lagi tentang siapa aku di mata semua orang sekarang!” Daisy mengambil napas dalam. “Ini ada wajah Stefani!” Ia memberi penekanan setelah menyentuh wajahnya sendiri.
Daisy jelas-jelas menunjukkan kemarahan di wajahnya. Ia tidak bisa ditenangkan hanya dengan kata-kata kalau Mahardika benar-benar kebetulan lewat saja.
“Apakah cemburu pada tunanganmu yang duduk dengan pria lain sekarang dilarang?” tanya Mahardika benar-benar tidak percaya.
“Tidak! Ini bukan berarti saya melarangnya, Mas. Hanya saja ....” Daisy kehabisan apa yang ingin dikatakannya dan mengangkat tangan segera. “Terserahlah! Tolong antarkan saya pulang!”
__ADS_1