
“Aku kaget karena tiba-tiba Nona ada di belakang kita. Kenapa tiba-tiba Nona terasa aneh, ya?” tanya salah satu teman kerja Handoko.
Handoko maupun pekerja lainnya tidak bisa menjawab. Orang kaya memang seperti itu, hanya hal tersebut yang kemudian terlintas di kepala mereka. Mereka kemudian melanjutkan makan siang kembali. Tak lama tiba-tiba saja Daisy datang kembali, membuat semuanya berhenti lagi. Di tangannya ada kota berisi sesuatu, bau ayam goreng yang wangi.
“Ada ini di dapur, kenapa tidak dibawa?” tanya Daisy tiba-tiba.
Para pekerja itu saling pandang. “Karena biasanya pekerja bagian dalam dan luar dibedakan makanannya, Nona. Kami tidak masalah dengan ini!’ jawab salah satu dari pekerja mewakili.
Handoko merasa kalau Daisy meliriknya entah karena apa. Tetapi, perasaannya menjadi sedikit canggung dan tegang. Rasanya seperti tengah diperhatikan Stefani, putrinya sendiri. Tetapi, itu nyaris tidak benar. Daisy dan Stefani jelas sangat berbeda.
“Aku akan memberitahu pihak dapur mulai besok. Kalau mereka masih memisahkan jenis makanan untuk kalian, laporan padaku!” kata Daisy tegas. “Pak Handoko, di rumah tidak ada yang memasak, kan? Nanti singgah ke dapur untuk mengambil beberapa jenis menu supaya bisa dibawa pulang!”
Handoko terkejut. “Nona, tidak usah. Biasanya Maulana akan membeli bahan makanan atau lauk jadi saat pulang kerja.”
“Lalu bagaimana dengan Stefani? Kalian kan belum pindah, Pak, anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya pada Bapak. Ini karena keegoisan saya!” kata Daisy.
Handoko memandang Daisy cukup lama, bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang seumuran dengan putrinya bisa sebijaksana ini. Rasanya kehidupan keluarganya akan menjadi berbeda seandainya Daisy yang menjadi putrinya.
“Terima kasih, Nona!” kata Handoko, tidak menyembunyikan kegembiraannya.
__ADS_1
“Sama-sama.”
***
Ekspresi Maulana mengatakan kalau ia baru saja menemukan jenis kehidupan baru yang aneh. Atau begitulah Mahardika berpikir saat pria yang menjadi bawahan sekaligus merangkap temannya itu masuk dengan menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan.
“Ada masalah apa sekarang?”
“Kamu tidak akan marah padaku, kan?” tanya Maulana.
Sebenarnya ada begitu banyak hal yang membuat Mahardika frustrasi beberapa hari ini, salah satunya Maulana yang tidak tahu apa-apa dan membanggakan tunangannya yang ada di dalam tubuh Stefani. Tetapi, saat ini Daisy sudah kembali ke tempatnya. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dari pada itu.
“Baguslah! Soalnya kamu sensitif sekali kalau menyangkut tunanganmu!” kata Maulana. Bukan katanya saja, tetapi wajah pria itu juga tampak sangat bersyukur.
“Apa kamu mau mengatakan kalau jatuh cinta pada Stefani? Aku tidak akan mengampunimu untuk itu!” Mahardika mengenggam pulpen yang digunakannya untuk menandatangani berkas-berkas erat-erat seolah-olah akan mematahkan benda itu.
“Aku masih waras terima kasih!” Maulana melotot dan mengeleng-mengeleng setelah itu. “Buatkau Nona Daisy hanya adik lainnya di masa kecil, selalu menjadi seperti itu, oke?” terangnya pada Mahardika supaya pria itu tidak salah paham.
“Jadi ... apa yang mau kamu katakan tentang Daisy?” tanya Mahardika dengan nada suara yang tidak berisi kemarahan lagi.
__ADS_1
“Aku seperti berbicara pada Stefani saat bersamanya. Maafkan aku ... sejak keanehan di pesta ulang tahunnya. Mereka seperti bertukar dan bertukar lagi. Aku tidak mau kamu salah paham, tapi perasaan aneh kalau Nona Daisy seperti adikku menjadi semakin kuat saja.”
Mahardika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Hampir saja meluncur dari mulutnya kalau Daisy dan Stefani memang tertukar seperti kecurigaan Maulana. Namun, ia mengingat janjinya pada Daisy. Ia juga tidak mau disebut gila oleh teman semasa kuliahnya ini.
“Hanya perasaanmu saja, Maulana! Mana mungkin hal seperti itu terjadi!”
Mendadak Maulana tampak lesu. Seperti sesuatu sudah menyedot semua kesegaran di wajahnya pagi sekali. Seolah hal buruk telah mendominasi pikiran pria itu sejak pagi. “Kamu benar! Aku hanya ... kecewa dengan adikku saja, makanya berpikir menjadikan orang lain sebagai dia.”
“Apa Stefani melakukan sesuatu lagi?”
Maulana menatap Mahardika. “Setiap kali aku perpikir kalau hubungan kami membaik, Stefani kembali lagi ke titik di mana dia begitu muak denganku dan ayah. Apa kamu tahu apa yang dikatakannya pada ayahku tadi pagi?” tanya Maulana.
“Apa?” tanya Mahardika. Ia memiliki firasat kalau kata-kata Stefani bukan hal yang baik untuk didengar di pagi hari. Harusnya ia tidak bertanya.
“Dia menyesal lahir. Dia menolak keberadaan kami sampai segitunya! Bagaimana lagi aku menjelaskan kepadanya apapun yang sudah kulontarkan dalam kemarahan di waktu kecil bukan karena aku membenci Stefani. Aku hanya ... masih kecil.”
Mahardika tidak tahu harus mendukung siapa. Di satu sisi, ia menyadari kesalahan Maulana yang masih labil dan harus menjaga adiknya. Kehilangan ibu di masa kecil tentu bukan pengalaman yang ingin dicoba seseorang. Lainnya, Stefani seperti seorang yang bahkan tidak memahami apa yang terjadi walau sudah dewasa.
“Semuanya akan berubah, Maulana. Bukankah sebelumnya juga begitu?”
__ADS_1
“Kamu benar!” kata Maulana sambil membuang napas pelan.