Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kamu Salah Orang


__ADS_3

Bukankah itu Nyonya Aida?


Stefan terheran-heran saat mendapati kalau ibu tiri Daisy itu ada di tempat seperti ini. Menurutnya tempat seperti pasar tradisional ini bukan tempat yang akan didatangi oleh Nyonya Aida yang bisa memerintahkan para pelayan menyiapkan apa yang diinginkan.


“Dia berbelanja untuk kebutuhan suami dan anak tirinya sendirian?” gumam Stefani tak percaya.


Jadi, ketika ia yakin Nyonya Aida, mama tiri Daisy tidak menyadari kalau dirinya ada di tempat yang sama, Stefani memutuskanuntuk mengikuti wanita itu. Lorong-lorong pasar tempat keramaian dan rutinitas jual beli semakin jauh di belakang Stefani. Ini bukan tempat yang biasa didatangi. Tetapi, ia yakin hari masih terlalu siang untuk merasa takut.


“Mau ke mana adik cantik!”


Seluruh tubuh Stefani merinding saat mendengar sapaan itu di telinganya. Ia menoleh dan mendapati seorang pria dengan perut buncit dan tato di lengan kirinya yang tidak bisa dideskripsikan Stefani entah beberbentuk ikan atau malah ular tampak di lengan.


“Mau cari daging!” jawab Stefani asal.


Saat Stefani mencoba mencari Nyonya Aida lagi, wanita itu sudah tak tampak. Ia jadi merasa marah pada pria buncit yang sudah menganggu pengintaiannya. Rasa penasarannya belum terpenuhi dan sudah harus menghadapi si buncit yang berbau amis seperti ikan.


“Daging di sebelah sana, loh! Kalau di sini maunya main sama saya, ya?”


“Pak, saya ini sepertinya seusia putri Anda. Tidak malu menganggu saya?” tanya Stefani memberanikan diri.

__ADS_1


Ia tidak terlalu paham apa yang terjadi. Tetapi, saat menjadi Daisy, Stefani sudah bertekad tidak akan merasa takut lagi dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Ia harus melawan apapun yang terjadi, diamnya hanya akan menjadikan semua hal tidak berarti. Toh, apa yang bisa dilakukan orang-orang selain menyakiti orang yang lebih lemah dibandingkan dirinya.


“Mulutmu sangat tajam, ya? Rasanya pasti manis sekali!” kata si pria buncit sambil mengedipkan matanya pada Stefani.


Stefani tidak membawa apa-apa yang bisa dilemparkan pada pria itu. Di sekitarnya bukan tempat gadis sepertinya untuk minta tolong. Jika ia sampai berteriak dan minta tolong, hanya akan ada tertawaan yang kemungkinan diberikan orang-orang yang ada di sekitarnya sekarang. Andai saja tadi ia telah selesai belanja minyak kemasan dan mie yang akan disantapnya sebagai makan siang> Semua benda itu bisa dilemparkan sebagai senjata.


“Mulutku rasanya pahit sekali, Pak. Kakakku bilang aku ini pembawa kutukan. Ibuku mati saat melahirkanku!” kata Stefani.


Mengucapkan sendiri semua hal menyakitkan yang didengarnya, membuat Stefani merinding. Rasanya kini , Stefani akan bisa menangis dan memaki-maki Maulana lagi, juga tentu saja ayahnya.


“Ah ... lihatlah bagaimana kamu melepaskan diri. Rupanya kamu memang gadis yang nakal, ya?”


Bahkan belum sempat keterkejutan Stefani menghilang, pria itu menangkap tangan Stefani, mengenggam jemarinya dan membawa gadis itu melarikan diri. Pemuda itu terus mengenggam jemari Stefani dan sama sekali tidak berhenti untuk sekedar mengambil napas saja.


“Kamu mau apa, sih!” Stefani menarik tangannya dari genggam pemuda yang menyelamatkannya.


Keduanya berhenti seketika di antara keramaian pasar. Beberapa orang melirik mereka berdua, sekilas saja dan kemudian sibuk dengan urusan masing-masing lagi. Pemuda yang menyelamatkan Stefani, yang melemparkan keranjang ke kepala si pria berperut buncit.


“Harusnya aku yang tanya, kok bisa kamu sampai sana?” tanya si pemuda pada Stefani.

__ADS_1


Stefani yakin kalau ia menjawab dan mengatakan pada Azzam apa yang sedang dilakukan, pikiran pemuda itu akan berkelana ke mana-mana. Toh, memang ada yang akan percaya pada Stefani kalau ia memberitahu sedang mengikuti seseorang. Malahan mereka akan mengatakan kalau Stefani tengah berusaha untuk mencari perhatian.


“Stefani ... kenapa tidak menjawab ertanyaanku. Apa yang kamu lakukan di sana sendirian?” tanya Azzam sekali lagi.


“Bukan urusanmu, kan? Aku tidak mau membuatmu terlibat sesuatu yang tidak seharusnya, oke?”


Azzam membelalakan mata mendengarnya. Napasnya sudah lebih tenang dibandingkan tadi. Ia mendekati Stefani dengan cepat, memutari gadis itu bagai seekor kucing. “Terjadi sesuatu padamu. Apa kepalamu baru saja terbentur?’ tanya Azzam panik.


“Apa?” tanya Stefani tidak mengerti.


Lalu ia menyadari bagaimana Daisy berhubungan dengan orang-orang yang ada di dekatnya selama ini. Gadis itu telah berlaku sama rata pada semua orang. “Hanya karena aku berubah beberapa hari, bukan berarti aku akan begitu selamanya!”


Stefani meninggalkan Azzam setelah mengatakan itu. Ia kehilangan kesempatan untuk mengikuti Nyonya Aida. Jadi, sebaiknya ia pulang setelah membeli apa yang diinginkan tadi, minya kemasan dan mis instan.


Tetapi, Azzam tidak lantas membiarkan Stefani sendirian. Ia menyusul Stefani lekas, menghentikan langkah wanita itu. Napas pemuda yang menjadi senior Stefani di kampus itu agak sesak. Ia menatap Stefani hampir-hampir tak berkedip.


“Ini bukan tentang kamu berubah saja. Ini seperti kamu orang lain. Bukannya kita cukup akrab beberapa hari ini?” tanya Azzam tidak mengerti. Ada kesedihan di dalam tatapan matanya.


Sungguh, Stefani sama sekali tidak peduli dengan yang ada di mata Azzam. Tapi, ia tak bisa membuat pemuda itu terus-terusan mengurusinya seperti ini. “Kamu salah orang! Itu bukan aku!” tegas Stefani. Di dorongnya dada Azzam supaya pria itu menyingkir dari jalan Stefani.

__ADS_1


__ADS_2