
Sepertinya membuat Maulana kerja lembur hari ini sangat menyenangkan. Mahardika bisa muncul di rumah Stefani layaknya seorang pahlawan, membawakan bahan makanan yang diinginkan Daisy. Yang menelepon tadi Daisy, tunangannya, kan?
“Suara keluhanmu sampai kemari! Kenapa bos yang sudah bertunangan jadi tertarik dengan masakan adikku?”
Deg!
Mahardika langsung tersadar dengan perbuatan salah yang dilakukan. Daisy sudah memperingatkan untuk tidak tertarik pada dirinya yang saat ini menjadi Stefani. Atau akan beredar kabar miring soal hal ini. Seharusnya Mahardika lebih bisa mengendalikan diri lagi.
“Yah, aku mau Daisy bisa belajar sedikit dari Stefani. Walau pun kemungkinan mereka untuk akrab kecil sekali!” kata Mahardika asal.
Maulana diam. Selama kediaman kakak Stefani itu Mahardika menjadi takut. Ia tidak bisa membaca pikiran orang lain sehingga tidak tahu apa yang serang sedang dipikirkan Maulana.
“Dulu mereka sering bermain bersama saat kecil.”
“Benarkah?”
“Ya! Aku sering menjaga mereka saat bermain di taman yang ada gazebonya. Semakin besar, karena tidak bersekolah di tempat yang sama, mereka jadi jarang bertemu dan main bersama lagi. Yah, kamu paham maksud dengan hidup di dunia yang berbeda, kan?”
Mahardika paham. Waktu kecil, Mahardika juga dekat dengan beberapa anak disekitar rumahnya, tetapi setelah sekolah dan dewasa, bahkan meraka tidak saling bertegur sapa walau berpapasan. Aneh sekali rasanya.
“Jadi apa kata Stefani?”
“Kupikir kamu sudah melupakannya,” kata Maulana sambil tergelak.
“Mana mungkin. Kamu kan akan pergi denganku. Aku hanya ingin tahu saja, ke mana harus membawamu!” kata Mahardika kembali beralasan.
Mahardika jelas mendengar Maulana berdecih, tetapi hanya itu saja. Pria itu sebentar lagi akan memberitahu apa yang diinginkannya. Berkas yang ada di meha Mahardika lenyap pada akhirnya, begitu juga dengan berkas yang ada di depan Maulana.
“Akhirnya!” Maualan meregangkan seluruh sendirinya.
Pekerjaan yang datang hari ini memang lebih banyak dari sebelumnya. Mahardika melakukan hal yang sama. “Bukannya makanan yang aku pesan belum juga datang, ya?” tanyanya entah pada siapa. Ia melirik jam dinding dan menemukan kalau hari sudah pukul tiga.
“Kalau begitu ayo pergi sekarang. Aku harus pergi ke pasar!”
“Buat apa?”
__ADS_1
“Adikku meminta pergi berbelanja dulu. Katanya bahan yang ingin di masak tidak ada di kulkas. Mau ikut?”
Mahardika mengangguk dengan penuh semangat. Ia berdiri lekas dan menyambar kunci mobilnya. Ditentangnya jas yang tadi digunakan ditangan kiri. Di perjalan, Mahardika bertemu dengan petugas panti yang mengantar makanan.
“Kenapa lama sekali?” tanya Mahardika.
“Anu, Pak, restoran tempat kami memesan ramai sekali, jadi lama.”
Mahardika sama sekali tidak berniat marah. Apalagi rencana makan malam di rumah Maulana lebih menarik dari sekedar makan malam ini. Ia mengangkat bahu dan menyuruh Maulana untuk pergi lebih dulu.
“Lain kali, jika memang ramai atau macet, tolong hubungi kantor. Saya jadi tidak harus menunggu lama.” Pesan Mahardika.
Petugas pantri tersebut mengangguk.
Mahardika menyusul Maulana yang sudah ada di lift dan menahan benda itu untuk terus terbuka.
“Apa saja yang dimintanya?” tanya Mahardika.
“Ayah, mentega, bawang bombai, brokoli, wortel, baby kailan, sawi putih.” Maulana menyebutkan semua yang ada di daftar dan melirik ke arah Mahardika setelah selesai. “Wajahmu mengatakan kalau tidak ada satu pun yang kamu ketahui selain ayam.”
***
“Kenapa ...?” Daisy tak jadi bertanya karena Maulana muncul tiba-tiba.
Seolah-olah tahu kalau Daisy tidak bisa berbuat apa-apa padanya sekarang, Mahardika menyengir penuh kemenangan. Ia kemudian membawa belanjaan dalam pangkuannya masuk ke belakang. Sementara Maulana melirik Daisy dengan penasaran terlebih dahulu.
Dengan cepat Daisy menarik Maulana supaya keluar lagi ke teras. “Kenapa Mas Dika ada di sini, Kak?” tanya Daisy dengan suara yang kecil sekali. Ia menjulurkan kepalanya ke ambang pintu untuk melihat sosok Mahardika.
“Dia yang mau ikut! Aku sudah cegah dia, oke!”
Melihat bagaimana Maulana kesal, artinya Mahardika memaksa untuk datang kemari dengan berbagai alasan.
“Ya, sudahlah!” kata Daisy pasrah.
Toh, Mahardika yang sudah sampai kemari tidak akan bisa diusir. Informasi kalau pria itu datang juga sudah sampai ke telingan Stefani di rumah utama sekarang. Tak lama lagi Stefani akan turun dan membuat masalah dengan keluarganya sendiri.
__ADS_1
“Apa kita harus mengusirnya? Aku rasa bisa menyeretnya keluar dan melemparkannya di depan pintu rumah utama.”
“Jangan melakukan kekerasan. Kita akan dapat masalah jika melakukannya.” Walau masalah sudah datang dengan keberadaan Mahardika di sini.
“Jadi apa yang bisa kubantu?” tanya Maulana melupakan Mahardika dan mengubah topik pembicaraan. “Ayah belum kembali?”
“Ayah masih di taman, tadi sekitar jam tiga sudah kemari menanyakan apakah aku butuh bantuan. Karena bahannya belum datang, aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, aku menyuruhnya kembali bekerja.” Daisy menjelaskan seolah-olah memang benar-benar adik Maulana yang sebenarnya, versi lebih ramah.
“Kamu tidak masalah di sini berdua saja dengan orang itu?”
Yang dimaksud Maulana sebagai orang itu ada bosnya sendiri. Melihat bagaimana Maulana tidak menghormati Mahardika sebagaimana mestinya membuat Daisy tertawa. Rupanya ada juga orang yang tidak takut pada tunangan Daisy itu.
“Tidak masalah! Selama dia tidak menyalak, mengejar, dan mengigit! Aku akan baik-baik saja!”
Daisy menatap kepergian Maulana yang mencari Handoko sebentar dan berbalik masuk ke dalam rumah. Ia hampir saja menabrak Mahardika yang akan keluar.
“Ke mana Maulana?”
“Memanggil Pak Handoko!” jawab Daisy. Lalu ia mempelototi Mahardika tanpa ampun. “Bukankah aku sudah bilang pada Mas Dika untuk tidak secara mencolok mendekatiku? Ada banyak gosip yang muncul!” protes Daisy.
“Aku tidak mendekatimu!” elak Mahardika.
“Lalu di sebut apa ini?” tanya Daisy.
Mahardika tertawa kecil karena hal itu. Ia mengosok kepalanya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu!”
Daisy melongo karena pernyataan itu. “Apa?”
“Jangan marah padaku!” Mahardika memulai semuanya dengan permintaan. “Aku pergi ke rumah seorang paranormal kemarin. Ini karena aku ingin membantumu. Aku bertanya apa yang harus kulakukan. Dia berkata aku harus menanyakan kejadian aneh yang kamu alami sebelumnya.”
Sekali lagi Daisy menghela napas dalam dan mengosok tengkuknya sendiri. “Kamu tidak harus melakukan itu. Aku pasti bisa menyelesaikannya, Mas. Aku sudah pernah kembali ke tubuhku setelah hari ulang tahun. Walau aku tidak tahu kenapa bisa kembali lagi ke tubuh Daisy, tetapi aku yakin kalau ada alasannya. “
Mahardika tampak menyesal. “Walau begitu aku ingin tahu apa ada hal aneh yang terjadi padamu sebelum hari ulang tahun?”
Daisy berusaha mengali ingatannya kembali. Ia ingat suara wanita yang berbicara padanya di tangga menuju lantau dua gedung Bahasa. Begitu juga dengan suara yang sama di lobi gedung ekonomi.
__ADS_1
“Ada,” jawab Daisy singkat.