
Daisy tertawa karena pertanyaan yang lucu itu. Bagaimana bisa ia ingin dekat-dekat dengan Azzam kalau ia telah ditetapkan akan menikah dengan siapa suatu saat nanti. Walau ia sekarang ini menjadi Stefani, tetapi Daisy tak bisa membayangkan berada di dekat Azzam sementara Mahardika akan melihatnya. Sebagai catatan, Mahardika tahu kalau dirinya dan Stefani yang asli tertukar.
“Ke-napa kamu tertawa! Kamu pikir ini lucu?” Gadis yang memeganginya berteriak keras dan mendorong tubuh Daisy supaya jatuh tersungkur.
Daisy sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia lekas berdiri setelah jatuh. Beberapa bagian pakaiannya kotor sekarang dan ia menepuknya selagi masih bicara. “Aku sudah mengatakannya kepada kalian kalau sama sekali tidak berniat mendekati Azzam. Aku hanya kebetulan menyewa rumah di dekat rumah Azzam. Sebagai seseorang yang saling mengenal kami tentu akan bertukar sapa! Jadi di mana hal itu disebut kesalahan?” tanya Daisy.
“Seperti yang dikatakan orang-orang kamu kurang waras ya? Kamu menyatakan cinta pada pria yang merupakan tunangan majikan ayahmu. Lalu masih tidak tahu malu dengan mendekati Azzam. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?”
Daisy jadi menelengkan kepala. Jika Daisy dan Stefani ada dalam satu jurusan, informasi itu pasti akan menyebar dengan cepat. Namun, itu tidak terjadi karena mereka berbeda jurusan. Anak-anak jurusan Ekonomi jarang yang bermain ke gedung jurusan bahasa.
“Siapa yang menyuruh kalian?” Daisy lekas bertanya demikian. Sebab itu informasi yang seharusnya tidak diketahui oleh-oleh anak-anak jurusan bahasa yang bahkan berbeda tingkat dengan Stefani. Azzam saja yang mendapatkan undangan dari Stefani tidak datang ke pesta ulang tahun.
Daisy juga menemukan undangan yang diserahkan pada Stefani di kamar gadis ini di pavilliun, hanya berkurang satu saja. Stefani hanya mengundang Azzam saja.
Pertanyaan itu tampaknya telah menampar ketiga orang itu dengan cepat. Mereka bergerak mundur secara bersamaan dan saling pandang untuk meminta bantuan. Tetapi, mereka terlalu kaget untuk dapat berpikir dengan jernih.
“A-pa yang kamu katakan! Tidak ada yang menyuruh kami!” seru salah satu dari mereka bertiga dengan suara keras.
“Kalian berbohong! Aku tidak pernah mengundang salah satu dari anak-anak di kelasku ke pesta ulang tahun nona majikan. Jadi, tidak ada yang tahu masalah itu di sini. Barusana kamu menyebutkannya!” Daisy mengingatkan ketiga orang itu terlebih dahulu. Wajah panik ketiganya menjadi semakin saja. “Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian? Lalu yang memberitahukan kalian masalah ini!”
“Tidak ada! Kenapa kamu cerewet sekali! Tidak ada yang menyuruh kami!” teriak ketiga gadis itu pada Daisy.
Lalu salah satu dari mereka mendorong Daisy hingga jatuh kembali. Punggung Daisy terbentur dengan keras pada kerikil di jalanan. Ia meringis, tetapi tidak menangis. Saat berusaha berdiri, para gadis itu sudah melarikan diri secepat yang mereka bisa.
__ADS_1
Daisy yakin kalau memang mereka disuruh seseorang untuk melakukan hal buruk semacam ini padanya.
“Stefani! Astaga ... apa yang terjadi padamu!”
Daisy duduk bersimpuh, beristirahat sebentar. Ia menatap Andien yang berjalan dengan langkah cepat datang padanya. Untunglah Andien datang setelah ketiga perundung itu pergi. Ia tak bisa membayangkan terjadi hal buruk pada Andien juga.
“Apa ini dilakukan oleh Isla, Fatia, dan Gusri?” tanya Andien. Ia ikut berjongkok di tanah untuk memeriksa luka Daisy.
“Itu nama mereka?” tanya Daisy. “Apa mereka kenal anak dari jurusan ekonomi?’ tanya Daisy.
Andien berpikir sebentar dan kemudian mengeleng pelan. “Mereka kan beda semester dengan kita. Jadi, aku sama sekali tidak tahu apakah mereka kenal anak dari jurusan lain!”
Daisy agak kecewa karena tidak mendapatkan informasi tambahan selain nama ketiga orang tersebut. Tapi, masih lebih baik karena ia tahu siapa yang dihadapi sekarang. Para gadis yang mengancamnya hanya orang suruhan saja.
“Terima kasih sudah memberitahuku nama mereka.” Daisy berusaha berdiri, tetapi malah jatuh terduduk lagi. Padahal tadi ia sanggup berdiri dengan yakin. Sekarang setelah semua ketegangan menghilang, ia menjadi lemah kembali. Kakinya seperti jeli hingga tak bisa berdiri tegak.
Gadis itu lalu menarik Daisy untuk berdiri dan kemudian memapahnya saat berjalan.
***
“Bisa kamu jemput adikmu? Dia pasti belum hapal jalan pulang ke rumah kontrakan kita yang baru!”
Maulana senang sekali dengan permintaan itu. Ia sudah lama ingin tahu bagaimana Stefani saat di kampus. Berapa banyak teman gadis itu? Atau di mana gadis itu berkumpul dengan teman-temannya sebelum pulang. Ia bersiul-siul kecil pada jam makan siang karena mendapatkan izin keluar dari Mahardika.
__ADS_1
“Kamu tampak senang sekali, ya? Kali ini ke mana?” tanya Mahardika dengan wajah sok penasarannya.
“Jangan ikut campur! Kamu sudah punya cukup masalah sendiri bukan? Aku tidak mau menambah masalahmu sekarang dengan bertemu dengan adikku!”
Ekspresi wajah Mahardika menjadi berubah sangar. Ia menjatuhkan punggungnya dengan dramatis ke kursi. Kemudian tak lama setelah itu ia bertumpang dagu. “Bagaimana kamu tahu kalau aku dalam masalah?”
“Yah, aku mendapati beberapa pekerja kepercayaan papimu mulai masuk ke kantor direktur dengan alasan berkas dan pertanyaan lainnya! Aneh, kan? Mereka pasti dihubungi untuk mengawasi sang anak yang bandel karena membuat tunangannya kecewa!” Maulana berhasil menyelesaikan sebuah berkas lagi. Hari ini yang diperiksa lebih sedikit dari sebelumnya.
“Ah ... aku seperti penjahat yang bebas bersyarat! Bagaimana Papi melakukan hal ini!”
“Aku sudah memperingatkanmu!” kata Maulana langsung menyambar keluhan Mahardika.
“Apa kalian baik-baik saja? Jika rumah yang kalian kontrak tidak nyaman, aku punya satu aset yang bisa digunakan sementara. Aku akan minta izin pada Papi untuk meminjamkannya padamu sementara!” kata Mahardika.
“Selama kamu tidak muncul dan menganggu, tampaknya kami akan baik-baik saja. Dengan berat hati, aku akan menolak tawaranmu, Bos. Kamu tahu kalau kamu akan benar-benar jadi tahanan rumah setelah melakukan itu!” Maulana tertawa saat mengatakannya dan Mahardika tidak bisa menyangkal hal itu.
Mahardika membuang napas dan menengadah menatap langit-langit kantor. “Ini menyedihkan, kan?”
“Hanya untukmu, Bos!” kata Maulana menyahut kembali.
“Aku pergi ke rumah orang pintar yang pernah kita datangi sama-sama. Dia memberikan beberapa informasi yang sama dengan yang aku inginkan. Tetapi, caranya mengatakan kebenaran sama persis sepertimu. Aku tidak kesal padamu, tetapi kesal saat orang itu terasa mirip denganmu!”
Maulana menatap Mahardika. “Astaga, kamu benar-benar sangat stres rupanya sampai kembali ke tempat orang pintar itu!”
__ADS_1
“Mau bagaimana lagi! Aku ingin membantu tetapi tak bisa melakukan apa-apa!” Mahardika memandang Maulana. “Dia berkata: Sebaiknya kamu membantu dirimu sendiri!”
Maulana menertawakan Mahardika. “Baguslah dia berkata seperti itu. Dia memang pintar seperti kedengarannya!” ejek Maulana.