
“Nona, Anda mau makan di mana hari ini?”
Daisy yang tengah membubuhkan blush on ke pipinya menghentikan kegiatan itu segera. Ia sudah bertekad untuk tidak bersembunyi lagi. Tetapi, bentuk perhatian yang memuakan yang diperlihatkan papanya membuat Daisy frustrasi dan terancam tidak menyelesaikan sarapandengan baik karena keburu melarikan diri.
Belum sempat Daisy membuat keputusan, pintu kamarnya sudah diketuk pelan. Raise dan Daisy menoleh secara serempak.
“Apa kamu tidak akan turun ke bawah untuk sarapan?” tanya Ibnu, papa Daisy yang berdiri di pintu kamar.
Daisy hampir saja jatuh dari kursi meja riasnya karena kaget. Raise sendiri melonggo keheranan dan mengucek matanya tanpa sadar. Melihat reaksi kedua perempuan di dalam ruangan, Ibnu sontak menjadi salah tingkah. Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Sa-ya belum lapar!” jawab Daisy lekas.
Kepalanya berteriak dengan panik untuk lekas menolak dan melarikan diri dengan mobilnya pergi dari rumah. Jangan sampai Ibnu kemudian menawarkan jasa antar jemput padanya. Rasanya pasti seperti berjalan di atas bara api.
“Benarkah?” tanya Ibnu.
Daisy mengangguk dengan sangat antusias saat ini. Ia bahkan berseru dengan sangat bersemangat di dalam hati mengusir papanya yang berdiri di depan pintu. Tapi, kemudian kejadian memalukan terjadi. Dalam keheningan karena pikiran masing-masing yang sedang mengambil alih, perut Daisy mendengkur.
Ia rasanya mau bersembunyi di tempat yang jauh saja karena hal itu.
“Jadi, kamu tidak lapar, ya?” tanya Ibnu kecewa.
Nada kecewa yang berhasil ditangkap Daisy membuat ia merasa bersalah. Ia sendiri tidak tahu kenapa harus merasa bersalah saat ini. Seharusnya perasaan semacam itu tidak ada padanya. Seharusnya ia bisa sedikit kejam pada orang yang mengkhianati mamanya.
“Ya, saya tidak lapar!”
Ketika menjawa seperti itu perasaan bersalah yang ada di dalam hati Daisy bertembah besar. Hatinya yang terlampau baik meminta Daisy untuk berlari dan minta maaf. Kepalanya lekas berteriak, Tidak!
“Baiklah! Jangan lupa sarapan kalau sudah lapar!” kata Ibnu.
__ADS_1
Ia melangkah menjauhi pintu. Hanya satu langkah saja karena kemudian ia berhenti sebentar dan menoleh pada Daisy.
Apa yang diharapkan Ibnu? Bahwa Daisy berubah pikiran dan kemudian berkata kalau akan makan bersama dengannya. Tentu hal tersebut bukan hal yang akan terjadi dengan mudah.
“Nona?” Raise memastika bahwa Daisy baik-baik saja.
Guncangan yang baru saja diterima Daisy bukan sesuatu yang bisa dikendalikan dengan sangat baik. Bagaimana pun Daisy masih hanya seorang gadis yang kesepian.
“Aku tidak akan sarapan!” jawab Daisy memberitahu.
Dengan tangan gemetar ia mengoleskan blush on ke pipinya. Kepalanya tidak bisa berpikir dengan benar dan ia hanya ingin sendirian saja kini.
“Bisa tinggalkan aku sendiri, Raise?” tanya Daisy saat ia tak sanggup lagi melakukan hal lain dan hanya ingin menangis saja.
Raise, pelayannya hanya menatap Daisy sebentar. Kemudian dalam keheningan ia berjalan ke pintu, keluar dan menarik pintu hingga tertutup.
“Apa dia makan teratur selama ini, Raise?”
Raise tersentak kaget. Ia memegangi pegangan tangga kuat-kuat karena tidak menyangka akan ditunggu oleh pria bernama Ibnu, majikannya.
“Maaf, Tuan!” kata Raise dengan suara seperti terjepit.
“Apa aku menakuitmu?” tanya Ibnu khawatir.
“Tidak, Tuan!Saya terkejut karena ditanyai tiba-tiba.” Raise turun benar ke lantai, karena takut kehilangan keseimbangan di anak tangga dan terguling jatuh. Ia berhadap-hadapan dengan Ibnu. “Nona makan dengan teratur Tuan, tetapi porsinya tidak terlalu banyak!” jawab Raise.
“Syukurlah!” Ibnu terdengar benar-benar bersyukur. “Kamu boleh pergi sekarang!’ usirnya.
Raise pelayan Daisy menunduk dan benar-benar mohon pamit. Ibnu memperhatikan sampai raise menghilang ke dalam ruangan lain.
__ADS_1
Ia sama sekali tak berniat menakuti siapa pun. Ia hanya ingat apa yang dikatakan oleh Handoko kemarin di dalam mobil. Mungkin, selama ini ia terlalu membiarkan apa yang ada dalam pikiran Daisy sehingga putri Ibnu itu malah menjadikan dugaan sebagai fakta. Walau tahu, tetapi gadis itu terlalu ragu untuk percaya.
Makanya begitu pagi datang, ia tidak sabar untuk bersikap layaknya seorang ayah. Ia akan menanyakan banyak hal yang sering diperbincangkan antara putri dan ayahnya. Tetapi, Daisy tak juga turun ke ruang makan.
Apa Daisy mulai menghindarinya lagi? Apakah anak gadis Ibnu satu-satunya itu menutup jalan untuknya kembali dekat?
Semua pertanyaan itu membuat Ibnu khawatir dan memutuskan untuk melihat Daisy ke kamarnya. Ia melakukannya tanpa ragu dan tidak menyadari kalau Daisy menjadi tidak nyaman.
“Dia tidak senang dengan apa yang bisa kulakukan!” kata Ibnu.
Ia tak berselera untuk sarapan dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri. Lebih baik ia di kantor mengurus banyak hal sehingga masalah yang ada di dalam pikirannya menghilang dengan cepat.
“Katakan pada sopir untuk bersiap pergi!” Ibnu memberitahu pelayan yang kebetulan lewat untuk menyampaikan pesannya.
Pelayan itu mengangguk dan bergegas pergi seperti yang diperintahkan Ibnu.
Ibnu juga bergegas pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia melakukan dengan cepat karena perasaannya mendadak semakin tidak karuan.
“Mas, kok malah sudah ganti pakaian ke kantor? Kan belum sarapan!” kata Aida dengan suara mendayu.
Ibnu hanya memandang wanita itu melalui cermin. Sejak kemarin dan menemukan kalau Aida tidak mengaku, sebagai gantinya wanita itu malah berbohong. Tiba-tiba saja Ibnu bersikap tidak seperti biasanya. Ia jadi menunjukkan kekecewaan yang teramat besar.
“Saya tidak lapar!” jawab Ibnu.
Kaget. Aida menampilkan ekspresi seperti itu di pantulannya. Ia berdiri diam selama beberapa saat sebelum kemudian berkata lagi. “Mas, sarapan itu penting loh!” Suara Aida masih saja ramah seperti biasanya.
“Ada banyak hal yang harus Mas urus di kantor. Maaf, ya!” kaya Ibnu.
Ia melewati Aida begitu saja. Melewatkan kecupan penuh kasih sayang yang dilakukannya hampir 8 tahun ini. Entah kenapa ia merasa melakukan hal yang benar.
__ADS_1