Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Daisy di Tubuh Stefani


__ADS_3

“Bukannya Anda pergi ke tempat Nona Daisy?” Maulana bertanya saat melihat Mahardika masuk ke kantornya. Ia memastika pukul berapa sekarang dan hanya lewat satu setengah jam sejak Mahardika mengabarinya kalau akan masuk pada siang hari karena harus menengok Daisy di rumahnya.


“Jangan banyak bicara!” Mahardika mempelototi Maulana dan menjatuhkan dirinya di atas kursi putar di depan meja kerjanya.


Ia memijat kepalanya dengan telunjuk dan ibu jarinya. Selama beberapa menit ia menekan pada titik yang sama terus menerus. Hanya saja rasa sakit yang dirasakan tidak juga berkurang. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak memikirkan hal yang menganggunya di rumah Daisy.


“Ada masalah, Bos?”


Suara Maulana terdengar lebih menyebalkan, menganggu juga. Jadi Mahardika hanya mendengkus kesal, memalingkan wajah. Sekali lagi. Ia tidak mau membahasnya, memikirkan hal itu juga.


“Berikan semua berkas yang sudah ada padamu. Aku akan memeriksanya!” seru Mahardika pada Maulana.


Alis Maulana terangkat, sedikit mengejek, tetapi ia keluar dari ruangan Dika dan mengambil berkas yang diinginkan bosnya. Soal masalah yang dihadapi Dika, ia bisa mencari tahu nanti dari ayahnya, juga Stefani, sang adik.


Ia tetap di ruang kerja Mahardika, menunggu beberapa gerutuan soal berkas yang diserahkan. Atau beberapa perintah pengubahan. Akan tetapi, tak satu pun  dari hal itu dilakukan Mahardika.


Pria itu, bosnya, memang membuka berkas, tetapi tampak tak peduli dengan isi berkas yang dilihat.


“Jadi, apa adikku melakukan sesuatu lagi?” tanya Maulana.


Mahardika mengangkat kepalanya sedikit, mendengus, dan memalingkan wajah. Ia benar-benar bersikap seperti anak kecil yang sedang merajut, terganggu karena pertanyaan Maulana.


Jelas Maulana menertawakan sikap Mahardika yang konyol itu. Ia hampir tertawa saat mendengar cerita tentang adiknya, Stefani yang menyatakan cinta pada Mahardika di hari ulang tahun Daisy. Yah, itu memang ulangtahun Stefani juga. Jadi wajar rasanya kalau gadis berusia 20 tahun tersebut menjadi egois.


“Dia tidak melakukan apapun!” seru Mahardika.


Kini ia menyadari kalau memang terkesan membela Stefani. Ia mengingatkan dirinya pada azas tidak bersalah yang dipikirkan. Lalu, memang benar kalau Stefani tidak melakukan kejahatan pada Daisy. Tidak ada yang salah dengan minuman yang dibuatkan Stefani hari itu selain warnanya yang aneh.


“Jadi, apa ini karena Daisy?”


Mahardika pikir tak usah menjawab pertanyaan Maulana yang ini. Jelas sekali keingintahuan Maulana pada urusan pribadinya sama sekali tidak membantu. Mungkin jika ini masalah Stefani Mahardika akan memaklumi seperti malam pesta ulang tahun kemarin.


“Karena tidak ada jawaban sepertinya memang benar!” Maulana tetap bicara. “Adikku juga sedikit aneh tadi pagi.

__ADS_1


Deg!


Tiba-tiba saja Mahardika jadi ingin tahu. Maulana jelas jarang sekali membahas soal adiknya di tempat kerja. Jika saja ia tidak meminta kartu keluarga Maulana kemarin untuk keperluan pendaftaran jaminan pajak, maka ia tidak akan tahu kalau Stefani adalah adik sekretarisnya itu.


“Aneh kenapa?” Mahardika ingin tahu. Tidak peduli dengan betapa aneh perasaan ingin tahunya yang tiba-tiba muncul begitu saja.


“Ia meminta maaf berkali-kali dan menangis.”


“Apanya yang aneh dengan itu?” kata Mahardika sedikit kecewa.


Memang apa yang diharapkannya, tiba-tiba Stefani bisa berubah layaknya pahlawan di dalam drama televisi asal luar negeri yang pernah ditonton saat masih kecil?


“Aku tidak pernah membahas seperti apa adikku, ya?” Maulana menelengkan kepalanya. “Dia tidak akan menangis walaupun melakukan kesalahan. Lalu dia membenciku dan juga Ayah.”


Walau Mahardika ingin sekali menyangkal, tetapi otaknya sendiri membenarkan sosok Stefani yang seperti itu. Tidak ada penyesalan dalam tindakan gadis itu. Padahal sudah melakukan kesalahan dengan menyatakan cinta padanya. Seolah apa yang dilakukan gadis itu sudah sewajarnya terjadi. Layaknya bernapas.


“Bos tidak menyangkalnya, berarti merasakan apa yang kurasakan bukan? Seperti itulah adikku. Dia tidak akan menangis karena artinya mengaku salah. Dia membenci kami.” Maulana menyampaikan informasi yang sudah dikatakanya di awal tadi. “Tapi, tadi pagi dia menangis dan meminta maaf. Ia terlihat benar-benar tertekan dan membutuhkan bantuan. Dia seperti adik yang saya inginkan. Dia seperti makhluk kecil lemah yang ingin aku lindungi.”


Tetapi, ia hanya menemukan seorang kakak laki-laki yang senang pada akhirnya sang adik bergantung padanya.


“Ada apa, Bos?” tanya Maulana karena Mahardika menatapnya hampir-hampir tak berkedip.


“Tidak ada! Hanya perasaanmu saja!” kata Mahardika kembali konsentrasi dengan berkas yang tadi disingkirkan.


Maulana menelengkan kepala, mencoba mencari tahu dengan kemampuannya, kemudian mengangkat bahu seolah tidak peduli dengan apapun yang terjadi.


***


Daisy merebahkan tubuhnya di atas ranjang Stefani, merasa lelah, tetapi tak bisa memejamkan mata dengan benar. Ia sudah berkeliaran di taman sepanjang hari, dengan alasan membantu ayah Stefani, tetapi sama sekali tidak dapat bertemu dengan tubuhnya.


“Apa aku masih belum sadar dari pingsan semalam?” gumam Daisy dengan tidak tenang.


Namun, jika memang begitu, pasti Daisy akan melihat banyak sekali orang yang keluar masuk ke rumah. Para pelayan termasuk ayah Stefani juga akan panik karena salah satu majikan mereka mengalami kesulitan. Ketenangan yang dilihatnya sejak pagi sampai sekarang aneh. Jadi dirinya pasti telah bangun. Hanya saja siapa yang ada di dalam tubuhnya. Lalu, Daisy hampir saja melupakan tentang jiwa Stefani.

__ADS_1


“Astaga ... harusnya aku sadar tubuh siapa yang kurasuki!” katanya kesal dengan suara pelan.


Ia berguling dan berakhir dengan posisi menyamping. Bagaimana pun Daisy berpikir ia tidak menemukan jawaban logis dari hal yang terjadi padanya. Mungkin saja kalau seadainya ini adalah novel yang bertemakan fantasi, Daisy tidak akan peduli. Ia hanya akan berteriak girang karena yang mengalami pertukaran jiwa adalah tokoh utama. Tapi, pada kenyataannya dirinya sendiri yang mengalami.


“Hanya karena pingsan, aku bisa berpindah ke tubuh lain? Memangnya itu masuk akal!” geram Daisy.


Daisy menutup mulutnya cepat-cepat saat mendengar suara engsel yang menjerit. Untungnya suara itu tidak berhenti di depan pintu kamar, tetapi terus melaju ke belakang. Mungkin itu ayah Stefani atau sang kakak yang pergi ke dapur.


Daisy lantas mengingatkan dirinya tentang betapa tidak amannya pavilliun untuk menjadi tempatnya berkeluh kesah. Kalaupun bisa lebih baik kesal pada siang hari, sehingga tidak ada kemungkinan untuk didengar oleh keluarga Stefani, atau para tetangganya.


“Bukannya aku kuliha besok?”


Daisy mendadak bersemangat kembali. Ia duduk lekas, bergegas turun dari tempat tidur dan mencari apapun yang bisa digunakan besok. Jelasnya, Daisy tidak bisa pergi ke jurusannya sendiri. Akan jadi hal aneh jika ia bahkan tidak tahu apa saja yang sudah Stefani pelajari.


Saat mengubek-ngubek rak bukunya, Daisy menemukan ponsel Stefani. Benda penghubung itu mati. Ia mencolokan ujung charger dan kembali mengeluarkan buku-buku. Ia membacanya sekilas dan tahu kalau Stefani hampir tidak memiliki catatan yang benar.


“Bagaimana sebenarnya dia kuliah?” gumam Daisy heran.


Bahkan dirinya tak melewatkan sedikit pun keterangan dosen di depan kelas. Catatanya begitu rapi, sampai-sampai teman-teman sekelas menyangka kalau Daisy mempekerjakan seseorang untuk mengkoordinir catatannya.


Daisy menemukan sebuah buku catatan yang disusun dengan sangat baik. Sepertinya dari catatan ini Stefani mempelajari banyak hal. Sayangnya buku itu bukan milik Stefani. Nama “Azzam” tertulis dengan tinta biru di depan buku.


Daisy mengingat-ingat nama orang itu. Mungkin pria ini adalah yang paling dekat dengan Stefani di kampus. Kalau ingin aman di dalam tubuh Stefani, sebaiknya Daisy tetap dekat dengan pria bernama Azzam ini.


Azzam: Stefani ... aku mencarimu di pesta, tapi kamu tidak ada? Apa kamu baik-baik saja?


Azzam: Aku akan pulang sekarang! Sampai ketemu besok!


Azzam: Kamu tidak masuk. Apa terjadi sesuatu? Kabari aku!


Azzam: Stefani, apakah aku perlu ke rumahmu lagi? Kamu baik-baik saja, kan?


Pria bernama Azzam ini tampaknya sangat khawatir, terbukti dengan begitu banyak pesan yang dikirimkan pada Stefani. Anehnya, obrolan Stefani dengan Azzam sangat sedikit. Jelas-jelas Stefani menghindari pria ini.

__ADS_1


__ADS_2