Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Botol Ajaib Milik Stefani (3)


__ADS_3

Stefani berlari sekuat tenaga untuk sampai di bawah tangga. Betapa gembira hatinya mengetahui kalau usahanya sedari tadi berhasil. Ia kembali mendapatkan botol kecil berisi cairan biru.


Sayangnya karena kegembiraan, Stefani lupa kalau pintu samping yang menghadap ke pavilliun dijaga oleh pelayan. Ia sudah terdorong berlari ke sana. Ketika berbalik, para pelayan itu memergokinya.


“Stefani! Dari mana kamu masuk!” teriak mereka pada Stefani.


Stefani tidak lantas berhenti dan menjawab. Akan tetapi, berusaha keras untuk melarikan diri ke pintu masuk. Ia berhasil, para pelayan itu tertinggal jauh darinya. Namun, ia bertabrakan dengan Handoko, ayahnya. Keduanya terjatuh, saling tindih. Botol yang diambil Stefani dari kamar Daisy ikut terlempar, cukup jauh dari tempatnya jatuh.


Seorang pelayan yang tiba lebih dulu di tempat itu mengambil botol yang terlepas dari tangan Stefani.


“Kembalikan botol itu padaku!” teriak Stefani.


“Ah, apa isinya racun?” ejek si pelayan padanya.


“Bukan!” Stefani secara tangkas cepat memikirkan hal yang baik tentang isi botol itu. “Tonik untuk kesehatan, setelah meminum botol itu kamu akan bisa tidur lebih nyenyak!” kata Stefani meyakinkan.


“Kembalikan itu punyaku!” teriak Stefani lebih keras.


Si pelayan menelengkan kepala, tetapi tidak menghampirinya untuk menyerahkan botol berisi cairan biru.


Para pelayan lain segera muncul, napas semuanta terengah-engah.


“Apa yang harus kita lakukan padanya?” Salah satu dari mereka menunjuk pada Stefani dengan cepat.


“Bawa ke atas. Dia pasti berusaha ke kamar Nona Daisy! Biar diselesaikan dengan adil!” Mereka mengalihkan pandangan para pria yang memegangi Stefani. “Bapak tidak keberatan, kan?”


Barulah Stefani menyadari kalau ia sudah duduk di lantai. Handoko, ayahnya telah mengangkat Stefani baik-baik.


“Ayah ... itu milikku!” adu Stefani.


Stefani berharap kalau Handoko akan membelanya, seperti tadi pagi. Bukankah pria tua yang membesarkannya ini berpihak padanya dari pada Maulan. Stefani harus bisa memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.


“Kamu dari mana?”


Otak Stefani kembali berusaha berpikir dengan cepat sebuah alasan yang tidak buruk dan akan didukung oleh Handoko.


“Aku berusaha naik ke lantai atas. Aku mau minta maaf pada Nona!” jawab Stefani.


Handoko, ayah Stefani mengeleng. “Kamu bohong pada Ayah!”

__ADS_1


Stefani mau tak mau mengerutkan dahinya. Bagaimana ayahnya bisa tahu kalau Stefani sedang berbohong? Tidak mungkin pria di depannya membawa isi hatinya. Tidak. Selama ini tidak pernah terjadi hal yang seperti itu.


“Bawa dia ke tempat Nona Daisy! Saya mohon, jangan buat dia semakin buruk!”


Mata Stefani terbelalak. Ia tak percaya Handoko menyerahkannya kepada binatang buas yang memiliki keinginan untuk mancabik-cabiknya. Mana mungkin Stefani percaya pada Handoko. Mana mungkin ayahnya menyaingin Stefani.


“Ayah berkata bahwa menyayangiku! Apa ini bukti kasih sayang Ayah?”


Handoko tidak menjawab pertanyaan Stefani. Hanya memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Ayo ikut kami!”


Stefani diseret berdiri. Lalu dibawa menaiki tangga yang dituruninya tadi. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Otaknya dipenuhi dengan perhitungan bagaimana cara menyambar kembali botol kecil yang dibawa dari kamar Daisy.


Para pelayan itu membawa masuk Stefani kembali ke dalam kamar yang barusan ditinggalkannya.


Stefani mendapati mata Daisy yang sembab. Ia tertarik pada hal yang terjadi pada Daisy.


“Biarkan dia pergi! Jika ada sesuatu yang hilang kita bisa mengurusnya nanti!” kata Daisy dengan suara serak.


“Tapi, kami sudah menemukan apa yang dia ambil Nona. Ini!”


“Itu milikku. Bukan milik Nona!” Stefani memberi argumen.


“Dia sudah bilang itu miliknya. Kembalikan padanya dan antar dia pada Pak Handoko!” suruh Daisy.


“Tapi bagaimana kalau ini racun Nona! Bagaimana kalau ini akan diberikan pada Nona!” Pelayan-pelayan itu sepertinya sangat ingin kalau Stefani mendapatkan hukuman.


“Aku sudah bilang itu tonik untuk membuat tidur nyenyak! Kenapa kalian tidak percaya!”


“Benarkah! Coba minum!” suruh pelayan itu pada Stefani.


Tentu saja Stefani berani meminumnya. Ia sudah pernah melakukannya tiga hari lalu. Jadi tidak ada lagi ketakutan sedikit pun.


Kedua tangan Stefani yang dipegangi dilepaskan dan botol kecil itu diserahkan padanya. Ia membuka tutup botol, meminumnya satu tegukan dan membelalakan mata pada para pelayan.


“Lihat! Apa aku mati?” tanya Stefani.


Botol itu diambil dari Stefani lagi. Entah untuk maksud apa.

__ADS_1


“Dia bilang mau memberikan botol ini pada Nona untuk permintaan maaf!” kata si pelayan sambil menyodorkan pada Daisy.


Daisy memandang botol dengan cairan hijau itu sebentar. Ia mengambil benda itu, membuka tutupnya seperti Stefani dan meneguk isi di dalamnya.


“Sudah! Aku sudah menerimanya dan meminumnya! Sekarang keluarlah kalian! Aku ingin tidur!” suruh Daisy.


Saat Stefani diseret keluar lagi, ia sama sekali tidak melawan. Ia mengikuti para pelayan yang melepaskannya di pintu depan. Ayahnya pun masih ada di sana.


“Dia berkata jujur, Pak!’ kata para pelayan pada Handoko, ayah Stefani.


Wajah ayahnya mendadak menjadi cerah, tampak sangat bersyukur. Akan tetapi, Stefani sama sekali tidak tersentuh dengan semua itu.


Begitu para pelayan meninggalkan Stefani, ia pun meninggalkan ayahnya.


“Stefani! Ayah mau minta maaf!” Pria tua itu berseru dari belakang.


Perasaan Stefani saat ini sedikit lebih baik dibandingkan tadi pagi. Ia berbalik dan tersenyum, walau sedikit terpaksa. “Aku sudah memaafkan ayah!” katanya dengan yakin.


Lalu ia kembali meninggalkan ayahnya. Ia harus segera berada di kamar dan tidur. Berharap kalau obatnya berfungsi dengan baik.


Ia sedikit heran tentang Daisy yang sama sekali tidak pingsan setelah meminum obat yang diberikan. Apakah tubuh mereka berdua sudah membuat kekebalan sendiri terhadap cairan biru aneh itu? Yang mana pun kalaupun ada kekebalan, cairan itu pasti masih memiliki efek.


Kali ini setelah memasuki tubuh Daisy, Stefani akan memastikan dirinya tidak kembali lagi ke tubuhnya sendiri. Dengan begitu, kehidupan bahagia yang diinginkan akan menjadi kenyataan.


Stefani tidak tahu apakah ayahnya mengikuti dari belakang. Yang jelas ia telah sampai di kamar dan berbaring menatap langit-langit kamar.


Perlahan, mata Stefani berat. Padahal masih siang untuk merasa mengantuk. Kemudian ia tertidur. Ia bermimpi tentang kakek tua yang memberinya semanngat. Ia juga bermimpi tentang keluarga Daisy yang bahagia.


Terakhir, ia melihat dirinya bersama dengan Mahardika, tentu saja bahagia. Keluarga yang diimpikan.


Tetapi, mendadak mimpi itu menjadi buruk dengan tiba-tiba.


“Jadi selama ini kamu adalah Stefani dan bukannya Daisy? Kamu menipuku!” teriak Mahardika di dalam mimpi Stefani.


Stefani kaget bukan main. Bukankah mereka baru saja berpelukan. Lalu bagaimana bisa Mahardika mengetahui siapa dirinya dengan begitu tiba-tiba.


“Mas Dika ini bicara apa?” kata Stefani.


“Lihat saja di cermin!” suruh Mahardika.

__ADS_1


Daisy mengikuti permintaan Mahardika dan menemukan kalau wajahnya bukan wajah Daisy lagi. Ia berteriak keras dan menoleh pada Mahardika yang sudah pergi ke tempat Daisy yang sebenarnya.


__ADS_2