Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Perhiasan yang Hilang (3)


__ADS_3

Syukurlah kalau Daisy berhasil menemukan kuncil mobil sedan lama milik papanya dengan bantuan kepala pelayan di rumah. Pria itu menelengkan kepala ingin tahu kenapa Daisy tidak memanggil Handoko yang telah ditugaskan menjadi sopir pribadi gadis ini.


“Pak Handoko sedang dibawa Papa!” Daisy memberitahu saat kepala pelayan itu bertanya.


Pemahaman tentang kenapa majikan kecil mereka mencari kunci mobil sendiri lekas terlihat di wajahnya. Lalu ia menawarkan hal lain. “Bagaimana kalau Anda meggunkan sopit Tuan Ibnu saja? Tuan tidak akan keberatan dengan itu!”


Ibnu memang tidak akan keberatan, akan tetapi, Daisy sangat keberatan harus memanfaatkan sopir pribadi papanya. Lagi pula yang akan dilakukan adalah hal yang tidak patut ditiru. Menggikuti orang tua diam-diam sangat tidak baik.


“Tidak! Aku ingin berkendara sendiri!” Daisy mengatakannya dengan tegas. Ia tidak mau selanjutnya diinterupsi kembali. Maka ditinggalkannya ruang tengah tempat kepala pelayan memberkan kunci padanya.


Dasy naik kembali ke kamarnya di lantai dua. Cepat-cepat daisy menganti pakaiannya dan turun kembali. Untungnya garasi tempat sedan itu berada luas, sehingga ia tak memiliki kesulitan untuk mengeluarkan mobil. Penjaga gerbang bergegas untuk membukan pintu gerbang saat mobil Daisy mendekat.


“Tadi Papa ke sebelah mana?” tanya Daisy pada si penjaga.


Sama seperti halnya si kepala pelayan, si penjaga gerbang memberikan jawaban dengan tatapan binggung. “Ke sana Nona!”


Daisy melambai untuk mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi dengan cepat menuju arah yang ditunjukkan. Ia melihat mobilnya dengan cepat di jalanan dan memperlambat laju mobil sedan. Ia berharap papanya tidak mengenali mobil lama ini.


Ibnu hanya berputar-putar saja di tempat-tempat perusahaan yang melakukan merger dengan milik mereka. Daisy sampai kebosanan dengan hal tersebut dan berniat pulang. Namun, tiba-tiba mobil milik papanya itu berhenti di depan pasar yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan baru Pak Handoko.


Daisy ikut menepi dengan jarak yang cukup aman. Ia kaget saat melihat papanya turun dari mobil. Ia lekas melorot ke lantai mobil supaya tidak ketahuan. Tetapi, papanya tidak menghampiri Daisy dan malah menyeberang jalan. Papa Daisy berhenti di belakang sebuah mobil yang dikenali juga oleh Daisy.


“Ah?” Daisy mendorong tubuhnya untuk naik kembali.


Dilihat papanya mengelilingi mobil milik istrinya itu beberapa kali dan menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian tak lama kembali lagi ke mobil yang disopiri Handoko. Tampaknya Ibnu tidak mendapatkan petunjuk tentang kenapa mobil itu ada di sana dan ke mana si pengendara menghilang.


Daisy memutuskan untuk memastikan mobil milik mama tirinya tersebut. Ketika ia telah yakin kalau papanya dan Handoko pergi cukup jauh, ia turun. Dari plat mobil ia mengenali itu sebagai milik mama tirinya.


“Tidak mungkin kan kalau dia ke sini untuk belanja?” gumam Daisy pelan.

__ADS_1


Ia menoleh ke kiri dan kanan tetapi sama seperti papanya, tidak ada petunjuk yang bisa dikumpulkan. Jadi ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya bermaksud memfoto mobil tersebut. Akan ada kesempatan untuk menggunakan keberadaan mobil ini suatu saat nanti.


“Apa yang kamu lakukan di sini!”


Seluruh tubuh Daisy membeku. Ia berbalik untuk memastikan kalau memang Aida yang ada di  belakangnya.


“Ah, aku melihat mobil Anda di sini jadi aku ingin tahu apa yang sedang Anda lakukan!” kata Daisy  pelan.


Di samping Aida tampak seorang lelaki yang lebih tepat di sebut seorang preman. Ia memandang tajam ke arah Daisy, seolah menilai, menguliti, melihat seluruh yang dimilik Daisy di balik pakaiannya. Daisy ingin segera melarikan diri.


“Anak kecil sepertimu jangan banyak ikut campur!” kata Aida dingin.


Daisy terbatuk mendengarnya. Jika ia masih SMA dan datang dengan menggunakan seragam, bisa jadi tampak seperti anak kecil. Namun, kini ia memakai gaun dan sudah bisa dikategorikan wanita dewasa.


“Anda juga adalah wanita bersuami. Apa-apaan dengan pergaulan Anda?” Daisy tersinggung dan membalasnya dengan cepat. Ia melirik jijik ke arah pria yang masih memandanginya dengan tajam.


“Menyingkir dari sana!” usir Aida ketus.


“Jadi kamu anak tirinya Aida? Cantik sekali?”


Perasaan merinding yang dirasakan Daisy tadi kembali datang. Daisy mundur selangkah dan berusaha mengabaikan perkataan pria bertato itu.


“Hai, jangan bersikap sombong, Sayang! Kamu akan tergila-gila padaku akhirnya!” kata si pria bertato sambil tertawa.


Tangan pria bertato itu basah dan lembab. Terasa sangat menyebalkan saat menyentuh pipinya. Ia ingin melarikan diri dengan cepat.


Plak!


Punggung tangan pria bertato itu dipukulnya keras. “Anda harus menghormati sedikit keinginan orang lain!” tegur Daisy. Ia tidak suka dengan tindak tanduk tidak menyenangkan yang diterimanya sekarang.

__ADS_1


Pria bertato itu tertawa keras sekali. Ia mendekatkan wajahnya pada Daisy. Daisy mundur sejauh mungkin dan tiba-tiba saja punggungnya membentur motor yang parkir.


“Aku suka gadis sepertimu! Biasanya akan menjerit saat berada di bawahku!” kata si pria bertato.


Wajah Daisy terasa sangat panas sekarang. Andai saja ia sekekar Mahardika, ia akan melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Namun, yang bisa dilakukan Daisy hanya mendorong dada si pria bertato sekeras mungkin dan kemudian berlari pergi.


Ia hampir saja ditabrak sebuah mobil pickup karena melintas tanpa melihat kiri dan kanan. Aksi klakson mobil pickup berakhir dengan suara umpatan dari pengemudinya.


“KAMU MAU MA*I YA!!”


***


“Handoko, apa kamu tahu rumah Aida sebelum menikah?” tanya Ibnu setelah kembali masuk ke dalam mobil.


Handoko tentu merasa sangat heran. Sebab seingatnya Aida dan Ibnu lumayan lama menjalani hubungan sebelum berakhir pada tahun ketiga mereka sekolah. “Tidak! Bukannya pertanyaanmu sangat aneh?” tanya Handoko jelas-jelas.


Ibnu tidak segera menjawab. Ia memandang lurus ke depan. Ingatannya tertuju pada mobil yang parkir di depan pintu masuk pasar. Kalau saja Ibnu tidak secara sengaja menoleh tadi, maka ia tidak akan tahu kalau Aida ada di sana.


“Selama pacaran aku tidak pernah mengantarnya sampai ke rumah! Aku hanya berakhir di pintu masuk perumahannya saja. Karena dia bilang kalau kedua orang tuanya sangat tidak suka anak mereka pacaran!” jawab Ibnu.


“Dan kamu percaya?” tanya Handoko.


Bagaimana Ibnu tidak percaya. Aida itu anaknya yang begitu pendiam dulunya.


“Kamu tahu tidak?”


“Kalau kamu saja tidak tahu, bagaimana aku bisa menjawabnya!” kata Handoko segera.


Ibnu menghela napas dalam. Hal yang bisa dilakukannya sekarang hanya bertanya pada Aida saat wanita itu sampai di rumah nanti.

__ADS_1


“Kita kembali sekarang, Handoko!” pintanya.


Handoko tidak menjawab sama sekali dan hanya melaju ke arah jalanan yang amat dikenalnya Tempat ia dan mendiang istrinya bekerja selama hampir 25 tahun.


__ADS_2