
Tidak akan jadi masalah kalau seandainya Daisy makan sepotong kue lagi. Jadi, ia mengambilkan teh dan piring bersih lainnya untuk Maulana dan meletakannya di meja makan sementara Kakak Stefani itu tampaknya masih menyampaikan hal yang membuatnya tidak terima dari pelakuan sang ayah.
“Aku juga ingin bersikap akrab dengannya!” seru Maulana tidak terima.
“Duduk di sini, Kak!” Daisy memanggil.
Kedua pria yang sedang berdebat itu--Maulana dan Handoko--menoleh secara serentak pada Daisy. Wajah Maulana menjadi cerah mendapati gadis yang dianggap adiknya menyiapkan semuanya untuk dinikmayi bersama sendirian. Sementara Handoko hanya menghela napas lega, seolah mendapatkan sesuatu yang tidak seharusnya dan perlu disyukuri.
“Bagaimana dengan perjalananmu dengan Azzam tadi?”
Daisy berpikir sebentar mengingat-ingat apa yang sudah dikatakannya pada Maulana saat mereka bertemu siang tadi. Saat menyadari kalau dirinya menjanjikan hal seperti sebuah cerita, ia menunjuk kursi di depannya kembali. “Saya akan ceritakan setelah Kakak duduk!”
Dengan patuh Maulana duduk di kursi yang ditinggalkan oleh Handoko tadi. Ia menerima secangkir teh dan kemudian sepotong kue. Lalu dengan fokus yang tertuju pada wajah adiknya, ia mulai mendengarkan cerita Daisy.
“Azzam membelikan saya sebuah buku, katanya sebagai hadiah karena saya sudah menemaninya ke toko buku. Karena saya tidak senang menerima pemberiannya begitu saja dia meminta saya membelikan dia minuman. Kami pergi ke seberang jalan untuk membeli minuman yang diminta.” Tampaknya Maulana ingin bertanya soal cerita Daisy, tetapi ia menahan diri dengan sangat baik. Jadi Daisy bisa melanjutkan ceritanya dengan tenang. “Saat kami sedang minum dan bicara soal buku yang saya beli, tiba-tiba Mas Dika muncul.”
“Dia muncul di sana?” Maulana terkejut.
Keningnya tampak berkerut memikirkan sesuatu. “Apa di sana ada Nona Daisy?”
__ADS_1
“Tidak! Mana mungkin. Azzam tidak kenal dengan Nona Daisy!” di dalam hati Daisy menambahkan kalau dirinya yang kenal Azzam setelah bertukar jiwa dengan Stefani. Kalau tidak, ia tak akan tahu siapa pria bernama Azzam yang tulus menyukai Stefani.
“Mahardika tidak fokus sejak pagi. Aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu dan tiba-tiba dia muncul di tempat kamu dan Azzam berada?” Kerutan di kening Maulana menjadi semakin banyak saja.
Daisy sebenarnya tahu bagaimana Mahardika bisa muncul di sana. Ia pasti mendengar kepergiaannya dari Maulana yang bertengkar dengannya sebelum berangkat kerja tadi. Maulana yang dalam keadaan terguncang karena adik perempuannya berkata kalau dirinya keterlaluan tidak akan menyangka kalau informasi soal Daisy lolos dari mulutnya.
“Kakak bilang Mas Dika tidak fokus, dia pasti berkendara ke sana kemari dan kemudian menemukanku! Dia mungkin menganggu untuk memperbaiki suasana hatinya!”
Daisy tidak bisa membiarkan kalau dirinya mengalami kerugian dari perlakukan Mahardika yang tidak seharusnya. Daisy mungkin sudah menegaskan kepada Mahardika kalau kelakuan itu akan menjerumuskan mereka selama dirinya masih ada di tubuh Stefani. Perasaan cemas nyatanya selalu mengalahkan logika.
“Kamu benar!” jawab Maulana menerima penjelasan Daisy tanpa berpikir lebih jauh lagi.
***
PRANG!!
Piring yang berisi makanan steik ikan yang telah dipersiapkan dengan baik oleh juru masak di dapur jatuh dan pecah di lantai porselen. Pelayan pribadi yang melayani nona muda yang tiba-tiba menjadi tempramental itu terkejut, memandang takut-takut kepada majikannya.
“No-na? Apa ada yang salah dengan makanannya?’ tanya Raise hati-hati.
__ADS_1
“Ini sama sekali tidak enak! Singkirkan semuanya dari hadapanku!” teriak Stefani keras.
Raise mengambil piring yang tertelungkup di lantai dan untungnya belum pecah. Lalu memanggil seorang pelayan yang menunggu di pintu luar. Pelayan yang baru datang memandang piring di tangan Raise, keluar lagi dengan tergesa-gesa dan muncul dengan sapu di tangannya. Ia membersihkan semua kekacauan dengan segera.
Pelayan yang datang setelah Raise memanggil itu keluar dengan membawa bekas kekacauan. Raise kini kembali berdua saja dengan nonanya yang mendadak menjadi tempramental.
“Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, Nona?” tanya Raise hati-hati.
Ia memandang dengan penuh sesal pada gelas berisi air putih yang ada di atas meja. Bagaimana kalau benda yang terbuat dari kaca itu melayang dan berakhir melukainya. Seharusnya ia juga meminta pelayan tadi membawa gelas itu bersamanya.
“Pergilah!” usir Stefani lekas.
Raise tercenung sebentar, melirik gelas yang ada di atas meja kembali. Kemudian saat ia berpikir untuk mengambil gelas tersebut, detik itu juga ia melupakan benda yang sama. Ia menutup pintu pelan-pelan supaya tak membuat majikannya yang temperamental tiba-tiba menjadi marah.
Setelah tinggal sendirian dan yakin kalau tidak ada yang akan melihat dan juga mendengar dirinya, Stefani berteriak kesal. Apa yang didengarnya secara tidak sengaja tadi di kantor Mahardika menganggu. Bagaimana mungkin Maulana memperlakukan Daisy yang memerankan dirinya kini berbeda.
“Dia menyebut gadis sombong itu adik yang terbaik! Bagaimana dengan usahaku selama ini!!!” pekik Stefani tidak terima.
Ia ingin muncul di depan Maulana dan merunut semuanya dari A sampai Z tentang apa yang sudah dilakukannya di dalam keluarga selama ini. Semuanya hingga Maulana menangis.
__ADS_1