Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Andien, Teman Baru Daisy (1)


__ADS_3

“Stefani ... apa kamu tidak mendengar apa yang berusaha Bapak terangkan sejak tadi tentang buku yang akan kalian pelajari?”


Daisy yang kini ada di tubuh Stefani yang pikirannya sedang melalang buana sejak tadi mengangkat kepala dan menoleh ke arah teman-temannya yang berada di kelas. Semua menundukkan kepala, tampak berusaha menyibukkan diri dengan urusan masing-masing.


Bukannya tak mendengarkan, hanya saja ia tak begitu paham dan sudah berniat pergi ke perpustakaan atau mekinta bantuan Maulana nanti untuk memberitahunya apa kesalahan pada tugas perorangan yang akan dikerjakannya.


“Maafkan saya, Pak!” Daisy tidak bisa menjelaskan atau memberi alasan yang sebenarnya. Ia akan tampak lebih bodoh lagi kalau banyak alasan.


“Ada banyak gosip tentang kamu belakangan ini! Entah kenapa murid yang biasanya berprestasi malah kesulitan dan mengerjakan tugas yang biasanya disukai. Ada apa denganmu? Kamu pacaran?’ tuding dosen di depan kelas pada Daisy.


Sebenarnya bukan urusan dosen itu apa yang terjadi pada Stefani, toh tugas yang diberikan tetap diserahkan tepat waktu walau pengerjaan tidak mendapat nilai A+ seperti rata-rata yang Stefani dapatkan sebelumnya. Daisy juga tak meminta pemakluman, karena memang dirinya bukan Stefani. Tetapi, ia tak suka dituduh dan disalahkan. Apalagi saat tidak melakukan kesalahan.


“Kali ini tugas yang Bapak berikan haruslah nilai A+. Bapak tidak menerima alasan apapun tentang kesulitannya!” seru si dosen dengan mata tajam yang mengiris kepercayaan diri Daisy.


Akan tetapi, di dalam diri Daisy tidak ada hal semacam itu. Mungkin memang ada ketakutan, tetapi tak membuatnya menyerah begitu saja. Hanya pecundang yang langsung menyerah ketika dihadapkan pada masalah. Selama ia masih hidup, bernapas, Daisy yakin ada jawaban untuk setiap masalah yang dihadapiny.


Si dosen melirik jam di pergelangan tangannya, kembali ke meja tempat buku-buku pegangannya berada. Ia mengulangi soal tugas yang telah disebutkan tadi dan waktu pengumpulannya sekitar seminggu lagi. Begitu Dosen keluar, bahkan semua orang di kelas membuang napas lega. Sampai seperti itulah dosen yang baru saja bicara tidak disukai.


“Baik-baik saja, Stefani!”


Andien muncul dari bangku belakang, mendekati Daisy dengan senyuman yang tampak ragu.


“Ya, aku pikir kamu tidak masuk!” kata Daisy senang.


Ia pikir akan kembali sendirian hari ini. Bukan berarti ia memiliki banyak teman selama ini. Orang-orang yang mendekatinya memiliki niat tersenbunyi, seperti memanfaatkannya karena status dan kekayaan yang dimiliki. Akan tetapi, saat ia membuat kesalahan, orang-orang itu cenderung membuangnya dengan kejam, tidak terlalu peduli dengan yang sudah dilakukan.

__ADS_1


Saat Daisy menuntut jawaban kenapa diperlakukan demikian, mereka hanya menjawab, memangnya apa yang sudah dilakukan Daisy pada mereka. Orang-orang semacam itu buat Daisy tidak sepantasnya didekati dan kalau pun ada di dekatnya, tidak ingin terlalu diambil hati.


Daisy cukup berharap banyak pada Andien yang mendekatinya kini. Ia hanya seorang Stefani saja, yang tidak memiliki status apalagi kekayaan. Ia tinggal di rumah kontrakan, kakaknya hanyalah karyawan biasa, dan ayah Stefani bekerja sebagai tukang kebun.


“Tidak! Aku sampai lebih dulu darimu tadi. Aku bawa kendaraan sendiri!”


Daisy dulu juga membawa kendaraan sendiri, hanya saja sekarang kendaraan lebih baik digunakan oleh Maulana atau Handoko, ayah Stefani.


“Baguslah! Membawa kendaraan sendiri lebih hemat ongkos.” Daisy membereskan buku catatannya, memasukan semua itu ke dalam tas sandang. “Hari ini ada satu kelas lagi sore hari, kan?” tanya Daisy. Ia tak punya banyak obrolan dengan Andien selain tentang kampus.


“Ya! Mau ke perpustakaan untuk fotokopi buku modul tugas. Kalau dipinjam tampaknya bukunya tidak akan kita dapatkan,” saran Andien.


Daisy membulatkan mata. Ia memukul dahinya sedikit karena lupa. Kenapa ia tenang-tenang saja, seharusnya ia bergegas ke perpustakaan untuk mendapatkan buku. Daisy yang terjebak di tubuh Stefani tidak memiliki kemampuan untuk membeli sendiri buku modul tugas.


Lekas Daisy berdiri, disandangnya tas selempang segera. “Ayo!” serunya penuh semangat.


“Stefani!”


Panggilan itu tidak dihiraukan Daisy. Dirinya menganggap yang dipanggil bukanlah ia. Tetapi, langkahnya tak jauh, sebab ia segera sadar dengan tubuh yang sedang digunakan. Ia berbalik dan mendapati Azzam mengejar dengan langkah tergesa-gesa.


“Sudah kelar kelas? Mau pulang bareng?” tanya Azzam.


Daisy lekas mengeleng. Masih ada kelas sore, jam tiga.”


“Aku tunggu, ya?” tanya Azzam penuh harap.

__ADS_1


“Tidak usah, saya bisa naik angkutan kota nanti. Kelas kamu sudah selesai semua?”


Azzam tidak menjawab. Tetapi, Daisy tahu kalau seharusnya Azzam sudah pulang sekarang. Jadi, Daisy tidak banyak berkata-kata dan meninggalkan Azzam begitu saja. Rupanya Azzam mensejajari langkah Daisy, membuatnya dengan terpaksa memperlambat langkah.


“Aku punya beberapa buku yang harus dikembalikan ke perpustakaan,” kata Azzam.


Daisy menoleh, menyipitkan mata menilai, dan dengan cepat menyadari kalau yang dilakukan sia-sia. Ia tidak punya hak untuk melarang Azzam pergi ke mana pun di kampus.


“Menurutmu di mana  buku yang disebutkan dosen tadi berada?”


Ada begitu banyak rak di sini. Daisy memiliki perpustakaan sendiri di rumah dan ia selalu tahu kapan harus menambah jumlah bukunya di perpustakaan. Kebanyakan berisi novel terjemahan populer dan bahan ajar untuk kegiatan kampus tentu saja semuanya dalam tema Ekonomi sesuai jurusannya.


“Di sana mungkin!’ tunjuk Andien.


Tepatnya di rak nomor tiga pada deretan paling depan setelah pintu perpustakaan. Karena mereka mengobrol, petugas perpustakaan menoleh ke arah mereka. Matanya menyipit menilai dan dengan cepat menyadari siapa pembuat keributan.


“Sebenarnya buku apa yang sedang kalian cari?”


Daisy menyebutkan judulnya dengan segera. Andien sendiri sudah pergi sejak tadi mencari buku yang akan menjadi bahan tugas mereka.


“Oh, buku itu! Aku punya satu di rumah! Kamu mau meminjamnya?” bisik Azzam. Takut diusir penjaga perpustakaan karena berisik.


Daisy terkejut dengan hal itu. Tetapi, ia kemari bersama Andien dan rasanya tak akan sopan mengatakan pada temannya itu kalau ia sudah mendapatkan satu dari belakang.


“Aku akan meminjamnya nanti! Tapi, jangan katakan pada Andien!” kata Daisy meminta pada Azzam.

__ADS_1


Azzam memandangnya seolah ia mengajukan permintaan yang sangat sulit. Ia mengosok belakang kepalanya karena hal itu. “Stefani, jangan pernah terlalu percaya pada siapapun!” pinta Azzam.


Pria muda itu kemudian pergi ke tempat penjaga perpustakaan bertugas, mengeluarkan buku yang akan dikembalikan. Daisy sempat berpikir kalau Azzam tengah berbohong padanya. Ia tersenyum saja dan pergi ke rak yang ditunjukkan Andien segera.


__ADS_2