Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kapan Terakhir Kali Anda Makan dengan Tuan?


__ADS_3

Langkah kaki Azzam berhenti saat ia menaiki tangga menuju lobi gedung kampus. Rasanya ia lelah sekali dan tiba-tiba saja kepalanya mengatakan pada Azzam kalau apa yang dikatakan oleh Daisy benar. Hal yang ditunggu Azzam bisa saja menyakiti dirinya sendiri.


“Ah, ini menyebalkan!” keluh Azzam.


Ia menurunkan tubuhnya dan memilih duduk di anak tangga. Baru beberapa detik, ia mendorong tubuhnya untuk berdiri kembali karena kemunculan Daisy dari sisi lain gedung kampus. Gadis itu berhenti sesaat ketika melihat Azzam dan seolah tidak melihat ditinggalkan saja Azzam begitu saja.


Untung begitu. Karena Azzam akan memalingkan wajahnya dengan sangat sengaja seandainya Daisy melambai atau berseru padanya untuk pamit. Ia mendengar suara teman Daisy yang menanyakan tentang Azzam. Juga suara ayah Stefani yang memastikan tujuan mereka. Lalu terakhir suara derum mesin mobil yang menyala dan kemudian menjauh pergi.


Azzam merasa lega saat melihat tempat mobil Daisy parkir tadi sudah kosong. Seluruh tubuhnya kembali dikuasai rasa lelah. Ia memasukan udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya dan menengadah menatap mendung di langit.


“Mau hujan!” Azzam jadi banyak mengeluh.


Pikirannya galau dan kelas setelah ini terasa sangat sulit untuk dijalaninya. Ia ingin pulang, berada di rumahnya, dan mendekam di kamar. Menyebalkan harus berinterasi dengan seseorang saat perasaannya sama sekali tidak baik-baik saja.


“Azzam! Kenapa kamu nggak angkat telepon!” Seorang teman menepuk bahu Azzam.


Azzam terlonjak sedikit dari tempat duduknya, memandang marah pada di pelaku. “Apa?” tanyanya dengan segera seolah melakukan kesalahan tidak terkira.


“Astaga, kenapa jadi marah?” Teman Azzam memonyongkan bibirnya sedikit, ikut terpengaruh dengan suasana hati Azzam yang tidak baik-baik saja. “Kelas dibatalin, katanya dosen kita kecelakaan. Jatuh di jalan menuju kampus!”

__ADS_1


Azzam terkejut mendengarnya. Ia merasa cukup jahat padahal tidak melakukan apa-apa. Tetapi, ia sempat berdoa kalau kelas hari ini semoga dibatalkan.


***


“Saya benar-benar minta maaf, ya, Nona, sola Stefani!” Handoko akhirnya bisa bicara juga setelah mengantarkan temannya Daisy ke gedung kampus jurusan gadis itu kembali.


Tidak ada kelas lagi dan Daisy meminta untuk pulang saja pada Handoko. “Loh, memang Stefani buat salah apa sama saya, Pak?” Daisy tampak tidak paham.


Akan tetapi, Handoko tahu kalau sikap itu hanya ditujukan supaya dirinya merasa nyaman saja. Sebab setelah menjadi sopir Daisy kadang-kadang gadis itu tampak sangat memikirkan orang lain dan bertindak dengan sangat hati-hati. Apalagi setelah putrinya kembali seperti semula.


“Saya tahu kalau Stefani sudah berlaku kurang ajar pada Nona tadi. Saya benar-benar minta maaf!” Handoko menyampaikan maksudnya lagi. Daisy tertawa mendengarnya, tampak sama sekali tidak merasa terbebani.


“Pak, jika ada orang yang tiba-tiba berkata kalau dia mau membantu pasti orang yang sedang tidak baik-baik saja marah! Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu apa-apa bisa tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu?” Daisy tersenyum sambil menoleh pada Handoko. “Yang terjadi pada saya dan Stefani bukan salah Bapak. Dia marah karena merasa say tidak tahu apa-apa dengan yang sedang dihadapi! Tetapi, saya cukup tahu banyak sehingga mengajukan diri untuk menolongnya.”


“Saya sangat senang mendengar Anda mau membantu, Nona! Tapi putri saya sudah cukup menyusahkan!”


Daisy masih tersenyum pada Handoko, sama sekali tidak terlihat tersinggung. Malahan Handoko merasa malu sebab berniat menolak pertolongan yang akan diberikan Daisy padanya.


“Saya berharap kalau hubungan Bapak dan Stefani menjadi lebih baik!” Daisy benar-benar mengatakannya dengan sangat baik. “Saya tahu dia marah, tetapi dia juga punya alasan untuk marah. Jika saya menjadi Stefani, saya akan melakukan yang sama!”

__ADS_1


Handoko berharap kalau hubungan Ibnu dan putrinya menjadi lebih baik lagi juga. Tetapi, ia melihatnya. Sejak kematian nyonya rumah Ibnu, Daisy memilih untuk menjauhi ayahnya.


“Nona, kapan terakhir kali Anda makan dengan Tuan Ibnu?”


Wajah Daisy mendadak berubah. Tetapi hanya sebentar saja dengan cepat ia bisa mengendalikan diri dan kemudian kembali tersenyum. Tidak tampak lagi raut keterkejutan yang dilihat Handoko tadi.


“Tadi pagi, Pak!” jawab Daisy lemah.


Saat mobil yang mereka kendarai berhenti, Handoko tahu kalau majikan kecilnya tidak suka hal-hal yang berhubungan dengan Ibnu. Mungkin putri sahabatnya inisudah terlanjur kecewa dengan sikap yang diambil Ibnu beberapa waktu setelah istrinya meninggal.


“Apa Nona tidak mencari tahu tentang papa nona yang tidak Anda lihat. Bagaimana pun bukannya dulu saat masih kecil sekali papa nona sangat berbeda dengan sekarang?”


Ketidak senangan di wajah Daisy semakin menjadi saja. Jika gadis di sampingnya adalah Stefani, maka gadis itu pasti sudah mengamuk sejak tadi. Tetapi, gadis di samping Handoko ini sangat bisa mengendalikan diri dengan sangat baik.


“Saya tahu betul apa yang diinginkan papa saya, Pak!” Handoko melihat Daisy meremas ujung pakaiannya. “Papa tidak menyayangi saya sampai seperti itu sampai begitu mengkhawatirkan saya sebelum melakukan apa yang diinginka!”


Handoko tahu tidak seharusnya bicara lagi. Tetapi, ia juga tahu kalau Ibnu sangat menyayangi putrinya. Dulu Handoko menjadi salah satu saksi bagaimana Ibnu mencintai istri dan anak perempuan tunggalnya. Tidak mungkin rasa cinta terkikis begitu saja.


“Maafkan saya, Nona Daisy! Tapi, setahu saya papa Anda sangat sayang sama Nona!”

__ADS_1


Daisy memalingkan wajah ke jendela mobil. Ia menurunkan kaca hingga suara keramaian di luar masuk ke dalam. Angin berhembus kencang menyambar wajah nona majikan Handoko yang masih kecil itu.


Handoko kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Ia tidak perlu bicara lagi. Ia sudah tahu semuanya.


__ADS_2