Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Ayah dan Putrinya (3)


__ADS_3

“Aku harap dia introspeksi diri!”


Maulana tampak terkejut saat Stefani mengatakan itu. Ia memandang gadis itu dengan tatapan yang aneh begitu penuh dengan pertanyaan.


Daisy yang menyadari jenis tatapan yang dilayangkan oleh Maulana balik memandang dengan berani, membelalakan matanya sebagai bentuk lain dari kata tanya: Apa?


“Dia harus introspeksi diri untuk apa?” tanya Maulana ingin tahu.


Sendok dan garpunya lekas diletakan Daisy di dalam mangkok, tersusun dengan sangat rapi. “Yah, karena dia sudah menyusahkan kita sampai seperti ini. Tuan besar tidak akan mengusir tanpa alasan, kan?” Daisy berharap jawaban yang diberikan benar, sehingga tidak perlu memikirkan jawaban lainnya.


“Belakangan ini dia memang membuat masalah. Pertama dia membuat adikku jatuh cinta entah bagaimana. Kedua dia membuat masalah dengan tunangannya sendiri!” Maulana mendatanya.


Daisy kesal mendengar Mahardika dijelek-jelekan. Ia mengatakan pada dirinya tidak boleh mengatakan apapun yang akan membuat dirinya tampak aneh. Kehidupannya sudah lumayan aneh sejak berpindah tubuh. Tidak boleh lagi ada hal aneh lainnya bahkan hanya anggapan orang lain saja.


“Menurutmu dia akan suka apa jika dihadiahi makanan?” tanya Maulana penasaran.


Seolah-olah Daisy akan membuka mulutnya saat berada di tubuh Stefani. Pilihan yang tepat karena Daisy mengeleng sebagai jawaban untuk Maulana. Kakak Stefani yang tubuhnya kini digunakan tu tersenyum senang, seolah mendapatkan pengakuan kalau dirinya adalah yang tertampan di dunia.


“Seseorang yang menyukai orang lain itu akan menyelidiki orang yang disukainya. Bukan hanya menyukai lewat mulut saja. Sepertinya aku tidak perlu menghajar Mahardika karena sudah membuat adikku sedih!”


Daisy jadi ingat olahraga yang dikuasai Mahardika dan tidak bisa membayangkan Maulana dan Mahardika saling adu kekuatan. Tampaknya ia akan mendukung Mahardika kalau itu terjadi.


“Anak pintar! Kamu menghabiskan makananmu!” kata Maulana sambil mengelus-ngelus kepala Stefani.

__ADS_1


“Kakak!” pekik Daisy jadi malu sekali.


Ia jadi ingin memiliki saudara seperti ini. Rasa iri mengerayap kecil di dalam sudut hatinya.


Daisy duduk untuk beberapa lama setelah menghabiskan makan malam keduanya. Begitu perutnya sudah tidak penuh lagi, ia berdiri membawa mangkuk dan cangkir besar yang kotor karena berisi mie rebus ke dapur. Ia bersenandung saat mencuci semua itu. Rasanya menyenangkan ketika air menyentuh jemarinya dan ia berhasil membersihkan mangkok dan cangkir yang kotor.


Ia bergerak ke kamarnya setelah mengeringkan tangan dengan handuk. TV di ruang tengah sudah mati. Handoko dan Maulana tampaknya sudah kembali ke kamar mereka berdua lagi. Daisy memutuskan untuk kembali ke kamarnya juga. Ia menutup kamar dengan hati-hati dan duduk di meja rias yang sekarang difungsikan sebagai meja belajar. Lagi pula riasan milik Stefani tak banyak.


Ia mengambil buku-buku yang dibawa oleh Azzam tadi sore, membaca judulnya satu-satu dan tertarik dengan setiap blurb di belakang. Waktu tugas yang diberikan dosen dua minggu dan sebaiknya Daisy mulai mencicil baca besok.


Daisy mengeluarkan catatan tugas yang diberikan dan mulai membaca bab-bab yang tersedia di dua buku yang paling menarik. Ia menandai setiap halaman yang ternyata sudah banyak ditandai Azzam. Tampaknya pria yang mendekati Stefani ini begitu rajin dan berbakat. Begitu selesai dengan buku-buku miliknya Daisy berjalan ke ranjang dan duduk di tepi. Ia merebahkan badannya terlentang dan menatap langit-langit.


Perasaan tidak nyaman karena masih belum menemukan hal yang seharusnya dicari terasa.


Lalu ia ingat pada kalung dan berjanji untuk mulai mencari besok. Pasti ada di salah satu barang yang dibawanya pindah ke rumah ini. Pasti. Karena Stefani tak akan membuang benda itu.


***


Handoko sedang membersihkan barang-barang yang akan dimasukannya ke mesin cuci besok pagi saat merasakan sesuatu seperti rantai di dalam saku celananya. Di rogohnya segera dan sebuah kalun dengan liontin daun semanggi keluar dari sana.


“Ah, lupa untuk memberikannya kepada Stefani. Mereka bilang ini miliknya yang jatuh!” kata Handoko pelan.


Ia menjatuhkan celananya ke lantai, tetapi kemudian sadar kalau sudah terlalu malam untuk mengetuk pintu kamar Stefani hanya untuk mengembalikan sebuah kalung. Mereka bisa bertemu besok.

__ADS_1


Ia pergi ke lemari pakaiannya yang sudah disusun dengan rapi. Ia meletakan kalung itu di bawah lipatan baju. Dan kembali lagi memeriksa semua pakaian yang akan dimasukannya ke mesin cuci. Setelah selesai dibawanya keranjang berisi pakaian kotor keluar.


Di dapus sudah tidak ada siapa-siapa lagi, cangkir dan mangkok untuk letak mie rebus tadi masih basah. Artinya baru beberapa lama ini Stefani masuk ke kamarnya. Akan tetapi, terlalu sunyi untuk seseorang yang masih bangun. Sekali lagi ia berkata di dalam hatinya bahwa kalung itu masih bisa diberikan besok saat pagi datang.


Dimasukkan semua pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan ditutup penutupnya dengan tangan. Di dalam mesin cuci sudah ada pakaian milik Maulana dan Stefani juga secara aneh.


“Aku pikir Daisy belum tidur! Ternyata Ayah!”


“Kamu sendiri kenapa belum tidur juga? Sudah malam segera tidur!’ suruh Handoko pada putranya.


Maulana terkekeh kecil. “Ada beberapa pekerjaan Ayah, saya harus selesaikan dulu!” Maulana mengosok dahinya dengan telapak tangan. “Apa yang terjadi tadi, Ayah? Tahu-tahu saat saya balik dari dapur Ayah sudah menangis!”


“Aku minta maaf padanya karena bersikap buruk!” Handoko memandang penutup mesin cuci seolah ia akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan padanya. “Dia sudah dewasa!”


Maulana menyandandarkan punggung di dinding, tidak tahu dengan maksud apa. “Semua sikapnya memang menakjubkan belakangan ini. Mungkin patah hati membuatnya menjadi dewasa.”


“Aku berharap dia menyukai orang lain. Mahardika bukan orang yang akan menerima perasaannya!”


“Yah, dia ditolak dan Mahardika berkata kalau ia hanya menganggap Stefani sebagai Adik, tidak lebih dan tidak kurang.”


“Aku akan kembali ke kamar sekarang! Kamu jangan terlalu lama begadang! Tidak baik untuk tubuhmu juga!”


Maulana menempatkan tangannya di depan dahi, memberi hormat. “Siap, Ayah!”

__ADS_1


__ADS_2