Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Masa Lalu (1)


__ADS_3

Seharusnya Stefani sudah tidur sekarang. Akan tetapi, ternyata matanya jadi sulit terpejam.


“Dia mulai curiga!” Ia bergumam soal hal yang sama lagi.


Lalu Stefani berguling, mengambil bantal dan memeluknya erat-erat. Sedikit merasa tak nyaman dengan yang sedang terjadi sekarang. Kecurigaan Mahardika akan membawa semua orang pada kebenaran. Pastinya Daisy dan Mahardika akan tahu bagaimana ia dan tunangan pria itu bisa bertukar tubuh secara tiba-tiba.


Takut. Adalah perasaan Stefani dalam mengekspresikan semua ini sekarang. Ia harus melakukan sesuatu untuk bisa menghilangkan ketakutannya itu. Ia berguling ke kiri dan kanan setiap kali perasaan tak nyaman itu muncul.


Namun, rasa kantuk yang diharapkan saat ini tidak juga datang. Ia duduk dan mendorong pintu menuju teras tempat ia dan Mahardika tadi duduk. Di kelilingi teras hingga ke sisi lainnya. Di sanalah ia menemukan pavilliun yang ditinggali oleh keluarganya dahulu. Sekarang di mana Ayah dan kakaknya tinggal? Stefani penasaran.


“Ini bukan perasaan rindu, kan? Tidak mungkin!” Ia mengelengkan kepala mengusir perasaan tak nyaman yang lebih aneh lagi.


Tetapi, ia tak meninggalkan tepi teras. Apakah ia berharap Handoko akan keluar karena kepanasan di dalam pavilliun seperti biasa. Duduk di teras beberapa lama setelah makan dan masuk kembali tak lama kemudian. Stefani pasti sudah gila.


Ia mencubit dirinya sendiri supaya sadar dan bergerak dari bibir teras. Begitu berhasil, Stefani bernapas lega. Ia tak boleh melupakan hari-hari muram yang dihadiahkan oleh orang-orang terdekatnya.


“Kamu tidak boleh menyimpan dendam seperti itu!”


Stefani sedikit terkejut dan lebih cepat mengendalikan diri di bandingkan biasanya. Ia tak lagi merasa takut saat tiba-tiba si kakek tua muncul dan tersenyum menyeringai padanya.


“Kenapa tidak? Mereka sudah mengecewakanku!”


Stefani masih bisa mendengar tuduhan Maulana padanya. Padahal ia bahkan tidak ingin lahir ke dunia. Ia bukan orang yang memilih untuk lahir ke dunia.


“Apa kamu tidak mengecewakan mereka juga?” Si kakek tua menaikan alisnya ingin tahu.


“Mana mungkin!” seru Stefani sambil menjauh dari si kakek tua.


Akan tetapi, ia mendapat serangan dari dalam hatinya. Ia sebuah rasa bersalah yang seharusnya tidak ada di sana.


“Tampaknya kamu menjadi apa yang sudah kamu lakukan, tetapi masih berusaha menyangkalnya. Rasa bersalah adalah bukti kalau kamu masih memiliki kasih sayang terhadap keluargamu!”


“Lebih banyak sakit hati mungkin!” Stefani menambahkan tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


Namun, serangan rasa bersalah itu datang lagi dengan cepat, membuatnya sama sekali tidak tenang dan rasanya mau lari saja.


“Perasaan bersalah itu manusiawi, Stefani! Kamu tidak perlu menyangkalnya atau lari dari hal itu. Pelajari dengan baik apa yang telah membuatmu menjadi bersalah.”


Kali ini Stefani bisa melihat bagaimana si kakek tua menghilang. Ia menguap bagai kabut dan menghilang ditiup angin. Stefani merinding. Ia bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya. Kali ini dengan tergesa-gesa meloncat ke ranjang dan bersembunyi.


***


Tang!


Handoko lekas membuka matanya karena kaget. Itu bunyi wajan yang jatuh ke lantai. Bahkan tanpa memikirkan apapun, ia meloncat dari atas ranjang dan mendarat di lantai samping tempat tidur dengan sangat cepat. Ia tidak mengenalakn sandal jepitnya dan berlari keluar kamar. Siapa? Hanya satu kata yang bernada tanya itu saja yang mengema di dalam kepalanya.


“Stefani!” seru Handoko hampir tidak percaya dan juga lega.


Gadis bernama Stefani itu tengah berjongkok mengambil wajan yang jatuh di lantai. Itulah yang menyebabkan bunyi keras tadi.


“Apa saya membangunkan Ayah?” tanya Stefani ingin tahu.


Benar sekali sebenarnya, tetapi ia tak bisa menjawab demikian. “Tidak! Ini memang sudah waktunya Ayah bangun. Apa yang kamu lakukan pagi begini?”


“Ayah ingat dengan nasi goreng kornet buatan Kak Maulana?”


Handoko mengangguk. Ia mengingat rasa hambar yang dicecap indra perasanya. “Kenapa dengan itu?” tanyanya.


“Saya ingin membuat yang sama. Maaf kalau sudah menganggu tidur Ayah!”


“Yang sama persis dengan buatan Maulana?”


Handoko melihat gadis berusia 20 tahun itu mengangguk. “Ya!” tambahnya dengan suara.


“Tidak mau lebih enak?”


Pipi Stefani bersemu merah. Jadi Handoko terkekeh lagi melihat usaha gadis itu. Kemudian ia berjalan dan mengambil wajah yang ada di tangan Stefani.

__ADS_1


“Kalau begitu ayo buat bersama, rasanya akan jadi lebih enak!”


“Maafkan saya!” bisik Stefani lemah.


Handoko membelai puncak kepala gadis itu pelan dan merasa telah menemukan seorang putri yang sangat manis.


***


Ia memperhatikan Handoko yang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Telur, bawang, seledri, dan beberapa jenis bumbu lainnya. Yang diketahu sebagai bumbu perasa oleh Daisy hanya garam dan gula.


“Ia memang harus mempelajari banyak hal untuk bisa memasak bekal sendiri. Padahal ia berencana untuk membuat nasi goreng ini dan diberikan kepada Mahardika. Alasannya, tentu saja karena kelebihan membuat.


“Aku akan mengoreng telurnya. Bisakah kamu mengaduk bumbunya di sini?”


Karena dilarang untuk ikut serta, Daisy sejak tadi hanya bersandar di dinding saja. Begitu diminta untuk melakukan sesuatu, ia dengan girang mendekat, mengambil spatula dan mulai mengaduk nasi goreng yang sudah dibumbui oleh Handoko. Baunya enak, dan tampak lebih berwarna jika dibandingkan dengan buatan Maulana sebelumnya.


Handoko mengambil sendok kecil di rak piring, mengambilnya sedikit dan menyodorkan kepada Daisy setelah ditiup. “Cobalah!” suruh lelaki tua itu.


Bahkan sebelum dikunyah, nasi goreng itu terasa enak karena bumbunya. “Ini enak sekali! Saya pikir tidak akan bisa membuat yang seperti ini!” seru Daisy dengan bersungguh-sungguh. “Kenapa Ayah tidak mengajukan diri sebagai juru masak di rumah Tuan Besar?” tanya Daisy ingin tahu.


“Aku tidak memiliki kualifikasi itu, Stefani. Juru masak di rumah tampaknya pernah bekerja di sebuah restoran. Aku hanya bekerja di rumah makan kecil sebelum bekerja di rumah Ibnu!” Handoko agak terkejut karena ucapan dirinya sendiri lalu melirik putrinya dengan canggung. “Ah, aku menyebut nama Tuan, ya, kami pernah satu sekolah dulu, jadi kadang-kadang aku menyebut namanya tanpa sengaja.”


“Bagaimana Tuan besar dulunya saat sekolah Ayah?”


Daisy ingin tahu. Bagaimana orang tua lelakinya dulu bersikap. Apakah seperti ini sejak awal? Ataukah menjadi seperti ini setelah menikahi ibunya.


“Aku tidak tahu apakah boleh mengatakannya!” Handoko tampak ragu-ragu.


“Hanya saya saja yang ada di sini dan tidak akan ada orang yang tahu kalau pun Ayah mengatakan hal buruk tentang Tuan besar.”


Handoko masih tampak ragu. Akan tetapi, dari sikapnya yang menatap Daisy seperti menilai, membuat ia punya perasaan kalau akan diberitahu. Pria tua itu membuang napas berat dan mengusap dagunya.


Ia meletakan piring berisi telur mata sapi di dekat kompor dan baru berbicara.

__ADS_1


“Aida juga adalah temanku saat sekolah. Mereka berdua berpacaran. Aku tidak pernah mendengar mereka putus bahkan setelah lulus sekolah. Ibnu aorang yang berambisi, Stefani, makanya dia bisa mencapai tahap ini. Aku saja terkejut saat ia mencariku setelah menikahi ibunya Nona Daisy. Aku terperangah dan tidak menyangka kalau dia meninggalkan Aida.”


Daisy ingin tertawa, tetapi tidak bisa. Ia memang sudah menyangka kalau pernikahan kedua ayahnya terlalu cepat. Tetapi, tidak pernah berpikir bagaimana kedua orang itu saling mengenal.


__ADS_2